Tingginya permintaan terhadap pulp (bubur kertas) dan kertas oleh masyarakat dunia merupakan kondisi real yang terjadi pada saat ini. Khususnya di Indonesia, berdasarkan data yang dirilis oleh Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), bahwa pada tahun 2016 Indonesia telah memproduksi pulp sebesar 7,1 juta ton dan kertas sebesar 12,8 juta ton atau 3% dari jumlah produksi pulp dan kertas dunia.

Angka ini menunjukkan bahwa telah terjadi permintaan yang signifikan terhadap produksi pulp dan kertas sekalipun era digital (paperless) sedang berlangsung. 

Masyarakat tanpa kertas adalah suatu keadaan yang diramalkan akan terjadi, yaitu akan berkurangnya fungsi kertas sebagai media tulis, baca, pertukaran informasi maupun fungsi kertas sebagai media untuk mengabadikan data dan momen tertentu. Keadaan tersebut pada hari ini benar telah terjadi, namun ternyata tidak serta merta menyebabkan manusia meninggalkan kebutuhannya terhadap kertas. 

Kondisi yang terjadi pada hari ini adalah kita lebih sering menemukan orang menggunakan smartphone sebagai media baca dan pertukaran informasi dibandingkan orang yang langsung membaca koran maupun berkomunikasi dengan cara berkirim surat. 

Sebagaimana layaknya kisah percintaan antara Robert dengan Elizabeth Barrett Browning pada abad ke 19 silam. Mereka adalah pujangga pada era pergerakan romantis di Inggris yang saling berkirim surat hingga mencapai 574 pucuk surat dalam kurun waktu 20 bulan. 

Bayangkan saja seandainya kebiasaan berkirim surat tersebut dilakukan oleh mayoritas generasi muda zaman now, berapa banyak lembar kertas yang harus digunakan hanya sebagai objek pelampiasan perasaan para korban kasmaran. 

Meskipun pada saat ini kertas tidak lagi sepenuhnya digunakan sebagai medium baca dan saling bertukar informasi, ternyata kebutuhan manusia akan kertas terus mengalami peningkatan di sisi kehidupan lainnya. Misalnya permintaan terhadap kertas terus terjadi peningkatan sebagai akibat adanya trend e-commerce (belanja online). Di Indonesia, pada tahun 2016 transaksi e-commerce mampu menembus angka 4,89 Miliar Dolar AS (Data: Social Research & Monitoring soclab).

Tingginya hasil transaksi ini tentunya berimplikasi secara langsung berupa meningkatnya jumlah permintaan terhadap kertas yang digunakan sebagai media untuk membungkus barang sebelum dilakukan proses pengiriman. 

Selain itu, pemanfaatan kertas juga terus meningkat mengikuti perkembangan bisnis hotel dan restoran. Indonesian Hotel and Restaurant Association memaparkan bahwa pada tahun 2016, di Indonesia memiliki 358.000 kamar hotel dan diasumsikan akan terus bertambah. Artinya kebutuhan akan tisu disetiap kamar hotel adalah suatu kebutuhan yang mutlak harus terpenuhi. 

Berdasarkan data dan fakta di atas, cukup memberi alasan kepada kita semua untuk sedikit berbangga diri karena modernisasi telah memberi dampak positif terhadap kemajuan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Akan tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan yaitu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai makhluk yang paling bertanggungjawab terhadap lingkungan untuk memikirkan agar kedepannya produksi pulp dan kertas terus berkembang, sementara keberadaan ekosistem hutan wajib untuk terus dilestarikan. 

Kekhawatiran akan terjadinya penyempitan kawasan hutan adalah sebuah hipotesis yang rasional, karena tingginya permintaan pulp dan kertas baik dalam skala nasional maupun internasional akan berimplikasi secara langsung terhadap ketersediaan bahan dasar untuk memproduksi pulp dan kertas itu sendiri. 

Sebagaimana kita ketahui, bahwa bahan dasar primer untuk memproduksi pulp dan kertas adalah berasal dari serat pohon kayu yang lazimnya diambil dari hutan alam maupun Hutan Tanaman Industri (HTI). 

Pokok permasalahnnya ialah bahwa permintaan terhadap pulp dan kertas terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, sementara ketersediaan pohon kayu di hutan itu sendiri terus mengalami pengurangan. Lantas, bagaimana dengan ketersediaan cadangan bahan dasar untuk memproduksi pulp dan kertas dimasa yang akan datang? 

Pertanyaan dan gambar di atas merupakan suatu keadaan yang telah terjadi, serta asumsi akan berkurangnya luas hutan dibeberapa bagian wilayah Indonesia. Hal ini tentunya sebagai suatu problem yang harus segera diantisipasi sejak dini. 

