Tahun 1970 hingga 1980-an jaman mercon, petasan belum dilarang, idola saya adalah petasan buatan industri petasan di daerah Gadang, kota Malang.

Sering kali produk akhir petasan buatan industri rumahan di kawasan selatan kota Malang itu, dikemas dalam kemasan tanpa nama merk, tanpa gambar ataupun logo cap, melainkan cukup dibungkus kertas minyak warna coklat yang sering juga digunakan sebagai sampul buku sekolah anak-anak sekolah tingkat dasar waktu itu.

Petasannya berhias kertas minyak merah, sumbunya berwarna hitam. Jika meletus, suaranya renyah, lalu kertas pembungkus petasannya meledak berhamburan berkeping-keping merata tak menggumpal.

Kualitas Petasan Gadang, tak perlu dijemur tapi langsung ‘dinikmati’ suara dan kemeriahan yang dihasilkan dari sensasi letusannya.



…petasan itu sensasinya suara letusan, hamburan kertas pembukusnya dan…

Petasan Berbunyi Anak-Anak Lari

Ada satu merk petasan jaman dulu yang terkenal suka busung, tak meledak malah boncos, ngowos. Kualitas petasan seperti ini kudu dijemur seharian terlebih dahulu biar meletus sehabis sumbunya tersentuh nyala api. Itu pun, kertas pembungkus petasan kualitas seperti ini sering menggumpal, tak ambyar berkeping-keping.

Merk petasan yang sering kali boncos seperti itu adalah cap Srimpi. Betapa petasan yang bagi anak-anak penggila petasan, punya kualitas pembuyar mimpi.

Teknik menyalakan petasan itu beragam. Paling sering ya habis menyalakan petasan, maka sang anak lari menjauh sambil menutupi kedua kupingnya.

Lha buat apa pakai aksi tutup kuping, wong petasan itu sensasinya suara letusan, hamburan kertas pembukusnya dan tebaran aroma bubuk mesiu yang terbakar. Coba petasan dinyalakan dalam kegelapan, nanti pasti ada keseruan yang berkurang.

Apalagi kalo si anak sudah kadung lari tunggang langgang sambil tutup kuping, eh ternyata petasannya boncos, tak meletus, cuman berdesis mengeluarkan bintik api dan asap saja, bahkan tak bersuara, mute.

Jika sudah demikian, maka sang anak bersama teman-teman seperjuangan pegiat petasan, lalu membongkar petasan-petasan boncos yang masih berisi bubuk mesiu. 

Kemudian mereka bahu membahu mengumpulkan bubuk ramuan kimiawi petasannya, untuk dibuat sebagai lapisan ‘sandwich’. Bubuk mesiu ditangkup dengan dua buah batu kali keras padat beralas rata. Terus dibungkus sama kertas koran, lalu diikat pakai gelang karet buat petasan bantingan atau petasan ‘sandwich’ ditimpa batu kali yang lebih besar dari ketinggian.

Bleng!! Gelegar ‘sandwich’ petasan menggelegar, si anak-anak pun berlompatan riang. Terus bubar berlarian jika ada orang dewasa menegur keramaian.

“Sanes kulo Pak Leekk...” (“Bukan saya, Pamaaan…”) Begitu anak-anak berteriak beralasan, buru-buru berlari menjauh, sambil cekikikan kegelian.



Ini teknik yang berbahaya. Apalagi pas kedapatan petasan yang sumbunya pas pendek…

Aneka Teknik Menyalakan Petasan

Lebih sip pas menyalakan petasan itu dilempar ke atas, biar sensasi letusan dan berhamburannya kertas lebih tertebar sensasional. Ini teknik yang sangat berbahaya. Apalagi pas kedapatan petasan yang bersumbu pendek gara-gara kendali mutu, quality control (QC) kurang terawasi dari pabrik produsen petasan rumahan.

Cara aman membuat petasan meledak di atas, kudu pasang kuda-kuda hendak melempar pas menyalakan petasan, agar gerakan tangan kanan sekali melempar ke atas. Sama sekali tak ada momen gerakan tangan ke belakang.

Pernah sebuah petasan ukuran tanggung seukuran ibu jari orang dewasa, meletus di jari-jemari dan telapak tangan kanan saya, gara-gara saya nggak pasang kuda-kuda melempar petasan. Ada tarikan tangan ke belakang lalu ke depan, membuat gerakan lebih lama, sehingga sumbu keburu mentok, lalu petasan buatan Gadang idola saya pun meledak di tangan.

Dag! Setelah petasan meledak, tanpa ampun jari jemari dan telapak tangan kanan saya pun terasa tebal, kebas.

