Pelan tapi mengagetkan, Covid-19 telah 'menyerang' Rusia. Dibutuhkan waktu hampir 2 bulan bagi Covid-19 untuk menjadikan Rusia sebagai negara ke-2 terbanyak kasus positif setelah AS. 

Pada 20 Mei 2020, Rusia mencatatkan 300.000 kasus positif. Catatan kasus positif ini sangat mengejutkan dunia dan menjadikan Rusia sebagai episentrum baru, setelah Wuhan (Tiongkok), Korea Selatan, Prancis, Italia, Spanyol, dan Amerika Serikat (AS).

Kenyataan ini tentu saja memukul langsung prestise Presiden Vladimir Putin. Selanjutnya, Putin yang dianggap telah berhasil menaikkan pamor Rusia sebagai kekuatan besar justru memberikan respons tidak terduga dalam merespons Covid-19. Alih-alih memimpin sendiri penanganan Covid-19, Putin memberikan otoritasnya kepada Walikota Moskow dan gubernur regional. Pamor Putin yang selama ini dicitrakan sebagai "orang kuat" mulai pudar.

Kedua kenyataan di atas menjadikan pengalaman Rusia menangani Covid-19 menjadi sangat menarik diketahui.

Paradoks Putinisme

Putin dan Putinisme telah menjadi sistem politik tunggal di Rusia. Istilah Putinisme (Legvold, 2018) merujuk pada ide, perilaku, dan emosi. Ide Putinisme tercermin pada pembentukan negara kuat, anti-Barat, dan konservatif. 

Perilaku Putinisme tampak pada preferensinya terhadap kontrol, persatuan, dan loyalitas. Lalu, emosi Putinisme muncul pada pandangannya terhadap rasa hormat, penentangan, dan rasa takut. Oleh karena itulah muncul pandangan bahwa Putin adalah Rusia dan Rusia adalah Putin.

Putinisme tak dapat disangkal menunjukkan sentralisasi kekuasaan ekonomi, politik, pertahanan, dan keamanan di Rusia berada di genggaman Putin. Sebagai sebuah sistem, kekuasaan Putin diwujudkan melalui lembaga-lembaga kepolisian, militer, dan intelijen yang tersebar di seluruh negeri.

Putinisme sudah berkembang sejak akhir 1999. Sejak itulah kebijakan Putin tidak saja membentuk Rusia seperti sekarang ini, namun juga memengaruhi berbagai isu internasional. Kepemimpinan Putin dan sistem Putinisme tetap berlanjut dan memperoleh ujian tak terduga dalam bentuk ancaman pandemi Covid-19.

Masalahnya adalah kebijakan Putin merespons pandemi Covid-19 justru mencerminkan paradoks. Ketika virus corona baru menyebar ke seluruh Rusia, Putin mengalihkan tanggung jawab dari dirinya sendiri ke otoritas yang lebih rendah. 

Putin mendelegasikan otoritas tertingginya kepada Walikota Moskow Sergei Sobyanin sebagai pemimpin gugus tugas virus corona nasional. Putin juga memerintahkan gubernur regional untuk membuat kebijakan dan keputusan terkait penanganan Covid-19 sendiri.

Pendelegasian kekuasaan sentral Putin ini adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia menghadapi ancaman keamanan. Setelah dua dekade Rusia di bawah kekuasaan terpusat Putin, kebijakan pendelegasian otoritas ini dianggap sebagai bentuk dari rasa kurang percaya diri Putin. Putin bahkan dianggap mulai kehilangan citra "kejantanan" yang selama ini telah menjadi citra kekuasaannya.

Apalagi pejabat tinggi di ring 1 Presiden Putin terbukti positif terkena virus Corona, yaitu juru bicara Presiden Putin, Dmitry Peskov. Kasus ini menambah deretan pejabat tinggi Rusia yang sudah terinfeksi virus corona. Sebelumnya, tiga menteri Rusia dinyatakan positif mengidap virus itu, yaitu Perdana Menteri Mikhail Mishustin, Menteri Kebudayaan Olga Lyubimova, dan Menteri Perumahan Vladimir Yakushev.

Respons kebijakan Putin terhadap pandemi Covid-19 ini cenderung dianggap telah mencapai batas-batas kekuasaan domestiknya. Respons Putin ini paradoks dengan sistem Putinisme yang dibangunnya selama ini.

