Siapa yang tak kenal Sayyid Qutb? Tentunya tidak semua orang, alias sebagian saja, khususnya orang-orang yang cinta pergerakan menuju kebebasan. Dengan versinya masing-masing tentunya.

Sang penggagas Qutbisme ini lahir dengan nama lengkap Sayyid Qutb Ibrahim Husayn Shadilli pada tanggal 9 Oktober 1906 di Musha, Provinsi Asyut, Mesir.

Tak heran jika pemikiran Qutbisme juga terpantik oleh sosialime. Sebab, dari tahun 1947 hingga tahun 1950, Sayyid Qutb, sang penggagas, telah belajar dan tinggal di Amerika Serikat untuk mempelajari sistem pendidikan di Colorado State College of Education atau University of Northern Colorado, Greeley, Colorado.

Bau-bau sosialisme yang memberi semerbak wangi, salah satunya, dapat diendus pada karya terbaik Sayyid Qutb yang telah ditulis di masa persentuhan langsungnya dengan peradaban Barat yang berjudul Al-'adala l-Ijtima'iyya fi-l-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam) yang diterbitkan pada tahun 1949.

Serbagai penulis andal, Sayyid Qutb, sekembalinya dari Amerika Serikat, terus menulis dan menulis hingga menerbitkan buku barunya yang berjudul The America that I Have Seen (Amerika yang Telah Kulihat).

Begitu pun dengan sentimental keyakinannya, Sayyid Qutb membuat karya tafsir Alquran yang begitu khas mengeksploitasi ayat-ayat pedang (ayatus saif) secara masif yang terdapat di dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an.

Aksi pembelaan atas segala nilai-nilai yang tidak sesuai dengan perintah Tuhannya ia wujudkan dalam sebuah paham yang biasa disebut dengan Qutbisme. Pahamnya telah teruji ketajamannya di hadapan hegemoni sekularisme yang menghantam Mesir. Percabangannya (ramification) dari Qutbisme ini cukup melahirkan perlawanan-perlawanan lainnya yang gahar hingga kini. 

Qutbisme berperanan cukup signifikan pada pergerakan politik Ikhwanul Muslimin. Akhirnya, Qutbisme dapat kuat bersimbiosis dengan Bannaisme yang diracik oleh Syekh Hassan al Banna.

Baik Bannaisme ataupun Qutbisme memulai pergerakannya dari sebuah distingsi yang paling mudah untuk terpercik dan mudah diamati di masyarakat beragama. Hal-hal seperti kebencian terhadap kuburan, patung (yang dianggap berhala), praktik-praktik tradisional (syirik, kurafat, dan lainnya), dan pemerintahan yang mengadopsi sistem politik sekuler (thoghut) menjadi topik lezat yang siap dilecutkan untuk mendongkrak popularitas dan pengaruh.

Qutbisme membagi dunia menjadi dua saja: negara Islam (darul-Islam) dan negara kafir (darul-kufr). Pun begitu dengan Bannaisme yang menyoal pranata Islam (al nizham al-Islami ) sebagai "Palu Maslow" yang akan memukuli paku-paku apa pun dan yang bukan paku sekalipun. 

Marcus Aurelius, pemikir Stoa yang sekaligus Kaisar Romawi, pernah menulis: nilai seorang manusia tidaklah lebih dari nilai ambisinya. Hal sama yang diucapkan oleh Neel Burton tentang “berkeliling untuk mencari dukungan” dalam rangka mencapai kehormatan dan pengakuan dari masyarakat luas. (Burton, 2014)  

Kata "ambisi" juga melibatkan dua hal. Pertama, ia melibatkan dorongan dari dalam diri seseorang untuk mencapai sesuatu yang ia pandang sebagai berharga. Dua, dorongan ini juga melibatkan kemampuan untuk terus berusaha, walaupun tantangan dan kegagalan terus mengancam.

Tujuan dari orang-orang yang ambisius adalah mencapai pengakuan dari masyarakat, baik dalam bentuk kekuasaan, uang, maupun nama besar. Itu sebuah kepastian, walaupun ia kuat menghindar.

Kalau memang mau total menghindar, ya silakan undur saja menjadi petapa di hutan rimba. Itu baru namanya kontrol total. Kalau masih berkecimpung di lingkungan kekuasaan, tetap saja ambisius, walau sebesar biji wijen. 

Baik Qutbisme ataupun Bannaisme membuat distingsi dengan instrumen pembenaran, yaitu seteru jauh (al ‘aduww al-ba’id) dan seteru dekat (al-‘aduww al-qarib).

