2 bulan lalu · 759 view · 4 min baca menit baca · Budaya 51256_90437.jpg

Rabiah al-Adawiyah; dari Sosialita hingga Sufi

Perjalanan hidup seseorang tidak pernah ada yang tahu, ibarat rombongan kafilah di padang pasir dari kejauhan menatap oase. Kebahagian pun menyelimuti seluruh jiwanya, namun perlahan demi perlahan ternyata yang ada hanya padang pasir yang kerontang. Harapan kembali menguap bersama teriknya matahari.

Malang tak dapat dihindari, rasa kehausan makin memuncak. Bagi rombongan kafilah, air begitu berarti di tengah terik matahari, tetapi harapan tidak boleh pupus hanya karena fatamorgana. Perjalanan tetap dilanjutkan sembari menumbuhkan benih-benih harapan, menyerahkan peruntungan nasib pada lintasan jalan padang pasir.

Rabiah al-Adawiyah, begitulah nama yang disandangnya, tumbuh di tengah kehidupan Kota Baghdad yang gemerlap dan penuh kemilau di zamannya. Baghdad menjadi kota bukan hanya untuk menuntut ilmu pengetahuan, melainkan menyediakan kehidupan yang penuh romantisme bagi mereka yang dimabuk khamar dan cinta.

Kehidupan sosialita yang dirasuki sikap glamour akan pergaulan, kebebasan, dan gaya hidup menjadi daya pikat terhadap kemabukan akan materi. Mengisi waktu dengan kesenangan telah merasuki dan menyelimuti pergaulan masyarakat. Pada waktu itu, Baghdad, selain hadir halaqah-halaqah dari para ulama yang ramai, tetapi perkumpulan sosialita Baghdad jauh dari kata sepi.

Rabiah al-Adawiyah muda tumbuh dengan keterpesonaan akan kemilau kehidupan Kota Baghdad yang menyediakan kesenangan hidup. Ibarat memendam harapan sekaligus mengasa kemampuan tarik suara dan kelenturan lekuk-lekuk tubuh untuk menjadi penari di pusat-pusat hiburan Kota Baghdad. Telah menjadi mimpi Rabiah al-Adawiyah muda.

Pergaulan sosialita di Kota Baghdad kala itu menjadi ajang bagi mereka-mereka yang memiliki suara merdu dan tarian yang indah. Kondisi sosialita yang merasuki Baghdad menjadikan talenta-talenta muda yang berbakat demikian terbuka untuk menunjukkan olah vokal dan olah tubuh. Penyanyi dan penari yang berbakat akan jadi pusat perhatian.


Keinginan Rabiah al-Adawiyah masuk dalam tarian pusaran sosialita Baghdad makin hari makin terasa dengan kemampuan olah suara dan olah vokal. Yang makin menunjukkan aura dan warna vokalnya, ibaratnya tinggal menunggu waktu untuk mengantarkannya ke dalam panggung kehidupan glamor di Baghdad.

Pertemuan Rabiah al-Adawiyah dengan pengusaha ternama di Baghdad menjadi pintu yang membawanya masuk ke dalam kehidupan glamour di Baghdad. Maklum untuk masuk dalam pusaran kehidupan yang dipenuhi dengan kemabukan khamar dan cinta, diperlukan koneksi dengan kalangan pengusaha kaya.

Begitu Rabiah al-Adawiyah dibawa masuk ke pusaran sosialita Baghdad, berbekal talenta suara dan tarian yang memukau, Rabiah al-Adawiyah menjadi sorotan dan perhatian dari banyak kalangan pengusaha dan penikmat khamar serta orang-orang yang dimabuk cinta. Akibatnya, Rabiah al-Adawiyah menjadi begitu populer dikalangan sosialita Baghdad.

Banyak kalangan menilai makin maju suatu peradaban, maka akan makin banyak tempat-tempat hiburan, bak jamur di musim hujan. Baghdad juga demikian kala itu, seakan kemajuan akan sempurna bila keindahan suara, keindahan lekuk tubuh yang tersaji lewat tarian dan tubuh dialiri dengan khamar serta cinta sebagai penggenapan kemajuan.

