Penulis
7 bulan lalu · 80 view · 4 min baca · Budaya 44341_28280.jpg
stottilien.com

Ragam Paham Kesufian di Nusantara

Dalam catatan sejarah disebutkan, Islam yang datang di pulau Jawa adalah Islam sufi yang dengan mudah diterima serta diserap ke dalam sinkretisme Jawa. Melalui jalur asimilasi dan akulturasi budaya, Islam disebarkan dengan cara-cara damai, tanpa pedang atau paksaan. 

Hal ini berbeda dengan banyak wilayah di penjuru dunia, di mana perang dan kekerasan seringkali menjadi instrumen penaklukan agar Islam dapat masuk dan diterima wilayah tersebut, misalnya di Iran dan Turki.

Dominasi paham kesufian yang masuk di Nusantara dapat dilihat misalnya melalui keberadaan Suluk Wujil, Primbon Bonang, Suluk Linglung, Suluk Sukarsa, Suluk Syaikh Malaya, Serat Dewa Ruci dan Serat Cabolek. Teks-teks klasik ini membuktikan bahwa perkembangan Islam di tanah Jawa, khususnya pada abad ke-16, lebih didominasi oleh paham sufi.

Serat Dewa Ruci misalnya, yang dikaitkan dengan ketokohan Sunan Kalijaga, pada dasarnya merupakan pengembangan dari naskah Nawa Ruci, sebuah karya spiritual dari Hindu-Budha yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit yang lalu dimasuki oleh paham kesufian, sehingga naskah Serat Dewa Ruci seakan-akan karya baru pada zaman Islam. 

Boleh dikata, keluwesan atau fleksibilitas ajaran-ajaran sufi itulah yang dapat dilihat jejaknya pada masa dakwah Islam di Nusantara melalui jalur asimilasi dan akulturasi dalam kehidupan sosial, budaya, agama, seni, pendidikan, adat istiadat, sastra dan lain sebagainya.


Menurut Agus Sunyoto (2012), aliran tasawuf di Nusantara yang berkembang paling awal adalah Akmaliyah dan Syathariyah yang kemudian disusul tarekat Kubrawiyah, Maqmaliyah, Samaniyah, Rifa’iyah, Khalwatiyah, Naqsyabandiyah, Qadiriyah dan lain-lain.

Di antara tokoh Wali Songo yang secara terbuka mengajarkan tarekat adalah Syaikh Siti Jenar. Ia mengajarkan tarekat Syathariyah dan Akmaliyah, yang sampai hari ini masih dianut di beberapa tempat di Indonesia. Karena Siti Jenar memiliki reputasi buruk dan dianggap sesat, maka tarekat ini diajarkan dan diamalkan secara tertutup.

Meski kesemua aliran tarekat itu memiliki nilai ideal yang sama, yakni sama-sama mengajarkan tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Tuhan melalui jalur spiritual-mitis, tetapi dalam praktik amaliahnya tak jarang memiliki perbedaan yang cukup tajam antara satu dengan yang lain. 

Sebut saja misalnya tarekat Rifa’iyah, yang dikenal sebagai tarekat yang mengajarkan kesaktian dan kedikjayaan, seperti mengajarkan ilmu debus, ilmu tahan dibakar, ditusuk benda runcing, diiris senjata tajam dan ilmu sakti lainnya.

Tarekat Rifa’iyah sendiri merujuk kepada Syaikh Ahmad Rifa’i al-Baghdadi dan telah berasimilasi dengan ajaran Bhairawa-tantra (Hindu-Budha) dalam wujud sebuah amaliah ganjil yang disebut Dzikir Ojrat Ripangi sebagaimana tertuang dalam Suluk Bolang dan Serat Centini.

Agus Sunyoto menuturkan bahwa Dzikir Ojrat Ripangi adalah suatu upacara kenduri di mana jamaah laki-laki dan perempuan membentuk lingkaran dengan sajian makanan di tengah-tengahnya, lalu diiringan rebana dan pembacaan salawat, setelah memberkati makanan, semua jamaah serentak menyantap makanan secara bersama-sama.

Dalam sejarah kesufian, paling tidak ada dua paham pemikiran besar yang dianut oleh para praktisi sufi, yakni paham wujudiyah dan syuhudiyah. Paham wujudiyah terkenal mengajarkan tentang doktrin bahwa manusia dan alam berasal dari pengetahuan Ilahi, segala sesuatu ada dalam kandungan Tuhan. 

