Gerakan mahasiswa Indonesia sering kali dicitrakan secara romantik sebagai kekuatan pendobrak status quo kekuasaan. Benarkah demikian? Tentu tanpa mengecilkan peran gerakan mahasiswa dalam sejarah, saya justru berpendapat sebaliknya bahwa gerakan mahasiswa Indonesia sering kali gagal menghadapi situasi kritis dalam sejarah perubahan dan transisi kekuasaan politik di negeri ini.

Banyak pihak mensinyalir bahwa gerakan mahasiswa Indonesia belum benar-benar muncul secara organik sehingga sering kali masih terlalu bergantung pada kekuatan golongan lain. Lihatlah kegagalan gerakan mahasiswa Indonesia menjaga jarak terhadap kekuatan militer menjelang berakhirnya rezim Orde Lama Soekarno.

Gerakan mahasiswa Indonesia sering kali masih dengan mudahnya terkooptasi kepentingan politik praktis yang pada akhirnya merusak independensi dan legitimasi gerakan. 

Memang masih cukup santer terdengar bahwa gerakan mahasiswa di Indonesia adalah underbouw atau kepanjangan tangan dari kepentingan politik praktis golongan tertentu. Maka tak jarang muncul polarisasi hingga konflik internal di kalangan aktivis mahasiswa yang memecah soliditas dan solidaritas gerakan mahasiswa.

Perpecahan internal gerakan mahasiswa telah membuyarkan soliditas dan solidaritas gerakan mahasiswa dalam menghadapi situasi kritis. Pada tahun-tahun menjelang lengsernya rezim Soekarno, gerakan mahasiswa meskipun terlihat solid melawan Soekarno namun sesungguhnya mereka terpecah-belah dalam faksi-faksi dan juga sangat bergantung pada kekuatan militer angkatan darat. Setelah rezim Soekarno tumbang maka segera dengan sendirinya gerakan mahasiswa terpecah-belah dalam berbagai faksi yang sulit disatukan kembali.

Padahal peran konkret gerakan mahasiswa dalam mendorong perubahan hanya akan terwujud apabila mereka mampu menyatukan pandangan minimal dalam persoalan dan isu yang menjadi keresahan bersama yang dirumuskan secara organik. Namun ketika gerakan mahasiswa masih belum tuntas dengan problem independensi gerakan maka tentu sulit sekali mengharapkan peran mereka sebagai eksponen gerakan yang legitimate dan organik dalam mendorong perubahan sosial di masyarakat.

Meski tidak bisa dipungkiri peran gerakan mahasiswa dalam lingkup lembaga kemahasiswaan pada umumnya yang juga berkontribusi pada aksi-aksi non-struktural seperti solidaritas dan pendampingan berbasis komunitas di masyarakat. Gerakan mahasiswa juga, meminjam istilah Soe Hok Gie, menjadi moral force yang berada di garda terdepan bahkan tak jarang menjadi martir menentang status quo mulai dari angkatan 1966, 1998 hingga 2019 dalam gerakan #Reformasidikorupsi.

Namun lemahnya soliditas gerakan mahasiswa sering kali mengecilkan peran konkret (struktural) mereka di tengah masyarakat sehingga dianggap kurang signifikan dalam mendorong perubahan yang diperlukan. Sering kali gerakan mahasiswa hanya diakui sebatas wadah belajar berorganisasi sebelum terjun ke masyarakat. Dengan kata lain gerakan mahasiswa belum diakui secara konkret eksistensi perannya di tengah masyarakat.

Salah satu contohnya adalah peran lembaga pers kampus yang sering kali direduksi sekadar lembaga pelatihan kegiatan jurnalistik bagi mahasiswa sebelum terjun dalam arena jurnalisme profesional. Padahal tidak jarang lembaga pers mahasiswa menghasilkan produk jurnalistik berupa laporan-laporan investigasi yang tidak kalah kualitasnya dari media profesional.

Romantisme sejarah gerakan mahasiswa selalu menarasikan secara berulang bahwa gerakan mahasiswa selalu berada di garda depan (avant garde) mendorong perubahan radikal. 

Pada dasarnya kondisi objektif memang mengharuskan peran mahasiswa menginisiasi perubahan-perubahan radikal karena mereka adalah salah satu pihak yang niscaya melanjutkan kepemimpinan di masa depan. Maka hanya ada dua pilihan bagi mahasiswa; mengubah sejarah atau dipaksa berubah oleh sejarah tanpa menjadi subjek sejarah yang merdeka.

Barangkali banyak pihak yang mencibir “bagaimana bisa mahasiswa menginisiasi perubahan radikal, lha mengubah diri mereka sendiri saja tidak bisa.” Cibiran itu tentu sangat mudah dimentahkan karena hanya memandang secara kasuistis dimensi persoalan mahasiswa dari segi personal (individual) bukan melihat elan vital dari entitas mahasiswa sebagai subjek kolektif. 

Cibiran itu juga batal karena sejarah telah membuktikan perubahan radikal yang dipelopori mahasiswa sekolah teknik di Bandung pada tahun-tahun 1920-an yang memunculkan tokoh Soekarno yang menyebarkan pemikiran cemerlang mengenai sintesis persatuan nasional berupa gagasan nasionalisme Indonesia.

Tentu saja tantangan gerakan mahasiswa di era sebelumnya berbeda dengan era kekinian yang jauh lebih kompleks tingkat persoalannya. Maka dari itu diperlukan rumusan baru mengenai arah dan visi gerakan mahasiswa secara garis besar atau katakanlah semacam outline gerakan yang menghimpun konsensus mengenai prioritas persoalan yang seharusnya menjadi konsen bersama.

Saya pikir akan sangat terjal jalan untuk mencapai konsensus itu. Sebab hingga kini gerakan mahasiswa sangat terpolarisasi dan seringkali bertengkar mengenai berbagai persoalan yang patut (worth it) untuk diperjuangkan atau tidak. Polarisasi gerakan mahasiswa dalam menyikapi berbagai persoalan mencerminkan bahwa gerakan mahasiswa masih belum mencapai independensi dan sikap organik sehingga seringkali bersikap reaktif bahkan tidak jujur dalam menimbang berbagai persoalan.

Saya jadi teringat bahwa gerakan mahasiswa Indonesia, seperti dikatakan Ahmad Wahib dalam catatan hariannya dan saya pun agaknya setuju dengannya bahwa:

“Gerakan Mahasiswa di Indonesia tidak pernah siap dalam menghadapi situasi kritis. Kekuatan revolusioner dari mahasiswa selalu gagal dalam merebut pimpinan dan memimpin inisiatif di saat-sat genting yang menentukan. Cobalah kita perhatikan apa yang terjadi pada situasi proklamasi 1945 dan Maret 1966.” (Ahmad Wahib, Tentang Gerakan Mahasiswa, 23 Oktober 1970).

Persoalan independensi serta konflik internal gerakan mahasiswa adalah persolan mendasar yang barangkali telah menyebabkan tumpulnya kekuatan revolusioner dari gerakan mahasiswa sehingga mereka seringkali gagal merebut inisiatif dalam memimpin perubahan. Quo Vadis Gerakan Mahasiswa Indonesia?