44995_24762.jpg
https://pixabay.com/id/sibuk-rumah-meja-tulis-kertas-1972166/
Budaya · 5 menit baca

Putih Kertas yang Ternodai Hitam Gadget

“Putih oh putih mengapa engkau hitam, bagaimana aku tak hitam aku sudah kalah, aku sudah kalah”. Pasti kita semua mengetahui syair dari lagu tersebut. Syair lagu yang dinyanyikan di kartun Upin dan Ipin ini, dinyanyikan secara bahagia oleh para pemerannya. Tapi, berbeda dengan kata-kata yang digunakan di atas. Suatu nyanyian yang mengibaratkan kertas dan gadget, kertas diibaratkan putih dan gadget diibaratkan hitam. 

Putih yang dinodai oleh noda hitam menyebabkan putih mengalami kehilangan kesucian. Dapat diartikan bahwa kata dinodai diibaratkan dirusak/direbut, sedangkan kesucian diibaratkan kejayaan/kehebatan. Jadi dapat diartikan, kertas yang direbut kejayaannya oleh gadget. Dimasa yang penuh dengan keajaiban saat ini, sungguh membuat hal yang mustahil bisa menjadi terwujud. Kita dapat merasakan perkembangan teknologi yang terjadi hingga sekarang. Sungguh sangat menakjubkan, bukan?

Kita juga bersyukur semua yang dulunya sulit dikerjakan sekarang sudah menjadi mudah, yang dulunya memasak menggunakan kayu bakar sekarang sudah ada penanak nasi, yang dulunya tidak bisa melihat informasi dunia sekarang sudah ada televisi yang tidak hanya mengetahui informasi namun juga sebagai media hiburan, yang dulunya mengirim surat cinta melalui pos harus menunggu balasan hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun sekarang sudah ada telepon genggam. 

Begitu juga dengan keadaan kertas yang sudah hampir tergantikan oleh gadget. Bagaimana pun perkembangan teknologi seperti gadget tidak bisa dipungkiri karena sudah kodratnya, semua yang dulu yang dulunya bisa dikerjakan oleh manusia sekarang sudah digantikan oleh teknologi. Sekarang kembali ke putih dan hitam. Mendengar kata putih sangat identik dengan kesucian, meskipun kertas tidak bisa dibilang suci. Tapi, kertas telah menemani kehidupan manusia sejak beberapa abad yang lalu dan telah menjadi kebutuhan penting masyarakat dalam menulis sejarah dan berbagi informasi.

Kita dapat melihat sejarah penemuan kertas hingga perkembangan kertas hingga saat ini.  Sebelum kertas ditemukan, manusia menggunakan material untuk menulis. Penduduk Mesir menulis di batang pohon, orang Mesopotamia menulis di piringan tanah dan Eropa dan yang lainnya sebagian besar menulis di kulit domba. Namun berbeda dengan penduduk China, penduduk terinspirasi dari proses penggulungan sutra sehingga orang China kuno berhasil menemukan bahan seperti kertas yang disebut bo yang terbuat dari sutra. Pada produksi bo sangatlah mahal karena kelangkaan. 

Pada awal abad kedua, pejabat pengadilan bernama Cai Lun berhasil menemukan kertas jenis baru yang terbuat dari kulit kayu, kain, batang gandum dan yang lainnya. Berbeda dengan bo, kertas jenis ini relatif murah, ringan, tipis, tahan lama dan lebih cocok untuk digunakan dengan kuas. Pada awal abad ke-3, proses pembuatan kertas pertama ini menyebar ke wilayah Korea dan kemudian mencapai Jepang. Kertas jenis ini merambah negeri Arab pada masa Dinasti Tang dan mulai menyentuh Eropa pada abad ke-12. Kertas mencapai wilayah Amerika  pada abat ke-16. Kemudian secara bertahap kertas menyebar ke seluruh dunia.

