2 tahun lalu · 1011 view · 3 menit baca · Agama bhineka_tunggal_ika_0.jpg
Foto: Istimewa.

Radikalisme dan Overdosis Agama

Situasi keagamaan Indonesia belakangan ini sedang bergejolak. Sebagian kelompok Islam rencananya akan kembali melakukan aksi demostrasi pada tanggal 2 Desember mendatang, disinyalir disusupi oleh kelompok radikal dan fundalimentalis. Sebagian besar menganggap bahwa, kasus penistaan agama menjadi pintu masuk untuk memperjuangkan kepentingan ideologi kelompoknya.

Keadaan ini semakin mirip dengan situasi di Negara Timur Tengah, dimana kekerasan, teror dan sikap intoleransi berlatar belakang agama menjadi hal yang dianggap halal. Radikalisme bila dilihat dari sudut pandang agama diartikan sebagai paham keagamaan yang mengacu pada pondasi keagamaan mendasar dengan fanatisme tingkat tinggi (overdosis agama).

Pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, pembakaran Gereja di Singkil, kekerasan terhadap komunitas Ahmadiyah, pengusiran terhadap komunitas Syiah menjadi indikator bahwa masih ada beberapa kelompok yang belum bisa menerima Pluralisme. Jika ini terus berkelanjutan, ancaman disintegrasi Bangsa menjadi semakin nyata. Perpecahan dan kekerasan sulit terhindari.

Kala Dunia dilanda krisis pengungsi, Muslim Rohingya di Myanmar dibantai habis, Indonesia hari ini dilanda intoleran. Disisi lain, Indonesia tentu tidak menghendaki tragedi seperti di Pakistan, Suriah, Irak, Tunisia, Lybia bahkan seperi Arab Spring di Yaman. Negara tidak boleh kalah, untuk alasan apa pun jangan biarkan dan jangan beri ruang kelompok radikal tumbuh dan berkembang.

Dalam hal ini Ludwig Feurbach (1804-1872) ada benarnya. Ia mengatakan agama adalah proyeksi diri manusia. Kala itu, agama memproyeksikan kelemahan manusia, tetapi sekarang agama justru memproyeksikan keserakahan manusia (The Essence of Religion, 1845). Jika fenomena agama politik sektarian ini tidak dikelola dengan baik dan bijaksana, potensi kekerasan komunal-horisontal dapat terjadi, dan semangat demokrasi telah diperjuangkan sejak tahun 1998 (era baru reformasi) dapat terkubur di masa depan.

Penelitian dari Kementerian Agama RI, menyatakan bahwa perkembangan paham keagamaan transnasional (2010), telah ditemukan adanya gerakan keagamaan transnasional di Indonesia seperti Salafi, Syi’ah, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin (IM) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Penelitian itu juga meliputi gerakan di luar Islam termasuk Gereja Pantekosta di Indonesia, Buddha Meitreya dan Buddha Soka Ghakai di Indonesia. Gerakan radikal sering menggunakan simbol-simbol agama dengan dalih pemurnian atau purifikasi ajaran agama (abad ke-12 Masehi)

Fenomena radikalisme saat ini sebaiknya disikapi sebagai wake up call yang menyadarkan seluruh komponen bangsa untuk melakukan konsolidasi diri dengan usaha-usaha early warning system, pembinaan umat yang lebih efektif serta kerjasama kebangsaan yang lebih kokoh.

Meneguhkan Semangat Bhineka Tunggal Ika

Setelah Orde Baru tumbang, kelahiran era reformasi ditandai dengan terbukanya kran demokratisasi yang kemudian menjadi lahan subur bagi kelompok-kelompok Islam radikal dan fundamentalis. Front Pembela Islam (FPI) merupakan salah satunya, organisasi islam yang bersifat fundamentalis. Dilansir dari laman Khilafatuhmuslimin, tercantum visi misi FPI untuk penerapan syariah Islam dan penegakkan khilafah Islamiyah melalui jalan dakwah, hisbah dan jihad, maka FPI mendukung sepenuhnya pendirian khilafah Islamiyah di dunia sesuai manhaj nubuwwah.

Terkait aksi aksi lanjutan 2 Desember mendatang, mereka gencar melakukan protes untuk memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), meskipun sudah masuk ke ranah hukum, tapi disisi lain publik mensinyalir adanya dugaan yang mengarah kepada aksi makar.

Beberapa kalangan menilai, hal ini ditandai dengan munculnya isu Rush Money yang membuat heboh beberapa hari ini. Aksi itu membawa kesan secara jelas adanya keterlibatan kelompok jihadis yaitu terlibatnya tokoh kunci seperti Bachtiar Nasir (pendakwah Wahabi), Abu Jibril (MMI) dan M. Zaitun (Wahdah Islamiyah) ormas yang disponsori Wahabi dan gemar mengkafirkan kelompok lain.

Seperti dilansir beberapa media nasional, akun instragram milik @dpp-fpi memposting seruan untuk melakukan aksi tarik uang di Bank secara besar-besaran. Sontak, jagat maya pun heboh. Dampak Rush Money berpotensi besar menimbulkan kekacauan sistem perbankan, hal ini karena kurangnya uang yang dapat menyebabkan lumpuhnya stabilitas ekonomi.

Berkaca pada sejarah, ketika krisis moneter tahun 1997-1998, dimana Bank Central Asia (BCA) dihantam oleh nasabahnya yang secara tiba-tiba menarik uangnya secara besar-besaran, akhirnya BCA kolaps dan harus mendapatkan suntikan dana segar dari Pemerintah. Setelah kejadian krisis ekonomi tahun 1997-1998 berlanjut dengan krisis politik dan sosial yang berhujung dengan tumbangnya rezim pemerintahan Soeharto.

Dampak paling besar dari Rush Money merupakan perkara yang serius dan bisa menjatuhkan rezim yang berkuasa akibat tekanan dan ketidakmampuan mengendalikan resiko ekonomi. Nilai rupiah sudah pasti jatuh dan ini sangat bahaya.

Untuk menangkal radikalisme dan fundamentalisme serta dampaknya bagi persatuan NKRI yang berlandaskan ideologi Pancasila. Pancasila adalah modal dan kekayaan luar biasa bagi bangsa Indonesia karena ideologi ini bisa sangat bersahabat dengan beragam agama dan kepercayaan. Kita telah ketahui bersama bahwa, Islam yang berkembang di Indonesia berwatak Inklusif.

Atas dasar itu, Islam di ruang publik tidak dapat dikooptasi oleh kelompok tertentu, meskipun terdapat berbagai ormas di Indonesia yang mengatasnamakan Islam, namun Islam pada dasarnya bukan berdasarkan kepada epistemologi suatu kelompok. Apalagi ketika Islam bersentuhan dengan nuansa politis, ia akan menjelma ke dalam suatu bentuk subjektifitas tertentu dan berwujud ideologis. Lebih tepatnya, fenomena ini lebih cocok disebut sebagai kelompok islam bukan umat islam. Bhineka Tunggal Ika harus menjadi pedoman kita semua.

Artikel Terkait