Dewasa ini, industri pariwisata makin berkembang pesat. Hal ini didukung dengan makin banyaknya orang yang melakukan perjalanan wisata. Pariwisata kini layaknya sebuah tren yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang makin maju. Bahkan berwisata merupakan kebutuhan pokok bagi sebagian orang.

Berbagai jenis wisata biasanya dipilih sesuai dengan kondisi maupun keadaan fisik serta jiwa seseorang. Tak terkecuali wisata religi yang dalam kegiatannya sering kali dapat memberikan ketenangan jiwa maupun spiritual. Jika ingin berwisata sambil mempelajari hal baru, mencari ketenangan jiwa, dan memenuhi kebutuhan spiritual, maka wisata religi adalah jawabannya.

Menurut Turner (1978), wisata religi merupakan perjalanan jauh yang berbeda dari sehari-hari, tempat kerja, dan rumah untuk menuju ke situs suci tertentu yang diformalkan, diakui, dan dikelola oleh agama-agama besar.

Selanjutnya, menurut Suwena (2010), wisata religi merupakan jenis pariwisata di mana motivasi wisatawan melakukan perjalanan tujuannya untuk melihat atau menyaksikan upacara-upacara keagamaan, seperti upacara Bali Krama di Besakih, haji umroh bagi agama Islam, dll.

Indonesia memiliki berbagai situs suci yang digunakan untuk wisata religi. Di Indonesia, tepatnya Pulau Dewata Bali, terdapat sebuah komplek pura yang bernama Pura Besakih yang merupakan salah satu situs wisata religi. Pura ini berlokasi di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Letaknya berada di dataran tinggi lereng Gunung Agung membuat suasananya sejuk.

Pura Besakih merupakan tempat bersembahyang terbesar bagi umat Hindu di Bali. Di dalam area Pura Besakih ini terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 Pura Pendamping. Pura ini merupakan salah satu warisan budaya dan merupakan pusat dari semua pura yang ada di Bali. Tidak heran, Pura Besakih sering disebut dengan mother temple karena bangunannya yang luas dan merupakan pura terbesar di Bali.

Di dalam pura ini juga terdapat berbagai peninggalan zaman megalitik seperti struktur teras pyramid dan menhir. Hal tersebut menunjukkan bahwa Besakih sudah ada sejak zaman sebelum adanya pengaruh Agama Hindu. Pura Besakih dapat dikunjungi wisatawan pada pukul 08.00-17.00 WITA. Akan tetapi, bagi yang ingin bersembahyang, pura ini dibuka 24 jam.

Pura ini cukup terkenal di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara. Bagi orang Bali yang sudah terbiasa bersembahyang di pura ini tentu sudah mengetahui betul adat istiadat, hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di Pura Besakih. Namun, bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke tempat ini wajib ditemani oleh pemandu.

Apa motivasi wisatawan?

Wisatawan yang datang ke Pura Besakih memiliki motivasi yang berbeda-beda. Beberapa wisatawan datang ke situs religi untuk melihat bangunan pura terbesar di Bali, menambah pengetahuan, maupun mengetahui budaya masyarakat Hindu di Bali. Berbagai perbedaan motivasi yang dimiliki oleh wisatawan biasanya dipengaruhi oleh latar belakang wisatawan yang berbeda-beda pula.

Beberapa wisatawan mungkin memang lebih menyukai berfoto-foto, tetapi ada pula yang ingin menyaksikan upacara keagamaan maupun mengetahui sejarahnya karena sangat senang mempelajari hal baru. Wisatawan yang beragama Hindu biasanya datang untuk bersembahyang di Pura Besakih.

Namun, bukan hanya mereka yang beragama Hindu saja yang dapat mengunjungi Pura Besakih. Semua kalangan dapat mengunjungi tempat ini, tentunya dengan memperhatikan dan mematuhi adat istiadat. Wisatawan diharapkan dapat menghargai budaya masyarakat setempat. 

Penting untuk diketahui bahwa pura ini digunakan untuk bersembahyang oleh Umat Hindu. Oleh karena itu, wisatawan yang datang harus senantiasa menjaga sikap baik perilaku maupun tutur kata dalam berbicara.

Pura Besakih atau yang sering disebut juga dengan Pura Agung Besakih ini memang sering kali dikunjungi wisatawan untuk melakukan wisata religi. Pada kegiatannya, wisata religi juga erat kaitannya dengan wisata budaya. Di mana, wisatawan juga dapat melihat adat kebiasaan dan budaya masyarakat setempat pada situs-situs wisata religi. 

Seperti yang diketahui sebelumnya, Pura Besakih ini sudah ada sejak zaman dahulu dan dalam sejarahnya berkaitan pula dengan budaya setempat. Tidak heran apabila banyak wisatawan yang datang ke situs wisata religi ini, selain untuk mengambil foto, melihat bangunannya dan beribadah, beberapa dari mereka datang untuk mengetahui sejarah maupun berbagai informasi langsung dari pemandu maupun masyarakat lokal. 

Selain itu, di Pura Besakih ini juga sering dilaksanakan festival keagamaan. Hal ini menambah daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Bagaimana pengelolaannya?

Adanya Pura Besakih yang dijadikan situs wisata religi juga memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Pura Besakih yang sejak 2017 dikelola oleh Badan Operasional Pura Agung Besakih ini membuat kawasan pura makin tertata dengan baik. Selain itu, dijadikannya Pura Besakih sebagai objek wisata juga memberikan manfaat positif bagi desa, masyarakat setempat, maupun pura itu sendiri.

Dibentuknya Badan Operasional Pura Agung Besakih ini membuat kawasan pura menjadi makin baik dari segi pelayanan, kebersihan, maupun keamanan. Selain itu, pengelolaan yang baik juga menambah citra wisata yang baik pula bagi Pura Besakih.

Wisata religi ini sangat cocok bagi Anda yang ingin melakukan rekreasi tetapi ingin mencari kepuasan batin maupun spiritual pula. Selain itu, bagi Anda yang tertarik untuk belajar mengenai sejarah maupun agama melalui kunjungan ke situs-situs suci, wisata religi ini bisa menjadi alternatif.