Tak dapat dipungkiri jika masa kanak-kanak adalah masa yang menyenangkan. Masa di mana masalah hidup yang dialami tidak jauh dari PR dan ujian sekolah serta tidak perlu memikirkan semrawutnya kehidupan. 

Saat masih kecil, momen hari raya adalah hal yang paling kita nantikan sepanjang tahun. Lalu mengapa saat menjadi dewasa, kita justru merasa gelisah dengan pertanyaan yang akan orang lain lontarkan saat hari raya?

Sebagian besar orang yang menginjak usia dewasa pasti pernah mengalami Quarter Life Crisis. Quarter Life Crisis merupakan suatu periode di mana seseorang merasakan krisis emosional dalam masa pencarian jati diri dan dilema ketika harus menentukan pilihan hidup. 

Ketika mengalaminya, kita tidak hanya merasakan krisis emosional, namun juga identitas dan rasa percaya diri. Lebih parahnya lagi, Quarter Life Crisis dapat membuat kita kebingungan dalam menentukan arah hidup.

Sebagai seorang remaja yang mulai menginjak dewasa, tentunya kita akan menghadapi berbagai problematika kehidupan. Dimasa menuju kedewasaan ini kita harus belajar untuk menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan.

Tak jarang kita harus menelan pil pahit atas kegagalan dan masalah hidup yang kita alami. Perasaan marah, kecewa, gelisah, dan takut dengan masa depan yang akan dijalani sering kali membuat kita semakin frustasi.

Terlebih bagi seorang mahasiswa, mengalami Quarter Life Crisis rasanya sudah tidak dapat dielakkan lagi. Keringat dan air mata seakan menjadi saksi bisu perjuangan mereka, mulai dari berjuang masuk ke kampus impian hingga memperjuangkan gelar sarjana yang diidam-idamkan. 

Pernahkah kamu merasa putus asa karena ditolak oleh kampus impian? Menyakitkan memang ketika impian yang kita perjuangkan dari jauh-jauh hari harus dipatahkan oleh ucapan “semangat” di hari pengumuman. 

Sedih dan kecewa memang wajar, tapi jangan sampai hal itu membuat kita kehilangan harapan. Jadikan kegagalan ini sebagai suatu pembelajaran, bukankah memang harus mencicipi kegagalan terlebih dahulu untuk mencapai kesuksesan?

Masa awal perkuliahan yang merupakan masa peralihan dari SMA ke jenjang perkuliahan juga memberikan tekanan yang luar biasa. Mahasiswa baru dituntut untuk mampu beradaptasi dengan kehidupan perkuliahan dengan cepat.

Banyaknya tugas di waktu bersamaan dengan deadline yang mepet sering kali membuat kita harus begadang. Tak cukup sampai di situ, untuk lulus dan mendapat gelar sarjana pun kita harus bergelut dengan skripsi yang harus selalu direvisi.

Sadar atau tidak, semakin kita fokus dengan impian dan segala masalah kehidupan maka semakin mengecil pula lingkaran pertemanan kita. Semakin bertambahnya usia maka semakin segan juga rasanya untuk mengadu ke orangtua. 

Dan semakin kita dewasa, semakin pelik pula kehidupan yang harus kita jalani. Sering kali pikiran kita berkecamuk memperdebatkan tentang masa depan yang belum pasti.

Pernahkah kamu mempertanyakan kemana sebenarnya arah hidupmu? Apa yang seharusnya kamu lakukan? Atau akan seperti apa kehidupanmu nanti? Jika iya, maka artinya saat itulah Quarter Life Crisis dimulai. Lantas, sebenarnya apa yang menyebabkan Quarter Life Crisis itu?

Quarter Life Crisis disebabkan oleh berbagai faktor yang kita pikirkan secara terus-menerus hingga menimbulkan perasaan tertekan dan cemas yang sulit dikendalikan. 

