Beberapa saat yang lalu, hampir sebulan lebih, aku yang biasanya suka "berkoar-koar" di Qureta menjadi tidak menulis di sana lagi. Ceritanya, sejak aku mendapat email yang bertuliskan seperti ini: "5.  ...banyak referensi yang dikutip dari sumber yang kurang kredibel…”.

Aku sampai membaca berulang-ulang kalimat di atas, kalimat dari email yang dikirimkan dari sebuah undangan penulisan buku tentang “Orang Nusantara”.

Aku yang saat itu menulis tentang "orang Indonesia", secara khusus menulis tentang etnik Mandar, jadi berpikir, apa karena sukuku Mandar yang belum familiar bagi mereka? 

Namun, kali ini, tulisanku kali ini ditolak dengan alasan lima (5) poin. Pada poin pertama sampai keempat, aku bisa menerima hasil evaluasi mereka jika gagasanku belum runut, ide yang tidak sistematis, dan lain sebagainya.

Namun, di poin kelima, mereka katakan jika referensiku atau rujukanku (kurang) kredibel; aku tak bisa menerima. Referensiku pertama dari buku-buku yang bagus, penulis terkenal yang tak perlu kutuliskan semua namanya, salah satunya saja, Amartya Sen. Referensi keduaku dari majalah, majalah National Geographic. Dan referensiku yang ketiga banyak dari kanal Qureta.

Aku banyak sekali menulis tentang Mandar di Qureta. Aku menuliskannya di Qureta karena Qureta menjadi teman setiaku menumpahkan unek-unek, cerita-cerita orang, perjalanan, dan pengalamanku menjadi orang Mandar. 

Biasanya, riset etnografi kecil-kecilku kutuliskan di platform Qureta sebelum jadi tulisan besar untuk jurnal. Kemudian, tulisan-tulisan di Qureta tadi menjadi referensiku yang sangat berharga.

Jadi, apa maksud mereka? Apa? Qureta kurang kredibel? Entahlah, tapi mari kita “menilai Qureta”.

Siapa di (balik layar) Qureta?

Siapa sih di balik layar Qureta? Adalah Luthfi Assyaukanie, pendiri dan CEO Qureta. Ia menyelesaikan pendidikannya di Australia dalam bidang Sejarah Politik. Selain memimpin Qureta, Luthfi juga mengajar di Universitas Paramadina (Kuliah Qureta).

Kemudian, aku searching di Google, Luthfi Assyaukanie, lahir 27 Agustus 1967, umur 53 tahun, adalah salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia. Ia merupakan pengajar di Universitas Paramadina serta deputi direktur di Freedom Institute (Wikipedia).

Beliau telah melahirkan banyak tulisan tentang filsafat. Tak heran, tahun lalu, ketika aku mengikuti Sekolah Buya Maarif, pelatihan keislaman dan keindonesian, agenda tersebut akan menghadirkan beliau sebagai pembawa materi. 

Hal ini membuat salah seorang teman, peserta yang mengikuti kegiatan itu, sangat excited. Sebelumnya, teman tadi telah membaca beberapa karya beliau dan ingin bertemu (namun, saat itu, beliau berhalangan hadir).

Qureta kurang apa coba? Pendirinya sangat keren begini. Ini baru di belakang layar Qureta, di depan layar Qureta lain lagi. Sebut saja Maman Suratman yang menjadi Editor Qureta.

Maman adalah seseorang yang sebelumnya suka menulis dan memiliki ratusan tulisan di Qureta, hingga akhirnya menjadi bagian paling penting dari Qureta. Ia merupakan mahasiswa lulusan filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Penulis-penulis Qureta sendiri merupakan orang-orang yang independen, merdeka, dan bebas. Mereka menulis dengan sangat "liar", jujur, asyik, dan seru baik penulis besar dan pemula; baik yang terkenal ataupun baru mau "terkenal".

