Penulis
5 hari lalu · 601 view · 5 menit baca · Politik 77838_93712.jpg
Foto : Kumparan

Racun Bunga Mawar Aksi Kedaulatan Rakyat

Inilah yang menjadi bencana besar bagi bangsa ketika kurang memahami sejarah peradaban sebuah negara. Meraka akan mudah terinjeksi demagogik untuk menampilkan aksi akrobatik dalam sinetron Aksi kedaulatan rakyat.

Saya menganggap peristiwa itu ibarat sebuah sinetron yang dibintangi oleh beberapa orang yang berperan sebagai antagonis dan protagonis. Drama itu sudah macapai puncak klimaks. 

Sayangnya, ending drama yang mereka mainkan tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Mereka tidak mendapat pujian atau bahkan penghargaan dari warganet. Justru mereka dikecam oleh publik yang dianggap bertindak tidak ber-prikemanuisaan.

Mejalah Tempo yang berjudul Tim Mawar dan Rusuh Sarinah pada tanggal 10 Juni 2019 kembali merilis topik kerusuhan 22 Mei yang memakan delapan korban. Dalam majalah tersebut, akan memetik sebuah konklusi bahwa tragedi itu dirancang sedemikian rupa untuk melancarkan aksi kejinya. Oleh karena itu, saya mencoba menganalisis secara ringkas dan sederhana.

Dahlia Zein adalah ketua umum Balhadika Indonesia Raya, oraganisasi pendukung Prabowo, merupakan sang monitor kerusuhan. Dengan sengaja dia meminta anak buahnya untuk membuat kerusahan. Peran dia di belakang layar membuat posisi dia aman terkendali tanpa serangan gas air mata seperti yang dirasakan anak buahnya.

Dahlia merancang skema propaganda bersama Fauka Noor Farid, Ketua Bidang Pendayagunaan Aparatur Partai Gerakan Indonesia Raya. Rupanya, Fauka adalah tim mawar, yang dulunya terlibat dalam kasus penculikan aktivis 98 pro demokrasi. Dua tokoh ini yang diduga merupakan sang monitor kerusuhan.


Fauka dan Dahlia merupakan aktor protagonis pasca sinetron aksi kedaulatan rakyat karena sekarang menjadi perbincangan hangat di media masa. Mereka mempunyai teman antagonis yakni Adul Gani yang berperan memobilisasi massa. Ternyata Abdul Gani adalah seorang preman tanah abang yang juga dijuluki Kobra Harcules. Keren, bukan?

Abdul Gani yang diinstruksikan untuk menggerakkan massa tentu mempunyai tugas yang berat. Anak buahnya Ripai meminta mempimpin massa untuk melakukan penyerbuan, "lawan polisi!! Serang!" teriak Ripai untuk membakar asa demonstran. Nada keras itu direspon oleh Endun, rekan Ripai sambil menyuarakan, "Allahu Akbaar". Naasnya, dia dibekuk oleh polisi. Sementara rekannya Ripai menghilang. Adakah titik kesetian dalam perjuangan ini?

Terciduknya Endun membuat para warta media makin giat untuk mencari sumber berita. Endun dengan terbuka memaparkan siapa monitor dan aktor protaginis itu, serta gerak-geriknya sebelum dan setelah aksi 22 Mei.  Akan tetapi, keterangan Endun di Majalah tempo itu dibantah oleh dua aktor protagonis itu. Cerdik, bukan?

Tim mawar yang merupakan anggota TNI yang terlibat dalam kasus pembunuhan dan penculikan aktivis 98 melibatkan nama Fauka. Seorang mantan TNI yang divonis enam belas bulan penjara. Dia juga membantu untuk mengawal kemanangan Prabowo 2014-2019. 

Menurut hipotesa saya, aktor antagonis itu seharusnya mempunya catatan sejarah tentang hal ini. Meski sejarah itu adalah masa silam. Tetapi sering digunakan bahan referensi dalam setiap pemikiran dan pergerakan.


Publik agak heran dan sulit mempercayai bahwa perisitwa itu menyeret sejumlah nama mantan purnawirawan. Saya tidak terkejut karena TNI dari sejarahnya selalu terlibat dalam aksi yang merenggut nyawa bangsanya sendiri.

Pada orde lama, oknom TNI juga terlibat dalam pembunuhan tujuh jenderal yang dikubur hidup-hidup di lubang buaya di Cipayung Jakarta Timur. Tragedi itu diperingati sebagai hari kesaktian pancasila pada tanggal 1 Oktober.