Faktor tersebut bisa timbul dari sisi pendidikan, pekerjaan, finansial, bahkan pasangan. Terkadang ada saja orang yang bertanya “Udah lulus kok belum kerja? Udah umur segini kok belum nikah?”. Mereka menganggap itu hanya sekedar basa-basi, padahal pertanyaan itu dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman dan cemas.

Lingkaran pertemanan yang semakin mengecil saat memasuki usia 20an seperti sudah menjadi hukum alam. Teman yang dulunya akrab sekarang hanya sebatas penonton story

Saat memasuki usia dewasa, tidak ada lagi waktu untuk bersenang-senang. Semua memiliki kehidupan masing-masing yang harus diperjuangkan, ada impian yang harus dikejar, dan ada pula pekerjaan yang harus diselesaikan.

Tekanan yang dialami semakin hari terasa kian berat, terlebih di era yang serba digital ini, sosial media sudah menjadi hal wajib yang harus dimiliki oleh setiap orang. 

Semua orang berlomba-lomba untuk mempublish kehidupan dan pencapaiannya di sosial media. Ini dapat membuat orang lain overthinking dan merasa insecure karena merasa tertinggal dengan teman seusianya.

Meskipun terdengar menakutkan, namun Quarter Life Crisis tidak melulu menimbulkan hal yang negatif, justru bagi sebagian orang problematika Quarter Life Crisis membuat mereka dapat berpikir dan bersikap secara lebih dewasa. Kuncinya ialah dengan mengelola perasaan takut, gelisah, dan cemas dengan baik. 

Lalu apa yang harus kita lakukan saat mengalami Quarter Life Crisis? Beberapa hal berikut dapat dilakukan untuk menghadapi Quarter Life Crisis dan menjadikannya sebagai batu loncatan menuju kedewasaan:

1. Kenali dirimu lebih dalam. Kamu yang paling tahu tentang dirimu. Coba gali potensi dan kekuranganmu, apa yang sejatinya benar-benar kamu sukai dan apa yang menurutmu harus kamu perbaiki. Kembangkan bakatmu dan temukan solusi untuk mengatasi kekuranganmu.

2. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Kesuksesan orang lain bukan tolak ukur maupun standar yang harus kamu penuhi. Tak perlu merasa insecure dengan pencapaian mereka, kamu hebat dengan bakatmu dan yakinlah jika kamu juga akan sukses suatu saat nanti. Bukankah matahari dan bulan akan selalu bersinar pada waktunya?

3. Temukan orang yang dapat dipercaya untuk berbagi keluh kesah. Kadang tidak semua masalah dapat kita tanggung sendiri, ada kalanya kita membutuhkan orang lain untuk memberikan saran atau sekedar menjadi pendengar yang baik. Setidaknya dengan bercerita pada orang lain, beban pikiran akan terasa jauh lebih ringan.

4. Terima kegagalan dengan lapang dada. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya tapi kegagalan merupakan bagian dari proses pendewasaan. Seseorang tidak akan berhasil jika belum menemui kegagalan dalam hidupnya. Jadikan kegagalan sebagai evaluasi dan coba lagi dengan versi diri yang lebih baik.

5. Buat planning yang realistis untuk mencapai tujuan. Rencanakan apa saja yang akan kamu lakukan nantinya untuk mencapai tujuan hidupmu. Ini sangat penting agar nantinya kamu tidak terombang-ambing dan kehilangan arah.

Quarter Life Crisis pada umumnya sering terjadi di kalangan kaum muda dan merupakan suatu proses dari pendewasaan. Quarter Life Crisis akan memberikan pengalaman hidup yang berharga bagi orang yang telah melewatinya dan dapat menjadi titik balik bagi seseorang dalam menentukan tujuan hidupnya. 

Meskipun Quarter Life Crisis terlihat menakutkan, namun faktanya hal tersebut akan mendewasakan dan membuat kita menjadi pribadi yang bertanggung jawab serta kuat baik secara psikis maupun mental.