Mengetik tulisan ini jelang pukul 11 malam sambil mendengarkan takbir saat (terpaksa) swakarantina.

Saya ingin bilang, beruntunglah yang tidak mudik terhindar dari keponya handai tolan. Tapi di situasi yang "abnormal" seperti ini, sulit sekali rasanya mengumpulkan tenaga untuk satire. Lebih enak nostalgia kali, ya.

Apa situasi paling menyebalkan saat harus berjumpa dengan handai tolan? Tentu saja kapan nikah. Lajang se-Indonesia akan membahas masalah ini dengan sekuat tenaga di media sosial tiap jelang lebaran. Meme yang dibagikan mampu meredakan kejengkelan.

Kapan nikah akan terus ditanyakan karena ini pertanyaan template buat lajang se-Indonesia. Saking semena-mena, kadang malah muncul tanpa menunggu lebaran.

Seriusan, masalah kapan nikah bahkan kapan punya anak ini rasanya jadi konsumsi publik. Bukan hanya keluarga inti dan keluarga besar ya, bahkan tetangga dan orang sekantor! Padahal kalau dipikir, ini kan urusan pribadi. Urusan kapan punya anak sama tetangga tuh apa coba?

Tapi begitulah. Hidup di Indonesia, sesempurna apa pun diri dan hidupmu, pasti bakal ada bahan buat nanya-nanya urusan pribadi. 

Ada yang resek, ada juga yang memang perhatian. Jadi kalem saja semampunya ya. Hadapi dengan senyuman, semua yang terjadi biar terjadi, hadapi dengan tenang jiwa, semua kan baik-baik saja. Eh, kok malah nyanyi?

Sebagai perempuan lajang 30an yang kenyang menjawab pertanyaan 'kapan nikah', saya punya daftar cara ngeles pertanyaan ini, di antaranya:

1. "Nanti kalau sudah ijab qabul, insyaalla."

Gak salah dong. Bisa dibilang sudah nikah itu kalau sudah sah ijab qabul. Murni dijawab buat guyon.

Setelah menjawab begini, langsung cari topik obrolan baru biar gak dikejar terus. Banyak topik lain, contoh saja nih, "Tante, brosnya bagus deh, buatan tangan ya?"

2. Senyum saja yang lebar lalu kasih alasan untuk segera melipir

Contoh alasan yang manjur sebagai alasan untuk segera melipir adalah kebelet pipis. Hahaha.

Jangan lupa tambahkan gesture tak nyaman seperti orang kebelet pada umumnya. Mau ngeles tingkat dewa kudu didukung gesture biar afdol. Siapa yang mau nahan-nahan orang kebelet, tega bener kalau kejadian mah, emang niat mau nyiksa.

3. "Menurut perasaanku sih sebentar lagi."

Jawaban ala-ala cenayang bercampur rasa percaya diri dan optimisme. Lagi pula, anggap jawaban ini doamu.

Kalau si penanya masih ngejar, jawab lagi, "Kok gak diaminkan?" Setelah itu jangan lupa ucapkan terima kasih sambil tersenyum manis dan.

Kalau ternyata sampai lama banget masih belum ketemu jodoh gimana? Ya rapopo, namanya juga menurut perasaan, kalau menurut Mas Anang sih sudah pasti yes.

4.  "Tenang nanti kuundang kok."

Berikan ekspresi yang secara tak langsung ngomong gini: "Duh, nanya melulu deh, takut bener gak gue undang."

Dengan catatan pertanyaannya memang  annoying banget banget. Karena gak sopan ngomong begini ke orang yang lebih tua. Dan tentu saja gak baek ngasi jawaban begini ke teman yang memang bener-bener peduli.

5. "Kenapa nanya, mau ngasi endorse kawinan nih?"

Jangankan ngasi endorse buat kawinan, ditodong traktiran indomi saja orang langsung melipir kan?

Puter balik, jangan merasa terjajah lalu tersenyum kecut, biar yang memulai saja yang kemudian mengakhiri suasana tak nyaman tersebut.

Tapi tak perlu serius juga jawabnya, dibawa santai dan bercanda, yang penting pertanyaan stop sampai situ.

6. "Nanya terus, bantu nyariin napah!"

Nanya terus malah ditodong balik buat nyariin, hayo loh! Emang gampang nyariin jodoh?

Siapa tahu dengan ngomong begini malah dicariin beneran dan cocok, kan? Ternyata ada teman punya teman kece dan available, misalnya. Atau tante kita teman pengajiannya punya ponakan jomblo. Jadi deh kawin.

Ini jenis jawaban yang maksudnya guyon, ngeles, sekaligus modus.

7. "Mohon doanya supaya lancar ya."

It works all the time! Setelah doa disebut-sebut masa masih nanya terus. Tak tahu diri dan tak pengertian ini sih!

Ya memang jawaban yang begini sangat normatif. Tapi sekaligus juga usaha terakhir karena ditanya melulu pasti lelah juga Hayati. Orang bertanya hanya butuh suara dan mulutnya saja. Sementara yang menjawab harus berhadapan dengan kenangan, cobaan hidup, emosi, dan sebagainya.

Doakan saja si penanya ini diam-diam supaya yang terus bertanya itu dapat hidayah.

***

Marah-marah gak akan menyudahi derita pertanyaan ini. Malah diri sendiri yang rugi, bibir cemberut, muncul garis keriput, muka jadi kisut. Jangan lakukan tindakan keji yang seperti ini pada dirimu. Ingatlah selalu harga skincare yang bagus itu tak pernah murah.

Jawaban pedas pun jangan harap akan menyakitkan hati lalu kapok buat nanya lagi. Bisa jadi malah timbul masalah baru. Si penanya merasa tersinggung, misalnya. Males banget kan harus berurusan dengan drama. Meski lajang jangan terlihat punya banyak waktu luang. Makin menambah hasrat khalayak buat kepo loh entar.

Terakhir, ingatlah selalu bahwa pertanyaan 'kapan nikah' ini teramat menjengkelkan. Jika suatu saat statusmu berganti, menjadi suami atau istri seseorang, jangan nyampah pertanyaan yang sama kecuali benar-benar peduli. Menjadikan pertanyaan semacam ini untuk basa-basi sungguh tidak kreatif.

Selamat berlebaran! Teriring doa semoga kita semua dalam lindungan Tuhan. Sehat dan berbahagia.