Agama di Indonesia masih menjadi masalah utama pemerintah demi terbentuknya masyarakat warga yang berorientasi ke depan (future oriented). Sikap intoleransi di dalam negeri yang belakangan masih marak terjadi menambah sodetan luka di tubuh bangsa yang berusaha bersatu dalam keberagaman, united in diversity. Aspek pluralitas bangsa tampaknya semakin jauh dari masyarakat sipil yang dewasa dalam bentuk negara yang semakin modern.

Sekilas tampak terorisme di Indonesia tidak lagi memiliki tempat di tengah masyarakat setelah berbagai aksi teror dikutuk secara masif dan terbuka. Namun, sebuah paham (isme) teror dalam diri setiap manusia apabila disentuh segi sensitifitasnya berupa agama apakah secara otomatis berupa tindakan ekstrem akan berhenti begitu saja?

Saya kira tidak gampang menangani masalah terorisme di Indonesia dan Negara mana pun belum tentu mampu menghentikan aksi teror di tengah kesemerawutan dunia global.

Di Indonesia sendiri, aksi teror dalam bentuk yang paling tradisional atau sederhana sekalipun seperti santet dan teluh terlihat familiar di televisi dan tidak diklaim sebagai tindakan terorisme. Hal tersebut justru menjadi komoditi pasar yang valuable, jauh dari pidana dan hukum massa.

Padahal, secara definitif perbuatan santet dan teluh juga bisa dikategorikan dalam bentuk teror atau serupa dengan ancaman "halus" yang dilakukan oleh para teroris. Agaknya bentuk teror ini tidak dilarang, bisa jadi karena hal itu merupakan bagian dari tradisi bangsa yang harus dilestarikan, mungkin saja.

Dalam dunia modern, bicara tentang terorisme hampir tidak pernah lepas dari persoalan agama sebagai penggerak utama di belakangnya, terlebih Islam. Bukan bermaksud memojokkan Islam sebagai sponsor utama di balik aksi teror yang terjadi belakangan ini, melainkan menunjukkan betapa agama dapat melakukan perbuatan ekstrem, ke luar dari ajaran agama yang paling transenden.

Karena, agama mana pun tidak menghendaki tindak kekerasan atas nama agama. Mereka yang memilih menempuh jalan kekerasan (terorisme dan jihadisme) demi imbalan surga yang dijanjikan tak lain mengalami kegagalan dalam memahami agama.

Sampai saat ini kita sepakat dengan pemeo yang beredar, bahwa pelaku teror bebas dari agama, mereka (Teroris) justru termasuk perusak iman dan keserasian hidup bersama sebagai manusia yang tanpa perbedaan.

Simbol keagamaan seperti niqab dan jubah yang mereka (teroris) gunakan tak bermakna apa-apa kecuali kedok di balik tindak kejahatannya.

Peristiwa 9/11 merupakan muasal dari segala ekstremisme dan terorisme sampai menuju pada jihadisme yang secara global dihadapi oleh berbagai negara (tidak hanya Indonesia) melalui Amerika sebagai pionir utama. Amerika melalui presiden George W. Bush merespons peristiwa 9/11 pada tahun 2001 lalu dengan menyerukan perang melawan terorisme. 

Pernyataan Bush yang terkenal saat melawan terorisme ialah menolak sikap abstain. Pilihannya hanya berkoalisi atau berafiliasi dengan para Teroris, "You are either with us or with terrorists."

Perang melawan terorisme secara global pun terjadi. Serangkaian aksi teror berupa ledakan bom di berbagai negara menunjukkan keber-ada-an para pelaku teror. Proyeksi teror diterima secara masal ke kawasan negara Muslim, dengan menyatakan Amerika Serikat sebagai "kanker" atau sebab utama terjadinya krisis di negara Arab yang mayoritas beragama Islam.

