Bagai diiris dengan sembilu

Begitulah perasaan salah seorang 

pangeran

Yang ingin mempersuntingnya

Di pagi buta itu

Keyakinan sang putri baik hati

Memang sudah tak tergoyahkan lagi 

Ia pun menjatuhkan diri ke samudera

Tak ingin menyakiti siapa pun

Juga tak ingin terjadi perpecahan 

di tanah kelahirannya

Bila ia memilih satu dari ratusan

Pemuda dan pangeran yang 

meminangnya


Sang putri memang sungguh jelita

Rambutnya ikal mayang

Dan matanya bersinar bagai kejora

Tubuhnya semampai terbalut sutra

Ia benar-benar luar biasa cantik

Seperti bidadari turun dari 

kahyangan

Dialah Putri Mandalika

Kebanggaan rakyat seluruh negeri


Senyumnya sungguh memesona

Dan kebaikan hatinya pun sempurna

Sungguh, dia memang putri pujaan

Layak bila pemuda dan pangeran

Berebut ingin mempersuntingnya

Seolah bunga hanya sekuntum

Sampai kebaikan hati sang putri

Tak sanggup melihat

Ada seorang pangeran tulus hati

Memuja senyumannya


Bagai tidur bertilam air mata

Begitulah kerinduan sang pangeran

Tiada bisa berhenti ditebas ombak

Sampai purnama datang

Dan Nyale santun menyapa

Sang pangeran itu

Masih saja setia menanti sang putri

Kembali dengan senyum indahnya

Meski ia tak harus memiliki


Habis hari berbilang hari

Habis bulan berbilang bulan

Habis tahun berbilang tahun

Bahkan tujuh putaran kehidupan

Telah dilalui sang pangeran

Tapi sang putri tak jua kembali

Apalagi seulas senyuman sang putri

Yang sangat dirindukannya


Di pagi buta itu

Bulan masih benderang

Cahayanya bersinar berkilauan

Membias pada pantulan kulit Nyale

Yang datang mewakili sang putri

Nyale pun kembali santun menyapa

Tapi sang pangeran itu

Tetap tak bergeming

Dari tempatnya berdiri

Menatap rembulan penuh harap

Di antara suara derasnya deru 

ombak


Ia terus saja menanti sang putri

Datang kembali dengan senyum 

terindahnya

Seperti pada awal kisah

Sebelum sang putri menjatuhkan 

dirinya ke samudera

Dan meninggalkan sepenggal kisah

Hati seorang pangeran yang terluka


Langit sudah mulai terang

Hari itu, hari keempat setelah 

purnama

Di kejauhan tampak seorang gadis

Menatap sang mentari pagi

Dengan senyum terindahnya

Dia mungkin adalah Putri Mandalika

Yang telah terlahir kembali

Dengan senyumnya yang 

memesona


Bila kini sang putri hidup sebatang 

kara

Dan tak lagi menjadi putri raja

Bisakah sang pangeran itu

Mengenali dan menemukannya?

Dan melukiskan kembali kisah sang 

putri dalam bingkai cerita yang 

berbeda?

Yang dirindukan seorang pangeran