Makanan itu tak juga habis.

Tanpa terasa, Brata si penyiar idola itu mulai mengajak para pendengar untuk mengirimkan salam via radio.

“Ayo, bagi para pendengar yang ingin mengirimkan salam, langsung SMS ke nomer kami ya!”

Ruko berlantai dua itu masih tutup. Ditandai dengan rolling door berwarna hijau tentara di lantai bawah yang tertutup rapat. Sang pemilik, sepasang suami istri yang memutuskan bersumpah sehidup semati setahun yang lalu itu, ada dilantai atas. 

Pagi itu suasana di ruko itu cukup hening. Keheningan itu pecah, sesaat setelah sang istri berlari dari kamar mandi menuju ruang makan. Tempat dimana sang suami duduk termenung mendengarkan radio. Wanita ini berlari dengan tangan kanan tergenggam.

Ia membuka tangan kanannya. Menunjukan apa yang ia genggam sedari tadi. Kedua ujung bibirnya mulai saling menarik. Bagaikan tirai yang terbuka, barisan gigi mungil yang putih-putih terawat, muncul disana. Sang istri mulai berseru dengan raut wajah yang mungkin paling bahagia di muka bumi saat itu.

“Mas lihat, aku positif!”

Test pack ditangan kanannya bertanda dua garis biru. Wanita ini akan segera menjadi ibu.

Seperti tulip di musim semi, hidung sang suami tak mampu menyembunyikan kebahagiannya. Hidung itu telah mekar. Pipinya seperti sedang memasak sesuatu, sehingga muncul warna kemerahan disana, sang pipi ikut bahagia. Jantungnya gelagapan. 

Ia berdegup ribut tanpa ritme, seakan meminta untuk dikeluarkan. Perasaannya campur aduk. Ia bangkit, hendak memeluk istrinya. Namun jantungnya sudah berhenti bergaduh sebelum ia sempat memeluk bahkan mengucap rasa sayang dan syukurnya. Ia roboh tanpa imbauan.

Perempuan itu telah menolak makan lagi untuk selamanya. Itu piring terakhir yang dihidangkan di depan hidungnya. Ia juga telah habis untuk menunggu salam di Kartika Radio. Ia memilih pulang ke rahim ibunya. Tapi itu tidak mungkin. Ia akhirnya memilih pulang lebih cepat.

Sekuat apapun iman manusia kepada tuhannya, kita seringkali membuat ketetapan yang kop surat dan tanda tangannya atas nama kita. Kita seringkali mendahului kehendaknya. Tapi dimana salahnya, orang bilang, sabar punya batasnya sendiri. Tapi seringkali kali kesabaran dijadikan candaan oleh masa depan.

Itu adalah kali pertama Gatot berjumpa dengan perempuan itu. Selama bertahun-tahun, ia tak pernah melihat perempuan itu di desa.

Perempuan dengan rambut menyerupai payung yang panjangnya mencapai bahu. Ia juga memiliki poni yang terayun-ayun menutupi dahinya. Tingginya sedang-sedang, tapi cukup menjadi tinggi yang disukai bagi pria berpostur tinggi. Laki-laki mana yang mau memiliki pasangan lebih tinggi dari dirinya.

Pikirannya adalah novel. Anggun dan sulit ditebak. Matanya adalah sudut pandang dunia. Luas dan membebaskan. Serta hatinya adalah plot twist, yang tidak satupun orang mampu menduga kemana ia akan mengarah. Dan Gatot adalah pembaca yang berharap novel itu tak ada halaman akhirnya. Ia jatuh cinta, dengan begitu singkatnya.

Iman Gatot cukup bagus pagi itu. Dalam tabel yang fluktuatif, imannya sedang berada dipuncak dan berjalan dengan cukup stabil. Segala urusan duniawinya telah dipasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia telah mempercayakan ketidaktahuannya kepada tuhan. Kecuali satu, Ia telah memastikan wanita itu akan menjadi jodohnya. Ia memastikan wanita itu akan menjadi ibu bagi anak dan keluh kesahnya.

Gatot telah mengeluarkan ketetapan yang kop dan tanda tangannya atas nama dirinya.

Pagi itu balai desa mengadakan pertemuan bagi setiap warganya. Kepala desa melakukan sosialisasi jumantik. DBD sedang menjadi primadona di puskesmas. Dan kepala desa berniat menghentikan pamornya.

Orang-orang tua disediakan tempat duduk, sementara muda-mudi desa dibiarkan berdiri dibelakang barisan kursi plastik hijau itu.

