Dulu, sewaktu masih "remaja", aku adalah fans berat acara Pemilihan Puteri Indonesia (PPI). Pemilihan Puteri Indonesia adalah konteks kecantikan di Indonesia yang diselenggarakan sejak 1992 oleh Yayasan Puteri Indonesia yang diketuai oleh Ibu Mooryati Soedibyo dan disponsori oleh produk kosmetik Mustika Ratu (Wikipedia).

Pemenang Puteri Indonesia ini nanti akan menjadi wakil Indonesia atau duta bangsa pada kegiatan yang bertaraf internasional dan ikut serta dalam memajukan komoditas-komoditas ekspor, pariwisata, dan budaya Indonesia. Puteri Indonesia juga ikut melakukan aksi sosial ke daerah-daerah yang membutuhkan untuk turut memberikan bantuan dan hiburan (wikipedia).

Dengan slogan 3B (Brain, Beauty, Behaviour) yang menitiberatkan pada kepintaran, kecantikan, dan tingkah laku atau perilaku yang tentunya yang baik. Diharapkan, perempuan yang menjadi terpilih menjadi juara Puteri Indonesia (PI) adalah perempuan yang tidak hanya cantik, tapi pintar yang mempunyai perilaku yang baik dan benar yang mungkin sesuai adat ketimuran, Indonesia.

Sebut saja pemenang puteri-puteri Indonesia yang sangat familiar dengan kita dan "tidak diragukan kapasitasnya sebagai seorang putri" seperti Alya Rohali, Artika Sari Devi, Zivanna Letisha, dan lain sebagainya. Mereka semua sangat cantik, pintar, dan perilaku mereka baik.

Namun, untuk menjadi seorang PI, tidak mudah karena mendengar kata PI saja, seorang perempuan bisa jadi tidak percaya diri sendiri dengan kecantikan dirinya, kepintarannya, bakat-bakatnya dan lain sebagainya. Bisakah aku menjadi finalis PI dengan apa-apa yang aku telah miliki?

Aku pernah mengikuti PPI ini pada tingkat kota Makassar di tahun 2004. Saat itu, ada sekitar 25 orang peserta yang memang dijaring dari perwakilan sekolah dan kampus yang memiliki 3B dan peserta yang mandiri, independent seperti aku yang mendaftar karena memang ingin mengikuti ajang bergengsi ini.

Aku tertarik mendaftar mengikuti PI ini karena pertama, aku selalu menonton malam PI di televisi, dan melihat pemenangnya adalah selalu perempuan keren. Aku ingin sekeren mereka. Kedua, aku membaca buku, tulisan dari Angelina Sondakh, pemenang PI tahun 2001, yang berjudul: Kecantikan Bukan Modal Utama Saya.

Buku ini sangat menginspirasiku untuk ikut PPI yang di mana, Angel (panggilan Angelina Sondakh) menulis berbagai lomba kecantikan yang diikuti yang tidak mengutamakan kecantikan tetapi otak dengan banyak membaca dan membuka wawasan lewat diskusi. Bakat misalnya, dengan mengetahui memainkan alat musik. Dan tetap percaya diri dengan kemampuan bahasa Inggrisnya.

Di sini, dia menceritakan tentang dirinya yang baru belajar berjalan di catwalk, gemuk, jerawat, lagi sakit cacar namun bisa mengikuti semua lomba-lomba tadi dan menjadi pemenang pertama.

Dan aku ikut karena untuk menjawab penasaranku tentang ajang kecantikan PI itu sendiri. Perempuan yang kayak gimana sih yang bisa ikut PI? Secantik, sepintar, atau dan sekeren apa meteka? Bagaimana sih penjurian PI? Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Aku Mendaftar Puteri Indonesia

Aku pun mendaftar untuk melihat sejauh mana "keperempuananku". Aku mendaftar pada sebuah koran lokal Makassar yang menjadi partner penyelenggara dengan mengisi biodata dan menyerahkan foto close up. Waktu itu aku membayar lomba karena mendapat kosmetik.

Dan pesertanya memang cantik-cantik (karena semua orang punya kecantikan masing-masing). Pintar-pintar karena perwakilan dari sekolah dan kampus yang berprestasi. Dan karakter? Setiap orang mungkin punya karakter masing-masing. Misalnya, pendiam, sombong, ramah, dan lain sebagainya yang tidak semuanya harus seperti yang orang lain inginkan.

Selama seminggu, walau bukan namanya karantina. Kami yang ikut mengikuti banyak sesi kegiatan. Sesi ke Dinas Pariwisata, sesi foto, beauty class, cara berjalan di panggung, dan lain sebagainya (aku lupa). Sampai pada sesi penjurian.

