94366_61607.jpg
https://id.images.search.yahoo.com
Agama · 3 menit baca

Pusaran Angin Topan Jepang Tak akan Mengalahkan Wacana Pemikiran Manusia

Seperti dikutip The Guardian, rabu (23/8/2017), Topan Hato diperkirakan mengembuskan angin kencang maksimal 165 KM per jam dengan kekuatan hingga 192 km per jam. Memporak porandakan keadaan ekonomi, politik dan semua aktifitas manusia. Dapat kita simpulkan angin ini telah menghambat semua kegiatan manusia.

Walaupun angin Topan Hato itu sangat kencang, ternyata ada yang lebih kencang, yaitu wacana manusia. Sudah sering kita mendengar wacana manusia (tentang kemanusiaan) yang didalamnya terdapat ranah keadilan dengan membawa wacana keadilan bersama, serta kebaikan untuk kita semua, tetapi kenyataannya hanya membawa nilai pragmatis saja.

Kepentingan dan kebenaran pragmatis, mungkin itu yang penulis rasakan dalam kenyataan ini. Berawal dari hal kecil seperti “saya akan bangun pagi”, ternyata itu hanya wacana omong kosong, dengan alasan tidur terlalu malam, karena habis diskusi. Padahal diskusi itu bukan membawa saya dari mana atau organisasi mana, tetapi saya harus tau bahwa saya manusia yang harus saya perlakukan seperti manusia.

Dari tidur dan berdiskusi, terkadang kita melupakan akan hakikat diri kita sendiri bahwa kita manusia yang butuh istirahat. Konteks keadilan yang dibangunkan dalam diskusi ternyata tanpa kita sadari telah merenggut kesadaran akan keadilan manusia terhadap tubuh kita.

“Jika diam itu emas, maka jadilah orang bisu, lalu jika berfikir itu salah maka jadilah orang gila, dan jika pembaharu jaman itu salah, maka jadilah orang purba”. Tidak ada salahnya berbincang tentang pembahasan dunia, dan tidak ada salahnya kita berfikir karena potensi dalam diri kita adalah berfikir, tetapi manusia bukan hanya dalam konteks berbicara dan berfikir

Tetapi bagaimana kita mengaktualkan potensi diri untuk tercapai peradaban dunia, yang bermuara pada pembaharuan jaman. Dunia ini memang fana, tetapi tidak lebih fana dibandingkan kepentingan dan kebenaran pragmatis, coba perhatikan kepentingan akan muncul pada saat itu saja, seperti kepentingan kita untuk mendapatkan kedudukan, padahal kita tahu setelah itu pasti ada pemimpin baru lagi yang akan menggantikannya.

Terinspirasi dari buku Anatomi Masyarakat (karangan Yusuf Qhardhawi) mengungkapkan sesuatu yang membahayakan masyarakat. Yang salah satunya adalah pemahaman yang menyerang masyarakat kita bersama imperialisme (penjajahan) dengan masuk berlindung di suaka politiknya dan menjadikan Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai suatu intervensi (ikut campur) dalam urusan orang lain.

Terciptanya masyarakat ini adalah untuk membuat kehidupan dunia kita damai dan tentram, bukan hanya menjajah orang lain dengan kedudukan yang kita punyai. Jihad memang bukan hanya diartikan pasrah, melainkan bagaimana kita menguasai suatu kekuasaan, tetapi hal tersebut hanya untuk menjadikan pembinaan terhadap masyarakat demi kemaslahatan bersama.

Visi misi adalah untuk masyarakat, karena itu adalah untuk kepentingan bersama, seperti halnya Pancasila yang dijadikan sebuah kontrak sosial dalam sidang BPUPKI, dilakukan untuk menjadi dasar berdirinya bangsa, serta sebagai pijakkan awal untuk terciptanya toleransi antar suku, karena pancasila adalah bukan compromise, tetapi sebuah kontrak sosial.

Pancasila yang digali dari dalam perut bumi Indonesia adalah satu permata yang harus kita implemetensasikan dalam wujud arah gerak bangsa Indonesia, untuk tercapainya tuntutan dasar sebagai sebuah bangsa yang diawali oleh seluruh elemen masyarakat bukan untuk satu kepentingan. Semisal, di dalam sebuah perburuhan ada hubungannya dengan pancasila Indonesia, yang tertulis dalam Ensiklopi Popular Politik Pembangunan Pancasila. Dalam hubungannya pancasila dengan perburuhan menerapkan cita-cita pancasila dalam kehidupan konkrit sehari-hari.

Pertama, suatu hubungan perburuhan yang berdasarkan ketuhanan yang maha esa, tidak mengizinkan adanya diskriminasi Karena agama atau kepercayaan, tetapi kenyataan ini gesekkan demi gesekkan masyarakat membawa pada titik, dimana masyarakat membedakan masyarakat yang berbeda agama.Kedua, suatu hubungan perburuhan yang berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, tidak memandang buruh hanya sekedar faktor produksi, tetapi juga sebagau manusia pribadi dengan segala harkat martabatnya.

Ketiga, suatu hubungan perburuhan yang berazaskan persatuan Indonesia, tidak membedakan golongan, keyakinan politik, agama, suku, jenis kelamin, maupun daerah asal si buruh. Keempat, suatu hubungan perburuhan yang berdasarkan atas musyawarah untuk mencapai mufakat, berusaha menghilangkan perbedaan-perbedaan dan mencari persamaan kearah persetujuan antara buruh pengusaha.

Kelima, suatu hubungan perburuhan yang berdasarkan pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menuntut agar setiap kemajuan dapat dinikmati bersama secara serasi, dan merata, baik oleh buruh maupun oleh rakyat pada umumnya serasi dimaksudkan dalam arti, masing-masing menerima bagian yang memadai, sesuai dengan pernanan dan prestasinya.

Dari kelima hal tadi akan mencerminkan Thirdharma yang diperkembangkan atas dasar pancasila, yaitu: Prinsip rumongso’ handar beni atau ikut memiliki, prinsip ‘melu hanrungkebi atau ikut mempertahankan dan memajukan, dan prinsip mulat sariro hangroso wani atau keberanian untuk mawas diri. Kita ketahui bersama Pancasila ini bukan untuk wacana pemikiran, tapi ini adalah salah satu pandangan dunia masyarakat Indonesia, agar terciptanya negara paripurna. Sama-sama kita renungkan dan koreksi bersama akan hal ini, agar cita-cita pancasila dalam konteks apapun bisa kita raih bersama.