Pergerakan-pergerakan radikalisme semakin menjamur di Indonesia. Radikalisme marak diperbincangkan oleh media tanah air. Hal ini tentu patut menjadi sorotan masyarakat. Salahuddin Wahid pengasuh pesantren Tebu Ireng menulis opini dalam sebuah media cetak tanah air tentang radikalisme. Ia kerapkali diminta oleh penganut paham radikalisme menjadi pembicara dalam kegiatan-kegiatan keagamaan mereka. Salah satu hal mengejutkan yang ia tuliskan adalah banyaknya dosen universitas di Surabaya, baik negeri maupun swasta yang menganut paham radikalisme. Meskipun demikian, Salahuddin Wahid tetap mengajarkan tentang ajaran islam moderat atau sering disebut islam nusantara.

Penulis sangat menyayangkan fenomena tersebut. Universitas-universitas merupakan tempat bagi mahasiswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Para mahasiswa ini masih pada masa-masa pencarian jati diri. Para kaum muda ini tentu memiliki idealisme yang kuat dan menggebu-gebu. Hampir sebagian besar universitas di Surabaya memiliki jumlah mahasiswa yang banyak. Apabila banyak dosen universitas di Surabaya yang menganut paham radikalisme, maka bisa saja mereka menanamkan pemahaman radikalisme tersebut kepada mahasiswa dalam pengajarannya.

Tak hanya itu, kelompok radikalisme sering membuat teror-teror kepada masyarakat dan pemerintahan. Tragedi penusukan oleh sepasang suami istri terhadap Wiranto mantan Menteri Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam), pengeboman-pengeboman tempat ibadah dan kantor kepolisian menjadi bukti nyata eksistensi teror yang dilakukan oleh mereka. Keberadaan mereka yang ingin membuat negara khilafah dan menggantikan ideologi Pancasila menjadi ancaman persatuan dan kesatuan Indonesia. Penyebaran berita radikalisme di media daring yang mengalir deras juga menjadi ancaman tersendiri bagi persatuan. Sebab ajaran-ajaran radikalisme di media daring bila terus berdatangan dan tak dibendung juga dapat mempengaruhi paradigma masyarakat luas.

Berdasarkan data statistik dari Alvara Beyond Insight menunjukkan persentase yang memilukan tentang kepedulian masyarakat terhadap sesama sebangsanya. Jika ada bencana alam di Palestina dan Indonesia Timur secara bersamaan, 34.4% profesional menyatakan lebih memilih membantu Palestina dibanding Indonesia Timur. Kejadian tersebut membuktikan bahwa lebih dari seperempat masyarakat Indonesia lebih memilih membantu Palestina. Alasannya adalah 34,4% lebih mementingkan kesamaan agama daripada sesama anggota masyarakat Indonesia. Seperti kita tahu bahwa masyarakat di Indonesia Timur sebagian besar menganut agama non islam. Persentase tersebut menunjukkan lemahnya kesadaran persatuan antarwarga. Lebih dari seperempat masyarakat profesional lebih mengutamakan persamaan agama tertentu daripada persamaan kewarganegaraan.

Hal ini sangat perlu untuk segera diredam sampai pada dasarnya, baik oleh pemerintahan maupun masyarakat. Sebab apabila tidak, akan sangat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Pada tulisan ini penulis ingin mendalami mengenai pengertian dari radikalisme, sejarah radikalisme, makna persatuan indonesia dalam butir Pancasila sila ketiga, dan hubungan radikalisme dalam perspektif sila ketiga dalam Pancasila.

Paham Radikalisme

Radikalisme ini berasal dari bahasa Latin yaitu radix yang berarti “akar”. Istilah ini digunakan pada akhir abad ke-18 untuk pendukung Gerakan Radikal. Dalam sejarah, gerakan yang telah dimulai di Britania Raya ini meminta reformasi sistem pemilihan secara radikal. Gerakan ini awalnya menyatakan diri sebagai partai kiri yang menentang partai kanan. Begitu radikalisme historis mulai terserap dalam perkembangan liberalisme politik, pada abad ke-19 makna istilah radikal di Britania Raya dan Eropa daratan berubah menjadi ideologi liberal yang progresif. Radicalism artinya doktrin atau praktik penganut paham radikal atau paham ekstrim. Radikalisme adalah salah satu paham atau ideologi yang menuntut perubahan dan pembaharuan sistem sosial dan politik dengan cara kekerasan.

Menurut Sartono Kartodirdjo, radikalisme ialah suatu gerakan sosial yang menolak secara menyeluruh tertib sosial yang sedang berlangsung. Hal ini ditandai oleh respon kejengkelan moral yang kuat untuk menentang dan bermusuhan dengan kaum yang memiliki hak-hak istimewa dan yang berkuasa.