Paham ini dikenal luas dengan sebutan wahdatul wujud atau penyatuan wujud. Di antara tokoh-tokohnya adalah Mansyur al-Hallaj, al-Busthami, Suhrawardi dan Ibn Arabi.

Secara garis besar, ajaran wahdatul wujud ini berpangkal pada tiga hal; yakni hulul atau dimensi ketuhanan yang menjelma dalam diri insan, adanya Nur Muhammad sebagai asal-usul penciptaan, dan ajaran wahdatul adyah atau kesatuan agama-agama. 


Ibn Arabi sendiri mengajarkan doktrin bahwa Wujud itu sebenarnya hanya satu. Dalam bukunya berjudul al-Futuhat al-Makkiyah, Ibn Arabi mengatakan “Mahasuci Tuhan yang menjadikan sesuatu, dan Dia adalah ‘Ain segala sesuatu”.

Ada yang berpendapat, khususnya para orientalis,  bahwa paham wujudiyah ini sebenarnya sama saja dengan panteisme. Ajaran panteisme beranggapan bahwa alam adalah imanensi dari Tuhan yang mengejawantah atau dengan kata lain alam ini adalah Tuhan itu sendiri. 

Pendapat semacam ini bukan hanya keliru, tetapi juga menyesatkan, sebabnya paham wujudiyah tidak pernah menganggap manusia dan alam adalah Tuhan, tetapi kesemuanya memiliki wujud sendiri-sendiri dan pada level wujud tertinggi, ada Wujud Tuhan yang autentik.

Sementara itu, paham sufisme selain wujudiyah adalah paham syuhudiyah yang memercayai doktrin adanya dua zat, yakni zat Yang Nyata dan yang tidak nyata, yang pertama adalah Tuhan dan yang kedua adalah makluk atau hamba. 

Paham ini dikembangkan oleh Abu Hamid al-Ghazali yang mencoba mengharmoniskan paham Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Ahlusunnah wal Jamaah. Al-Ghazali berpendapat bahwa tidak ada Wujud mutlak melainkan Allah dan perbuatan-Nya. Ini bermakna  bahwa Allah dan perbuatan-Nya adalah dua, bukan satu.

Terlepas dari kedua paham besar dalam kesufian di atas, jelas bahwa dakwah Islam di Nusantara melalui jalur tasawuf sangat kental dan tidak mudah dihapus, di mana dakwah Islam itu dilakukan dengan jalan asimilasi dengan ajaran-ajaran pra-Islam di Jawa (Kapitayan, Hindu-Budha). 

Menurut James Peacock, masuknya sufisme ke Nusantara memang diserap ke dalam sinkretisme Jawa. Dalam proses penyerapan itulah, ajaran sufi mengalami asimilasi dengan ajaran-ajaran yang sudah ada.

Suminto (1985) mengungkapkan bahwa salah satu bukti kuatnya peranan sufisme dalam dinamika kehidupan masyarakat muslim Nusantara terlihat pada fakta sejarah yang menunjukkan betapa di dalam berbagai perubahan sosial, peranan tarekat selalu muncul sebagai faktor subjektif yang menyemangati dan mengilhami serta menjadi penggerak perubahan.

Dakwah melalui ajaran sufisme di Nusantara yang bersifat sinkretik-asimilatif ini membuat gerak perubahan masyarakat muslim hingga saat ini nyaris tidak terlepas dari dinamika perkembangan sufisme. Islam tradisional yang diwakili oleh Nahdlatul Ulama, yang sejauh ini masih intens mengembangkan sejumlah tradisi, tidak lepas dari pengaruh ajaran-ajaran kesufian.


 Hal ini bisa dilihat misalnya melalui catatan Historiografi lokal di mana kuatnya arus sufisme menandai seluruh gerak perubahan sosial masyarakat muslim di Nusantara hingga hari ini. Bahkan, Nahdlatul Ulama secara terbuka mewadahi puluhan aliran tarekat dan paham kesufian yang dianggap mu’tabar maupun yang ghoiru mu’tabar yang terwujud dalam Jam’iyah Ahli Thariqat al-Mu’tabarah an-Nahdliyah.

Artikel Terkait