Sekejap dunia terbagi dalam dua kelompok yang oleh Amien Rais disebut sebagai "partai Allah" dan "partai setan". Hal ini semakin sulit berpihak di tengah klaim kebenaran yang terus mereka suarakan. Sehingga, dunia menjadi tabu dan berada dalam kondisi chaos yang serba paradoksal.

Agama berupa re-ligio (mengingat kembali aspek Ilahi) telah dikambinghitamkan di bawah kepentingan politik tertentu. Meluasnya Islam politik pasca Revolusi Iran 1979 juga sedikit banyak telah membawa semangat tersendiri bagi umat muslim untuk terjun ke ranah politik demi mewujudkan bentuk negara (ideal) yang secara pure merepresentasikan aspirasi politik Islam. Sebab, implementasi daripada syariat atau hukum Islam tidak bisa diterapkan tanpa terbentuknya negara sebagai pemangku segala kebijakan.

Indonesia Negara Anti Terorisme

Di Indonesia, sejak tahun 2000 sampai pemerintahan Jokowi (masih) terus berusaha melakukan deradikalisasi agama yang rigid dan sempit cenderung mengarah pada kekerasan yang berpretensi menimbulkan jihadisme.

Ledakan bom di Surabaya secara bergantian seperti petasan saat menyambut datangnya Ramadhan. Terhitung mulai dari ledakan di Gereja sampai terjadi di depan gerbang masuk Mapolrestabes Surabaya. Sungguh disayangkan, semuanya terjadi beberapa hari saja menjelang bulan suci Ramadhan yang sepatutnya diisi dengan kebaikan, bukan malah justru menciptakan keresahan.

Kita tentu mengapresiasi kepada aparat intelijen negara RI yang telah sekian kali berhasil menangkap para pelaku teror dan mampu diajak kerja sama. Terutama sekali, aparat kepolisian berhasil mengajak kerja sama demi kebutuhan informasi intelijen negara dalam mengungkap gembong terorisme dan aksi jihadisme di Indonesia beserta jaringan-jaringanya yang terafiliasi. 

Pertanyaannya kemudian, mengapa sampai saat ini tindakan teror dan jihadisme di Indonesia selalu luput dari upaya preventif Badan Intelijen Negara (BIN)?

Dari beberapa peristiwa kekerasan yang terjadi telah menunjukkan betapa pemerintah cenderung menunggu daripada harus aktif menjemput bola. Hal ini terbukti dengan banyaknya kejadian di lapangan yang relatif jauh dari jangkauan pengetahuan Intelijen Negara.

Artinya, pemerintah beberapa kali telah kecolongan dalam menangani masalah terorisme akibat tidak adanya upaya strategis yang secara otomatis dapat mengendus keberadaan dan menjerat para teroris sebelum melakukan aksi. Hal inilah yang luput dari jangkauan "tangan" pemerintah sehingga masih marak terjadi aksi bom bunuh diri. 

Menyalahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tidak akan menyelesaikan masalah, justru menambah masalah, karena aksi teror sudah tampak di depan mata. Upaya perusakan rumah tangga Negara yang harmonis tidak semata mengandalkan RUU yang kini macet di meja DPR, melainkan Negara harus menciptakan kultur baru yang bisa diawali dengan melakukan intensifikasi pendidikan untuk membentuk suatu paradigma berpikir secara out of the box.

Secara ekstensif, pendidikan mampu memberikan cara pandang baru bagi manusia yang terlepas dari jebakan kemilau dunia global. Apa yang diberikan oleh pendidikan berupa cara berpikir rasional dan diterima secara universal.

Akhirnya, upaya preventif daripada aksi teror yang kini mulai muncul (lagi) ke permukaan menjadi tanggung jawab bersama, bukan semata tugas aparat keamanan. Pandangan yang terbuka dan cara berpikir kritis membuat kita lebih bijak dalam menentukan sikap dan bertindak masuk akal, ke luar dari jebakan labirin gelap dan menyesatkan.