5 bulan lalu · 261 view · 6 menit baca · Hiburan 15633_48860.jpg
phoenixfm.com

Queen, Gemu Fa Mi Re, dan Musik yang Membebaskan

Baru-baru ini bioskop Indonesia ramai menayangkan film Bohemian Rhapsody. Film ini diambil dari satu dari lagu Queen, band legendaris Inggris. Film yang berjenis biografi ini, secara khusus, mengisahklan tentang kehidupan Freddi Mercury, yang merupakan vokalis utama band yang juga mendunia di era 1980.

Banyak nilai-nilai tentang kehidupan yang diceritakan dalam film ini. Salah satu yang berkesan buat saya adalah kisah sang vokalis sendiri yang berani berpikir di luar kotak dan menolak tunduk. Kalau, umumnya, para penyanyi populer lainnya berkarya mengikuti selera pasar dan patuh pada kekuasaan para pemilik industri budaya populer, Freddie, yang memang agak angkuh dan memiliki kepercayaan diri yang begitu besar, memilih tetap pada pendiriannya.

Seperti kita tahu dan pelajari, di era postmodern, para penggemar biasanya mengonsumsi produk-produk budaya populer karena didorong oleh konstruksi dan logika hasrat yang samar. Industri budaya kapitalistik, menurut Mazhab Frankfurt, membentuk selera dan kecenderungan massa, sehingga mencetak kesadaran mereka dengan cara menanamkan keinginan mereka atas kebutuhan-kebutuhan palsu.

Dua ciri utama yang menandai industri kapitalis adalah standarisasi dan individualisme semu. Adorno dan Horkheimer mengatakan bahwa produk budaya kapitalis, meski demokratis, individualis, dan beragam, namun pada kenyataannya otoriter, konformis, dan sangat terstandarisasi. Budaya populer atau budaya kapitalis mengharuskan seorang pemusik atau siapa saja keluar dari selera pribadi dan beranjak untuk mengikuti selera pasar.

Mengikuti selera pasar sebenarnya mudah saja. Pemusik tinggal membuat karya yang mudah diterima oleh banyak orang. Semakin mudah karya mereka diterima berarti semakin banyak keuntungan materi yang didapat. 

Akan tetapi, Freddie dan teman-temannya tidak jatuh dalam logika pasar yang murahan itu. Bagi Freddie, mengikuti selera pasar adalah awal dari kematian. Sebuah virus yang cepat atau lambat akan mematikan kreativitas dalam dirinya dengan cara yang paling pelan tapi pasti. 

Selain itu, baginya, selera pasar adalah selera kaum kapitalis, selera mereka yang tidak tahu bermusik, selera mereka yang hanya mementingkan uang daripada nilai atau esensi dari karya yang diciptakan. Karena itu, mengikuti selera kaum kapitalis adalah pengkhianatan terhadap karya musik itu sendiri sebagai bahasa seni yang pada hakikatnya bebas, tidak tunduk pada kuasa atau rezim.

Karena itu, alih-alih menerima, Freddie malahan menolak mentah-mentah dan memilih untuk tetap menjadi diri sendiri. Ia tetap menjadi Freddie yang bebas, kreatif, dan menolak tunduk. 

Salah satu lagu yang kemudian jadi judul film Bohemian Rhapsody adalah hasil kreasi Freddie yang paling kreatif, liar, dan bebas. Lirik dan musiknya, selain menarik, juga merupakan perpaduan kreatif atas banyak unsur-unsur yang rumit, mulai dari budaya, sejarah, agama, bahkan kisah hidupnya sendiri. 

Perpaduan yang rumit ini menghasilkan hamonisasi yang tiada taranya. Perpaduan yang rumit ini pula yang membuat lagu ini menjadi lagu paling populer yang selama sembilan minggu berturut-turut bertengger si peringkat 1 tangga musik Inggris. Tidak hanya populer di Inggris, lagu yang sama populer di seluruh dunia, bahkan diakui menjadi karya masterpiece yang tidak akan lekang oleh waktu.

Di Indonesia, banyak sekali band yang tidak memiliki komitmen dan konsisten dengan prinsip bermusik mereka layaknya Queen. Hanya ada Slank, Efek Rumah Kaca, Navicula, Nostress, dan SID atau Supermen Is Dead, yang lewat karya musiknya, gigih menyisihkan nilai, budaya, agama, dan kearifan lokal sebagai perpaduan kreatif antara musik dan nilai kehidupan yang mereka mau tunjukkan kepada masyarakat. 

Karena itu, banyak penikmat musik di Indonesia menyukai band-band ini bukan hanya karena musik mereka yang keren-keren dan enak di telinga, tapi justru karena nilai-nilai atau pesan-pesan kemanusiaan yang ada dalam setiap karya mereka. 

Komitmen dan konsistensi mereka dalam memadukan unsur kemanusiaan dan seni musik berkelas membuat karya mereka abadi dan tak jarang menjadi inspirasi yang menghidupkan kesadaran kritis masyarakat terhadap penguasa yang sewenang-wenang. Seperti Queen, band-band ini teguh mengabdikan musik sebagai seni yang bebas tapi tetap kritis terhadap kebebasan yang sering dibelenggu kuasa.

Gemu Fa Mi Re

Di level lokal, kita punya Nyong Franco dengan Gemu Fa Mi Re-nya. Baru-baru ini Jaya Suprana, pendiri Museum Rekor Indonesia, berkesempatan mewawancari Nyong Franco atau Frans Cornelis DB. Dalam wawancara itu, Jaya Suprana menyebut lagu Gemu Fa Mi Re sebagi karya mendunia hasil kreasi dari kerendahan hati seseorang manusia.

