"Mama tahu yang terbaik buat kamu."

Sudah berapa kali kamu mendengar kata itu keluar dari mulut orang tuamu? Dan sudah berapa kali kamu terpaksa menurutinya?

Bermimpi dan bercita-cita itu harusnya tidak ada batasannya. Harusnya tiap anak punya kebebasan yang sama untuk merajut mimpi mereka masing-masing. Namun itu tidak berarti bagi mereka yang sampai detik ini tidak bisa keluar dari zona nyamannya.

Saya yakin, bukannya mereka tidak mau, tapi mereka tidak diberi kunci untuk membuka kandang mereka sendiri, dalam kata lain mereka masih dikekang. Atau lebih parahnya, mereka sudah terbiasa hidup tanpa diberi pilihan karena hidupnya selama ini hanya mengikuti garis takdir yang dibuat oleh orang tuanya.

Miris rasanya mendengar bahwa pembatas gerak anak untuk berkembang adalah orang tua mereka sendiri.

"Memang ada yang seperti itu?" Bukan ada, tapi banyak.

Mungkin kamu bisa tidak tahu karena mereka-mereka ini tidak pernah cerita tentang keadaan mereka. Dari luar mereka terlihat baik-baik saja padahal kenyataannya tentu sangat bertolak belakang.

Atau mungkin kamu bisa tidak tahu karena mereka masih belum menyadari bahwa selama ini mereka korban dari toxic parents.

Ya, toxic parents. Mendengar istilahnya saja sudah terasa sangat ngeri ya, seakan-akan orangtua begitu kejam sampai menjadi 'racun' bagi anaknya sendiri.

Sayangnya, memang begitu kenyataannya. Atau lebih tepatnya, mereka meracuni psikologis anak mereka.

Tentu tidak ada orang tua yang berniat untuk membuat anak mereka menderita atau terbebani secara mental. Semua orangtua pasti ingin anaknya menjadi orang yang berpendidikan tinggi, kaya, dan sukses.

Namun tentu saja semua yang diharapkan terkadang implementasinya tidak sesuai harapan. Alias, caranya salah.

Apa maksudnya?

Orang tua kadang terlalu egois. Terkadang orangtua sangat berambisi agar anaknya menjadi orang sukses dengan ekspektasi yang sedemikian rupa. Tidak peduli akan mimpi yang benar-benar anaknya inginkan.

Seorang teman pernah bercerita kepada saya, "Aku sebenernya mau banget kuliah kaya temen-temen, tapi aku disuruh masuk kedinasan.".

Ditambah lagi doktrin orangtuanya yang membuatnya jadi tergiur untuk masuk kedinasan, "Mama bilang kalau masuk kedinasan nanti nggak usah bingung cari kerja, lulus langsung dapat duit.".

Disitu saya hanya bisa memandang dia sambil berpikir di dalam hati, "Jadi sekarang ini dia bahagia atau tidak?". Karena terkadang kebahagiaan orangtua belum tentu merupakan kebahagiaan anak juga.

Terlebih lagi apabila anak tanpa sadar jadi sarana untuk menaikkan gengsinya. Seperti contoh: memaksa anak untuk masuk sekolah favorit, mendaftarkan anak di tempat bimbingan belajar paling mahal, atau menghasut anak untuk berprofesi yang tidak sesuai dengan minat sang anak.

Hal yang perlu diingat sebagai orangtua adalah: Anak bukanlah boneka orangtuanya.

Apabila anak sejak kecilnya selalu diharuskan ini dan diharuskan itu oleh orangtuanya, lama kelamaan mental anak akan rusak.

Anak dapat menjadi beringas, suka membangkang, bahkan dalam tingkat paling parah anak bisa mengalami stres.

Lalu, apa yang dapat dilakukan anak ketika ia sudah mengetahui bahwa ia terjebak pada toxic parents?

Sebenarnya, untuk keluar dari toxic parents ini bukanlah sesuatu yang mudah bahkan cenderung sulit dan butuh proses. Walaupun kita tidak bisa sepenuhnya "keluar" tapi kita bisa setidaknya tidak lagi merasa rendah diri dan bisa bebas memilih apa yang kita mau.

Pertama, bersikap jujur. Tipikal orangtua yang toksik biasanya sangat sensitif akan pembahasan atau bahasa yang kita utarakan. Nah, coba saja dengan mulai berani mengatakan "tidak" apabila kamu tidak suka atau tidak setuju akan sesuatu.

Memang tidak mudah, namun coba gunakan nada suara yang halus daripada berdebat yang akan menguras energi. Berusahalah yakinkan orangtuamu agar mereka percaya bahwa pilihanmu itu yang terbaik.

Respon yang mungkin akan kamu dapatkan adalah: 

"Durhaka ya kamu sekarang?" atau 

"Kamu kok nggak nurut lagi sama mama?" lalu orangtuamu pergi meninggalkan pembicaraan kalian.

Apabila orangtua tetap memaksa dan tidak setuju dengan pendapat kita, it's okay. Tenangkan dirimu dan jangan tersulut emosi karena pendapatmu tidak didengar. Alihkan pembicaraan ke topik lain yang positif atau berikan waktu untuk orangtuamu berpikir.

Kedua, sabar. Mungkin kata "sabar" sudah sangat sering terlintas di telinga kita, tapi memang nyatanya kita harus sabar dalam menghadapi orangtua yang toksik.

Sesuatu tidak ada yang instan, benar bukan? Begitu pula prosesmu dalam menghadapi toxic parents, jadi bersabarlah dan pelan-pelan saja.

Dan yang perlu kita ingat, kita tidak bisa mengubah orangtua menjadi orangtua sempurna yang sesuai dengan selera kita, apalagi secara mendadak. Tapi kita boleh berharap agar orangtua kita menjadi lebih baik.

Semua usaha kita untuk keluar dari toxic parents akan sia-sia apabila orangtua sendiri tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya telah menjadi toksik bagi sang buah hati.

Jika sudah seperti itu, sepertinya tidak hanya anak yang wajib bersekolah, tetapi orang tua juga wajib mendapatkan pelajaran tentang cara mengerti perasaan dan kondisi mental sang buah hati, benar bukan?