Menurut Roger, Radikalisme yaitu paham yang radikal dalam politik. Radikalisme merupakan aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dengan cara kekerasan. Menurut buku Kamus Politik, radikal ialah orang yang ingin membawa ide-ide politiknya ke akar-akarnya. Mereka ingin mempertegas dengan cara sempurna doktrin-doktrin yang dihasilkan oleh usaha tersebut.

Menurut dr. KH. Tarmidzi Taher, radikalisme bermakna positif, yang memiliki makna tajdid (pembaharuan) dan islah (perbaikan), atau suatu semangat perubahan menuju kebaikan. Para pemikir radikal dianggap sebagai seorang pendukung reformasi jangka panjang.

Sejarah Radikalisme

Konsep radikalisme ini telah ada sejak manusia ada. Akan tetapi kata radikal pertama kali diperkenalkan oleh Charles James Fox. Pada tahun 1797, ia mendeklarasikan reformasi radikal dalam sistem pemerintah. Reformasi ini digunakan untuk mendefinisikan pergerakan yang mendukung revolusi parlemen negaranya. Namun seiring berjalannya waktu, ideologi radikalisme mulai terserap dan menerima ideologi liberalisme.

Paham radikalime ini sering dikaitkan dengan agama, agama yang sering menjadi target yaitu agama islam. Awalnya, penargetan islam pada zaman modern yaitu setelah Uni Soviet kepada Afganistan dan juga kejadian 11 September di Amerika Serikat tahun 2001. Hal ini ditambah dengan perkembangan ISIS yang menyebar teror ke seluruh dunia. Tapi perlu digaris bawahi, hakikat islam adalah negara yang cinta dan membawa kedamaian. Mereka yag menerapkan kekerasan dengan mengatasnamakan islam bukanlah orang islam sesungguhnya.

Persatuan Indonesia dalam Pancasila

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas daerah yang dihiasi oleh beragam pulau. Namun menurut Soekarno, Indonesia merupakan negara kelautan yang taburi ribuan pulau di Nusantara. Cakupan daerah yang terbentang luas dengan pelbagai pulau inilah yang memberikan kekayaan bagi bangsa Indonesia. Kekayaan inilah yang memberikan keberagaman bagi bangsa Indonesia, baik dari segi budaya, kearifan lokal, suku, bahasa, dan agama. Singkat kata, Indonesia adalah bangsa majemuk paripurna (par excellence).

Prinsip sila ketiga dalam Pancasila meletakkan dasar kebangsaan sebagai simpul persatuan Indonesia. Suatu konsepsi kebangsaan yang mengekspresikan persatuan dalam keragaman. Keragaman ini membentuk persatuan (unity in diversity, and diversity in unity). Dalam slogan dinyatakan dengan ungkapan Bhinneka Tunggal Ika. Mengupayakan persatuan masyarakat plural seperti bangsa Indonesia bukanlah perkara yang mudah. Sejak awal berdirinya republik ini, para pendiri bangsa menyadari sepenuhnya bahwa proses nation building merupakan agenda penting yang harus terus dibina dan ditumbuhkan. Soekarno membangun rasa kebangsaan dengan membangkitkan sentimen nasionalisme yang menggerakkan suatu itikad dan keinsyafan rakyat, bahwa rakyat itu adalah satu golongan, satu bangsa.

Soekarno pernah mengatakan bahwa gerombolan manusia meskipun agamanya berbeda dan berwarna macam-macam, meskipun bahasanya bermacam-macam, asal gerombolan manusia itu memiliki kehendak untuk hidup bersama, itu adalah bangsa. Negara juga diharapkan mampu memberikan kebaikan bersama bagi warganya, tanpa memandang siapa dan dari golongan, etnis, atau agama apa mereka. Usaha mewujudkan negara persatuan itu dapat diperkuat dengan budaya gotong-royong dalam kehidupan masyarakat sipil dan politik dengan terus mengembangkan pendidikan kewarganegaraan dan multikulturalisme yang dapat membangun rasa keadilan dan kebersamaan, dengan dilandasi prinsip-prinsip kehidupan publik yang lebih partisipatif dan non diskriminatif.

Secara konsepsional, Indonesia telah memiliki prinsip dan visi kebangsaan yang kuat. Indonesia tak hanya mempertemukan kemajemukan masyarakat dalam kebaruan komunitas politik bersama, tetapi juga mampu memberi kemungkinan bagi keragaman komunitas untuk tidak tercerabut dari akar tradisi dan kesejahteraan masing-masing. Konsepsi kebangsaan seperti itu setidaknya pernah berhasil mengantarkan Indonesia ke pintu kemerdekaannya.

