Pati masih menampakkan siluet jingga ketika bus Indonesia semarang-surabaya menghentikan perjalanannya sejenak di pasar Puri. Pasar yang menjadi ikon kota Pati ini tampaknya tak terpengaruh dengan keberadaan senja yang kian mengaburkan pandangan menggantikannya, dengan pijar-pijar bohlam yang berderet di sepanjang jalan.

Pasar Puri, pasar induk di kota Pati ini seakan tak pernah mati. Selalu hidup mendenyutkan jantung penduduknya yang bergumul dalam aktifitas tiada henti. Letaknya yang di jantung kota, membuatnya selalu ramai dengan kegiatan perdagangan dari hari ke hari. 

Seiring dengan perkembangan sebuah kota kecil yang miskin akan sumber daya alam, tapi kaya akan kebersahajaan penduduknya. 

Di pasar ini pula transit bus-bus pendatang dari luar kota yang akan menuju ke dusun-dusun terpencil di sudut kabupaten Pati.

Semilir angin kemarau membelai rambut-rambut kusut denyut kehidupan di kota kecil ini. Kota kecil yang beranjak dewasa penduduknya yang menyimpan kehalusan budi di balik kekerasan intonasi suara. 

Pohon-pohon yang bergerak pelan mengikuti alunan angin seakan menjadi tembang kerinduan bagi para pendatang termasuk Wastro.

Tujuh tahun. Yah, butuh waktu selama itu bagi wastro untuk menginjakkan kaki kembali di kota kelahirannya itu. Sebuah waktu yang tidak bisa di bilang sebentar. Sebuah perjuangan panjang mencari jati diri hakiki. 

Mencapai cita-cita idealis yang telah ia rancang ketika wajahnya menatap sosok Bill Gates di sebuah koran ibu kota 10 tahun yang lalu. Suatu pemikirannya konyol bagi berumur 13 tahun.

"Aku ingin menjadi ahli komputer seperti dia.” ucapnya bersemangat sembari menunjukkan foto Bill Gates yang tertampang besar-besar dalam koran yang ia pinjam dari pegawai perpustakaan kepada teman-temannya ketika ramai-ramai berjalan kaki sepulang sekolah. 

Kontan saja ucapnya mendapat respon ejekan dari kawan-kawan seperjalananya.

“Mbok ya kalau mimpi itu mikir dulu, lha wong ndeso kok ngipi dadi bule, piker go!” celetuk Wendi, salah seorang teman sekelasnya yang terkenal jail.

Spontan temen-temannya yang lain menimpali ucapan Wendi dengan ketawa ngakak.

Ah sudah menjadi apa mereka sekarang? Batinnya kangen.

Tiba-tiba saja ingatnya kembali sosok yang selama ini di panggilnya bapak. Bagaimanakah keadaan laki-laki yang dulu hampir setiap hari mengantarkannya ke sekolah yang berjarak 15 kilometer dengan sepeda itu? Apakah ia masih batuk-batuk di tengah malam untuk membangunkan ia dan ibunya agar sholat malam.

“Bapak …..” pelan rasa sentimennya muncul.

Medan yang dilalui angkot yang ia naiki semakin sulit. Jalanan yang berbelok-belok dan naik turun membuat perutnya sedikit mual.

“Pegangan yang kuat, mas!" teriak karnet angkot mengalahkan rasa mual yang mendobrak dinding perut seakan meminta keluar.

Segera diraihnya besi pegangan yang terpalang di belakang kepalanya. Tiba-tiba mesin angkot berhenti. Tak urung angkot yang beranjak naik langsung terseret mundur. Ibu-ibu yang ikut naik berteriak histeris. 

Bayang-bayang buruk memenuhi rongga kepalanya. Meninggalkan tanpa bisa menatap wajah orang tuanya. Bahkan lebih tragisnya mungkin mayatnya tak diketemukan. 

