Penulis
1 bulan lalu · 131 view · 5 menit baca · Pendidikan 23747_30445.jpg
Dok. Pribadi

Pupuk Tradisi Literasi Sejak Dini

Pada umumnya masyarakat di Tanah Air senang berbagi informasi. Sayangnya, belakangan ini masyarakat menjadi latah. Ketika ada seorang membagi informasi di dunia maya, maka seorang lainnya ikut menyebarkannya, tanpa lebih dahulu mengklarifikasi kebenaran dan memastikan manfaat informasi yang disebar.

Jika berita yang dibaginya bermanfaat dan betul adanya – tidak merugikan suatu pihak, maka tidak masalah. Artinya, berita tersebut bernilai positif dan bisa diterima. Tetapi, bagaimana kemudian berita yang disebar tidak ada unsur manfaatnya malah menimbulkan fitnah? Dan, inilah polemik baru yang terjadi di negeri dengan 34 provinsi ini. Penyebaran berita palsu atau bohong (hoax), namanya.

Maraknya hoax akhir-akhir ini makin mengkhawatirkan. Ternyata hoax bukan hanya menjadi isu sosial yang terjadi di Tanah Air saja, melainkan telah menjadi isu dunia. Meski pemerintah telah membuat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), namun masih ada saja orang yang terlibat menyebarkan hoax di dunia maya. Padahal jelas, pelakunya akan dikenakan hukuman.

Lalu saya membayangkan, bagaimana mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang kompetitif, inovatif, dan berkarakter jika masih ada orang-orang yang suka menyebarkan berita bohong, baik di dunia nyata maupun di dunia maya?

Oleh karena itu, kita tidak harus terus-menerus bergantung kepada pemerintah meminta solusi atas permasalahan ini. Ada baiknya kita mencari alternatif lain bagaimana menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang unggul. Yang mana di dalamnya banyak terdapat SDM berkarakter, yang tidak mudah terprovokasi dengan hoax atau isu lainnya.

Adalah dengan menanamkan budaya literasi sejak dini dimulai dari diri sendiri. Kemudian menyebarkan budaya literasi tersebut kepada orang-orang sekitar. Memupuk budaya literasi merupakan salah satu cara ampuh menangkal beragam persoalan, semisal hoax. Seperti kita ketahui, dunia literasi berhubungan erat dengan membaca dan menulis.


Banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari membaca, sebut saja bisa memperluas wawasan, meningkatkan memori, konsentrasi, dan fokus, mengurangi stres, dan tentunya meningkatkan kemampuan menulis. Sementara, dengan menulis kita dapat mengembangkan berbagai gagasan hingga dapat melambungkan nama kita dikenal banyak orang.

Namun berkembangnya zaman, istilah literasi kini terus berubah dan jenisnya makin beragam. Istilah literasi bukan hanya sebatas kemampuan membaca, menulis, mengenali, lalu memahami dan berpikir secara kritis terhadap ide-ide yang ada. Lebih dari itu. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dengan mengombinasikan unsur bahasa didalamnya.

Di zaman sekarang, kemampuan literasi sangat diperlukan. Tidak bisa dielakkan lagi. Hampir di segala lini setiap individu memakainya untuk berproses dalam hidup.

Mading Unik

Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 yang lalu, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Sungguh, ironi!

Saya rasa, rendahnya minat baca di nusantara disebabkan beberapa faktor, satu diantaranya mengenai minimnya awareness (kesadaran). Kesadaran ini bisa datang dari banyak faktor pula. Bisa datang dari tenaga pendidik, orangtua, dan bahkan anak-anak sendiri. Minimnya akses dan infrastruktur berkaitan dengan membaca menambah deretan persoalan rendahnya minat baca.

Saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar, saya ingat betul. Ada seorang guru yang senantiasa menyuruh kami untuk membaca lebih dulu sebelum dia mengajar. Waktunya tidak lama. Hanya 10-15 menit saja. 

Setelah kami membaca, dia akan bertanya kepada kami apa saja isi dari naskah tersebut. Uniknya, siapa paling cepat menjawab dan benar, maka dia akan menghadiahi kami dengan permen. Hampir kebiasaan itu dilakukannya tiap masuk kelas kami.

Dari sana, lalu kebiasaan membaca saya semakin tumbuh. Terlebih, alhmarhum ayah sangat mendukung jika saya rajin membaca. Ayah akan menyisihkan buku cerita atau majalah anak untuk saya dan tidak akan menjualnya. Kebetulan ayah adalah seorang pedagang buku bekas di kaki lima.