Sudah jadi nasib saya. Namun, please pembaca yang budiman, tak usah membayangkan mimik wajah saya yang menganga ala Pak Triman Srimulat, pas petasan meledak di tangan kanan saya.

“Flu Gan? Flu Gaan?...Obat Flu, untuk juragaaan... HaaaaaaaaaAAAaa..” (Mangap).



...anak-anak pun berlompatan berpekik riang pertanda usahanya sukses.

Petasan Bambu, Cabe Hingga Blanggur

Keterbatasan dana untuk belanja petasan, justru membuat banyak anak menjadi kreatif untuk menghasilkan suara-suara meriah menyerupai suara ledakan petasan, sebagai bagian melampiaskan jiwa riang mereka yang tengah seru-serunya.

Adalah mercon bumbung, alias ‘petasan’ bambu menjadi pelampiasan yang cukup menghibur bagi anak-anak yang karena sesuatu hal belum punya kesempatan menyalakan petasan bersumbu dan berbahan bubuk kimiawi sebagai mesiu.

Atau justru waktu itu ada kubu anak-anak pengidola mercon bumbung yang bisa menebar suara unik yang meski tak semeriah petasan formal, namun suara letusan menggaung di bagian ujung bambu akibat sulutan api pada ramuan karbid dan minyak tanah dalam pangkal bambu, memang patut diakui telah menuai romansa tersendiri.

  • “Buung!!...” Jika teknik menyalakan api atau pas meniup lubang di bagian pangkal bambu, berjalan sesuai protap, prosedur tetap.
  • “Bug!...” Adalah suara boncos versi mercon bumbung, terkesan letoy, kurang bertenaga, mlempem bagai terong layu sehabis direbus, gegara racikan larutan bahan bakar dalam takaran yang kurang pas, sehingga yang keluar adalah nyala api, bukan ledakan.
  • “Buk ee… Rai ku kobong!” (“Bundaa… Wajahku kebakar”) Begitu teriakan anak yang mengadu ke sang ibu, karena keliru teknik menyalakan mercon bumbung. Seringkali kejadiannya pada posisi meniup terlalu dekat lubang pangkal bambu setelah disentuh api. Atau menyalakannya tanpa bimbingan anak lain yang lebih senior, berpengalaman.

Jika sudah demikian, lalu si anak yang hilang bulu-bulu alis karena terbakar, terkena uap panas larutan mercon bumbung di bagian lubang pangkal bambu, buru-buru dibilas wajahnya dengan air sumur, lalu diolesi cacahan lidah buaya. Atau jika tersedia di kotak obat, maka sementara bisa diolesi salep antibiotik bernama sulfanilamide, yang juga sering digunakan sebagai obat luka bagi anak laki-laki sehabis khitanan. 

Terus, setelah mendapat kultum cinta sang ibunda, si anak pun dibawa ke dokter atau mantri kesehatan terdekat sebagai penanganan medis pertama.

Mercon bumbung yang larutan ‘mesiu’nya mengandung Kalsium Karbida (CaC2) atau yang lebih dikenal sebagai karbid memang menyimpan bahaya, karena bubuk Karbid jika bercampur dengan minyak tanah, kerosin, atau bahkan hanya dengan air saja bakal menghasilkan senyawa Asetilen, bahan bakar las yang mudah terbakar.

Bahan meriam mercon bumbung adalah bambu yang telah tua berwarna kuning dan berkualitas tebal, atau pring petung dalam istilah Jawa. Pembatas ruas bambu bagian dalam dibuat berlubang menggunakan linggis, hingga pembatas ruas pangkal sebagai batas akhir.

Di area dekat ruas batas akhir itulah dibuat lubang kecil buat tempat mengisi larutan bahan peledak, tempat menyulut api atau meniup jika bahan peledak tak menyala, alias boncos.

Lalu moncong meriam bambu penghasil gelegar ledakan bakaran Karbid, diikat kuat dengan lilitan kawat besi agar tak mudah pecah.

Suara ledakan mercon bumbung bisa dinikmati sendiri di tengah kebun luas lagi sunyi, sambil menunggu teman-teman sepermainan datang. Biasanya mereka datang membawa bekal kaleng bekas, omplong, sebagai ‘peluru amunisi’. Itu omplong cukup ditangkup pada moncong meriam bumbung, lalu bahan peledak disundut api obat nyamuk di bagian lubang pangkal.

“BUUNG!!...” Gelegar mercon bumbung menggema, kaleng omplong terlontar jauh ke depan, anak-anak pun berlompatan berpekik riang pertanda usahanya sukses.

Adalagi jenis petasan mini, yang sering disebut petasan cabe alias mercon lombok. Karena kecil maka petasan ini memiliki suara ledakan yang cukup nyaring dan berkesan lucu menggemaskan. “Thar! Thor! Thar! Thor!...”

