Filsuf
2 tahun lalu · 630 view · 13 menit baca · Cerpen one_bright_star.jpg
images6.alphacoders.com

Rahasia Bintang

Menjelang pergantian hari ketika aku dan kamu keluar dari bioskop malam itu. Bersama kita para penonton lain beranjak menuju area parkir di lantai basement, menyusuri koridor-koridor mall yang sudah sepi. Sebagian besar berpasangan, laki-laki dan perempuan, seperti kamu dan aku.

Beberapa bar dan kafe tampaknya masih menerima pelanggan dalam keremangan lampu-lampu mereka. Mungkin bar dan kafe itu baru akan tutup menjelang pagi atau malah mungkin buka 24 jam setiap hari. Sempat terpikir olehku, kenapa kita tidak masuk ke salah satu bar atau kafe untuk duduk dan menikmati sedikit minuman sambil sekadar membincangkan film yang kita tonton tadi.

Tapi kuurungkan niat untuk mengajakmu singgah sebentar. Sepertinya kamu agak tergesa dan ingin segera tiba di rumah. Iya, aku tahu. Dalam temaram ruang teater aku bahkan menangkap kegelisahanmu sepanjang pemutaran film.

Kamu memikirkan sepasang malaikat kecilmu, Sang Dewi dan Yang Menceriakan. Mereka yang sehari-hari setia menantimu pulang kerja dan langsung membukakan pintu, menyambutmu dengan antusias begitu mendengar suara mesin mobilmu di gerbang rumah. Memang, tidak seharusnya kita pulang terlalu larut.

Iya, Mas. Aku sangat memahami ketergesaanmu, juga kegelisahanmu yang membuat langkah kakimu terlalu cepat untuk kuikuti. Kamu bahkan tidak menggandeng lenganku sepanjang perjalanan menuju area parkir. Mungkin hanya kita pasangan yang tak saling bergandengan malam itu.

*****

Malam itu kamu lebih banyak diam. Hanya satu dua kali kudengar kamu bicara, sekadar merespons perkataanku. Apakah kamu kesal karena aku mengajakmu menghabiskan waktu hingga larut malam? Entahlah.

Kamu memacu mobil dengan cepat. Mungkin karena tengah malam telah berganti dini hari. Aku tahu, kamu ingin segera tiba di rumah. Tapi, bagaimanapun, ketergesaanmu membuatku bertanya-tanya, apakah kebersamaan kita adalah sebuah kesalahan?

Kamu yang lebih banyak diam memaksaku suntuk dalam lamunan, mengingat awal perkenalan kita yang terlalu biasa. Aku tak tahu, adakah sesuatu terbersit dalam pikiranmu tentang aku saat itu. Tapi, jujur saja, bagiku kamu tak tampak istimewa—setidaknya di hari pertama kita bertemu tiga tahun yang lalu.

Ketika itu seorang teman mengajakku ikut dalam sebuah kegiatan bertema Hak Asasi Manusia (HAM). Temanku itu, seorang perempuan yang memaknai dirinya sebagai aktivis, memanggilmu “Abang”. Belakangan aku tahu, temanku adalah salah satu kader dari jaringan mahasiswa yang dibentuk oleh organisasi tempat kamu bekerja.

Tidak seperti temanku, aku hanyalah seorang yang selalu berusaha menikmati setiap detik dalam kehidupanku. Aku tak mau ambil pusing dengan masalah orang lain. Sudah banyak masalah dalam hidupku yang harus aku selesaikan sendiri. Bekerja paruh waktu untuk mendapatkan sedikit tambahan uang di sela-sela waktu kuliah lebih berguna bagiku ketimbang bergabung dengan dunia aktivisme yang penuh kemunafikan.