Persatuan Indonesia menjadi luntur ketika ada kelompok radikal yang terang-terangan menggunakan doktrin agama untuk menyatakan ketidaksukaannya terhadap kelompok lainnya. Hal ini dapat dikatakan bahwa dapat menjadi titik awal kehancuran societas. Kata “Persatuan Indonesia” yang sering disebut Soekarno sebagai “Kebangsaan Indonesia” tidak boleh hanya sekadar slogan kosong. Pancasila telah menjadi fondasi yang sangat kokoh, bahkan telah melampaui sekat-sekat perbedaan agama. Menurut Armada Riyanto, Pancasila tidak pernah menjadi produk kompromi kelompok apapun. Pancasila bukan pertama-tama sebuah ideologi (semacam “agama” negara) melainkan identitas dan fondasi ontologis-eksistensial bangsa.

Paham Radikalisme dalam Kaca Mata Sila Ketiga

Negara Indonesia merupakan negara kesatuan. Apabila ada segelintir atau sekelompok orang yang ingin memecah belah, maka tindakan tersebut telah bertentangan dengan nilai sila ketiga. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak perbedaan. Perbedaan ini tak dapat menutup kemungkinan bahwa bangsa Indonesia tak bisa bersatu. Keragaman ini membentuk persatuan (unity in diversity, and diversity in unity). Kesatuan dalam perbedaan ini dibutuhkan satu visi dan komitmen bersama. Kebangsaan Indonesia yang sering digaungkan oleh Soekarno kiranya tak sekadar slogan. Kebangsaan Indonesia kiranya semakin hari semakin mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia.

Kelompok radikalisme yang menginginkan untuk membuat negara khilafah kiranya harus segera dihentikan. Pasca Reformasi dengan kebebasan berpendapat dan berekspresi malah disalahgunakan untuk memecah belah bangsa Indonesia. Kebebasan yang telah diberikan oleh pemerintah bagi masyarakat tidak dipergunakan dengan bijaksana. Oknum-oknum tersebut menggunakan kebebasan ini dengan tidak bertanggung jawab dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Tak hanya merusak persatuan dan kesatuan, kelompok radikalisme ini juga sering membuat teror-teror bagi masyarakat, seperti halnya penyerangan terhadap aparat keamanan, pejabat pemerintahan, dan tempat-tempat ibadah di beberapa tempat di Indonesia.

Pengaruh dari radikalisme ini tentu memberikan dampak buruk dalam segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Tersebarluasnya ajaran mereka menjadi lampu kuning bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. Terbentuknya kelompok-kelompok penganut aliran radikalisme yang semakin membumi perlu menjadi perhatian bagi pemerintah. Upaya memberantas radikalisme sudah dilakukan di banyak daerah. Bentuk-bentuk menanggulangi radikalisme ialah dengan banyaknya seminar dan dialog lintas agama dan lintas budaya. Tak hanya itu, membumikan kembali nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat juga terus diupayakan oleh banyak pihak, baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri.

Radikalisme bertentangan dengan nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang terkandung dalam butir-butir Pancasila. Sebab radikalisme mengabaikan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Radikalisme juga mengabaikan kekayaan khas Indonesia yakni keberagaman suku, budaya, agama, ras, dan bahasa. Keberagaman yang telah sejak lama tertanam erat di tanah Indonesia seakan dicabut dari tunasnya. Hal tersebutlah yang menjadi bukti bahwa radikalisme sangat tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. Paham dengan menganut satu ideologi yang hanya mengacu satu golongan sangat tidak pas dengan kondisi dan situasi bangsa Indonesia. Keberagaman bangsa Indonesia sudah menjadi identitas yang mengakar kuat. Ibarat bunga di taman, radikalisme adalah parasit yang hadir untuk merusak keindahan warna-warni taman. Ia hadir untuk merusak tanaman lainnya dan hari demi hari terus merambat ke bunga-bungan lainnya. Hal ini tentu sangat merugikan dan perlu untuk segera dicabut dari tanah ibu pertiwi, jagad bumi nusantara, Indonesia.

Kesimpulan

Melalui beberapa peristiwa empiris dan pelbagai pendapat serta pemahaman radikalisme dalam konotasi negatif agama, radikalisme sangat tidak cocok diterapkan di Indonesia. Radikalisme sangat bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam sila ketiga. Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sedang dipertaruhkan dengan hadirnya kelompok radikal. Hal ini tentu menjadi keprihatinan segenap masyarakat Indonesia. Radikalisme juga tak segendang sepenarian dengan visi dan tujuan dari bangsa Indonesia yang ingin menyatukan segala elemen masyarakat yang berbeda. Maka dari itu, upaya demi upaya untuk memberantas pemikiran radikalisme mengatasnamakan agama perlu dilakukan. Apabila terus dibiarkan akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia merdeka.