Aku melihat di sesi penjurian itu, semua tetap berusaha tenang walau semua peserta cantik dengan kecantikan khas masing-masing. Walau semua peserta pintar dengan pola kepintaran yang berbeda. Walau semua punya passion yang unik dan menarik seperti menari, menyanyi, dan lain sebagainya. 

Namun, sebenarnya banyak yang gugup juga. Bagaimana tidak, jurinya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Seniman dan Budayawan, Psikolog, dan sebagainya sampai pada seorang dari LSM Lingkungan (kalau tidak salah).

Dan akhirnya, juri memang sangat fair yang masuk dalam 10 besar dari penjurian ini adalah yang cantiknya elegan, tingginya semampai, kiprahnya pada kegiatan sosial di masyarakat banyak, sampai pada memiliki bakat dalam seni dan budaya.

Kemudian pemenang dari tingkat kota Makassar ini, memang bukan perempuan yang ecek-ecek. Dia kemudian menjadi wakil dari Makassar yang akan bersaing dengan finalis-finalis lain sekabupaten, Sulawasi Selatan yang akan dipilih untuk mewakili propinsi Sulawesi Selatan di Jakarta nanti. 

Sehingga, perwakilan PI dari setiap propinsi pun sebenarnya sudah menjadi juara ketika sudah dikirim dan  berlaga di Jakarta. Namun, menurutku, sejak awal, perempuan yang mengikuti PPI baik dari tingkat kota, kabupaten, hingga nasional adalah perempuan pemenang. Mereka semua adalah perempuan-perempuan yang luarbiasa istimewa karena sejak awal sudah percaya diri dengan diri sendiri, mau berperan positif, mau bersaing, dan berkompetisi dengan perempuan lain.

Kontroversi Puteri Indonesia

PPI sebagai ajang pemilihan puteri kecantikan telah menjadi kontroversi bertahun-tahun. Dulu, waktu Alya Rohali mengikuti Miss Universe yang memakai baju renang sempat menjadi kontraversi. Atau puteri-puteri yang lain yang berbikini mengundang kontroversi. 

Namun, bukan masalah bikini saja yang membuat kontroversi. Ketika Nadine Chandrawinata pemenang PI 2005 yang dikirim ke ajang Miss Universe 2006 salah ucap dengan mengatakan, Indonesia is my beautiful city. 

Dan pada tanggal 06 Maret ini, pemilihan Puteri Indonesia kembali memilih pemenangnya yaitu, Rr. Ayu Maulida dari Jawa Timur (Jatim) sebagai juaranya. Beberapa orang memang menjagokan Jatim, Jateng, dan Sumbar. 

Namun, puteri asal Sumbar membuat kontroversi karena grogi dengan salah menyebutkan sila dalam Pancasila. Videonya pun menjadi viral kemana-mana. Kalista Iskandar sang puteri itu menurut asumsiku tak mungkin tidak tahu Pancasila. Mahasisiwi jurusan hukum itu (pasti) nervous. 

Ketika kita gugup, semua akan blank. Angelina Sondakh sendiri menulis dalam bukunya tadi, ketika dia di tahap tiga besar penjurian PI, 2001, dia sempat blank. Sehingga, dia meminta pertanyaan untuk dirinya diulang. Begitu pun dengan artis cantik, Raline Shah, yang terlihat sangat pintar dan percaya diri, dulu juga sempat grogi menurutku ketika di PI, 2008.

Aku pun pernah ambyar, alias konsentrasi buyar ketika presentasi sehingga, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Untungnya, aku menulis sebuah catatan kecil di notes sehingga "terselamatkan".

Maka, berhentilah kalian membully, mencaci, karena satu kesalahan Kalista Iskandar diatas panggung. Setiap orang punya kesalahan yang tidak mungkin dilakukan dengan sengaja. 

Dan aku setuju dengan Caption dari Kalista Iskandar Official dari Instagram (IG) hari ini;

Sudah(kah) kita berbuat banyak dalam berprestasi dan membanggakan bangsa Indonesia ini? Untuk menghakimi seseorang dengan gampangnya kita mencaci tanpa menghargai perjuangan dan pengorbanannya. 

Bijaklah dalam bersosial-media. Jika kalian mampu, mari mengamalkannya. Karena melakukan pengamalan di setiap sila yang terkandung jauh lebih berharga dan mulia daripada hanya hafal dari mulut belaka. 

Bullying adalah pelanggaran dari sila yang kedua. Coba anda terapkan Pancasila dalam kehidupan nyata! Dan posisikan itu sebagai anda.

Terima kasih. Strong girl, you are still in my heart @kalistaiskandar.

I am with you, Kalista Iskandar. Semua akan biasa-biasa saja. siapa pun bisa ambyar, life must go on, my princes.