Diantara ramainya muda-mudi itu, Gatot dan Genduk bertemu. Ceritanya tak begitu panjang. Gatot hanya memangkas jarak diantara mereka yang panjangnya sekitar lima langkah orang dewasa. Sekarang mereka sudah bersebelahan.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu, tapi disini terlalu ramai, bisa kita pergi dari sini dan jalan-jalan sana?”

“Terlepas dari pentingnya sosialisasi ini, tempat ini terasa sangat membosankan.” Genduk cepat membalas.

“Sedari tadi aku ingin minggat, tapi keberanianku terlalu kecil untuk pergi sendirian.”

Dua kalimat pembuka itu cukup membuat Gatot makin dibuat gila.

“Nama ku Genduk.”

“Aku memang baru pindah di desa ini.”

Lepas dari balai desa, Gatot dan Genduk berjalan di jalan setapak yang membelah hamparan sawah maha hijau. Genduk sudah banyak menjawab pertanyaan Gatot yang pagi itu serupa wartawan. Banyak sekali, salah duanya adalah siapa namamu dan mengapa aku tak pernah melihatmu.

Mereka berdua menghentikan perjalanan di sebuah bukit kecil di ujung jalan. Orang bilang bukit itu angker, tapi bagi dua insan yang sedang dimabuk cinta, anggapan-anggapan itu tak pernah berlaku.

Gatot selalu membawa tas slempang kecil. Isinya radio kotak jadul berwarna hitam. Diatas bukit angker itu, mereka saling bertukar cerita, sambil mendengarkan radio. Hari itu mereka memutuskan Radio Kartika dengan Brata sebagai penyiarnya menjadi radio dan penyiar kesukaan mereka. Sesi yang pagi itu mereka dengar adalah sesi kirim salam. Mereka saling menertawakan isi salam yang lucu dan kadang nyeleneh. 

Jatuh cinta memang se-abstrak itu; cinta dengan dosis tinggi dan sepasang laki-laki dan perempuan yang kegilaan. Sesi kirim salam ditutup. Dan pagi di bukit itu ditutup dengan ciuman yang penuh gairah dari dua muda-mudi yang telah sama-sama ranum. Sesingkat dan seliar itu. Mereka jatuh cinta dan selayaknya muda-mudi lain, mereka berpacaran.

Kegiatan bertengger di puncak bukit angker pada pagi hari sambil mendengarkan Kartika Radio dan Bratanya menjadi kegiatan yang sering mereka lakukan setahun didepan. Mereka masih sering berjalan kaki kesana. Kadangkala Gatot sudah menunggu didepan rumah Genduk dengan motor butut WIN 100 nya.

Mereka adalah simbol kebahagiaan. Dan Radio Kartika adalah medium yang tak pernah lepas dari cerita dan cium mereka.

“Aku sangat mencintaimu, aku ingin menikahimu Genduk.” Pinta Gatot disuatu pagi diatas bukit dan ditengah-tengah sesi kirim pesan.

“Aku tidak ragu untuk menuju iya, temuilah orang tuaku.” Jawab Genduk sambil bergidik.

“Itu terlalu dini sayang, aku akan pergi ke Jakarta, menumpuk uang, lalu kembali ke dirimu agar kelak kita dan anak-anak kita memiliki hidup yang terjamin.”

“Jangan sedih, aku akan kirim salam ke Kartika Radio, biar Brata yang membacakannya untukmu!” lanjut Gatot.

Genduk tak menjawab. Perasaan yang semula memuncak penuh kebahagiaan, berubah menjadi dingin. Lebih dingin dari Antartika. Tempat yang sering mereka bicarakan diatas bukit. Tempat yang sering mereka bayangkan untuk ditinggali dengan gaya Orang Eskimo. Wajahnya berdebat, entah harus bahagia atau sedih. Ia akan ditinggal oleh pujaan hatinya. Ia yang melamar masa depannya sebagai pemimpin keluarga.

Satu bulan setelah adegan lamaran itu, Gatot sudah diatas bukit angker itu bersama Genduk. Mereka sudah bertukar cerita selama hampir tiga jam. Brata sudah menyampaikan berbagai macam salam. Tapi pagi itu Gatot tidak hanya dengan tas slempang kecilnya. Ia membawa tas besar yang penuh sesak isinya. Disamping tas itu ada satu kerdus rokok berukuran besar. Gatot sudah siap ke ibu kota. Dan Genduk adalah satu yang tak akan pernah siap.

“Aku berangkat dulu, sebentar lagi angkot akan pergi ke pusat kota.”

“Aku akan menumpang sampai terminal.” Sambung Gatot cepat.