Bukan saja tak tertarik dengan isu-isu HAM, aku malah kerap mencemooh mereka yang mendaku diri sebagai aktivis. Ide-ide mereka memang memukau. Tetapi, menurutku, pekerjaan aktivis hanyalah mencari keburukan di negeri sendiri dan memanipulasinya untuk mendapatkan dana dari luar negeri. Mereka lebih tampak sebagai orang yang mencari makan, sama seperti aku dan semua orang, ketimbang sungguh-sungguh ingin mengubah dunia dengan idealisme mereka.

Agak mengherankan kenapa waktu itu aku tertarik untuk mengikuti kegiatan bertema aktivisme. Mungkin karena yang mengajak adalah teman baikku sendiri. Atau mungkin karena hari itu dan beberapa hari sesudahnya aku tidak memiliki kegiatan dan butuh menghabiskan waktu. Kehendak alam, mungkin itulah satu-satunya alasannya, menurut kamu.  

******

Kegiatan berlangsung di luar kota, bertempat di sebuah kompleks villa milik salah satu aliran yang dianggap sesat oleh kebanyakan Muslim. Sekitar 30 orang peserta datang mewakili berbagai agama dan aliran keyakinan. Di spanduk tertulis tema acara, “Pelatihan Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan”. Nama organisasi tempat kamu bekerja tertulis di spanduk itu, juga nama lembaga donor yang mendanainya.

Teknik random yang digunakan oleh panitia membawa kita dalam sebuah proses perkenalan di awal kegiatan. Tata krama menuntut kita saling tersenyum, bertanya apa kabar, dan menanyakan berbagai hal terkait diri kita masing-masing: nama, pekerjaan, agama, dan sebagainya. Dan persis pada poin agama, pengakuanmu sebagai seorang ateis membuatku terperangah.

Rasa penasaran dan sedikit kekuatiran mendorongku untuk bertanya. Sempat terlintas dalam benakku film tentang Gerakan 30 September (G30S), ketika sekelompok orang tak ber-Tuhan dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pemberontakan dengan tindakan-tindakan yang sangat keji. Sangat mungkin orang di hadapanku memiliki pikiran yang mengerikan dan bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

“Ateis itu sama dengan komunis, ‘kan?”

“Tidak juga. Banyak ateis bukanlah komunis dan banyak komunis bukanlah ateis,” jawab kamu sambil menjelaskan perbedaan antara keduanya.

Kamu juga katakan bahwa film G30S yang jadi tontonan wajib di era Orde Baru itu adalah propaganda yang penuh kebohongan. Aku mengangguk, meski tak sepenuhnya mengerti. Tapi, bagaimanapun, aku cukup lega ketika kamu bilang bahwa kamu bukanlah pengikut komunisme.

Sedikit yang kuingat dari pertemuan pertama kita. Kamu rupanya salah seorang pemateri, berbicara di sesi pertama, tentang hak dan kebebasan. “Setiap individu punya kebebasan yang sama luasnya”, kamu bilang, “karena setiap individu adalah pemilik dirinya-sendiri.” Dan dari kepemilikan atas diri-sendiri itulah, menurut kamu, segala hak individu diasalkan.  

Tak semua yang kamu sampaikan aku pahami, kecuali satu hal yang tampak jelas. Bukan hanya seorang ateis, kamu juga pemuja kebebasan. Bagi kamu, manusia tak bernilai apa pun tanpa kebebasannya. Baru belakangan kusadari, pandanganmu memiliki konsekuensi yang tak mudah untuk dilakoni. Karena setiap individu adalah pemilik dirinya-sendiri, bahkan cinta sepasang kekasih sekalipun tidak menjadikan mereka saling memiliki.   

******

Sudah lewat dari setengah jam aku menunggu balasan pesan WhatsApp dari kamu. Sh*t! Tolol sekali aku. Untuk apa aku mengirimi kamu pesan, menanyakan posisi kamu, sambil membatin apakah kamu mau menemuiku. Banyak teman yang bisa kuhubungi, laki-laki atau perempuan. Tapi entah kenapa aku malah menghubungi kamu.