Kebijakan Putin juga bahkan paradoks dibandingkan dengan kebijakan pimpinan berbagai negara. Sebagai contoh, PM Hungaria Viktor Orban, Presiden Filipina Rodrigo Duterte, PM Thailand Prayuth Chan-ocha, dan PM Yordania Omar al-Razzaz justru memperbesar otoritas kekuasaannya dalam memerangi krisis Covid-19.

Penanganan Covid-19

Covid-19 menjadi ancaman keamanan tak terduga bagi Putin dan Rusia. Selama ini, ada beberapa ancaman keamanan domestik dan internasional yang dihadapi Rusia. Kedua kategori ancaman keamanan itu secara umum telah dikelola dengan baik oleh Putin. Keberhasilan Putin ini menjadikan Rusia memperoleh kembali posisinya sebagai kekuatan besar (great power) dan mampu menandingi AS.

Bagi Rusia, ancaman keamanan internasional selama ini adalah AS, perluasan Uni Eropa dan NATO, serta hubungan bilateral dengan negara-negara tetangga. Dalam konteks itu, ancaman keamanan Rusia lebih bersifat politik dan pertahanan-keamanan.

Sementara itu, Rusia kedodoran dalam merespons pandemi Covid-19, seperti negara-negara lain. Rusia sempat meremehkan persebaran wabah Corona ini. Kesadaran mengenai efek mematikan virus Corona memaksa Putin mengambil langkah-langkah agresif, seperti menutup perbatasan sepanjang 4 ribu kilometer dengan Cina sejak 30 Januari lalu.

Rusia juga menetapkan zona-zona karantina yang berkontribusi dalam mencegah makin meluasnya wabah virus Corona di negara ini. Kebijakan penutupan wilayah juga dilakukan di seluruh perbatasannya dari warga negara asing. Akibatnya, Rusia harus menunda seluruh kegiatan internasional di wilayahnya. Pemeriksaan massal sejak awal Februari sudah mencapai lebih dari 156 ribu penduduk Rusia.

Namun demikian, pelaksanaan kebijakan-kebijakan itu bukan berarti tanpa persoalan. Rusia ternyata tidak segera memeriksa orang-orang yang datang dari Italia atau negara Uni Eropa lainnya yang terdampak virus Corona secara parah. Rusia juga tidak langsung membatasi kedatangan dari negara-negara Eropa dan tidak langsung memberlakukan karantina wajib selama dua minggu untuk kedatangan dari luar negeri.

Demi alasan menyelamatkan ekonomi Rusia, masa untuk “bekerja di rumah” berakhir di seluruh Negeri Tirai Besi mulai 12 Mei. Putin meminta para gubernur untuk mengambil kebijakan sesuai kebutuhan wilayah mereka masing-masing. Sejumlah wilayah di Rusia yang merupakan wilayah pabrik dan industri memerlukan protokol kesehatan perlu disesuaikan dengan kondisi setempat.

Demikian juga di wilayah yang padat penduduk yang masih termasuk red zone Covid-19, seperti Moskow. Putin juga meminta seluruh warga Rusia untuk mengenakan masker dan sarung tangan di tempat umum. Bagi Moskow sebagai episentrum wabah, pemberlakuan karantina wilayah tetap berlaku dan diperpanjang hingga 31 Mei. Kebijakan-kebijakan pelonggaran ini diambil agar ekonomi Rusia tidak mandek.

Untuk menyusun rekomendasi pelonggaran pembatasan gerak, Putin telah menugaskan kabinetnya dan Satuan Tugas Covid-19. Putin juga memberikan instruksi kepada mereka untuk menyusun rencana aksi atau pemulihan dan pertumbuhan ekonomi pada 1 Juni.

Covid-19 memang telah menyajikan ancaman keamanan tak terduga bagi Putin dan Rusia. Namun demikian, Putinisme telah berakar kuat di Rusia sehingga kritik dan protes atas kebijakan Putin diyakini tidak akan mampu mengancam otoritas dan legitimasi pemerintahan Putin. 

Keberhasilan Putin mengembalikan kejayaan Rusia sebagai kekuatan global menjadi prestasi yang diakui masyarakat Rusia. Oleh karena itu, Covid-19 tidak akan berpengaruh besar pada kekuasaan Putin yang telah dibangunnya selama 2 dekade ini.