Seteru jauh adalah yang sejak awal sudah kafir, seperti mereka yang tidak beragama Islam. Sedang seteru dekat adalah Muslim yang batal keislamannya menurut pendapat mereka. Distingsi ini menyebabkan korban-korban kekerasan mereka adalah sesama Islam sendiri (seteru dekat).

Faktor-faktor ambisius dan perebutan kekuasaan (makanan) akhirnya membuat pemerintah Mesir mendakwa Qutb terlibat dan bersalah dalam rencana pembunuhan terhadap Wakil Perdana Menteri Gamal Abdul Nasir, sehingga ia dieksekusi gantung.

Begitu pun Bannaisme, dengan pola pergerakkan yang sama, akhirnya juga berakhir dengan cerita yang sama. Syekh Hassan al Banna dibunuh.

Sungguh ngeri memang berebut kekuasaan (makanan) di lingkungan yang berisi orang-orang yang mempunyai kepentingan yang dipastikan hampir sama, yaitu mencari makanan untuk hidup.

Qutbisme pernah mesra dengan Gamal Abdul Nassir sebagai wakil dari barisan nasionalis Mesir. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Qutubisme adalah sosialisme yang dapat mesra dan bergandengan tangan dengan nasionalisme dalam rencana bagi-bagi kekuasaan jika berhasil. 

Pun, Bannaisme setali tiga uang, kekuatan Ikhwanul Muslimin yang sosialis, mendukung kudeta Nasir atas pemerintahan Raja Faruk yang pro-Barat pada Juli 1952, dengan alasan rezim itu dianggap tak Islami.

Sungguh lucu, mereka menggunakan instrumen pergerakan sosialisme untuk melawan kekuatan pro-Barat yang tidak Islami. Sungguh ini carut-marut yang tetap akan menuju satu titik puncak piramid yang disebut dengan perebutan kekuasaan atau makanan; tak peduli lagi ideologi apa yang dipakai, yang penting berhasil.   

Harapan semu model di atas terlihat saat Ikhwanul Muslimin menggantungkan semuanya kepada Nasir yang nasionalis itu. Bannaisme dan Qutbisme berharap agar tunggangannya nanti akan mendirikan pemerintahan Islami usai revolusi.

Namun, harapan tinggal harapan, dan akan tetap akan kembali kepada apa yang dikatakan Marcus Aurelius di atas tentang ambisi. Atau apa yang dikatakan oleh Neel Burton tentang “berkeliling untuk mencari dukungan”.

Maka, setelah berhasil, Nasir berubah arah. Dia menegaskan akan membentuk pemerintahan sekuler-nasionalis dan bukannya pemerintahan Islami yang telah diharapkan oleh Qutbisme dan Bannaisme.

Maka sejak itu, habislah harapan Qutbisme dan Bannaisme di Mesir. Namun, ajarannya akan terus menyebar dan bertahan dalam bentuk yang bermacam-macam. Mereka akan terus meyakini bahwa hukum negara mesti mengacu pada Alquran sebagai hukum Tuhan, bukan hukum bikinan manusia (demokrasi, sosialisme, sekularisme, dan sebagainya).

Mereka akan terus ingin mewujudkan penerapan syariat Islam secara kafah alias menyeluruh di dalam sendi-sendi kehidupan, yang menurut mereka akan membawa keberkahan, keadilan, ketenangan diri, kemajuan, kebebasan, dan manfaat lainnya. 

Baik Bannaisme ataupun Qutbisme akan terus berjuang memberikan dasar teologis untuk jihad bagi para fundamentalis Islam sedunia, dan dipraktikkan secara beragam oleh berbagai macam organisasi, mulai dari yang lunak hingga yang ekstrem.

Karena yang diutamakan adalah penerapan hukum syariat, maka perjuangannya di beberapa kelompoknya akan menyasar pemerintahan Islam di suatu negara yang biasanya berciri moderat, liberal, atau bahkan sekuler. Mereka akan terus mencari tumpangan atau tunggangan, seperti yang dilakukan oleh leluhurnya untuk mencapai tujuan.

Selama sebuah pergerakan hanya bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan dan makanan, maka di situ pula pergerakan itu akan mudah dipatahkan dan dikuburkan oleh mereka yang juga berjuang lebih kuat dan lihai dalam mencari kekuasaan dan makanan.

Maka dari itu, jadilah sebuah pergerakan apa pun yang siap mati di tengah jalan karena kelaparan. Sebuah kemenangan versi lain yang tidak harus dikonversi dengan kekuasaan dan makanan. Sebuah kemenangan yang telah mengagungkan kemandirian dan kebebasan.