Saya, calon mahasiswi yang pernah mengalami kegagalan bahkan sebelum pertempuran dimulai. Di awal bacaan ini, izinkanlah saya sedikit bercerita mengenai kisah kecerobohan saya dalam membaca. Saya merupakan seorang siswa SMK yang lulus di tahun 2020, ya benar sekali lulusan jalur pandemi. Lulus dari bangku sekolah menengah, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Setelah pengumuman kelulusan, saya mulai mencari informasi mengenai jenis jalur masuk perguruan tinggi seperti SNMPTN, SBMPTN sampai Ujian Mandiri. Setiap informasi yang saya dapatkan dari internet, saya catat di dalam notebook kesayangan. Tidak memerlukan waktu lama, notebook kesayangan saya telah penuh dengan jadwal ujian masuk kampus.

Ya, kemajuan teknologi memang sangat pesat sekarang, kita bisa dengan cepat memperoleh informasi apapun dengan membaca di internet. Nah, di sinilah letak kesalahan saya, di mana punya mata namun gagal untuk melihat. SNMPTN saya gagal, SBMPTN juga gagal, tidak menyerah di situ saya mencoba untuk masuk kampus menggunakan jalur mandiri.

Saya memastikan jadwal ujian mandiri di salah satu kampus impian saya di Jogja melalui website kampus tersebut. Tenang, karena masih ada waktu kurang lebih 2 minggu untuk belajar kemudian mendaftarkan diri melalui jalur mandiri. Hari pendaftaran datang, ketika saya membuka website kampus tersebut, betapa terkejutnya saya karena pendaftaran telah ditutup.

Kaget dan sedih tentunya, saya kembali mengecek website pengumuman pendaftaran, akhirnya saya tahu bahwa memang ada perubahan jadwal yang waktu itu belum sempat terbaca oleh mata saya. Lagi-lagi punya mata namun gagal untuk melihat. Menonton drama berjam-jam saja sempat, namun membaca dilakukan secepat kilat.

Membaca seperti menjadi momok bagi kita generasi muda, termasuk diri saya sendiri. Namun, seperti yang kita ketahui, tingginya minat membaca masyarakat, akan berpengaruh pada wawasan, mental, dan perilaku masyarakat. Sehingga, minat baca masyarakat atau sering disebut dengan literasi dalam suatu bangsa, memiliki hubungan berbanding lurus dengan kualitas bangsa tersebut.

Minat membaca masyarakat negara maju jauh lebih besar daripada minat baca masyarakat di negara berkembang. Pada beberapa literatur disebutkan bahwa masyarakat negara maju melakukan rutinitas membaca bukan karena keharusan melainkan menjadi bagian dari kebiasaan mereka sehari- hari.

Kita hidup di zaman di mana perkembangan teknologi sudah berkembang pesat. Berkembangnya teknologi membawa dampak kepada kebiasaan dalam masyarakat, salah satunya budaya literasi. Kita tidak perlu datang ke perpustakaan untuk meminjam kemudian membaca bukunya, seperti kutu buku di dalam sebuah drama.

Dengan berkembangnya teknologi, banyak platform yang menyediakan bacaan secara digital yang memudahkan kita untuk melakukan literasi tanpa harus pergi ke perpustakaan maupun toko buku.

Kemarin, saya penasaran di zaman seperti sekarang ini seberapa banyak sih pengguna media sosial. Dan saya mendapatkan jawabannya, dari katadata.co.id, hasil riset pada Januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 jt atau sebesar 56% dari banyaknya masyarakat di Indonesia. Jumlah tersebut naik 20% dari survei yang dilakukan sebelumnya.

Sementara itu pengguna media sosial dengan gadget mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi masyarakat Indonesia. Kemudian saya berpikir, semakin besar pengguna gadget dan media sosial di Indonesia apakah akan berbanding lurus dengan meningkatnya tingkat literasi masyarakat.

Dan jawabannya adalah tidak. Menurut hasil Survei Indeks literasi Digital Nasional, pada tahun 2020 didapatkan bahwa indeks literasi digital nasional di Indonesia masih cukup rendah, yaitu belum mencapai indeks baik (4.00).

Rendahnya minat membaca masyarakat di era digital ini, menyebabkan timbulnya berbagai macam permasalahan di media sosial. Seperti penyebaran hoax sampai terjadi pula provokasi yang menyebabkan perpecahan dalam masyarakat. Hal ini sering terjadi pada pengguna Facebook hingga WhatsApp.

Sebagai contoh nyata, ibu-ibu di lingkungan sekitarku  yang termakan hoax mengenai turunnya dana dari pemerintah, ataupun ada pula kasus di kalangan generasi muda seperti penyebaran broadcast yang berisi penyesatan informasi bahkan penipuan. Dampak perkembangan teknologi, juga menyebabkan  perubahan karakteristik dan perilaku membaca masyarakat.

Di zaman yang serba cepat dan mudahnya masyarakat mendapatkan informasi, banyak masyarakat yang membaca sesuatu dengan cepat sehingga tidak mengetahui bagaimana kebenaran informasi tersebut, namun langsung menyebarkannya ke orang lain.

Membaca memang bukan kegiatan menyenangkan, bahkan tak jarang membuat bosan. Namun, bukan sebuah kesalahan apabila kita mau membaca demi menambahnya wawasan kita. Tidak perlu memaksakan membaca buku setebal buku Mata Kuliah, namun biasakan dengan membaca hal kecil dalam layar ponsel kita.

Apabila kita sebagai generasi muda menggalakkan literasi digital di Indonesia, maka hal itu dapat menunjang kesuksesan Indonesia dalam rangka mencapai generasi emas pada tahun 2045. Masyarakat tidak mudah termakan hoax yang menyesatkan bahkan sampai memecah belah persaudaraan. Bahkan mungkin, saya bisa masuk kampus impian ketika waktu itu saya tidak malas membaca.

Dengan membaca pula, wawasan masyarakat dapat bertambah yang akan berdampak pada kreativitas dan inovasi masyarakat dalam memajukan bangsa ini.