Jika kita mencari nama penulis besar seperti Goenawan Muhammad (pendiri Majalah Tempo), Gus Ulil, Ulil Abshar Abdalla (tokoh Jaringan Islam Liberal), Ade Armando (dosen komunikasi UI), serta penyanyi Indonesia yang mendunia, kini tinggal di Prancis, Anggun C. Sasmi.

Belum lagi penulis-penulis perempuan; ada tokoh politik muda di Indonesia seperti Tsamara Amani, Ada Cania Citta Irlanie seorang political vlogger, dan lain sebagainya.

Jadi, Qureta adalah taman baca masa depan di mana orang berkumpul, mencari, berbagi informasi, dan pengetahuan. Semua untuk kita tanpa pandang bulu dapat menyatu di sini dengan niat belajar, mencari ilmu.

Referensi atau Sumber dari Internet Tidak Valid?

Karena kata-kata dari panitia penulisan buku itu, aku jadi malas menulis sampai malas membuka-buka Qureta. Atau aku mungkin berada di titik jenuh untuk menulis karena ide penulisanku ditolak. Hal ini membuatku mati rasa dalam menulis.

Kemudian, hal itu dibarengi juga dengan si doi yang mulai malas membalas chat di WhatsApp; mungkin karena kesibukannya yang membuatku juga malas dan mati rasa dalam bercinta (waduh, kok jadi curhat?).

Akhirnya, aku jadi malas ngapa-ngapain. Tapi, untungnya, selalu saja ada ajakan untuk melakukan "trip". Namun, pertanyaan "apakah referensi atau sumber dari internet tidak valid?" selalu "menghantuiku".

Seingatku, dulu, kata dosenku, referensi dari internet tidak apa-apa selama bukan dijadikan sebagai sumber yang utama atau sumber primer melainkan sumber sekunder. Artinya, data dari internet merupakan data pendukung dari data yang utama.

Setahuku, aku sudah melakukan itu. Data utamaku berasal dari wawancara, observasi, partisipasi, dan lain sebagainya. Kemudian didukung oleh buku-buku yang menunjang, dan terakhir, aku kuatkan dengan data dari internet. Ya, Qureta tadi.

Dan menurut buku yang kubaca, sebuah buku panduan menulis sejarah bagi mahasiswa, dituliskan bahwa; kita bisa menjelajahi sumber-sumber perpustakaan lain yang tersedia secara online

Lanjutnya, saat ini banyak artikel yang tersedia secara elektronik sehingga kita perlu membedakan antara yang berguna dan tidak berguna.

Sehingga kiatnya untuk mengetahui kualitas sebuah website adalah; pertama, ingat dasar-dasarnya. Artinya, ketika melihat situs, perhatikan alamat, pengarang, judul, pemilik domain, dan tanggal publikasi.

Kedua, perhatikan nama-nama domainnya. Ketiga, tanyakan jika sebuah website juga diterbitkan dalam bentuk cetak. Keempat, tanyakan apakah informasi di website tersedia di tempat lain. 

Kemudian, nilai website secara cermat. Maksudnya, apakah ilmiah atau asal-asalan, dan bisakah diverifikasi. Terakhir, jika ragu, konsultasikan dengan profesor Anda.

Aku pikir, Qureta sudah memenuhi semua kualifikasi itu. Sehingga, aku yang sudah yakin dengan Qureta tak perlu ragu menjadikannya sebagai rujukan.

Tapi, bagi mereka yang bilang Qureta kurang kredibel, mungkin kurang gaul, dan perlu diajak berjalan-jalan, piknik di laman Qureta seperti panitia penulisan ini. Biar mereka membaca tulisan-tulisan di Qureta yang ilmiah semacam jurnal, atau riset, puisi yang puitis, sampai tulisan lucu seperti stand up comedy yang sangat keren. 

Ah, aku akan bernyanyi saja biar tidak mati rasa dalam menulis lagi (dan mungkin juga bercinta), Jika ada yang bilang kau tak baik tak akan kudengar!