Pada masa sekarang ini, K-Pop dan Drama Korea bukan lagi hal yang asing ditelinga kita semua, bahkan sangat familier. Industri hiburan dari Korea Selatan itu sudah menjadi tren dan konsumsi publik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Semenjak masa pandemi, hiburan-hiburan dari negeri gingseng ini menyebar pesat dan mengalami puncaknya. Walaupun keberadaannya sudah lama menyebar, namun tak dipungkiri era pandemi ini merupakan puncak dari industri hiburan negeri asal BTS ini.

Era ini yang menyebabkan makin dikenal dan diminatinya hiburan Korea di seluruh dunia. Banyak remaja dan orang dewasa dengan rentang umur 11-28 tahun dan tidak sedikit pula di atas umur 30 tahun yang sangat menggandrungi industri K-Pop dan Drama Korea.

Pandemi yang mengharuskan tetap berkegiatan di rumah, berdampak dengan seringnya rasa bosan melanda. Umumnya, banyak dari kita yang mencari hiburan melalui internet, yang merupakan pasar dari K-Pop dan Korea drama. Tak dipungkiri bahwa banyak remaja maupun orang dewasa yang tertarik pada drama, film dan musik dari negeri kimchi ini yang menyebabkan terjadinya demam Korea atau yang disebut Korea hallyu.

Media-media hiburan dari Korea ini memiliki daya tarik sendiri yang membuatnya memiliki banyak peminat. Drama Korea memiliki beragam gerne yang disukai penonton serta alur cerita yang menarik sehingga penonton dapat ikut terbawa suasana dalam cerita.

Selain karena alur yang dapat membuat mood naik dan turun, cara pencarian dan cara menontonnya juga mudah dan terbilang tidak ribet. Adanya pemeran yang menyegarkan mata pun banyak menjadi alasan mengapa masyarakat lebih menyukai drama Korea daripada drama-drama dalam negeri sendiri.

Drama-drama baru pada era pandemi seperti The world of the married, Penthouse, Hospital Playlist, Vincenzo, It's Okay to Not be Okay dan drama-drama sebelum pandemi seperti Goblin, descendants of the sun,  W Two World  dan masih banyak lagi menjadi teman mengusir kebosanan bagi banyak remaja dan para orang dewasa di waktu senggang. Terkadang di warung makan, di ruang tunggu, di bus, atau saat di jalan pun banyak terdapat  penampakan penonton drama korea ini.

Selain drama dan filmnya, musik korea yaitu K-pop juga sedang meledak dan menjadi sangat banyak peminatnya. Pada Kpop terdapat Girlgrup dan Boygrup seperti BLACKPINK, BTS, NCT, TWICE, EXO, SNSD, dan masih terdapat banyak grup lagi yang sangat digandrungi para remaja dan memiki penggemar dari seluruh penjuru dunia. Musik dan barang-barang ala K-Pop juga telah menyebar di segala tempat.

Semakin melejitnya dan menyebarnya hal tersebut ke penjuru dunia termasuk Indonesia merupakan hal yang berdampak baik juga berdampak buruk. Berdampak baik bagi yang mampu memanfaatkan peluang. Berdampak buruk bagi yang kurang pengetahuan dalam menerima budaya baru,

Dampak-dampak baik dan positif yang dapat diambil dari K-Pop dan Korea drama meliputi banyak hal. Hobi dan kegemaran yang sama pada drama Korea dan K-pop dapat menambahkan relasi pertemanan. Selain itu, bagi yang ingin membuka usaha dapat memanfaatkan peluang dengan menjual Mercedes  K-Pop dan K-drama. Saat ini banyak para penggemar yang mencari barang-barang ala Korea untuk mencirikan mereka sebagai seorang penggemar Korea.

Adegan dalam drama dan lirik pada lagu K-Pop dapat mengajarkan seorang agar lebih percaya diri, tidak mudah menyerah, menjadi diri sendiri dan hal-hal baik lainnya. Hal tersebut dapat membatu penggemar menumbuhkan motivasi dalam dirinya sehingga hal tersebut membawa hal positif.

Tak sedikit pula penggemar yang memanfaatkan Drama Korea dan lirik lagu K-Pop sebagai sarana untuk belajar Bahasa Korea. Dapat berbahasa Korea memberikan banyak keuntungan baik untuk mencari pekerjaan, pertemanan maupun pendidikan yang memungkinkan mendapat beasiswa.

Menjadi seorang penggemar terutama korea tak lepas dari dampak negatif. Dampak yang paling sering terjadi adalah menjadikan seseorang kecanduan. Jika hanya streming comeback, vote idola, dan melihat video mereka diwaktu luang masih tergolong dalam kecanduan yang wajar. 

Terkadang terdapat penggemar yang merasa harus dan wajib memiliki barang-barang khas Korea yang tergolong mahal. Barang tersebut seperti, album comeback, lightstick, foto, stiker, ataupun  barang-barang lain yang berbau Korea yang terkadang harganya membebani diri sendiri bahkan orang tua.

Dampak buruk lain adalah terlalu kecanduan dalam melihat idolanya sehingga melupakan waktu untuk hal-hal penting dikehidupan sehari-hari, sehingga jadwal menjadi berantakan dan membuatnya menjadi pribadi yang malas.

Bahkan kecanduan dapat membuat penggemar menjadi fanatik. Pada web kumparan.com sendiri, dokter Asmarahadi SpKj, psikiater Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, Jelambar, Jakarta Barat menjelaskan bahwa:

“Kecanduan atau fanatisme (terhadap idola) punya kesamaan dengan kecanduan narkoba atau game online. Hanya, transisional objeknya berbeda. Pecandu game online objeknya ya game yang ia mainkan, sementara fans fanatik objeknya idola yang ia puja.”

Selain itu, semakin banyak budaya Korea yang masuk ke Indonesia cukup menjadi hal yang mengkhawatirkan. Budaya-budaya tersebut, bukan hanya masuk pada orang dewasa ataupun remaja yang sudah cukup umur. Namun, juga pada remaja dan anak-anak yang di bawah umur, yang cenderung belum bisa membedakan salah atau benar.

Hal tersebut menyebabkan budaya tersebut masuk tanpa tersaring sehingga generasi millennial kita cenderung kurang paham dengan budaya sendiri. Anak-anak hanya ikut-ikutan dan menerapkan budaya asing yang kurang sesuai pada masyarakat Indonesia. Pada kemudian hari hal tersebut akan menjadi masalah besar yang mengancam budaya Indonesia jika tidak adanya pendampingan dari orang tua.

Melepaskan diri untuk berhenti menyukai tren-tren Korea sangatlah sulit, karena rasa candu selalu bersama seorang penggemar. Kecanduan ini juga seperti kecanduan narkoba karena untuk lepas dari hal tersebut sangatlah sulit, jika tidak benar-benar mempunyai niat dan tujuan. 

Seorang yang ingin berhenti biasanya harus berhenti secara perlahan seperti melakukan rehabilitasi. Biasanya mereka menemukan suatu kesibukan dan menemukan tujuan hidup baru, sehingga memaksa diri untuk berhenti.

Menjadi penggemar pada masa ini bukanlah sesuatu yang mudah. Godaan-godaan yang membuat kecanduan dan dapat mengubah seorang menjadi fanatik. Bekal diri dengan pengetahuan dan pengontrolan diri tentu sangat perlu agar hobi dapat membawa dampak positif pada hidup dan tidak merugikan diri sendiri serta orang lain.