Jika ada yang dikatakan tidak pernah berubah sejak zaman dahulu, mungkin itu adalah penghormatan kita pada ilmu pengetahuan dan ketakziman kita pada kaum terpelajar di masyarakat kita. Seandainya tidak ada perkembangan yang evolusioner dalam— ilmu pengetahuan, sulit untuk membayangkan bagaimana umat manusia akan berkembang.

Ini adalah salah satu alasan mengapa di abad ke-21 ini orang tua berusaha keras untuk menjamin pendidikan yang baik untuk anak-anak mereka. Sayangnya, sistem pendidikan kita saat ini menurut saya masih belum bisa menjawab harapan tersebut, lebih-lebih dalam situasi pandemi seperti sekarang ini.

Pendidikan merupakan persoalan kompleks, dan diperlukan keterampilan khusus dalam menanganinya. Saya tidak menafikan bahwa saban hari lembaga pendidikan kita terus melakukan usaha-usaha tertentu demi kemajuan pendidikan kita, namun saya kira, adalah penting untuk menilik jejak-jejak fikrah para pemikir yang lampau agar kiranya kemudian mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kemajuan pendidikan kita.

Adalah Rabindranath Tagore (1861-1941) seorang sastrawan, filsuf, musisi, dan seniman yang masyhur asal India. Tagore adalah salah satu pemikir terkemuka yang serius memikirkan hubungan antara pendidikan dan kemajuan. Dia adalah peraih nobel sastra pertama di Asia. Ia lahir di masa-masa kritis India pra-kemerdekaan dan merupakan seorang pejuang kebebasan berpikir— dan, tentu saja, kemerdekaan bangsanya.

Selain itu, yang jarang orang ketahui adalah bahwa gagasan pendidikannya merupakan salah motivasi mengapa Ki Hadjar Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa. 

Ide dasar Taman Siswa sesungguhnya diilhami oleh ide pendidikan Tagore, terutama apa yang sudah diaplikasikannya di Santiniketan, India. Tak heran ia pun berteman baik dengan Ki Hadjar Dewantara dan sekali waktu sempat melawat ke Surakarta. Mungkin itulah mengapa nama salah satu jalan di Surakarta menggunakan namanya.

Melalui berbagai gagasannya, dia berperan sebagai sumber inspiratif dan seorang revolusioner dalam hal ini. Meskipun dia dikenal sebagai seorang sastrawan, namun seperti Pram, dengan kapasistasnya sebagai seorang sastrawan dia tak pernah memalingkan wajahnya dari aspek penting bagi masyarakat yang jarang tersentuh kala itu: pendidikan. 

Bahkan di masa kecilnya dia sudah menyadari bahwa sekolah tak lebih dari rutinitas tanpa makna dan tak bernyawa. Dia menganggap bahwa banyak sekolah laiknya seperti pabrik hafalan tanpa kebebasan dan kreativitas. Sekolah saat itu pun hampir tidak memiliki pengaruh berarti dalam hidupnya.

Tak heran Tagore mengatakan bahwa sistem pendidikan India (kala itu) tidak lagi layak bagi pendidikan anak-anak, sistem itu terlalu kaku dan membatasi, katanya. Bagaimana tidak, pendidikan India kala itu tak lebih dari sebagai 'anak manis' kolonial, dimana anak didik dijauhkan dari bahasa dan budayanya sendiri, dan dipaksa mengikuti disiplin dan cara berpikir kolonial Inggris. 

Mereka yang lulus, pun perlahan mendukung sistem itu— mereka dikenal dengan sebutan Anglicist, yang akhirnya menjadi pembela utama sistem kolonial secara keseluruhan, dan menganggap penindasan kolonial sebagai hal yang patut diterima oleh rakyat India yang oleh kolonial sebut 'tak beradab.'

Olehnya, menurutnya, seharusnya rakyat tak punya pilihan lain kecuali mengembalikan kepribadian rakyat India pada akar tradisinya sendiri. Ia membangun proses pendidikan menyeluruh, dimulai dari sekolah dasar sampai sekolah tinggi dengan sistem pendidikan berbasis lingkungan.

