Moegi pengkoeh dikaadilan, tiwasna nagara taja kadjaba parentah koerang adil, noe djadi ratoe koedoe roemasa toekang angon, masing titen kana angonanana. ~ R.A.Lasminingrat dalam Tjarita Oraj Bodas, hlm. 156.

Mungkin sebagian besar orang Indonesia, sudah mendaulat R.A. Kartini (1879-1904) sebagai tokoh emansipasi pertama di Indonesia. Sebab, pemikirannya tentang kemajuan wanita Indonesia tertuang dalam buku yang berjudul: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Akan tetapi, alangkah malasnya manusia Indonesia, sehingga dengan begitu saja mempercayai, bahwa tokoh emansipasi pertama di Indonesia: Raden Ajeng Kartini. Mari saya ceritakan dengan senang hati, tokoh emansipasi di Indonesia yang sebenarnya.

***

Raden Ajoe Lasminingrat (1843-1948) adalah putri sunda dari pasangan (penyair sunda) R.H. Moehammad Moesa (1822-1886) dan R.A. Rija. R.H. Moesa adalah Hoofdpanghulu Limbangan (yang sekarang bernama Garut), sekaligus tokoh agamawan yang disegani oleh semua orang di Kabupaten Limbangan waktu itu. Beliau juga ada seorang penyair/pujangga sunda dengan karya yang paling terkenal adalah Panji Wulung.

R.A. Lasminingrat adalah salah satu putri R.H. Moehammad Moesa yang menerima pendidikan barat. Hal yang mendorong R.A. Lasminingrat bisa menerima pendidikan barat, adalah disebabkan R.H. Moesa mempunyai hubungan akrab dengan orang Belanda yang liberal, yaitu Levysshon Norman (Sekretaris Umum Gubernur Jendral Hindia-Belanda) dan Karel Frederick Holle (1829-1896) (juragan Teh dari Cikajang).

Awal menerima pendidikan barat, R.A. Lasminingrat berusia 17 tahun. Beliau dijadikan anak angkat oleh Levysshon Norman atas seijin R.H. Moehammad Moesa dan dibawa ke Sumedang untuk beberapa tahun, belajar ilmu pengetahuan. Hal tersebut diperkuat dengan bukti surat K.F. Holle kepada Gubernur Jenderal J. Loudon (1872-1875):

".... Salah seorang anak perempuan Hoofpanghulu yang tinggal bersama keluarga Levysshon di Sumedang untuk waktu yang lama sebelum dia menikah..... "

Ketika R.A. Lasminingrat menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan Levysshon Norman, R.A. Lasminingrat juga belajar menerjemahkan bahkan menyadur karya-karya dari orang-orang barat dengan baik. Sebagaimana bukti penguatnya terdapat pada surat K.F. Holle kepada P.J. Veth:

".... Anak perempuan Penghulu yang menikah dengan Bupati Garut, menyadur dengan tepat cerita-cerita dongeng karangan Grimm, cerita-cerita dari negeri dongeng (oleh J.A.A. Goeverneur), dan cerita-cerita lainnya ke dalam bahasa Sunda. Pemerintah sudah memberi kuada untuk mencetak salah satu kumpulan tulisannya itu."

Setelah menerima pendidikan beberapa tahun dari Levysshon Norman, R.A. Lasminingrat menikah dengan untuk pertama kalinya dengan Raden Tamtoe Somadiningrat. Setelah suaminya meninggal, R.A. Lasminingrat mengisi waktunya dengan menulis dan menyadur kembali buku-buku barat, terutama bacaan berbahasa Belanda. 

Setelah itu, R.A. Lasmingrat menikah kembali untuk kedua kalinya dengan Wiratanoedatar. Lalu, ketika perjalanan R.A. Lasminingrat adalah mendirikan sekolah Eropa bersama ayahnya, 1871.

Perintis Pendidikan Boemi Putra dan Eropa

Walaupun dari segi arsip kurang, atas apa gambaran yang dilakukan oleh R.A. Lasminingrat dalam sepak terjang terhadap pendidikan boemi putra. Akan tetapi, bukti lapangan ada, seperti bangunan Sakola Kaoetamaan Istri Garoet (Jl. Ranggalawe Garut) dan beberapa karya tulisnya.

Tulisan-tulisan hasil buah tangan dan penyaduranna tersebut yang diajar R.A. Lasminingrat kepada murid-muridnya di Sakola Keoetamaan Istri. Sekolah tersebut tidak saja untuk boemi putra, tetapi juga sebagian adalah anak-anak Indo atau tulen Belanda.

Hubungan Erat dengan Dewi Sartika

Dewi Sartika yang dikenal oleh khalayak masyarakat Indonesia sebagai tokoh kedua emansipasi wanita di Indonesia sebelum R.A. Kartini. Dewi Sartika juga punya hubungan erat dengan R.A. Lasminingrat dalam hal merintis pendidikan bagi 'boemi poetra' di Bandung. 

Sebagaimana menurut keterangan dari Deddy Effendie Tp.M.Hs dalam bukunya Raden Ajoe Lasminingrat (1843-1948): Perempuan Intelektual Pertama di Indonesia, mengatakan:

"Mengetahui hal itu Modjaningrat menyampaikan kesulitas Dewi Sartika kepada ibundanya. Raden Ajoe Lasminingrat tersentuh hatinya dan berusaha menolong serta sekaligu mendorong Raden Adjeng Dewi Sartika. Beliau meminta suaminya R.A.A. Wiratanoedatar VIII memberikan saran kepada Bupati Bandung agar meluluskan keinginan Dewi Sartika. 

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, biarkanlah mendirikan sekolah itu dilingkungan pendopo dulu. Kalau ternyata tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, nanti mudah saha minta bantuan Inspektur V. Den Hamet."

Sehingga intinya, Dewi Sartika dapat mendirikan sekolah dengan lancar di Bandung itu, berkat nasihat dari R.A. Lasminingrat selaku saudaranya di Garut.

Karya-karya R.A. Lasminingrat

R.A. Lasminingrat mempunyai karya atas buah tangannya sendiri dan penyadurannya, antara lain Carita Erman, Warnasari I dan Warnasari II.