Lampu indikator handphone-ku menyala menandakan ada pesan yang masuk. Akhirnya kamu membalas pesanku juga.

“Hai. Aku di sekitar Cilandak. Ada apa?”

“Oh, kukira di kantor. Kok di Cilandak?”

“Aku tadi pulang lebih cepat. Jenguk kucingku, dirawat di Rumah Sakit Hewan, Ragunan.”   

Aku tahu kamu memelihara beberapa ekor kucing di rumah. Pernah kulihat kamu mengirim gambar-gambar mereka di Facebook. Kamu seorang penyayang binatang. Bahkan kucing sakit pun kamu rawat di rumah sakit—seperti manusia saja. Jika binatang saja kamu perlakukan sebaik itu, perlakuan kamu pada sesama manusia mungkin jauh lebih baik lagi.

“Kamu buru-buru pulang tidak, Mas? Ngopi, yuk?”

“Tidak, santai saja. Boleh. Kamu bersama siapa, di mana?”

Kamu mau menemuiku. Aku katakan kepadamu bahwa aku sendirian, di sebuah mall yang pasti kamu lewati dalam perjalanan pulang ke rumah. Di salah satu kafe di mall itulah pertama kali kita bertemu hanya berdua—tanpa temanku, tanpa temanmu. Dan itu baru terjadi setelah perkenalan kita di pelatihan advokasi HAM setahun yang lalu. Kita berbincang sampai sekitar pukul 21.00, mungkin dua setengah jam sejak kita bertemu sekitar pukul 18.30.

Sejak perkenalan kita, aku dan kamu menjalani aktivitas masing-masing. Kita tidak bertukar nomor handphone, tetapi berteman dan saling menyapa di Facebook. Bagaimanapun, sejak itu kita semakin dekat, meski interaksi kita masih terbatas di dunia maya.

Mungkin karena kedekatan itulah, seminggu sebelum pertemuan kita berdua di mall itu, aku menerima ajakanmu untuk hadir dalam sebuah kegiatan bersama komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di kawasan Puncak. Aku menyusul bersamamu ketika kegiatan memasuki hari kedua. Ada seorang teman yang ikut bersama kita di mobilmu. Aku duduk di kursi sebelahmu.

Menemani kamu berkendara sepanjang perjalanan ke Puncak membuatku mengetahui lebih banyak tentang dirimu. Kamu tidak seserius seperti kukira sebelumnya—setidaknya tidak seperti ketika kamu mengisi materi pelatihan.

Kamu pribadi yang empatik, cukup ramah meski tak terlalu banyak bicara. Kamu juga cukup updated dengan musik populer terbaru, sangat membantu menjembatani jarak usia di antara kita. Tak kukira kamu begitu enjoy ketika kita bersama menyanyikan “How Deep is Your Love” dari Calvin Harris and Disciples, mengikuti musik yang mengalun dari pesawat radio di dashboard mobil.

Baru sepulang dari kegiatan di Puncak itulah kita bertukar nomor handphone. Tak lama kemudian kita saling berkirim pesan via WhatsApp, mulai dari sekadar basa-basi bertanya kabar hingga berbincang panjang lebar sampai larut. Secara perlahan, kita semakin terbiasa untuk menyapa selamat pagi atau selamat malam—dan itu kita lakukan nyaris setiap hari.    

******

Pertemuan kita berdua di sebuah kafe di mall itu seolah prologue bagi kencan-kencan kita berikutnya. Tak berlebihan bukan jika aku menyebutnya sebagai “kencan”, mengingat setelah itu dan seterusnya, hanya kita berdua yang bertemu?

Aku mulai berani meminta kamu untuk bertemu kapan pun. Begitu juga kamu. Jarang sekali kita saling menolak ajakan bertemu. Sering kita mengisi waktu hang out dengan makan bersama—siang atau malam—atau menonton film di bioskop.