Ada dua prinsip dasar dalam filsafat pendidikan Rebindranath Tagore yang cukup membuat saya tertarik, yaitu: naturalisme dan humanisme. Menurutnya, kedua prinsip tersebut musti diintegrasikan menjadi satu dobrakan yang masif, katanya. Karena menurutnya, tujuan utama pendidikan adalah memungkinkan terpeliharanya relasi yang sempurna antara manusia dan lingkungan.

Dia percaya, memberikan anak-anak kebebasan berekspresi dan bereksplorasi merupakan cara terbaik dalam mendidik mereka. Olehnya, ia menolak sistem patriarki yang begitu kental saat itu, yang melarang anak perempuan untuk memiliki pendidikan yang tinggi layaknya anak laki-laki. 

Ia mengatakan, “Setiap anak (terlepas dari laki-laki atau perempuan) memiliki pikiran yang aktif dan terbuka, mereka laiknya sebatang pohon yang memiliki kemampuan untuk mengumpulkan energinya dari atmosfer di sekitarnya," maka seharusnya lembaga pendidikan tidak boleh menjadi “kandang di mana pikiran yang hidup diberi makan dengan makanan buatan.”

Jadi, menurut Tagore, pendidikan semata-mata bukan hanya tentang kurikulum formal, tetapi adalah— sebagai asimilasi dari beragam jenis pengetahuan yang kemudian ditransmisikan menuju pembenahan dan kemerdekaan bangsa.

Pendidikan Lingkungan dan Metodologi Sastra dalam Pengajaran

Dia pertama-tama menekankan pada pendidikan yang berorientasi pada lingkungan, yang berarti semua murid— harus diajarkan tentang alam; bukan di dalam ruangan kelas yang pengap, tetapi di lingkungan terbuka agar para murid dapat membiasakan diri dengan heterogenitas atau aktivitas alam. Setidaknya ia menilai ini lebih baik daripada menelan mentah-mentah seongok teori kering di dalam kelas.

Dalam bukunya 'Last Child in The Woods' pada tahun 2008, Richard Louv pun mengapresiasi jenis pendidikan seperti ini karena "telah memindahkan sejumlah pengalaman kelas yang substansial ke alam atau komunitas sekitar." Louv sangat terkenal dengan istilahnya 'nature-deficit disorder'-nya atau— yang berarti, saat di mana anak-anak begitu kurang dalam bersentuhan langsung dengan alam. 

Hal ini guna agar kita menyadari bahwa dalam proses pendidikan, selama ini kita sudah membuat jurang besar yang memisahkan antara anak-anak dan lingkungan. Dan seharusnya, jurang tersebut musti ditutupi. Ia juga berkata bahwa salah satu cara meningkatkan fungsi kognitif pada anak-anak adalah dengan melakukan pembelajaran yang berbasis lingkungan.

Di semua masalah pendidikan, pikiran dan sikap Tagore dapat diungkapkan dengan berbagai cara, karena filsafat pendidikannya sangat dipengaruhi oleh cara dia berpikir tentang kehidupan dan norma-norma yang ia yakini. 

Tagore berpendapat, jika kita bisa mengintegrasikan sistem pendidikan yang berorientasi pada lingkungan sekitar, sistem pendidikan kita akan menghasilkan buah dan akan membawa kesejahteraan yang lebih besar bagi masyarakat. 

Timothy D. Walker dalam bukunya 'Teach Like Finland' menilai gagasan ini sangat praktis karena tidak seperti sistem pendidikan pada umumnya, pada sistem ini "kita tidak musti membuat usaha yang terlalu serius dan mahal" untuk mengaplikasikannya. 

Dan dengan sederhana itu cukup membangkitkan minat anak dalam bereksplorasi dan menumbuhkan kepedulian mereka terhadap lingkungan. Itulah mengapa Tagore menekankan sistem pendidikan yang berbasis lingkungan; karena dengan begitu jiwa anak bisa terikat dengan ketenangan, keheningan, dan keluasannya.

