Mahasiswa
2 minggu lalu · 386 view · 4 min baca · Agama 11774_48819.jpg
Pixabay

Quo Vadis Pesantren ala Mbah Moen

Mbah Moen (KH Maimun Zubair) telah berkata, santri itu kalau sudah pulang kampung dari tempat belajar atau pondok pesantren, harus berani beristikamah. Petuah padat yang sarat makna ini merupakan pancaran quo vadis pesantren yang digadang-gadang mempunyai arah tujuan yang jelas jelang revolusi industri ke-4.

Artinya, biarpun sudah lulus, keberlanjutan nilai-nilai pesantren harus tetap dibawa hingga mati. Keberlanjutan itu bukan saja mengenai kelanjutan pendidikan formalnya saja. Namun, yang lebih penting lagi, yaitu keberlanjutan karakter pesantren, seperti istikamah dalam menjaga akhlak dan lainnya.

Quo vadis pesantren jika didasarkan atas petuah Mbah Moen tersebut di atas menunjuk pada peran dan identitas pesantren yang selalu dinamis dan aktif. Pesantren harus tetap terus fokus dalam membangun nilai-nilai keluhuran untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Keistikamahan nilai-nilai seperti kesopanan, ketawadhuan, kemandirian, dan lainnya adalah ciri khas yang begitu melekat di dunia pesantren. Ini adalah quo vadis pendidikan pesantren yang tak perlu diperdebatkan lagi arah dan tujuannya.

Kemandirian dan keistikamahan para santri dan para lulusannya, merupakan sumber yang tak ternilai dalam kedidgayaan pesantren sebagai bangunan kultural bangsa. Pesantren yang terbentuk dari figuritas, lokalitas, tradisi, serta keragaman metode pengajaran akan terus mengawal kemandirian bangsa.

Quo vadis pesantren seharusnya tetap pada tujuannya, yaitu berkembang dalam tradisi, kekhasan, dan independensinya. Setiap bentuk intruduksi dari luar, termasuk kehadiran state (negara), jangan sampai membelokkan arah quo vadis pesantren.


Introduksi dan kompromi dengan negara akan selalu menghadirkan kesepakatan-kesepakatan yang bisa saja membelokkan quo vadis utama pesantren, khususnya dalam urusan independensi dan kreasi.  

Namun, bukan berarti negara tidak bisa berpartisipasi dalam pengembangannya. Paling tidak, negara jangan sampai masuk ke hal mendasar.

Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, sepertinya peka dengan haluan quo vadis pesantren. Mbah Moen sebagai pengasuh Ponpes tersebut masih kuat memegang satuan pendidikan mu'adalah. 

Satuan pendidikan ini juga diikuti oleh beberapa pondok pesantren tua nan senior, seperti Ponpes Sidogiri Pasuruan, Ponpes Tremas Pacitan, Ponpes Lirboyo Kediri, Ponpes Gontor Ponorogo, Ponpes Tebuireng Jombang, dan lainnya.

Satuan pendidikan mu'adalah adalah satuan pendidikan khas pesantren. Jangan sampai haluan quo vadisnya mendapat tekanan yang represif dari negara, terutama untuk  RUU Pesantren yang rencananya akan disahkan pada Agustus 2019.  

Dalam draf RUU Pesantren tersebut, satuan mu'adalah kurang diberi tempat dan independensi. Padahal, pesantren harus tetap menjadi lokomotif pengembangan pendidikan khas dan berkarakter serta berkelanjutan sesuai dengan idealismenya masing-masing.

Pesantren yang dikatan berhasil tidak saja didasarkan pada anggaran atau uang, tapi faktor kuatnya keikhlasan, termasuk dalam hal pendanaan. Pesantren harus tetap menjaga kekuatan dananya lewat swadaya dan dukungan sumber lainnya agar selalu mandiri dan menghindari intervensi dana luar yang bisa saja menggerogoti quo vadis-nya.

Berprinsip tidak selalu menggantungkan kepada negara serta istikamah untuk berswadaya dan berswadana.  

Introduksi negara yang berupa bantuan dana jangan sampai menarik pesantren ke dalam kekangan administratif yang mengebiri independensi dan kreasinya. 

Quo vadis pesantren mengingatkan kita akan norma hubungan pesantren dengan negara. Yang terjalin adalah hubungan bersifat koordinatif, bukan sebaliknya bersifat subordinatif. Artinya, eksistensi pesantren sudah ada sebelum eksistensi negara. Jadi mohon dihormati dan diberi tempat yang layak. 


Modus pengajuan RUU Pesantren telah terpapar jelas bahwa lembaga pendidikan keagamaan itu mempunyai peran vital. Jangan sampai hal ini dimanfaatkan sebagai alat penyeragaman dan pengkebiri karakter pesantren.

Data Kementerian Agama menunjukkan jumlah pesantren mencapai 28.194 unit pada tahun 2018. Terlihat sekali jumlah tersebut sangatlah potensial untuk dimanfaatkan dan digerakkan perannya. 

Potensi-potensi untuk penyeragaman pendidikan dan kegiatan keagamaan adalah hal yang krusial dalam urusan quo vadis pesantren.

Quo vadis ala Mbah Moen lainnya adalah penegasan tentang pesantren sebagai lumbung moral dan akhlak. Untuk hal ini,  sangat berhubungan sekali dengan sikap dan tindakan seorang santri, termasuk imbauan jangan sampai santri itu terlibat aksi-aksi terorisme. 

Segala bentuk aksi teror adalah menyalahi koridor lima prinsip ajaran Islam yang benar. Yakni, menjaga akal, menjaga jiwa, menjaga keturunan, menjaga hak milik, dan menjaga kehormatan sesama manusia. Kelima prinsip ajaran tersebut, menurutnya, juga dapat ditemukan pada semua agama.

Pesantren itu sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip toleransi. Jangan sampai pengaruh perang pemikiran radikal mengubah haluan quo vadis pesantren. Bagi pesantren, agama biarlah diijalankan masing-masing; perbedaannya hanya satu, yaitu dalam hal menyembah kepada Tuhan. Tapi prinsip ajaran agama yang lima ini, tidak ada perbedaan.

Arah dan haluas quo vadis pesantren bagi Mbah Moen juga dinyatakan dengan jelas dalam karya literasi yang berjudul Al-Ulama Al-Mujadiddun. Buku ini menjelaskan usaha-usaha pembaruan yang dilakukan para ulama pembaru, khususnya dalam bidang hukum Islam. 

Dalam buku tersebut, dijelaskan juga bahwa setiap abad akan datang ulama-ulama pembaru yang akan memperbaiki kehidupan kaum muslimin, termasuk nama-nama pembarunya dari masa ke masa. Pesan moral buku ini mengajak pesantren untuk jangan ke mana-mana; fokuslah untuk tetap mencetak para kader dan pembaru di segala bidang dan dalam artian yang luas.

Quo vadis pesantren ala Mbah Moen juga mengerucut pada arah tradisi pesantren dalam menghargai kitab kuning. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbesar yang masih kuat dan peduli mengkaji kitab kuning. Ponpes yang ia asuh, hingga kini, masih tetap menjunjung tinggi budaya mengkaji kitab kuning.

Selamat jalan, Mbah Moen. Where you are marching, where we are standing!

Artikel Terkait