Terbayang di benak saya, jika setiap guru di sekolah menerapkan hal yang sama seperti guru SD saya dulu, kemungkinan besar peringkat minat baca kita tidak akan berada di posisi ke-60. Ditambah lagi, setiap orangtua mencontohkan untuk membaca kepada anaknya, lantas memfasilitasi seperti ayah saya, maka peringkat Indonesia soal minat baca akan makin melesat jauh. Berbicara soal bacaan, jenis bacaan yang diberikan kepada anak tidak harus baru. Bacaan bekas pun tidak masalah.

Di lain kesempatan, pernah saya membaca berita. Subekti Makdriani, seorang Pustakawan Utama Perpustakaan RI mengatakan, minimnya budaya baca di kalangan anak-anak dilatarbelakangi tentang budaya tutur (lisan). Saya pun setuju dengan pernyataan itu.

Contohnya, kita bisa lihat di dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian orang-orang lebih suka bergosip. Membicarakan sesuatu hal yang kurang berfaedah. Membaca bagi mereka membuang waktu. Coba saja waktu tersebut dialihkan dengan membaca minimal 10 menit saja, maka orang yang suka bergosip tersebut justru mendapatkan ilmu. Bukan malah menambah dosa.

Jika pikiran kita melancong ke masa lalu, pasti kita ingat. Kita memeroleh ilmu tentang cara bermain permainan tradisional dari lisan lalu mempraktikkannya secara langsung. Kita tidak perlu membaca buku lagi untuk mengetahui bagaimana caranya. Lantaran kearifan lokal dulu minim memasukkan budaya membaca. 

Maka dampaknya, saat ini jarang ditemukan buku yang mengulas permainan tradisional secara lengkap. Begitu juga dengan cara pembuatan rumah tradisional. Padahal membaca mengenai budaya bangsa sangatlah penting. Sebab, budaya bangsa harus terus kita lestarikan. Jangan sampai hilang ditelan zaman.

Lalu, tugas kita sekarang bagaimana membuat kesadaran membaca menjadi sebuah gerakan. Sehingga mudah disebarkan kepada orang-orang terdekat, terutama anak-anak. Ada cara menarik yang pernah saya lakukan saat bekerja di salah satu perkebunan kelapa sawit. Saya menyisir daerah yang di mana anak-anaknya tidak terbiasa membaca.

Ketika libur, saya memberanikan diri ikut bergabung bermain dengan mereka. Sesudah  itu, saya gelar beberapa bacaan. Ada buku dan majalah bekas koleksi saya dulu. Diluar dugaan. Anak-anak berebutan memilihnya. Mereka akhirnya mau membaca. Melihat semangat anak-anak itu, saya bukan cuma menyuguhkan beberapa bacaan, saya juga mendongeng. Hasilnya, anak-anak suka. Ibarat pepatah; sekali merengkuh dayung, dua, tiga pulau terlampaui.

Tetapi ada cara yang lebih unik untuk menarik minat anak-anak agar gemar membaca. Setiap kelurahan atau kecamatan harus memiliki perpustakaan keliling. Perpustakaan ini masuk ke kampung-kampung. Berdasarkan empiris saya, anak-anak sering berkumpul di sore hari atau libur. Untuk itu, datangilah di waktu sore atau hari libur.

Selain menyediakan fasilitas buku bacaan yang berkualitas, ada baiknya memfasilitasi dengan sebuah majalah dinding. Majalahnya dibentuk menyerupai mobil, televisi, rumah, atau bentuk lainnya. Lantas di sana ditempel pelbagai informasi menarik.

Dijamin, ketika madingnya dibuat seunik mungkin, hasrat anak-anak untuk membaca makin tinggi. Agar ada kebanggaan tersendiri bagi anak, pengelola perpustakaan menerima karya dari anak-anak dan memberinya apresiasi. Dengan demikian, dalam diri anak muncul kesadaran untuk membaca lalu menulis.


Berbicara menumbuhkan minat membaca dan menulis di kalangan anak-anak, memang bukan perkara mudah. Tetapi ketika ada kemauan, tidak ada yang tidak mungkin. Konsistensi adalah kuncinya. Mengingat, dengan memupuk tradisi literasi dari sekarang dimulai dari diri pribadi, kemudian membagi semangat itu kepada orang sekitar, maka ini akan menjadi sebuah gerakan besar.

Gerakan literasi yang berkesinambungan akan membentuk sebuah daerah yang didalamnya memiliki masyarakat dengan kualitas hidup yang baik. Pasalnya di dalamnya dihuni oleh orang-orang yang cerdas, kompetitif, inovatif, dan berkarakter.

Artikel Terkait