Tagore berkata, “Pendidikan berarti memungkinkan pikiran untuk menemukan kebenaran tertinggi yang membebaskan kita dari belenggu kebodohan dan memberi kita kekayaan, bukan dari benda, tapi cahaya batin; bukan kekuatan, tapi cinta. Ini adalah proses pencerahan. Ini adalah kekayaan ilahi dan— bentuk dari realisasi kebenaran."

Jadi, tujuan pendidikan menurut Tagore adalah untuk mewujudkan kesempurnaan manusia (humanisme) dengan menghilangkan kebodohan dan mengantarkan cahaya pengetahuan. Dengan begitu, kita dapat menjalani kehidupan yang lebih sempurna.

John Dewey dalam bukunya pada tahun 1899 yang berjudul 'The School and Society' pun mendukung ide pendidikan ini. Ia menulis, "Pengalaman di luar kelas memiliki aspek geografis, artistik, linguistik, ilmiah, dan historis. Semua ilmu muncul dari berbagai aspek di bumi yang satu dan lingkungan yang ada di atasnya."

Itulah alasan mengapa Tagore mendirikan sebuah perguruan tinggi di Santiniketan. Tujuan utama universitasnya— Visva Bharati adalah untuk menumbuhkan kecintaan para murid pada lingkungan, pengetahuan, dan kebijaksanaan seseorang; memberi kebebasan dalam berpikir, keindahan hati, mendorong kemauan yang tinggi, suasana yang alami, dan pada akhirnya untuk menjaga tradisi yang ada.

Dia merasa bahwa kurikulum seharusnya memang seperti itu; berputar secara konstan di sekitar lingkungan/alam dengan kelas-kelas yang diadakan di tempat terbuka, di bawah pepohonan misalnya, untuk memberikan apresiasi spontan terhadap fluiditas alam, perubahan musim, dan tentu saja, kesadaran untuk mencintai lingkungan. 

Tentu ide pendidikan di atas bukan bualan yang utopis semata. Metodenya ini sangat berhasil. Dengan gagasan pendidikan yang naturalistik tersebut, tak heran, Santiniketan banyak menghasilkan lulusan-lulusan yang cukup berhasil dalam berbagai bidang keahlian, di antaranya: Amartya Sen pakar dan penerima nobel di bidang ekonomi, Charles F. Andrews seorang pendeta sekaligus pejuang filantropis, Indira Gandhi yang merupakan mantan perdana mentri India, seniman lukis Nandalal Bose, dan lain sebagainya.

Salah satu karakteristik yang membedakan teori pendidikan Rabindranath Tagore dari teori pendidikan lain menurut saya ialah pendekatan pendidikannya yang ia lakukan sebagai seorang penyair atau sastrawan. 

Di Santiniketan, ia pernah mengatakan bahwa tujuan pendidikannya ialah untuk menciptakan puisi "dengan media yang berbeda dari sekadar kata-kata." Visi puitis inilah yang memungkinkannya merancang skema pendidikan yang inklusif, dan merancang program unik untuk pendidikan berbasis lingkungan yang ekspresif dan kreatif.

Sesuai dengan pendekatan sastrawi dalam teori pendidikannya, Tagore bahkan membolehkan para siswanya untuk datang ke tempat dimana biasanya ia membacakan karya-karyanya kepada guru dan kritikus sastra agar para siswanya juga dapat menyaksikan langsung penampilan yang estetik tersebut, dan bahkan ia juga mendorong mereka untuk membacakan tulisan-tulisan mereka sendiri di tempat itu.

***

Akhirnya, mungkin memang benar, memahami pemikiran Rabindranath Tagore tentang pendidikan bukan lah perkara mudah karena banyaknya usaha-usaha yang ia lakukan tidak sebanding dengan pengalaman dan pengetahuan kita yang belum seberapa. 

Dibutuhkan kajian mendalam tentang pokok pemikirannya, dan penyelarasan— untuk pengembangan pendidikan— tidak hanya di tanah airnya, tetapi juga di seluruh dunia, terkhusus di negara kita. 

Namun, terlepas dari itu semua, harapan saya untuk pendidikan kita— adalah semoga melalui tulisan yang sederhana ini kita semua bisa mendapatkan inspirasi dari gagasan-gagasannya tersebut dan paling tidak kita bisa mewarisi semangatnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bersama-sama.