Tertelan arus sungai sigonggo yang mengalir deras di kiri meskipun kemarau sudah mencapai ujungnya. Tapi, Alhamdulillah kenek dengan cekatan turun. Mendorong angkot hingga mesin angkot kembali menyala.

“Hhhh….” dia menarik napas panjang lega. Allah maha besar. Sungguh hanya supir dan kenek yang bernyali besar yang berani melintasi rute ini.

Satu jam berlalu dan angkot mulai memasuki kawasan kecamatan gunung Wungkal. Di sinilah satu-satunya sekolah menengah lanjutan. Ingatannya kembali melayang bagaimana dulu dia ngeyel ingin tetap melanjutkan sekolah padahal bapaknya tidak punya uang untuk membelikannya sepeda.

“sekolah tahun depan aja ya, le. Nanti kalau bapak sudah panen singkong di kebun belakang itu, bapak belikan sepeda.”

Pokoknya Wastro pinginnya sekolah sekarang. Maulah pak, masa udah besar baru sekolah.” Rengeknya.

“besar apanya? Wong kamu kuntet begini kok,” ujar bapak terkekeh sambil menepuk tubuhnya yang memang berperawakan kecil seperti ibundanya. 

Memang bapaknya sering menggodanya dengan panggilan itu. Tapi, ia sama sekali tak tersinggung. Karena ia tahu bapaknya hanya bercanda. Ia hanya bisa memanyunkan bibirnya yang tipis. Tanda bahwa ia sedang jengkel.

“Ya sudah kalo begitu, nanti kamu bapak daftarin sama pak kusno. " ucap bapaknya mengalah karena ia tahu bahwa ia tidak akan bisa mengekang keinginan anak tunggalnya itu.

“tapi, kamu sekolahnya naik apa?” lanjut laki-laki itu sembari menata singkong yang akan di jual di pasar pasar pada boncengan sepedanya.

“Jalan kaki, pak.” jawabnya enteng laki-laki yang sudah paruh baya itu pun tergelak dalam hati. Tak percaya dengan pendengaran. Tapi, ia tidak ingin memutuskan semangat laki-laki muda di depannya itu.

“ya sudah, kalau itu sudah keputusanmu bener berani jalan kaki? Nanti ndak akan ngeluh sama bapak kalau kakinya lecet-lecet dan besar-besar karena kebanyakan jalan?" tanya bapaknya kembali menggoda.

Toh kenyataanya, selama tiga tahun itu dia selalu diantar bapaknya. Hanya pas pulang harus ke pasar menjual hasil kebun mereka.

“Bagaimana mungkin bapak tega biarin anak kesayanganya berangkat sendiri? memangnya kenapa? Kamu keberatan bapak anter?" tanya balik bapaknya ketika ia protes diantar terus.

Tanpa ia sadari, angkot sudah memasuki daerah Wawur. Rumah pak mantan kades yang dulu dianggap paling baik di daerahnya kini sudah menjalar di sini. Beberapa tiang pemancar antenna televisi pun tegak berdiri.

“kiri, pak.” Ucapnya pada sopir ketika angkot sudah sampai di depan sebuah pohon Asam Jawa besar. Pohon yang dulu sempat membuat tangannya patah karena mencoba memanjatnya.

Di sebelah pohon itulah rumahnya berada. Bambu yang dipakai sebagai dinding rumah sudah diganti dengan kayu. Haluan rumah juga sudah berubah. Dari dalam rumah muncul wanita berkebaya yang sebagian rambut putihnya sudah tertutup jilbab pendek, Emak.

Segera saja ia berlari mendapati ibunya. Tak pedulikan lelah yang menghajar tubuhnya. Tak terkira bahagia yang memuncah dada.

"Wastro, po kowe ki, le?" hanya itu yang bisa di ucapkan wanita yang kulit tangannya sudah mulai mengeriput.

Tak ada yang bisa diucapkan. Hanya tangislah yang mewakili bagaimana ia begitu merindukan wanita itu. "Maafkan Wastro, mak. Wastro telah lancing pergi tanpa seijin emak.” ucapnya di sela sedu tangisnya yang memuncak.

