Saat ini berbagai ideologi semakin berkembang, yang mana ideologi ini kemudian juga tumbuh di masyarakat. Salah satu ideologi yang ikut serta berkembang dalam hal ini ialah paham radikalisme.

Secara teoritis memang radikalisme ini tentu tidak langsung dapat dipercayai begitu saja oleh mahasiswa, mereka tentunya akan mencari informasi terlebih dahulu atau mujadalah serta melakukan diskusi untuk mendapat pengetahuan yang lebih luas terkait radikalisme.

Namun tidak pada kenyataannya, banyak mahasiswa yang akhirnya terpengaruh oleh paham ini dan menjadi bagian di dalamnya dalam menyebarkan paham radikal bahkan sampai melakukan tindakan radikal.

Sehingga dengan begitu, upaya-upaya preventif terhadap penyebaran paham radikalisme sangat perlu untuk dilakukan agar paham ini tidak semakin berkembang terlebih bagi mahasiswa di Indonesia.

Latar Belakang Radikalisme

Kemunculan radikalisme ini tentu tidak secara tiba-tiba terutama dalam Islam. Ia muncul dengan berbagai situasi baik politik, ekonomi, agama, dan sosial budaya yang mana dianggap memojokkan umat Islam. Adanya gerakan ini menyebabkan kerugian umat Islam secara politik, bahkan diperlakukan secara tidak adil.

Keberadaan berbagai kelompok radikal tersebut sejatinya disebabkan oleh dua faktor utama, yang pertama ialah dimana para penganut Islam radikal teramat kecewa terhadap umat Islam yang tertinggal dibandingkan dengan kemajuan bangsa barat dan segala aksesnya.

Faktor yang kedua ialah karena adanya pendangkalan pemahaman terhadap Islam, terlebih para kaum muda. Dasar ilmu agama yang kurang kuat menyebabkan banyak umat Islam yang kemudian mudah terpengaruh akan paham radikal.

Selain itu, adanya krisis kepemimpinan di masa Orde Baru tersebut memberikan peluang bagi gerakan Islam dalam melakukan penerapan syariat Islam untuk mengatasi krisis tersebut.

Jika kita melihat lebih jauh lagi, adanya radikalisme agama ini tentunya dapat mendorong terjadinya gerakan radikalisasi agama yang kemudian memiliki keinginan kuat dalam menerapkan ajaran agamanya ke dalam masyarakat ideal yang penuh keberagaman di dalam negeri ini.

Hanya karena melihat sebagian kelompok yang melakukan gerakan radikalisme tersebut, Islam lalu dipandang sebagai suatu ancaman terhadap ketentraman dan kedamaian dunia, padahal Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin,

Radikalisme di Kalangan Mahasiswa

Saat ini perguruan tinggi menjadi tujuan yang menjanjikan bagi para pengusung paham radikal, karena para mahasiswa masih berada di tahap pencarian jati diri. Hal ini yang kemudian menyebabkan banyak paham radikal mulai masuk ke lingkungan perguruan tinggi.

Perguruan tinggi yang seharusnya menjadi tempat untuk melahirkan orang-orang yang ahli di berbagai ilmu pengetahuan di bidangnya dan menjadi pemecah berbagai permasalahan yang ada di masyarakat.

Namun dengan adanya paham radikal tersebut, terutama bagi mahasiswa yang tidak memiliki dasar beragama yang kuat kemudian dimanfaatkan oleh berbagai oknum pengusung paham radikal untuk dipengaruhi dalam penanaman radikalisme.

Melihat hal tersebut tentunya perguruan tinggi umum akan lebih berisiko mahasiswanya menganut paham radikal dibandingkan perguruan tinggi keagamaan, Namun tidak demikian, rupanya saat ini gerakan radikal juga sudah mulai berkembang ke perguruan tinggi yang memiliki basis keagamaan.

Faktor Penyebab Radikalisme

Radikalisme Islam dilatarbelakangi adanya kelemahan umat Islam dalam hal aqidah, syariah, dan perilaku. Pada radikalisme Islam ini merupakan berbagai bentukan dari mulai islah, lalu tajdid, serta jihad yang maksudanya untuk mengembalikan muslim pada ruh Islam yang sesungguhnya.

Radikalisme Islam di Indonesia disebabkan beberapa faktor, yaitu sosial politik, emosi keagamaan, kultural, ideologis anti westernisme, dan kebijakan pemerintahan.