Kehadiran Rabiah al-Adawiyah pada satu sisi menarik perhatian kalangan kaya, tetapi pada sisi yang lain dianggap sebagai saingan oleh para penyanyi dan penari. Seolah kehadiran Rabiah al-Adawiyah menurunkan pamor para pendahulunya. Sesuatu hal yang wajar dan manusiawi bila kalangan-kalangan lama merasa tersaingi dengan kehadiran penyanyi dan penari berbakat yang baru.

Kemerduan suara dan keindahan tarian yang disajikan Rabiah al-Adawiyah kepada khalayak sosialita Baghdad makin berkelas dan menunjukkan aura kebintangannya. Kehadiran Rabiah al-Adawiyah makin memesona dan membuat kalangan kaya bersaing memperebutkan cintanya. Seakan kemerduan suara Rabiah al-Adawiyah berbisik dalam relung hati para pencintanya.

Pesona Rabiah al-Adawiyah makin terpancar, tetapi kalangan kaya saling bermain intrik untuk mendapatkan perhatian dan cintanya. Kedekatan Rabiah al-Adawiyah dengan salah seorang pengusaha kaya membuat pengusaha kaya yang lain menyusun intrik, demi mengambil Rabiah al-Adawiyah dalam pelukannya.

Intrik mencelakai rombongan kafilah dagang pengusaha yang dekat dengan Rabiah al-Adawiyah tampaknya berjalan sesuai rencana. Akibat dari kejadian tersebut, pengusaha yang dekat dengan Rabiah al-Adawiyah akhirnya terlilit utang. Pertemuan dengan para pemilik modal membuat pengusaha yang dekat dengan Rabiah al-Adawiyah mesti menanggung kerugian.

Sesuai dengan siasat yang telah direncanakan, para pemilik modal meminta jaminan. Akibatnya, Rabiah al-Adawiyah menjadi korban dari intrik persaingan antar-pengusaha di Baghdad, menjadikan Rabiah al-Adawiyah sebagai perebutan untuk memilikinya. Rabiah al-Adawiyah akhirnya berpindah dari satu pengusaha ke pengusaha yang lain.

Pada suatu masa, Rabiah al-Adawiyah bertemu dengan seorang suluk yang menjadikannya terpikat dengan kehidupan spiritual. Tampaknya kondisi sosialita yang selama ini menyilaukan mata Rabiah al-Adawiyah bagaikan fatamorgana di tengah padang pasir. Makin mendekat akan tampak bahwa yang ada hanyalah kegersangan.

Rabiah al-Adawiyah berbalik dari kehidupan sosialita ke kehidupan sufi yang membuatnya menyelami kedalaman. 

Kalau dulu di pusaran sosialita Rabiah al-Adawiyah bersenandung memuji kegemerlapan dan dirasuki cinta kepada kesenangan duniawi, kini dalam kehidupan sufi yang dijalani Rabiah al-Adawiyah dipenuh dengan cinta terhadap Ilahi yang membuatnya tak menyisahkan ruang cinta dalam hatinya sedikit pun selain hanya untuk Sang Maha Cinta.


Rabiah al-Adawiyah senantiasa bersenandung untuk Sang Maha Cinta pusat dari segala kecintaan. Dalam perjalanan sufi, Rabiah al-Adawiyah telah menyenandungkan konsep Mahabbah (cinta) yang gema frekuensinya terdengar hingga kedalaman kerinduan akan cinta kepada Sang Maha Cinta.

Seorang sufi prempuan yang telah meletakkan konsep monumental dalam perjalanan dunia sufi. Mungkin kalangan hijaber hari ini perlu bercermin kepada perjalanan hidup seorang Rabiah al-Adawiyah. Apalagi di kalangan hijaber yang telah menyebut dirinya telah hijrah, tetapi masih suka dan doyan nongkrong di mall-mall.

Ada baiknya merenungkan dan merefleksikan perjalanan Rabiah al-Adawiyah yang keluar dari pusaran sosialita yang glamor menuju pusaran sufi yang penuh kesederhanaan. Yang menunjukkan sikap jauh dari kemewahan dan berlebihan.

Contoh teladan hijrah yang baik bagi kalangan hijaber, yakni Rabiah al-Adawiyah yang menjauhkan diri dari cinta materi menuju cinta Ilahi. Betapa anggun dan penuh inner beauty bila para hijaber meneladaninya dalam kehidupan.

Artikel Terkait