Kirana ♈ Azalea
5 hari lalu · 177 view · 6 min baca menit baca · Pendidikan 49201_38468.jpg
Ilustrasu: iraparenting.com

Ragam Kecerdasan

Syarofis Si’ayah, melalui pesan suara WhatsApp pada 26 Juni 2019 pukul 20:35 lalu, menyampaikan caranya belajar biologi. Melalui ucapan Ofis, saya menangkap kesan bahwa dirinya mendukung konsep ragam kecerdasan (multiple intelligences).

“Belajar itu harus mengenali, kita itu tipe orang apa: visual, auditori, atau audiovisual?” ucapnya dengan beberapa kata kunci yang biasa muncul dalam pembahasan ragam kecerdasan.

Ucapan itu langsung memberi gagasan kepada saya untuk membuat profil ragam kecerdasan santri Pondok Pesantren Ath-Thullab untuk awal musim 2019/20 nanti. Beruntung, Ofis menanggapi positif dalam bentuk dukungan. Lebih beruntung lagi, dirinya mengonfirmasi bahwa kesan yang saya tanggap memang tepat. Maklum, cowok, kan, selalu salah, ya?

Bicara tentang Ofis dan kecerdasan, saya selalu teringat ucapan yang disampaikan pada 24 Oktober 2016 silam. 

“Alquran memakai kata kerja bukan kata benda untuk akal itu maksudnya agar akal dipekerjakan, tidak hanya dibendakan saja.” Satu perkataan paling memuaskan yang pernah saya dengar selama beberapa kali mengajak orang lain membahas penggunaan kata akal dalam Alquranِ.

Artikel Pendidikan di Indonesia?? what happen??? yang ditulis oleh Ofis sewaktu berusia 15 tahun 344 hari pada 4 Desember 2010 silam banyak memberi gambaran permasalahan pendidikan Indonesia. 

Memang artikel itu ditulis oleh ‘seorang remaja’, tapi daya jelajah masalah yang disampaikan perlu ditindaklanjuti oleh ‘kajian dewasa’. Selain itu, dalam waktu lebih dari sewindu, Ofis menunjukkan konsistensi pandangan terkait pendidikan yang—kalau tak salah saya simpulkan—harus utuh dan menyeluruh.

Sebagai pembimbing serta sahabat baik dan benar, Ofis tak banyak berucap soal pendidikan dalam interaksi yang kami alami. Namun dari pengamatan saya, perempuan kelahiran 26 Desember 1994 ini merupakan orang yang matang dengan perkembangan paling mengesankan sampai sekarang—terutama sejak pertengahan 2013 silam. Makanya saya kerap meminta saran terkait cara belajarnya, syukur kalau bisa meneladaninya.


Itu adalah pengantar singkat—maunya, tapi berkepanjangan jadinya—terkait alasan ucapan Ofis selalu saya dengar dengan saksama dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya. 

Ucapan bahwa Alquran memakai kata kerja bukan kata benda untuk akal itu maksudnya agar akal dipekerjakan, tidak hanya dibendakan saja mungkin menjadi proposisi Ofis yang kelak bisa diberi dasar riset terkait Tafsir Alquran. Sementara ucapan tentang cara Ofis belajar Biologi menjatuhkan saya untuk menerima konsep ragam kecerdasan.

Konsep ragam kecerdasan yang dipekernalkan oleh Howard Earl Gardner melalui buku Frame of Mind: Theory of Multiple Intelligences merupakan gagasan revolusioner pada 1983. Pada saat itu, psikolog tertarik pada kecerdasan umum, yakni kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah dan menerapkan penalaran logis di berbagai disiplin ilmu. 

Gagasan kecerdasan umum sebagian dipopulerkan oleh tes IQ (intelligence quotient) pada awal 1900-an untuk menilai kemampuan anak dalam memahami, bernalar, dan membuat penilaian. Hal ini membantu menjelaskan mengapa beberapa siswa tampak unggul dalam banyak mata pelajaran. Namun, Howard Earl Gardner menganggap konsep itu terlalu terbatas.

“Kebanyakan tulisan populer dan ilmiah tentang kecerdasan berfokus kepada kombinasi kecerdasan linguistik dan logis. Kekuatan intelektual tertentu, yang sering saya pertahankan, dari seorang profesor hukum,” ungkap Howard Earl Gardner. 

Dirinya yang gemar bermain piano bertanya-tanya mengapa seni tidak dimasukkan dalam diskusi tentang kecerdasan. Sebagai pelajar pascasarjana yang mempelajari psikologi pada 1960-an, Howard Gardner merasa “tersentak oleh ketiadaan virtual seni dalam buku teks utama”.

Pertanyaan dan sentakan itu menanamkan benih yang tumbuh ke dalam wawasan besar Howard Gardner, yakni gagasan tunggal tentang kecerdasan tunggal tidak sesuai dengan dunia yang dia amati. Wolfgang Amadeus Mozart, pianist paling digandrungi Howard Gardner, diambil sebagai contoh untuk bahwa kejeniusan dalam menggubah nada hanya dapat dijelaskan oleh kecerdasan musik. 

Dari sini Howard Gardner mulai mempertanyakan: bukankah masalahnya bahwa semua orang menunjukkan berbagai kemampuan intelektual — dari bahasa hingga sosial ke logika — yang sering kali saling menguatkan, dan yang berubah seiring waktu berdasarkan minat dan upaya seseorang yang berubah?

Beberapa hipotesis tersebut sebagian besar telah dikonfirmasi oleh penelitian terbaru dari bidang ilmu saraf (neuroscience). Misalnya ulasan dari Siusana Kweldju pada 2015, yang membahas cara kerja otak ketika membaca. 