Faktor Sosial Politik

Alasan terjadinya pertentangan kelompok radikal dengan kelompok lain karena kelompok radikalisme tidak diuntungkan oleh peradaban global. Penyebab utama gerakan protes adalah ketidakpuasan yang menyebabkan politisasi atas ketidakpuasan itu.

Sasaran dan aktor-aktor yang dituju menjadi aktualisasi kekerasan oleh kelompok radikalisme dengan membawa simbol, bahasa, dan slogan-slogan agama. Kelompok radikalisme menggalang kekuatan untuk mencapai tujuan poltiknya.

Faktor Keagamaan

Sentimen keagamaan merupakan salah satu penyebab gerakan radikalisme. Orang-orang yang terlibat dalam gerakan tersebut akan membentuk sebuah organisasi. Organisasi radikal seperti HTI pernah menguat di kota-kota besar dengan simpatisan kaum muda dan mahasiswa.

Organisasi radikal dalam membangun pengetahuan kepada simpatisannya melalui pemaparan kasus ketimpangan sosial hingga dilakukan pemahaman mengenai satu solusi dan merupakan satu-satunya solusi dalam mengatasi permasalahan tersebut dengan membawa dalih membela agama, jihad, dan mati syahid.

Faktor Kultural

Faktor kultural merupakan pertentangan terhadap budaya sekularisme. Budaya barat dianggap sebagai sumber sekularisme yang harus dihilangkan dari bumi.

Salah satu organisasi radikalisme HTI pernah membuat pernyataan yang menjadi akar permasalahan beserta solusinya, adanya sistem yang buruk seperti pada sistem kapitalisme dan sistem sekularisme,

Faktor kultural memiliki perayang cukup besar dalam melatarbelakangi munculnnnya radikalisme. Hal ini karena dalam suatu masyarakat pasti ditemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai.

Faktor Ideologis Anti Westernisme

Westernisme merupakan suatu pemikiran yang mengaplikasikan syariat Islam akan tetapi membahayakan muslim, simbol-simbol Barat dihancurkan demi penegakan syariat Islam.

Walaupun gerakan anti-Barat tidak bisa disalahkan dengan alasan keyakinan agama, tetapi jalan kekerasan untuk menegakkan syariat Islam justru menunjukkan ketidakmampuan kelompok radikalisme dalam memosisikan diri sebagai pesaing dalam budaya dan peradaban.

Faktor Kebijakan Pemerintah

Ketidakmampuan pemerintah di negara-negara Islam untuk bertindak menjaga dan memperbaiki situasi atas berkembangnya kemarahan dan frustasi sebagian umat Islam disebabkan dominasi ideologi, militer maupun ekonomi dari negera-negara besar.

Bahaya Radikalisme Agama

Klaim yang sering penganut paham radikal katakan ialah mereka mudah menyesatkan kelompok lain yang tidak sependapat dengannya. Mereka akan bersikap solah-olah orang yang lain salah dan mereka harus membenarkannya.

Radikalisme agama yang terjadi dirasa sangat mengerikan. Mulai dari penyerangan terhadap orang-orang beragam lain, penyerangan di tempat hiburan, hingga melakukan membunuh kepada penganut ideologi berbeda dari mereka.

Bahaya ini akan semakin parah jikalau pihak kampus tidak melakukan tindakan yang tegas terhadap penyebaran paham radikalisme di kalangan mahasiswanya.

Upaya Pencegahan Radikalisme

1. Menanamkan nilai-nilai Pancasila pada setiap diri mahasiswa agar mahasiswa tidak terjerumus ke dalam tindakan yang radikal atau keras.

2. Mendorong organisasi kemahasiswaan kampus untuk menyalurkan bakat dan minat mahasiswa, sehingga mahasiswa tidak mengikuti atau lebih tertarik pada organisasi di luar kampus yang cenderung mengajarkan tindakan radikal.

3. Dalam pendidikan agama Islam, mahasiswa senantiasa untuk diberikan penjelasan tentang konsep jihad yang benar, sehingga tidak mudah terindoktrinasi oleh organisasi terkait pemahaman jihad yang malah menyimpang dari ajaran agama.

Untuk umat muslim pada dasarnya pendidikan Islam dapat tercapai jika para pemeluknya melakukan tiga hal, yaitu tidak ada kesalahan dalam tafsir kitab suci Al-Quran, tidak terjebak pada formalisasi agama, dan menjalankan kehidupan beragama dengan sikap yang lurus dan tulus, serta berada dalam kebenaran.