“Sudah. Emak sudah maafin kamu. Emak sadar kamu bukan lagi anak kecil. Kamu bebas menentukan masa depan kamu sendiri.” ujarnya sembari mengelus kepalanya. Hal yang sangat disukainya ketika bersama ibunya.

“Bapak mana mak?” tanyanya begitu di dapati sendiri tadi tak di temukan laki-laki perkasa itu.

“Bapakmu masih di masjid. Selesai sholat maghrib susullah kesana. Karena rencananya tadi bapakmu mau I’tikaf di sana.”

Rencananya, dia akan membayong kedua orang tuanya ke Jakarta. Dia tidak ingin orang tuanya kembali banting tulang untuk sekedar menyambung hidup. Dia ingin mereka hidup bahagia memikirkan uang belanja.

Selesai sholat, bergegas ia pergi ke masjid. Masjid al-Muttaqin, kebanggaan dusunnya kini juga telah berubah, lantainya telah bertingkat dan ada menara di kedua tepinya.

Laki-laki yang ia cari tampak khusu’ dengan tasbihnya, wajahnya begitu tenang. Gurat-gurat tua tergambar jelas di wajahnya yang terlihat semakin hitam. Gurat-gurat kesulitan hidup.

Teringat kembali bagaimana ibunya dulu menangis ketika ia berangkat merantau ke Jakarta. Memintanya agar ia tetap di sana. Tapi, idealisme untuk menjadi manusia yang lebih baik menutup tebal gendang telinganya. Hanya laki-laki itu yang mendukungnya, menyemangatinya. 

Seperti biasa, sebuah nasib baik menghampiri ketika keluarganya yang ia ikuti kehilangan anak satu-satunya, mengangkatnya menjadi anak dan membawanya pindah ke negeri Kanguru tanpa memberi kesempatan padanya untuk sekedar pamit pada kedua orang tuanya di desa.

“Bapak,”panggilnya lirih. Pelukan eratlah yang mengisyaratkan kebahagian di antara keduanya.

“Bagaimana keadaanmu, le?" tanyanya sambil menepuk tubuhnya yang kini tak sekecil dulu.

“Seharusnya,Wastro yang tanya bapak kabarnya gimana?" tanyanya mengusap air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.

“Alhamdulillah bapak sehat. Tadi kamu kesini sama siapa? Sama menantu bapak,ya? bapak dikasih cucu berapa?" tanyanya bertubi-tubi.

“Sendirian, pak. Wastro belum nikah kok,” ucapnya malu. “Wastro kesini mau mewujudkan impian bapak,”

Laki-laki mengernyitkan keningnya, tidak mengerti. 

“Dulu, Wastro pernah cerita kan' sama bapak kalau Wastro pingin kayak Bill Gates yang bisa bikin komputer itu?” 

Bapaknya mengangguk dengan wajah tanpa ekspresi. Bingung.

“Dan Wastro sudah berhasil mewujudkan impian. sekarang Wastro bekerja di sebuah provider internet,”

“Dulu juga bapak pernah cerita sama Wastro, kalau bapak ingin pergi ke rumah Allah sebelum menghadap-Nya. Alhamdulillah, Wastro punya tabungan sedikit. Kita pergi bareng-bareng sama emak ya, pak.” lanjutnya.

Tangis laki-laki itu kembali mengalir. Di peluklah kembali buah hatinya itu, “Terima kasih, le, sudah mewujudkan impian bapak.” Ucapnya tertahan.

“Bukan bapak yang seharusnya terima kasih, tapi Wastro yang harus berterima kasih pada bapak. Kalau bukan karena bapak, Wastro tidak akan seperti ini.”

“Terima kasih pak, atas semuanya. Kau taruhkan segalanya untukku meski kau tahu bahwa engkau hanyalah bapak tiriku." batinnya pilu.

Bulan purnama bersinar terang mengawal dua anak-beranak yang larut dalam kebahagiaan.