Dua bulan sejak hubungan kita semakin dalam, aku mulai merasakan hal yang berbeda. Terlalu berani kalau aku menyebutnya jatuh cinta, tetapi yang pasti aku merasa nyaman tiap kali bersamamu.

Sepertinya bukan kecerdasanmu yang memberiku rasa nyaman. Kecemerlangan dalam gaya bicaramu, juga status-status yang kamu tulis di Facebook, memang menjadi pesona tersendiri. Mungkin benar apa yang pernah dikatakan seorang temanku: kecerdasan membuat lelaki tampak lebih menarik, bahkan jika ia bukan sosok yang rupawan secara fisik.

Sikap kamu yang empatik, kukira itu alasan aku menemukan kenyamanan bersamamu. Kamu selalu berusaha memahami, bukan menghakimi. Cara kamu mendengar dan merespons orang berbicara, juga mengapresiasi kelebihan orang lain seremeh apa pun itu, membuat siapa pun yang berada di dekatmu merasa dihargai dan diperhatikan. Itulah yang aku rasakan.   

Aku ingat, tak sekali pun kamu menyapaku dengan sebutan “sayang”, apalagi mendengar pernyataan cinta dari kamu untukku. Tapi, bagaimana pun, beberapa kali aku merasakan gejolak dalam dirimu, terpancar melalui tatapan mata yang tersembunyi di balik bingkai kacamatamu yang transparan.

Suatu kali aku mendapati kamu mengamatiku dengan tatapan berbeda dari biasanya. Aku baru saja memasang sabuk pengaman, duduk di sebelah kamu yang telah siap di kursi kemudi mobil. Kamu mencermati sisi kanan dan kiri lintasan sabuk pengamanku yang ketat terpasang, mengamati sepasang buah dadaku yang terlihat semakin ranum. Sambil tersenyum agak “nakal”, aku sedikit menggodamu ketika itu.

“Kenapa, Mas?”

“Hahaha... Tidak. Kamu seksi banget. Fiuh... ”

“Baru sadar? Pasti kamu sedang ngebayangin sesuatu yang ‘jorok’. Hihihi...”

Kamu tertawa kecil sambil menghidupkan mesin mobil. Dan seiring mobil yang mulai melaju, kamu beralih membicarakan hal lain.

Pernah juga kamu menyatakan kekagumanmu padaku secara lebih jujur. Aku menemani kamu menghadiri sebuah diskusi kecil di sebuah kelompok mahasiswa yang meminta kamu mengisi sebuah materi di suatu siang menjelang sore, sambil menunggu jadwal film yang akan kita tonton nanti malam.

Dua mahasiswa peserta diskusi ternyata mengenalku. Rupanya kami sama-sama mengikuti kegiatan pelatihan yang pernah diselenggarakan organisasi tempat kamu bekerja. Entah apa yang ada di pikiran mereka melihat kedekatan kita. Aku membatin, mungkinkah kamu sedang memamerkan kedekatan kita, setelah dua bulan berusaha kita tutupi dari orang-orang yang mengenal kita?

Seluruh peserta, duduk lesehan beralas karpet di lantai ruang diskusi. Aku tampil feminin ketika itu, mengenakan rok longgar yang agak pendek. Kadang pahaku yang putih mulus tersingkap ketika aku menggerakkan kaki untuk mencari posisi yang nyaman. Aku tahu kamu beberapa kali mencuri pandang sambil menyampaikan materi dari posisimu di depan forum. Dan kamu hanya tersenyum tiap kali “tertangkap basah”.   

“Kamu cantik. Charming, juga punya sex appeal,” katamu setelah diskusi selesai, ketika kita melangkah menuju tempat mobil kamu parkir.

“Karena aku tampil lebih feminin?”

“Mungkin. Tapi, memang, kamu punya daya tarik seksual yang kuat.”

“Seberapa kuat?”

“Sangat kuat untuk membuat setiap laki-laki ingin menggauli kamu secara seksual.”

“Termasuk kamu, filosof yang maha bijaksana?”

