Naskah draft publikasi Scopus pertama saya pernah ditolak panitia seminar Scopus. Namun di tahun yang sama saya berhasil mempublikasikan 4 prosiding terindeks Scopus. Salah satunya bahkan hampir masuk jurnal Q3. Sudah berhasil lolos seleksi pertama, namun belum lolos diseleksi kedua.

Awal kebijakan ini berlandaskan ketertinggalan yang sangat jauh Indonesia dari tetangganya dalam jumlah publikasi penelitian. Jumlah publikasi dari dosen saja dinilai masih sangat kurang maka muncullah ide melibatkan mahasiswa. 

Namun publikasi terindeks Scopus ini memang cukup mempersulit mahasiswa paskasarjana untuk lulus. Bukan hanya memperlama, beberapa orang bahkan memilih tidak melanjutkan studi.

Semakin sulitnya mencari pekerjaan bagi fresh graduate S1 membuat banyak orang melanjutkan studi S2. Dan bagi yang sudah terlanjur menjalani S2 mau tidak mau harus berhadapan dengan publikasi Scopus sebagai syarat sidang. 

Memang ada syarat pengganti yakni publikasi seminar nasional dan Jurnal Sinta 2. Tapi bagi saya pribadi malah lebih baik Scopus sekalian, nggak susah kok, berikut tipsnya.

1. Pastikan Naskahmu Mengikuti Template

Seleksi pertama dari naskah yang di-submit ke panitia Scopus adalah kesesuaian dengan template yang disediakan panitia. Ini adalah hal yang paling mudah. Template yang diminta oleh masing-masing panitia berbeda. 

Jadi misal naskahmu ditolak dari panitia A kemudian mau pindah ke panitia B bisa saja. Tapi ikuti template dari panitia B. Apabila panitia melihat sistematika tidak sesuai template ya sudah itu langsung disingkirkan tanpa dibaca.

2. Konsultasikan Penggunaan Bahasa Inggrismu

Semua publikasi Scopus tentu saja menggunakan bahasa Inggris. Seringkali, ketika ingin cepat dalam proses penulisan, kita selalu menggunakan google translate

Ya, nggak salah sih. Tapi lanjutkan dengan penelaahan sendiri misal dalam Fisika menerjemahkan Gaya bukan menjadi Style tapi Force, Usaha bukan Effort tapi Work, dan lain sebagainya. Setelah dicek mandiri, konsultasikan ke ahlinya bahasa Inggris.

Pengecekan ini perlu agar kita bisa mengetahui bagian idiom atau grammar lain yang terdapat dalam bahasa Inggris. Namun saya sarankan ke penerjemah tersumpah. Meskipun membayar, mereka bebas dari kepentingan. 

Pernah lho kejadian teman saya minta tolong translate ke teman tapi malah dia pake sendiri publikasi. Jadi pas mau dipublikasikan malah kena plagiat, padahal dia nggak ambil data.

Kalau saya pribadi konsultasikan ke teman kerja. Kebetulan ada beberapa guru bahasa Inggris. Saya pilih yang sudah S2 beasiswa LPDP, nilai TOEIC-nya 800 dan pernah publikasi ke luar negeri. Lumayan koreksinya, tapi kan gratis dan dapat yang berkualitas.

3. Tonjolkan Kebaruan

Kekuatan dari naskah publikasimu ada pada tingkat kebaruan. Kebaruan sebenarnya lebih pada bagaimana kamu tunjukkan bahwa penelitian yang kamu lakukan berbeda dengan yang serupa pernah ada sebelumnya. Jadi tidak perlu risau dengan ini harus yang keren banget ya nggak juga. Tapi ketika kamu dapat tunjukkan bahwa perbedaanmu jelas daripada penelitian orang lain maka itu sudah cukup.

Ini kelihatan mudah ya, tapi perlu latihan dan konsultasi. Saya pernah ditolak karena reviewer menganggap bahwa penelitian saya sudah biasa. Sebenarnya penelitian saya cukup baru, namun saya gagal menunjukkan kebaruan itu. Tunjukkanlah kebaruannya dengan beberapa data penunjang seperti alasan ilmiahmu mengambil sisi kebaruan itu.

4. Pemilihan Panitia Seminar

Ini tidak terkait naskahmu secara langsung. Tapi saran bagian ini sangat penting dalam rencana waktu studimu. Naskah Scopus yang pertama saya submit diindeks Scopus setelah 13 bulan. Padahal naskah terakhir yang saya submit cuma butuh waktu 3 bulan. Sedangkan dua naskah sisanya berada di antara dua naskah tadi.

Sebelum submit naskah, cek dulu di webnya panitia. Perhatikan bahwa panitia telah berapa kali selenggarakan conference. Kalau baru sekali ya mending tidak submit. Panitia belum berpengalaman dalam publikasi Scopus. Kecuali kamu mau sedekah ke panitianya untuk menaikkan nama mereka.

Jika panitia telah beberapa kali menyelenggarakan conference, lihatlah berapa lama naskah mereka terbit yang lalu. Hitunglah dari terselenggaranya conference sampai dengan publikasi terbit. Pilih yang paling cepat saja, karena sebenarnya sudah ada kontrak mau kapan diterbitkan.

5. Jangan Setia pada Satu Panitia

Masih nyambung dengan yang tadi, saya punya pengalaman publikasi dengan teman saya. Kita berdua menunggu satu tahun untuk publikasi di panitia yang sama. Bedanya, saya tidak mau bergantung pada satu panitia saja. Naskah Tesis saya dipecah jadi banyak naskah publikasi yang saya masukkan ke 5 panitia lainnya.

Alhasil, ketika hampir setahun menunggu kemudian diumumkan layak masuk Scopus, saya sudah lebih dahulu dapat 3 publikasi Scopus dari panitia lain. Sedangkan teman saya itu yang setia malah nggak lolos. Bayangkan satu tahun itu dua semester, berapa biaya spp nya yang dibayarkan hanya menunggu. Saya malah sudah lulus dulu sebelum publikasi itu yang setahun itu terbit.

Naskah tesis kita bisa kok jadi banyak publikasi tanpa terkena plagiat. Caranya ya memang dipisah saja. Publikasi di panitia A cukup sampai tahap apa. Nanti ke panitia B publikasikan lanjutannya. Jadi kita akan terhindar dari publikasi bahkan dari tulisan kita sendiri yang sudah pernah dipublikasikan.