Siang tadi saya beserta keluarga dari trah simbah ibuk saya silaturrahim di tempat sepupu simbah. Tempatnya tidak terlalu jauh, tapi beda kabupaten, sekitar 30 menitan dari rumah simbah.

Kami berangkat rombongan dalam dua mobil sekitar pukul sepuluh pagi. Meskipun naik mobil,  matahari waktu itu cukup menyengat kulit. Apalagi ditambah kemacetan yang naudzubillah. Rasa-rasanya, jalan tol yang dibangun itu tak ada gunanya. 

Sesampainya di lokasi, kami langsung disambut sepupu simbah yang biasa biasa saja taraf ekonominya. Tidak kurang tidak lebih. 

Seketika itu juga, kami langsung dijamu rujak cingur, tahu lontong, dan krupuk upil khas daerah kami tentunya. Kami sekeluarga langsung menyantap habis jamuan tersebut. Kecuali anak-anak kecil yang sibuk main PS, karena kebetulan di rumah itu juga ada PS. 

Sementara di dalam rumah barisan ibuk-ibuk nggosip ngalor ngidul, saya duduk di luar dengan bapak-bapak agar dapat melepas hasrat untuk menghisap beberapa batang rokok. Lagipula, obrolan saya juga tak selalu nyambung dengan ibuk-ibuk tersebut. 

Waktu terus berjalan, kami pun saling bercerita tentang kehidupan di perantauan. Mulai dari Jokowi hingga Prabowo, tambang emas hingga tambang pasir, penjual es lilin hingga es cendol, semuanya tak luput dari topik pembicaraan. 

Hingga tepat satu setengah jam kemudian, simbah kami mengajak silaturrahim ke sepupu yang satunya. Awalnya kami kaum laki-laki sepakat untuk tidak ikut, biar rombongan perempuan saja. Saya tak tahu alasannya, tapi saya mulai curiga. 

Tiba-tiba paman saya nyeletuk, "Sana lho, ikut ke tempat Abah", ucapnya sembari tertawa kecut. Yang lain tertawa terpingkal-pingkal. Saya makin bingung. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. 

Saya pun memberanikan untuk bertanya, "Pak Lek, kenapa sih kok dipanggil Abah?, tanya saya dengan nada kebingungan. Mereka tak menjawab, hanya semakin tertawa, juga terpingkal-pingkal. 

Sebenarnya, saya sudah kenal sepupu simbah yang dijuluki Abah itu. Memang dia orang kaya. Barangkali juga orang paling kaya se-Kabupaten. Dia punya anak tiga. Dua yang pertama laki-laki, dan yang terakhir perempuan. 

Usut punya usut, ternyata anaknya yang ketiga pernah suka sama saya. Sekedar suka. Gak mungkin kalo cinta. Lagipula, sekarang dia juga kuliah jurusan kedokteran di salah satu universitas swasta. Mana mungkin masih suka sama saya yang pengangguran. Haha. 

Tapi sialnya, Bu Lek kembali menyalakan bara api. Tiba-tiba dia berkelakar sembari melirik-lirik pada saya, "Ini lho bah.. ada dagangan, ganteng lagi, dulu anak Abah kan pernah suka sama ponakan saya". Asem, dikira saya barang jualan? Sampai dibilang dagangan. 

Abah dan anak perempuannya itu hanya tersenyum malu-malu, juga saya. Tak tahu harus bicara apalagi. "Sudahlah terserah kalian", batinku seolah pasrah. Obrolan pun berlanjut.

Lambat laun, saya mulai memahami kenapa orang itu dipanggil Abah. Dan saya pun juga mulai merasakan kejenuhan di rumah Abah. Komunikasi hanya satu arah. Abah bercerita panjang lebar, tanpa memberi kesempatan yang lain bercerita. 

Kebingungan saya mulai hilang, berganti rasa kesal yang yang menggelora. Abah bercerita tentang harta kekayaannya yang barangkali tak bakal habis hingga tujuh turunan. 

Di samping itu, yang paling bikin kesal adalah cerita heroiknya yang menyuap sana sini demi anaknya bisa kuliah di fakultas kedokteran. Bahkan dia sampai menyiapkan uang milyaran demi anaknya bisa diterima di fakultas kedokteran salah satu universitas negeri. 

Namun pihak kampus menolak mentah-mentah. Dengan bangganya dia cerita itu semua. Seakan yang dilakukannya adalah benar. Dan menganggap pihak kampus sudah melecehkan uang milyaran yang dipunyainya. 

Satu lagi juga, cerita yang cukup menggelikan dari Abah. Dengan bangganya juga dia menceritakan pertarungannya dengan investor-investor asing dalam proyek-proyek seperti tambang emas maupun tol. 

Apapun dia lakukan demi memenangkan pertarungan itu. Tak peduli salah atau benar, baik atau buruk. Sampai disini, nasionalismenya patut diacungi jempol. Akan tetapi cukong tetaplah cukong. Tak ada moralitas. Apalagi religiusitas. Mustahil. 

Simbah saya sudah mulai muak. Akhirnya kami pamit. Lagipula, hari sudah mulai siang. Kalau bukan karena saudara, barangkali simbah tidak akan mengajak anak cucunya silaturrahim ke tempat Abah. 

Sebelum keluar rumah, kami bersalaman kepada tuan rumah, termasuk Abah, istrinya, dan anak-anaknya. Kecuali saya dan Pak Dhe yang hanya bersalaman dengan Abah, tidak dengan istri dan anak-anaknya. 

Saya pun sebenarnya hanya mengikuti Pak Dhe saya. Barangkali Pak Dhe saya sudah terlalu kesal, hingga tidak menyalami satu per satu. Saya pun demikian.

Dalam perjalanan pulang, kebetulan saya satu mobil dengan paman saya. Tiba-tiba Paman saya bilang ke saya, "Wah kalo kamu jadi menantunya enak ya, kemana-mana pasti naik Pajero", cetusnya sambil terkekeh. Saya pun ikut terkekeh. "Ndak bakal habis tujuh turunan Pak Lek", jawab saya sembari tertawa jahat.

Setelah bermacet-macet ria di jalanan, akhirnya kami sampai rumah. Pak Dhe saya yang religius itu langsung mengeluarkan dalil-dalilnya. Mulai dari Al-Qur'an sampai Hadist. Intinya, puncak kebahagiaan manusia tidak dapat hanya diukur dari materi. Kebahagiaan bukan monopoli kaum berduit. 

Simbah saya beserta anak cucunya bukanlah keluarga yang berada. Biasa-biasa saja. Tidak lebih tidak kurang. Yang penting cukup. Pengen beli motor cukup, beli mobil cukup, beli rumah cukup. Gak, Bercanda. Hehe. 

Namun satu hal yang pasti, kami sudah sangat bahagia dengan kondisi yang biasa-biasa saja ini. Bahkan mampu menertawakan Abah yang tak henti-hentinya pamer duit itu. Dikiranya, kami bakal ngiler dengan harta kekayaan yang dia pamerkan. Gak sama sekali.  

Tiba-tiba saya teringat Albert Camus yang absurd itu. Benar apa yang dikatakannya, "Puncak keangkuhan manusia adalah ketika dia mampu bahagia tanpa uang". 

Abah bisa sombong dengan harta kekayaannya. Tetapi, kami lebih sombong karena mampu bahagia tanpa itu semua.