“Hahaha... Kamu sering-sering saja pakai rok pendek.”

Saat itulah aku benar-benar merasakan betapa kamu sangat menginginkan aku. Sempat aku bertanya-tanya, kenapa kamu belum juga menyentuhku setelah dua bulan kita “berpacaran”. Tak mungkin dosa alasannya, kamu seorang ateis. Apalagi kamu juga sangat memuja kebebasan, tak mungkin kamu mengutuk seks di luar perkawinan. Butuh waktu agak lama sampai akhirnya aku mengerti kenapa kamu berusaha mengendalikan hasrat kamu kepadaku.

******

Sorry, ya... kita jadi terburu-buru begini,” akhirnya kamu bicara setelah cukup lama terdiam, membuyarkan aku dari lamunan. Ternyata kita sudah tiba di rumah kost tempat aku tinggal.

“Tak apa-apa, Mas. Aku tahu, kamu mengkuatirkan anak-anak di rumah,” aku menjawab pelan.

“Istriku sedang berada di luar kota, menghadiri undangan pernikahan teman kantornya. Sewaktu berpamitan pada anak-anak, aku bilang ada rapat mendadak untuk persiapan konferensi pers besok. Aku juga berjanji pada mereka akan tiba di rumah paling malam jam 22.00.”

“Aku mengerti. Seharusnya tadi kita langsung pulang saja begitu tertinggal jadwal pemutaran film yang lebih awal.”

Hubungan kita memang tak biasa. Sejak awal, aku tahu bahwa kamu sudah terikat perkawinan, dianugerahi dua anak yang membanggakan dengan kecerdasannya dan menggembirakan dengan keceriaannya.

Istrimu, perempuan berjilbab yang tampaknya sangat menyukai warna ungu, juga sangat cantik. Sepertinya dia juga sangat menyayangi kamu. Setidaknya itu yang pernah aku dengar dari kamu. Dari foto-foto yang pernah kamu upload di Facebook, tampak sekali kalian adalah keluarga yang sangat bahagia—seperti tertulis di stiker yang tertempel di kaca belakang mobilmu, “The Happy Family”.

Dan kamu juga tahu bahwa aku sudah memiliki kekasih, meskipun beberapa hal dari dirinya membuatku belum yakin apakah ia orang yang tepat untuk menjadi suamiku kelak. Pekerjaan kekasihku membuatnya kerap berada jauh dariku, memberikan kesempatan pada kamu dan aku untuk menghabiskan waktu bersama.

Sama-sama kita sadari bahwa aku dan kamu ibarat turis dan lokasi wisatanya. Aku adalah lokasi wisata bagi kamu, juga sebaliknya kamu bagiku. Aku mengunjungimu, kamu mengunjungiku.

Lokasi wisata adalah di mana kita rehat sejenak dari rutinitas yang kadang membuat kita suntuk dengan rasa lelah, bosan, sedih, kesal, marah, dan emosi-emosi negatif lainnya. Kita me-recharge jiwa kita yang mulai kehabisan energi dengan berlibur di sana, berharap setelahnya kita bisa kembali ke rutinitas dengan energi jiwa yang dipenuhi perasaan-perasaan positif.

Lokasi wisata mungkin dikelilingi oleh lingkungan alam yang indah, lebih indah dari lingkungan di mana kita menjalani rutinitas. Kita pun menginap di hotel yang nyaman, dengan petugas-petugas yang selalu siap sedia melayani kita dengan ramah. Tetapi tetap saja, lokasi wisata bukanlah rumah tempat kita tinggal. Aku dan kamu bisa datang dan meninggalkan lokasi wisata kapan saja kita mau.

OK, see you later,” kamu mengucap salam perpisahan. Aku tersenyum, menatap kamu yang sedang menatapku. Entah kenapa aku agak enggan turun dari mobil. Aku seperti masih ingin bersama kamu. Beberapa detik kita saling berbagi senyum dan tatapan. Ya, aku tahu. Tak seharusnya aku menunggu kamu memberiku kecupan selamat malam. “Bye, Mas. Good night.