Ya, Nyong Franco memang tidak sebesar Queen atau lima band legendaris yang disebutkan tadi. Tapi, bagi saya, Nyong Franco, Queen, dan lima band besar Indonesia ini sama dan sejajar dalam hal teguh dan konsisten pada prinsip yang mereka pegang sendiri atas karya seni yang mereka ciptakan.

Seperti kita tahu, baru-baru ini lagu dan tarian Gemu Fa Mi Re berhasil menciptakan rekor MURI sebagai pegelaran, lagu, dan tarian dengan peserta terbanyak. Hampir 346. 829 peserta dengan latar belakang budaya berbeda berada di satu tempat terlibat dan larut dalam alunan musik dan tarian khas Maumere.

Jaya Suprana menyebut lagu Gemu Fa Mi Re dan tariannya adalah sebuah mahakarya musik yang menurutnya termasuk mahakarya musik yang paling mengharukan yang pernah diciptakan di bumi ini. Dalam wawancaranya, Jaya Suprana memuji Nyong Franco:

Satu hal yang mesti Anda tahu, Anda sudah mengkreasikan satu mahakarya dengan analisis musik kelas tinggi yang Anda tidak sadari sebetulnya. Anda, tanpa mengerti dan belajar secara khusus teori musik yang rumit-rumit, malah sudah mampu menciptakan satu musik yang memadukan semua teori musik yang rumit ini dalam satu karya yang monumental.

Orang-orang seperti Anda ini beruntung sekali bisa menciptakan karya-karya hebat. Karena apa, karena ada tidak pernah sekolah musik secara khusus. Anda bisa menciptakan sebuah karya seni dengan ketulusan, kejujuran, dan apa yang ada dalam lubuk sanubari Anda keluarkan, tanpa ada hambatan dari aturan-aturan akademis tentang musik.

Kejujuran, kerendahan hati, ketulusan, dan keramahan Nyong Franco, diakui Jaya Suprana, justru makin memberi nilai kemanusiaan pada karya seni.

Dengan demikian, karya Anda bukan hanya tentang mahakarya seni dan budaya, tapi juga sebuah mahakarya kemanusiaan. Sebuah mahakarya yang membawa sukacita, kegembiraan, serta persatuan di Indonesia yang kaya dengan budaya ini. Untuk itu, saya dan mungkin Indonesia harus berterima kasih untuk Anda dan karya Anda.

Bagi saya, tidak berlebihan untuk menyejajarkan Queen, band-band legendari Indonesia bersama Nyong Franco sebagai sumber inspirasi bagi hidup kita semua. Nyong Franco khususnya adalah figur yang sederhana dan rendah hati, tetapi ketulusan serta kesetiaannya dengan budaya patut diapresiasi setinggi-tingginya.

Seperti Queen dan lima band Indonesia tadi, Nyong Franco menolak tunduk pada budaya populer dalam berkreasi. Kuasa atau hegemoni budaya populer, mereka lawan. Akan tetapi, sambil melawan, mereka tetap berkarya memperjuangkan apa yang mereka bisa. Dan nyata bahwa karya yang mereka hasilkan adalah kreasi seni yang luar biasa yang mengalahkan karya-karya musik instan khas budaya populer dewasa ini. 

Mereka tidak korbankan prinsip, kebebasan serta tanggung jawab mereka terhadap nilai-nilai yang mereka perjuangkan demi mengikuti sekaligus memuaskan selera pasar, yang dikontrol para kaum kapitalis. Karya mereka bertahan karena konsisten dan komit dengan prinsip pribadi dalam bermusik.

Hari-hari ini kekayaan budaya tradisional kita mulai terlupakan bahkan dibelenggu dengan masuknya budaya global dalam dunia kehidupan kita. Kebiasaan, pola pikir kita saat ini lebih banyak dibentuk oleh budaya populer ini. Karena sekian sibuk untuk ikut beradaptasi dengan standar budaya populer ini, kita perlahan meninggalkan kekayaan dalam budaya dan tradisi kita. Cara hidup, cara kita bekreasi, bermusik dan sebagainya ditentukan dan distandarisasikan oleh budaya populer.

Nyong Franco tidak populer karena selalu ikut budaya-budaya populer yang sedang digandrungi saat ini. Ia justru menjadi populer justru ketika musik yang membebaskan dirinya dari belenggu budaya populer. Musik ala Nyong Franco lahir dari kesetiaan dan hasil eksperimennya atas budaya Sikka yang kualitasnya melampuai budaya populer.

Hasilnya adalah lagu dan tarian Gemu Fa Mi Re. Karyanya ini menjadi sebuah mahakarya yang tidak hanya membuat dia setara dengan band berkelas seperti Queen, SID, Slank, dll, tapi juga turut mengangkat nilai budaya dan kemanusiaan, semisal berani menjadi diri yang kuat berpegang pada prinsip hidup dan budaya yang dianut oleh diri sendiri, seperti budaya kekeluargaan serta persatuan dalam perbedaan yang hari-hari ini menjadi sangat mahal untuk kita di Indonesia.

Bagi saya, mahakarya Gemu Fa Mi Re dan Bohemian Rhapsody bukan hanya mahakarya seni yang layak diapresiasi. Bukan pula hanya mewakili seni yang mempersatukan semua manusia tanpa memandang latar belakang budaya, suku, agama, dll. Tapi juga keduanya layak diangkat sebagai inspirasi teoritis untuk menentang budaya kapitalis, budaya ikut selera pasar, budaya populer yang hegemonis, totaliter dan cenderung menyeragamkan perbedaan.

Kedua mahakarya ini mengajak kita untuk meng-counter hegemoni budaya populer lewat musik, lewat sebuah karya seni yang kebebasan dan perbedaaan dirayakan seautentik-autentiknya.