Penulis
6 bulan lalu · 53 view · 3 menit baca · Media 14011_65328.jpg
Dok. Pribadi

Qureta, Kapan Workshop di Aceh?

Sebuah Harapan

Sudah cukup lama saya perhatikan dan menjadi penulis di Qureta. Beragam inovasi sudah penulis saksikan di Qureta, mulai lomba esai hingga workshop bagi penulis.

Sayangnya, terutama untuk workshop, hingga kini belum pernah dilaksanakan Qureta di Aceh. Padahal Aceh butuh kehadiran Qureta guna meningkatkan literasi daerah ini. Literasi Aceh sempat terhenti ketika konflik terjadi. Kini, literasi Aceh mulai bangkit. Buktinya dengan menjamurnya media daring dan penulis hebat.

Sampai kini, penulis belum tahu mengapa Qureta tak menginjakkan kaki di bumi Aceh. Apakah karena Aceh menerapkan syariat Islam? 

Bila alasan tersebut, Qureta sebaiknya datang langsung ke Aceh agar tidak termakan rumor yang tak sehat. Padahal penting workshop dilaksanakan agar media daring di Aceh semakin baik. Selain itu, banyak penulis di Aceh yang tak mampu hadir di workshop Qureta bila dilaksanakan di luar Aceh.


Potensi Aceh sebagai pelaksana workshop harusnya tak perlu diragukan. Banyak orang yang ingin berkunjung ke Aceh. Data menunjukkan, secara kumulatif (Januari-September 2018), total wisman yang masuk melalui pintu kedatangan di Aceh sebesar 25.962 orang. Ini mengalami peningkatan sebesar 12,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017. Data ini menunjukkan bahwa tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi Aceh.

Di balik itu, tingkat literasi Aceh masih rendah. Mahasiswa Aceh bahkan dosen masih malas menulis sehingga program literasi Qureta sangat dinantikan. 

Jujur, saya iri dengan daerah lain yang dikunjungi Qureta. Apalagi bila kehadiran Qureta membuat minat menulis di daerah tersebut meningkat. Saya juga heran, penulis-penulis hebat asal Aceh tak banyak di Qureta. Tak tahu apa sebabnya, barangkali mereka tak tahu soal media ini. Padahal media ini sangat populer di kalangan penulis nasional.

Menurut saya, andaikan Qureta mau berkunjung, pasti akan lebih dikenal. Qureta tak perlu mengambil sikap yang sama dengan sikap Jakarta terhadap Aceh. Sebagai media yang demokratis, kita berharap Qureta mengambil sikap terbuka. Tak salah bila Qureta mencoba workshop di Aceh. Banyak hal yang bisa didapat, di antaranya mengukur nasionalisme penulis Aceh.

Tentu saja saya hormati pihak Qureta yang belum mengagendakan workshop di Aceh. Namun harapan saya, Qureta mau membahasnya di meja redaksi. Soal tenaga lapangan, saya bersedia menyiapkan SDM guna membantu kesuksesan workshop di Aceh. Apalagi tujuan workshop berguna bagi daerah dan SDM.

Selama ini, tema lomba esai selalu berkaitan dengan apa yang terjadi di Aceh. Wajar bila sebagai warga Aceh saya berharap Qureta datang. Aceh hari ini cukup kondusif untuk event nasional bahkan internasional. 

Bila workshop diselingi dengan wisata, Qureta bisa mengambil tempat di Sabang. Panorama alam dan masyarakat yang ramah dipastikan akan membuat peserta workshop nyaman. Menurut saya, acara malah akan membludak. Ini tentu saja menguntungkan Qureta dan Aceh. 

Banyak hal yang bisa ditulis tentang Aceh. Soal toleransi beragama, misalnya. Rakyat Aceh, meski mayoritas Islam, sangat menghormati agama lain. Banyak gereja yang tetap nyaman berada di Aceh. Kegiatan agama minoritas tidak pernah diganggu, bahkan etnis minoritas tidak pernah merasakan kekerasan fisik apalagi verbal. 

Soal demokrasi, Aceh menjadi satu-satunya provinsi yang memiliki partai lokal. Ini model menarik yang pantas dijadikan kajian ilmiah. Lihat pula bagaimana integrasi para mantan GAM dengan politisi nasional.


Soal kuliner, Aceh memiliki kopi terbaik di dunia. Selain masakan khas yang akan membuat lidah siapa pun jatuh hati, masakan Aceh sangat demokratis. Soal budaya, Aceh juga tidak menutup kebudayaan lain. Sebut saja kesenian barongsai yang pernah tampil di MetroTV. Dan masih banyak hal unik lainnya yang menjadi alasan kuat untuk laksanakan workshop di Aceh.

Sekali lagi penulis tegaskan, tulisan ini hanya harapan. Kalaupun Qureta tak bersedia, saya tetap menulis di Qureta, apalagi sudah pernah dikirimi baju kaos. Hanya saia, penulis berharap itikad baik Qureta dalam melaksanakan program agar bisa melirik Aceh maupun Papua, kawasan yang sering terjadi konflik.

Penulis percaya, pihak Qureta akan membicarakannya. Soal kemudian belum terjadi workshop di Aceh, penulis yakin itu hanya soal waktu. Dan kita sabar menantinya. Penulis tidak akan lelah menanti hingga Qureta lelah dinanti. Penulis berharap bukan redaksi yang membaca harapan ini, akan tetapi pihak pimpinan Qureta.

Penulis percaya, teman-teman penulis di Qureta juga sepakat bila workshop dilaksanakan di Aceh. Begitu banyak hal menarik yang bisa ditulis tentang Aceh. Aceh butuh energi luar agar budaya literasi meningkat, agar lahir penulis-penulis mumpuni, terutama di bidang ekonomi dan sejarah.

Sangat sedikit tulisan-tulisan ekonomi dan sejarah yang lahir dari para penulis Aceh. Kebanyakan penulis fokus pada politik. Penulis filsafat dan sains bisa dikatakan defisit. Padahal kedua tulisan ini, menurut saya, perlu diperbanyak sebagai khazanah menuju peradaban yang lebih baik.

Qureta, datanglah ke Aceh. Kita akan sambut dengan gegap gempita.


Artikel Terkait