Angkot sudah terlihat dari atas bukit. Dan Genduk masih terdiam. Dan mungkin selamanya ia akan terdiam. Ia begitu remuk. Seperti disampaikan sebelumnya. Ia akan menjadi satu yang tak pernah siap.

“Ini Radio-ku, bawa dan jaga ya!”

“Aku mencintaimu Genduk, tunggu aku pulang dan akan kuwujudkan semua impian kita.”

“Jaga hatimu untukku selalu ya Sayang.”

Gatot bergegas turun dari bukit dan menuju angkot yang tak terasa sudah di pinggir jalan depan  bukit. Ia mencium bibir mungil Genduk sebelum turun, tanda perpisahan. Tak seperti biasanya, Genduk tak membalas ciuman itu. Ia hanya membalas lewat air yang perlahan keluar dari ujung matanya. Ia sedikit menangis, dan berupaya menahan segala pemberontakan di hati dan kerongkongannya.

Sesampai di pinggir jalan, tepat didepan pintu angkot, Gatot berbalik dan berteriak.

“Jangan lupa, nyalakan radio setiap pagi, akan ada pesan untukmu sayang!”

Tangis Genduk pecah. Dia menangis sejadi-jadinya. Seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesukaannya. Tangis itu mengiringi kepergian Gatot.

Hari-hari setelah kepergian Gatot diisi Genduk dengan diam. Selama lima tahun kepergian Gatot, hanya satu tahun yang diisi Genduk diatas bukit angker itu, sendirian. Empat tahun sisa penantiannya dihabiskan di kamarnya. Radio itu tidak pernah jauh darinya. Ia selalu menanti salam Gatot, salam yang tak pernah sekalipun dibacakan oleh Brata untuknya.

Porsi makananya terus menyusut. Bersamaan dengan tubuhnya. Orang tua, teman dan kerabatnya sudah tak mampu mengatasi kegalauannya. Ia hanya butuh Gatot, minimal pesan yang dijanjikannya.

Keterpurukan Genduk akhirnya berhenti. Berhenti di hari dimana Radio Kartika mengumumkan berita yang mengejutkan.

“Setelah 10 tahun membersamai para pendengar dan mewarnai blantika radio Indonesia, sekarang saatnya kami undur diri.”

“Terimakasih atas kesetiaan para pendengar, dan sampai jumpa di hari baik selanjutnya!”

Radio Kartika kalah saing dengan dominasi televisi. Ratingnya terus turun dan akhirnya kehilangan pasarnya. Radio Kartika bangkrut. Selesailah perjalanan Radio Kartika bersamaan dengan selesainya sabar Genduk yang akhirnya dijadikan lelucon oleh masa depan. Itu adalah siaran terakhirnya, dan sesi kirim salam masih tanpa salam dari Gatot.

Pagi itu ruko berlantai dua milik Gatot masih tutup. Usahanya yang sukses membuahkan ruko yang mewah. Ia berada dilantai atas. Ia termenung, mendengar Radio Kartika yang gulung tikar. Itu adalah siaran terakhirnya. Keheningan itu pecah setelah sang istri berlari dari kamar mandi menghampirinya. Ia menunjukan test pack yang menunjukan tanda dua garis biru.

“Mas lihat, aku positif!”

Gatot akan segera menjadi ayah. Rasa sedih itu dalam sekejap meletup dan bergeser menjadi rasa senang. Pergeseran yang tiba-tiba itu tak dapat diterima oleh jantungnya. Jantungnya berhenti berdegup, dan dia ambruk didepan istrinya yang sedang bunting.

Dirumah kecil itu, disebuah kamar didalamnya makanan Genduk tak kunjung habis. Genduk memutuskan untuk pulang saja ke rahim ibunya. Tapi hal itu tidak mungkin dilakukan, maka selanjutnya ia memutuskan untuk pulang lebih cepat. Silet sudah memutus nadinya, dan darah bercucuran dari sana. Genduk roboh.

Jatuh cinta memang abstrak maka; cinta dengan dosis tinggi tak boleh dikonsumsi oleh sepasang laki-laki dan perempuan yang kegilaan.

Gatot dan Genduk mungkin akhirnya dipertemukan kembali dalam bentuk yang seperti hati Si Genduk, plot twist.

Gatot dan Genduk adalah bukti cinta bisa secepat itu tumbuh. Mereka juga adalah bukti cinta itu berdosis tinggi. Maka dalam mengkonsumsinya harus dengan penuh kewarasan dan tanggung jawab.

Gatot dan Genduk adalah pelajaran.