Namun demikian, kualitas petasan cabe ini terbilang agresif karena mudah sekali meledak akibat kualitas sumbu yang mudah menyala sebagai pemicu petasan rentengan.

Adapun, jenis petasan terbesar, yang tak hanya bisa menimbulkan suara dentuman menggetarkan namun juga mampu melesat terbang, adalah Blanggur.

Hingga tahun 1983, semasa Blanggur masih diijinkan oleh pemerintah kotamadya Malang untuk dinyalakan di area alun-alun sebagai penanda berbuka puasa, maka proses menyalakannya memiliki daya pikat tersendiri.

Sehabis sholat Ashar selama bulan Ramadan, di sekitar alun-alun sebelah timur masjid Jami’ kota Malang sudah mulai ramai orang. Mereka menanti saat berbuka puasa sambil mengamati proses pemasangan alat-alat penyangga dan pemicu Blanggur agar bisa terlontar mengangkasa lalu meledak di udara.

Waktu Maghrib telah tiba, pertanda berbuka puasa telah tiba, maka tim panitia pun mulai menyalakan roket penyangga Blanggur.

Terdengar dua kali ledakan. Pertama bunyi ledakan ringan pertanda roket pendorong siap mengangkat Blanggur menuju ketinggian. “Daag!!...Sssshhoohh!!”

Blanggur pun melesat ke angkasa. Selama 10 hingga 15 detik kemudian, terdengar suara menggelegar, "DUUNG!!!...Sruuuaakk!!"

Ledakan Blanggur memecah kesunyian angkasa, suara detumannya pun terdengar seantero kota, bahkan hingga radius 10 kilometer lebih. Jaman itu penduduk kota Malang masih sedikit, lalu lalang kendaraan bermotor masih jarang.

Beriring dengan dentuman Blanggur, maka orang-orang yang menjalani ibadah puasa seharian pun lalu mulai menikmati hidangan berbuka puasa, seperti buah kurma dan teh hangat.

Selepas tahun 1983, pemerintah baik daerah maupun pusat telah tegas melarang kegiatan petasan. Selain karena mempertimbangkan faktor keselamatan dan keamanan, juga dalam hal kenyamanan, serta memberi pemahaman bahwa menyalakan petasan itu ibarat membakar uang.

Hanya saja, apabila prosedur keselamatan produksi dan tata krama menyalakan petasan menjadi pemahaman bersama, sebetulnya asyik juga kok menikmati rangkaian kemeriahan suara letusan petasan sama gebyar nyala kembang api di angkasa pas malam hari.

Suara letusan, gebyar kertas pembungkus yang bertebaran dan aroma asap petasan, sensasinya telah mengukir nostalgia tersendiri. Juga sebenarnya, produksi atas pemenuhan permintaan petasan pun menuai peluang perputaran ekonomi.



…namun juga menunjukkan status sosial sang pemilik rumah.

Petasan Pemeriah Lebaran

Sekarang, meski masih dilarang, petasan tetap masih ada. Tak hanya sebagai pemeriah suasana pas Lebaran atau akhir tahun, juga suara rentetan petasan itu sebagai penanda adanya kemeriahan hajatan di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Bahkan, saat lebaran tiba, sering tampak terlihat bekas pesta nyumet petasan semalaman di jalanan kampung-kampung pedesaan.

Seringkali juga, di jalanan sekitar rumah-rumah bagian depan halaman, maka kertas-kertas bekas pesta petasan pas lebaran, dibiarkan berhari-hari tetap berhamburan. Tak hanya agar suasana lebaran tetap berjalan lebih lama, namun juga menunjukkan status sosial sang pemilik rumah.

Jika sudah demikian, maka anak-anak kecil pun bakal berdatangan, berlebaran, ber-galak gampil bermaafan bersama keluarga pemilik rumah, saling riang berlebaran.

Terus si tuan rumah ngasih uang sangu ke anak-anak. Habis galak gampil sekampung, anak-anak pun berkumpul lagi menghitung uang galak gampilan. Lalu, mereka merangkai rencana dan cita-cita.

Fixed, terus mereka sepakat patungan, lagi-lagi buat beli petasan, sesuai rencana dan cita-cita mereka.

Namun, kali ini tak perlu khawatir ditegur orang-orang yang lebih dewasa baik pria pun wanita, karena sudah saling bermaafan.

“Thar! Thor! Thar! Thor! Dar! Der! Dor!.... Bleeeng! Sssoosshh... DUUNG!!! Srruaak!...” Dijamin gak ada yang boncos itu semua petasan. 

Lha kan sudah lebaran.