Tidak hanya itu, pada orde baru sebelas anggota ABRI (TNI) yang tergabung dalam tim mawar terlibat dalam penculikan aktivis 98. Akibatnya, mereka dibui selama empat belas bulan penjara, serta dipecat dari jabatanya sebagai tentara. Salah satu nama itu adalah Fauka Noor Farid. Sekarang, nama ini muncul kembali dalam aksi 22 Mei 2019 karena dianggap dalang kerusuhan.

Anehnya, gejolak mantan TNI ini adalah beberapa orang yang sangat dekat dengan Prabowo. Ada beberapa juga mantan anak buahnya di era orde baru. Beruntung pada saat aski 22 Mei, Prabowo meminta pendukungnya untuk aksi dengan damai, tentram, dan secara konstitusional.

Intervensi mantan TNI dalam peristiwa ini akan menjadi kajian menarik untuk untuk dicarikan solusi. Apalagi soal diskursus ancaman terhadap empat tokoh nasional pada aksi 22 Mei.

Dari sini kita bisa menemukan, bahwa subjek utamanya dalam aksi itu adalah mantan TNI. Kemudian yang menjadi objek juga merupakan mantan purnawirawan yang menempati posisi penting di lembaga tinggi negara.

Keempat dari tokoh itu Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, dan mantan Kepala BNN Gories Mere, Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya. Mayoritas yang menjadi incaran para mantan purnawirawan. Apa sebenarnya yang terjadi di tubuh mantan TNI?


Menteri pertahanan Rymizard meyakini bahwa indikasi ancaman itu tidak akan dilakukan oleh mantan rekannya yaitu Kivlan Zein dan Soenarko yang sekarang terjerat dalam kasus kepemilikan senjata ilegal.

Saya meyakini bahwa di tubuh mantan TNI tercium konflik internal terutama dalam perebutan kursi kekuasaan di lembaga tinggi negara. TNI tentu merupakan jabatan yang sangat strategis. Ditambah lagi sebagai mantan jenderal kopasus dan sebagai panglima tertinggi. Modal itu tidak membuat elit TNI surut akan haus  kekuasaan.

Dulu pada tahun 1960 an, jenderal Ahmad Yani merupakan salah satu anggota tentara yang berpotensi menggantikan Soekarno. Situasi itu membuat nama dia tercatut dalam daftar incaran pembunuhan tujuh jenderal. 

Jabatan dia sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) merupakan bukti kepercayaan Soekarno kepadanya. Walaupun Soekarno dianggap dekat dengan komunis, Yani selalu menuruti apa yang diperinthkan. Meski dia sebenarnya sangat tidak suka dengan komunis.

Tentu ini akan menjadi tugas berat seorang presiden untuk bagaimana bisa membuat formulasi baru agar bisa merangkul seluruh mantan elit TNI. Jika percaturan kekuasaan elit TNI terus berlanjut, maka ini akan terus menerus menjadi ancaman keamanan bangsa dan negara.

Mantan TNI yang sejatinya dijadikan cermin oleh masyarakat untuk bagaimana cara mencintai sesama bangsa, justru terlibat kasus kerusuhan sehingga menewaskan sesama bangsa.

Jika saya warga jakarta, maka saya akan memberikan tiga macam bunga mawar. Satu mawar diberikan kepada petugas keamanan sebagai hadiah. Tim Mawar akan saya berikan bungu mawar agar tidak lagi menjadi bakteri bagi kaum bungkusan. Bagi korban, bunga mawar akan ku persembahkan sebagi bentuk simbolisme kasih sayang sesama manusia.

Racun bunga mawar akhirnya merasuk pada nyawa delapan orang yang menjadi korban oleh skenario tim mawar. Sedangkan polisi dan TNI sebagai petugas keamanan dalam aksi tersebut justru mendapat sejumlah bunga mawar wangi dari masyarakat. Sedangkan peserta aksi yang menjadi korban harus medapat taburan bunga mawar di atas kuburan.

Saya hanya bisa medoakan semoga yang meninggal mendapat ampunan serta diterima disisi Allah SWT. Bias ingin rasa kekuasaan yang menelan korban harus dijadikan refleksi bagi kita tentang sebuah hakikat kekuasaan.

Para elit politik penting untuk mengingat kembali pesan dari bapak pluralis dan Presiden RI keempat, yakni Gusdur yang mengatakan "yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan". Kata itu terbukti ketika Gus Dur memundurkan diri sebagai presiden meski tidak bersalah secara konstitusi. Kemundurun sang deklarator PKB itu tidak menyebabkan satupun luka dan nyawa masyarakat.

Terkontaminasinya masyarakat oleh agitasi dan propaganda oleh para elit apabila mereka buta literasi. Jika mereka tidak tau literasi karena buta huruf, minimal mendengar dari telinga kiri dan kanan. Karena literasi bukan hanya soal membca dan menulis. Tapi juga mendengar.

Artikel Terkait