Mengingat kembali pernyataan yang dicetuskan oleh pakar informasi Inggris, Frederick Wilfrid Lancester (1978), yaitu masyarakat tanpa kertas (paperless society). Pada saat itu masyarakat yang tidak lagi menggunakan kertas sebagai medium tulis, baca, dan pertukaran informasi. Akan tetapi, internet akan mengambil alih peran sebagai medium bacaan dan pertukaran informasi. Padahal kertas pernah mengalami masa kejayaan pada tahun 70-an yang merupakan era mesin fotokopi sehingga kertas banyak digunakan oleh dunia.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan kertas sudah mulai menurun. Kertas adalah media utama dalam kegiatan surat menyurat dalam dunia modern, hampir setiap hari kita berhubungan dengan yang namanya kertas. Bagi banyak perusahaan merupakan kebutuhan primer. Sama halnya dengan beras, kertas dikonsumsi sehari-hari untuk berbagai keperluan perkantoran. Semua lini organisasi atau divisi tidak bisa lepas dengan benda satu ini. Kertas digunakan untuk surat-menyurat, administrasi, pelaporan, pembuatan proposal, fotokopi dan lainnya.

Di peradaban modern peran kertas sebenarnya masih banyak digunakan oleh manusia. Namun, salah satu fungsi yang sudah diambil alih oleh gadget ialah peran kertas sebagai wadah cetakan untuk sebuah tulisan. Kertas tidak hanya digunakan untuk menjadi buku tulis oleh masyarakat. Melainkan di peradaban modern kegunaan kertas sudah banyak digunakan, baik dalam perkantoran, sekolah, usaha dan lain-lain.  Kita dapat mengetahui seberapa besar kebutuhan akan kertas yang digunakan pada saat ini.

Untuk saat ini kebutuhan tidak hanya berpatokan pada buku tulis saja. Kita dapat melihat kondisi lingkungan dan aktivitas ekonomi/sosial. Kegunaan kertas bukan hanya pada pendidikan dan perkantoran. Tapi, kegunaan kertas sudah beralih ke rumah tangga, seperti tisu, koran, majalah, kliping, kalender, pebungkus kado, karton dan lain-lain. Kegunaan yang kertas tidak hanya itu saja, seiring dengan perkembangan zaman dan pertambahan penduduk kebutuhan akan kertas akan terus bertambah, baik itu materialnya maupun kegunaannya. 

Pada pelajaran ekonomi  kita dapat mengetahui hubungan timbal balik antara penduduk dan barang. Perbedaan sumber daya manusia suatu negara yang memiliki jumlah penduduk relatif banyak akan memproduksi barang-barang yang lebih banyak. Dari tahun ke tahun pertumbuhan akan jumlah penduduk akan terus bertambah, secara otomatis akan mempengaruhi kebutuhan akan suatu barang. Jadi, semakin banyak jumlah penduduk maka akan semakin banyak kebutuhan akan kertas.

Dalam peradaban modern tentu tingkat kualitas manusia juga akan modern, manusia lebih tertarik dengan pekerjaan yang sederhana. Kertas sebenarnya tidak begitu rumit dibanding gadget. Hanya saja gadget memiliki fitur yang lebih banyak dan sederhana untuk digunakan dibanding kertas. Melalui gadget semua data dapat disimpan dalam satu tempat tanpa perlu tumbukan kertas yang banyak. Namun, kertas akan semakin bertambah nilai kegunaannya bila kita memanfaatkan sebaik mungkin. Saat ini, lembaga-lembaga pendidikan dan perusahaan menjadi penyumbang pengguna kertas terbanyak di Indonesia.

Kertas merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar sektor non migas di Indonesia. Saat ini Indonesia menepati urutan ke-9 sebagai produsen pulp dan urutan ke-6 pada industri kertas terbesar di dunia. Sebagai negara pengekspor pulp dan kertas, Indonesia diproyeksi tumbuh sebesar 3%-4% pertahun, sehingga ekspor diprediksi akan meningkat. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki peluang untuk menduduki urutan ke-5 di dunia. Industri pulp dan kertas juga menyerap lebih kurang 260.000 tenaga kerja langsung dan 1,1 juta tenaga kerja tidak langsung. 

Peran kertas di atas tidak hanya terjadi pada konsumen saja, melainkan juga pada devisa negara. Oleh karena itu, diharapkan produksi kertas akan bertambah seiring berjalannya zaman. Sehingga dapat menambah devisa negara dan menjadikan Indonesia sebagai negara ekspor terbesar di dunia tanpa harus merusak lingkungan dan merugikan masyarakat. Tapi, untuk beberapa tahun yang akan datang kita tidak tahu perkembangan yang akan terjadi. Apakah teknologi akan mengambil alih keseluruhan kegunaan kertas. Apakah putih akan dinodai oleh hitam? Jawabannya ada pada masa yang akan datang.