Bisa jadi, beberapa orang kesal dengan hari Rabu. Hari menyibukkan, hari selalu tertiban musibah, hari melelahkan, misalnya. Tapi banyak juga orang yang suka dengannya, seperti halnya kita, hari Rabu menurut kita sebuah keberuntungan; tertiban rezeki. Meski ia tak sebahagia saat hari Minggu.

Dua hari setelah Minggu, kita berlima melakukan rutinitas seperti biasa; sekolah, bermain. Kemudian tepat pada hari Rabu, kami berlima yang sudah lama berkawan pergi ke pinggir sungai. Bukan untuk bermain, melainkan menanti seseorang, ia adalah Mbah Mes, pemilik toko di pertigaan sana.

Entah apa alasannya, Mbah Mes selalu pergi ke pasar di hari Rabu untuk memasok barang dagangannya yang sudah habis. Padahal biasannya para pedagang memasok barangnya tepat di hari libur, seperti Minggu, atau tanggal merah. Karena Mbah Mes itu hidup sebatang kara, kita pun punya siasat untuk membantunya.

Ketika salah satu angkot melewati kita, dan jika Mbah Mes menjadi salah satu penumpangnya. Kami berlima berlarian mengejarnya, Odi anak yang paling gemuk di antara kita, selalu lamban saat berlari. Terkadang kami sesekali berhenti dan menyemangati atau bisa dibilang sedikit mengejeknya.

"Ayo Odi, jangan jadi kura-kura gendut!" Ejek salah satu dari kita.

Sampai di depan toko mbah mes, kami berlima cekatan membantu mengangkat barang ke toko. Untuk barang yang berat seperti beras atau gula, kita selalu mengangkat bersama-sama. Jika Mbah Mes ingin membantu, selalu kita tolak karena tak tega.  "Hati-hati ya nak," ucapnya setiap kita mengangkat barang yang berat.

Setelah semua barang dirasa sudah turun, kita tak berhenti di situ saja. Satu persatu barang ditata pada tempat yang semestinya, sampai toko terlihat rapi.  Odi yang hobby makan itu, mulutnya gumaman karena lapar dan lelah. Sekoyong-koyong mbah mes memberi kita susu botol, meski kecil tapi kita sangat senang, memang itu yang kita nantikan.

Jika ingin susu itu, biasanya kita harus ribut terlebih dahulu dengan ibu, atau juga menyisihkan uang jajan beberapa hari. Tapi setelah membantu Mbah Mes, kita selalu minum susu setiap satu minggu sekali. Terima kasih Mbah Mes.

Bila-bila teman lain ingin ikut kebiasaan kita di hari Rabu, kita sudah menyiapkan jebakan untuknya. Kedengarannya memang jahat, tak mau berbagi, tapi kasihan jika Mbah Mes harus memberi lebih banyak anak lagi. Bisa-bisa semua laba habis karena kita, malahan nanti rugi.

Pernah waktu itu, Budi harus mengajak adiknya yang sendirian di rumah, karena ditinggal orang tuanya ke sawah. Kita pun berkeliling mencari teman perempuan yang mau dititipi adik Budi, ternyata sampai satu jam tak ditemukan. Malahan adiknya menangis, memegang erat baju Budi agar tak ditinggal olehnya. Dengan terpaksa kami membawanya ikut dalam misi hari Rabu ini, ketika berlari mengejar angkot, kami bergantian menggendong adik Budi.

Terlihat sangat lucu ketika Odi yang harus menggendongnya, seperti gajah bertumpuk saja. Sebagaimana kebiasaan kita mengangkat dan menata dagangan, lalu mendapat upah susu botol lagi. Namun kita menolak saat Mbah Mes memberi susu kepada adik Budi, kita tadi sudah berencana jika memberi sedikit bagian dan dikumpulkan saja pada plastik untuk adiknya.

"Mbah Mes gak usah nambah satu ini saja sudah cukup, kita minta satu plastik saja kalau boleh?" Setelah kita terima plastik, satu persatu bergantian memberikan sedikit bagian susu  pada plastik untuk adik Budi. Bodohnya kita melakukan hal itu tepat di seberang jalan rumah Mbah Mes. Melihat hal itu, membuat Mbah Mes yang baik  memberikan satu botol susu pada adik Budi."Tadi bilangnya lima saja cukup" kita hanya bisa tersipu malu.

Seminggu kemudian, kita sudah siap dengan kebiasaan di hari ini. Raut bahagia sudah terukir jelas di wajah kami, bayangan susu botol sudah membuat perut keroncongan saja. Karena sampai waktu hampir menunjukkan salat ashar, Mbah Mes tak terlihat pada angkot-angkot yang berseliweran. Kemudian kita memutuskan untuk langsung ke rumahnya saja, untuk memastikan. Sebab jika sudah azan belum pulang, kita akan terlambat mengaji di masjid.

Bola mata kita kini, fokus pada bendera kuning di halaman rumahnya. Kemudian terlihat segerombolan orang sudah memikul kendaraan hijau itu, keranda kuburan maksudnya. Kita masih mematung di pinggir jalan, sampai segerombolan orang sudah melewati kita semua.

Segerombolan itu sudah tampak jauh, barulah kita sadar dan berlari mengejarnya. Seakan kita mengejar angkot yang di tumpangi Mbah Mes, air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuknya. Kini semua sudah datang di tempat peristirahatan terakhirnya, ketika jenazah mulai dikuburkan, kita menangis sejadi-jadinya.

Hari Rabu kali ini berbeda, tak ada lagi lari-larian, bergotong-royong dan tak akan pernah ada sebotol susu untuk kita. Selamat jalan Mbah Mes, Hari Rabu memang hari untukmu dan kita.