Sejak awal tahun 2020 hingga saat ini, pandemi COVID-19 masih berlangsung di dunia termasuk Indonesia. Tanpa disadari pandemi telah membuat banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Seperti yang kita ketahui, peraturan pemerintah yang berupa pembatasan kegiatan sosial mengharuskan masyarakat untuk tetap di rumah. Hal ini membuat ruang interaksi masyarakat menyempit dalam bersosialisasi.

Pandemi ini sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat termasuk kalangan remaja. Dampak yang ditimbulkan bukan hanya dari kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Kesehatan mental merupakan salah satu masalah yang belum bisa terselesaikan. Terlebih saat pandemi ini, masalah kesehatan mental akan lebih diperhatikan dalam penanganannya.

Masa remaja (10-19 tahun) adalah masa yang unik dan formatif. Berbagai perubahan fisik, emosional, dan sosial, termasuk keterpaparan pada kemiskinan, pelecehan, atau kekerasan, dapat membuat remaja rentan terhadap masalah kesehatan mental (WHO, 2020). Pandemi termasuk pada perubahan aspek sosial, maka dari itu tak sedikit remaja mengalami gangguan kesehatan mental akibat pandemi. Mulai dari rasa takut, gelisah, khawatir hingga cemas yang berlebihan.

Penting sekali bagi remaja untuk menjaga kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa rahasia menjaga kesehatan mental remaja saat pandemi.  

Istirahat yang Cukup

Saat pandemi, tidak menutup kemungkinan bagi remaja untuk tetap melakukan kegiatan meskipun dilakukan dari rumah. Karena semua kegiatan dilakukan secara daring, tentunya kita akan merasa lebih mudah  lelah jika harus duduk diam dan menatap layar gadget sehari penuh. Oleh karena itu, kita butuh istirahat yang cukup agar fisik dan mental kita tetap sehat.

Ketika banyak kegiatan yang harus dilakukan dalam satu waktu, manfaatkanlah waktu sebaik mungkin agar dapat beristirahat. Hindari begadang jika tidak ada hal yang perlu diselesaikan. Kebutuhan tidur yang sehat pada usia remaja adalah 8-9 jam per hari. Riset menunjukkan bahwa remaja yang kurang tidur, lebih rentan mengalami depresi, tidak fokus, dan punya nilai sekolah yang buruk (P2PTM Kemenkes RI, 2018).

Menghindari Pikiran Negatif

Sering kali pikiran-pikiran negatif muncul ketika kita membaca atau mendengar berita buruk  tentang pandemi COVID-19. Pikiran tersebut akan menimbulkan masalah bagi remaja jika tidak segera dihindari. Untuk mengalihkannya kita dapat menyibukkan diri dengan mencoba hobi baru yang dapat dilakukan di rumah, seperti memasak, menulis, melukis, meningkatkan skill yang ingin dimiliki, atau mempelajari hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Jika kita melakukannya secara konsisten akan mengurangi munculnya pikiran negatif sehingga membuat kita terhindar dari rasa takut, khawatir, dan cemas yang berlebihan.

Berbagi Cerita dengan Keluarga atau Teman

Pandemi membuat kita menghabiskan banyak waktu di rumah bersama keluarga. Hal itu dapat dimanfaatkan untuk bercerita tentang kondisi atau perasaan yang sedang dialami. Keluarga harus selalu mengetahui kondisi mental kita karena keluarga adalah orang terdekat yang ada di sekitar kita.

Para remaja biasanya lebih sering berbagi cerita dengan teman sebaya karena merasa lebih nyaman dan leluasa ketika bercerita. Namun, saat pandemi ini kita tidak bisa bertemu dan berkumpul secara langsung sehingga kita melakukannya secara virtual melalui voice call atau video call. 

Berbagi cerita akan membuat perasaan lebih tenang dan dapat mengurangi beban pikiran. Hal tersebut baik untuk kesehatan mental karena dapat mengurangi risiko depresi ataupun stres.

Melakukan Me Time                                                                       

Me time menjadi hal yang penting untuk dilakukan dalam menjaga kesehatan mental. Me time adalah meluangkan waktu beberapa saat untuk diri sendiri ditengah-tengah menjalankan kegiatan sehari-hari. Tidak ada batasan waktu tertentu untuk me time, setiap orang dapat menentukan waktunya masing-masing.

Remaja perlu mengetahui bahwa me time bukan hanya sekadar menyendiri, tetapi lebih kepada melakukan hal-hal yang dapat mengembalikan semangat dan membuat tubuh lebih berenergi untuk menjalankan rutinitas. Me time dapat dilakukan dengan membaca buku, menonton film, menulis diary, atau melakukan sesuatu yang dapat memanjakan diri sendiri.

Kesehatan mental yang baik merupakan kondisi saat batin kita berada pada keadaan tentram dan damai sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari serta menghargai orang lain di sekeliling kita (Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, 2018). Ketika kesehatan mental remaja dijaga dengan baik, mereka akan merasa tenang dan tidak tertekan sehingga mereka mampu menjalakan rutinitasnya dengan maksimal.

Remaja yang kesehatan mentalnya dalam kondisi baik atau tidak mengalami gangguan akan lebih mudah melakukan produktivitas sehari-hari. Dengan menjaga kesehatan mental sama dengan menjaga kehidupan yang berkualitas.

Referensi

Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, K. K. R. (2018) Pengertian Kesehatan Mental, Direkrorat Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat. Available at: https://promkes.kemkes.go.id/pengertian-kesehatan-mental.

P2PTM Kemenkes RI (2018) Kebutuhan Tidur sesuai Usia, DIREKTORAT PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR DIREKTORAT JENDERAL PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT. Available at: http://p2ptm.kemkes.go.id/infograpic-p2ptm/obesitas/kebutuhan-tidur-sesuai-usia

WHO (2020) Adolescent Mental Health, World Health Organization. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health.