******

Suatu hari yang masih agak pagi, beberapa pesan WhatsApp masuk di handphone-ku. Kupikir pasti kamu yang mengirimkan pesan-pesan itu, untuk menyapaku dengan ucapan selamat pagi dan mengatur janji pertemuan kita. Apalagi, kemarin, aku sempat meminta kamu untuk bertemu untuk memberikan kamu sekadar oleh-oleh dari Bali, tempat aku sempat berlibur beberapa hari sebelumnya.

Aku keliru. Bukan kamu yang mengirimkan pesan-pesan itu.

“Perempuan genit! Perusak rumah tangga orang! Apa tidak ada laki-laki lain sampai kamu memacari lelaki yang sudah beristri?”

Pesan-pesan itu datang dari istri kamu, Mas. Beberapa di antara pesan-pesan itu terdapat foto-foto selfie kita di sejumlah tempat. Selebihnya berisi kata-kata kasar, mengumpat, menyalahkanku. Aku tahu bahwa kamu tak mungkin menyudutkan aku di depan istrimu untuk berlindung dari kesalahanmu.

Entah bagaimana, istri kamu sudah mengetahui hubungan kita. Mungkin itu alasan kenapa beberapa kali kamu menolak bertemu denganku. Sempat kujelaskan bahwa kamu dan aku sebatas berteman. Aku tahu, kamu juga tahu, itu tidak benar. Betapa pun istrimu tak akan percaya, tak mungkin bagiku mengakui hubungan kita. Dia sangat marah, mungkin juga sangat membenciku.

Aku tak tahu di mana kamu berada ketika istrimu mengirimkan pesan-pesan itu. Apakah kamu berada di sisinya, atau di tempat lain. Atau, mungkin, jangan-jangan kamu belum mengetahui bahwa istri kamu sudah mengetahui hubungan kita? Akhirnya, kukirimkan sebuah pesan singkat untukmu.

“Mas, maafkan aku ya, karena telah merusak rumah tangga kalian.”

Kurang dari satu menit kemudian, kamu menjawab, “Aku sedang di jalan tol. Ada workshop di daerah Kuningan. Nanti kita bicara setelah aku sampai.”

Lama kita berbincang melalui WhatsApp begitu kamu tiba di lokasi tujuanmu. “Bukan salah kamu, tak ada yang harus aku maafkan,” begitu bunyi pesan terakhir dari kamu.

Hingga malam tidak ada lagi kiriman pesan dari kamu. Aku resah, memikirkan kamu, aku, dan hubungan kita setelah istrimu mengetahuinya. Apakah kita masih bisa bertemu, setidaknya untuk yang terakhir kali.

Aku membuka Facebook, ada sebuah status terbaru dari kamu muncul di situ.

“Bukan. Bukan terutama karena saat ini belum ada teknologi pesawat antariksa yang bisa membawaku menjelajah bintang-bintang. Tapi karena bintang-bintang hanya indah ketika dipandang dari bumi di mana kakiku berpijak.

Dan aku lebih memilih menikmati kilaumu dari jauh, membaui wangimu yang lamat di antara udara kota kita yang diterpa polusi. Betapa pun kadang aku menduga-duga seperti apa rasanya mengobservasi setiap lekuk tubuhmu, menjelajahi gesturnya jengkal demi jengkal.”

Iya, Mas. Akhirnya aku mengerti kenapa kamu tak menyentuhku. Aku adalah bintang bagi kamu, terlalu jauh untuk kau jelajahi. Aku hanya berharap cahayaku bisa memberi kamu sedikit kebahagiaan, meskipun aku tahu, kilauku tampak kecil dan mungkin redup dari bumi—tempat di mana kamu tinggal bersama orang-orang yang sangat kamu sayangi.