Uraian yang disampaikan mengesampingkan gagasan lawas bahwa membaca terjadi di area otak yang berbeda, sebaliknya ditemukan bahwa pemrosesan bahasa “melibatkan semua wilayah otak, karena melibatkan semua fungsi kognitif manusia” - tidak hanya pemrosesan visual, tetapi juga beberapa hal lain, seperti perhatian, penalaran abstrak, dan kerja memori. 


Belakangan Eberhard Fuchs dan Gabriele Flügge menyampaikan pada 4 Mei 2014 beberapa bukti yang secara dramatis mengubah pemahaman kita tentang perkembangan otak. Penyampaian yang mengungkapkan bahwa kecerdasan manusia terus tumbuh dan berubah menjadi matang.

Lalu, sebagai pelaku pendidikan di lapangan, bagaimana guru sebaiknya menanggapi konsep ragam kecerdasan? Ofis menyampaikan bahwa konsep tersebut perlu ditanggapi positif agar efektivitas belajar bisa maksimal. 

Howard Gardner sendiri berpendapat bahwa ragam kecerdasan tidak boleh menjadi tujuan pendidikan. Lebih lanjut, dirinya menyampaikan, “Tujuan pendidikan perlu mencerminkan nilai seseorang (individu atau masyarakat) sendiri, dan nilai-nilai ini tidak pernah bisa datang secara sederhana atau langsung dari teori ilmiah.”

Dengan demikian, berikut adalah beberapa hal yang perlu dilakukan dalam menanggapi konsep ragam kecerdasan agar efektivitas belajar bisa maksimal:

Pertama, siswa perlu diberi banyak cara untuk mengakses informasi. Hal ini tidak hanya akan membuat pembelajaran lebih menarik, tapi siswa akan lebih cenderung mengingat informasi yang disajikan dengan cara yang berbeda. 

Dalam praktik pembelajaran di pesantren, hal ini dapat dilakukan dalam bentuk membahas konten pelajaran yang sama dengan ragam cara. Misalnya: membahas salat, dilakukan melalui metode bandongan, sorogan, dan diskusi masalah (bahts al-masa’il).

Kedua, pembelajaran sebaiknya dilakukan secara individual. Cara ini lebih sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa, bahkan walau sekelompok siswa punya gaya belajar yang nyaris seragam. Kalau di pesantren, bentuk konkret cara ini ialah pembelajaran sorogan, sementara kalau di perguruan tinggi, pasti terjadi dalam proses bimbingan tugas akhir (skripsi, tesis, atau disertasi). 

Tentu hal ini sulit diterapkan dalam pendidikan kontemporer, mengingat butuh banyak tenaga dan biaya. Namun, dapat diakali dengan membentuk sistem perwalian seperti pembimbing akademik kalau di perguruan tinggi atau guru ngaji setoran kalau di pesantren hafalan Alquran.

Ketiga, seni dimasukkan sebagai mata pelajaran tersendiri. 

Memang pelajaran seni sudah memiliki tempat di sekolah/madrasah, tapi kerap laiknya ‘kekasih tak dianggap’ seiring fokus lebih banyak diberikan kepada kecerdasan linguistik dan logis. Apakah kita sudah menganggap setara antara orang yang gemar me-mashup lagu K-Pop dengan orang yang biasa menyelesaikan persamaan matematis?


Tentunya, walau terdapat ragam kecerdasan, siswa tidak boleh diberi label dengan jenis kecerdasan tertentu. Pelabelan, seperti menyebut ‘cerdas secara verbal’ atau ‘cerdas secara visual’, memiliki bahaya laten ketika membuat siswa enggan mengeksplorasi variasi cara belajar maupun mengembangkan kecerdasan ‘yang lebih lemah’. 

Dengan demikian, keberadaan instrumen survei untuk mencari tahu ragam kecerdasan siswa sebaiknya hanya menjadi bahan yang disimpan oleh guru. Kalaupun siswa meminta, mereka harus diperingatkan bahwa instrumen tersebut diambil pada saat tertentu yang memungkinkan untuk berubah.

Sebagai bentuk dukungan terhadap Ofis—selain menerima konsep ragam kecerdasan—saya mulai memasukkan hal ini sebagai bagian dari riset pendidikan yang berfokus kepada literasi saintifik. Kebetulan kecerdasan (Arab: ذُكَاء) merupakan faktor pertama yang disebutkan dalam naḍom favorit saya terkait enam faktor penunjang (atau penentu) keberhasilan belajar.

Sebelumnya, saya lebih interest terhadap motivasi belajar (Arab: حِرْص). Interest ini memang hampir sepenuhnya didasari oleh pengalaman pribadi, karena dengan modal kecerdasan (awal) saya yang tak seberapa, motivasi kerap membantu keberhasilan yang dialami. Contoh paling bagus tentu saja ketika dibimbing menulis secara populer oleh Surotul Ilmiah dan akademik oleh Setiya Utari.

Dari penyampaian informasi tersebut, secara teknis riset literasi saintifik saya berikutnya akan berupaya untuk memperoleh profil kompetensi siswa berdasarkan ragam kecerdasan dan motivasi belajar. Hasil yang diperoleh juga diperkaya dengan catatan pelaksanaan pembelajaran, baik dari sisi siswa maupun guru. 

Tentu hal ini akan berjalan rumit. Tapi bukankah Lisa Randall pada 1 Februari 2019 menuturkan, Research is worthwhile only when the outcome is uncertain. Once you know the answer, no matter how interesting, it’s no longer research.

K.Km.Kl.011140.040719.15:20

Artikel Terkait