Sudah saatnya Indonesia harus memikirkan bagaimana caranya agar terus dapat meningkatkan jumlah produksi pulp dan kertas semaksimal mungkin dengan tetap mengupayakan pelestarian kawasan hutan. 

Mencermati hal demikian untuk mengupayakan peningkatan hasil produksi di Indonesia tidak ada salahnya jika kita belajar dari negara-negara pengahasil pulp dan kertas terbesar dunia seperti Jepang dan Finlandia.

Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) tahun 2016 bahwa Jepang termasuk negara ketiga di dunia penghasil pulp dan kertas. Faktanya Jepang mampu memproduksi pulp dan kertas sebesar 32,539 juta ton per tahun hanya dengan kawasan hutan seluas 24,979 ha. Situasi serupa juga terjadi di Finlandia yang mampu memproduksi pulp dan kertas sebesar 12,276 juta ton per tahun dengan hanya memiliki kawasan hutan seluas 12,157 ha. 

Jika dibandingkan dengan Indonesia yang memiliki kawasan hutan seluas 120,60 ha, nyatanya ditahun yang sama Indonesia hanya mampu memproduksi pulp dan kertas sebesar 12,341 juta ton. Angka-angka ini tentunya menimbulkan pertanyaan bagi kita semua sekaligus pantas untuk dijadikan evaluasi terhadap pemanfaatan hutan yang ada di Indonesia. 

Pertanyannya, faktor apa yang menyebabkan produksi pulp dan kertas di Jepang dan Finlandia mampu melampaui Indonesia, sementara ketersediaan bahan dasar pembuatan pulp dan kertas mereka relatif jauh lebih kecil dari Indonesia. 

Berbicara mengenai faktor yang mempengaruhi tingginya produksi pulp dan kertas tentunya tidak terlepas dari kemampuan Jepang dan Finlandia dalam mengelola hasil hutan. Dilain sisi ternyata ada satu hal yang turut mendorong mereka mampu menempati posisi sebagai negara yang memproduksi pulp dan kertas terbesar di dunia. 

Strateginya ialah selain mengimpor serat kayu dari luar, ternyata Jepang dan Finlandia sudah melakukan langkah yang tepat dengan memanfatkan kertas bekas secara maksimal untuk kembali didaur ulang menjadi pulp dan kertas. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk memastikan ketersediaan bahan dasar produksi pulp dan kertas secara berkelanjutan. 

Langkah bijak yang dilakukan Jepang dan Finlandia dalam mengupayakan ketersediaan bahan dasar pembuatan pulp dan kertas melalui siklus daur ulang merupakan tindakan yang pantas untuk diapreseasi sekaligus dicontoh. Karena selain mampu menambah ketersediaan bahan dasar pembuatan pulp dan kertas hal ini juga turut membantu pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang bersih. 

Kebijakan pemanfaatan kertas bekas untuk didaur ulang menjadi pulp dan kertas sebagaimana yang telah dilakukan oleh Jepang dan Finlandia ternyata belum dilakukan di Indonesia. Pemanfaatan kertas bekas menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna hanya sebatas dimanfaatkan oleh sebagian kecil orang yang peduli terhadap lingkungan dan umumnya hanya berkapasitas home industry. 

Contohnya Provinsi Riau sebagai salah satu wilayah di Sumatera yang memiliki perusahaan produksi pulp dan kertas terbesar di Indonesia ternyata belum melakukan hal demikian. Perusahaan produksi kertas di Riau misalnya PT. Indah Kiat di Perawang, Kab. Siak, sampai saat ini masih mengandalkan bahan dasar pembuatan pulp dan kertas yang berasal dari pohon kayu hasil pemanfaatan HTI. 

Sementara kertas-kertas bekas yang ada belum mampu diolah secara baik untuk kembali didaur ulang menjadi kertas. Kita sangat memaklumi proses daur ulang kertas untuk kembali dijadikan pulp akan membutuhkan proses yang sedikit rumit dan membutuhkan tahapan tertentu. Misalnya pada proses daur ulang kertas bekas harus dilakukan proses penghilangan tinta (deinking) yang membutuhkan alat dan bahan kimia tertentu. 

Terlepas apapun tahapan yang harus dilakukan dalam proses mendaur ulang kertas bekas, tentunya begitu banyak manfaat sebagai effect yang akan diterima apabila hal ini benar-benar dilakukan dalam skala besar. 

Jika perusahaan-perusahaan pulp dan kertas di Indonesia sepakat untuk menjadikan daur ulang kertas bekas sebagai alternatif bahan baku untuk memproduksi bubur kertas, maka ini akan menjadi gerakan yang nyata dan efektif dalam membantu pemerintah mewujudkan lingkungan yang bersih khususnya dari sampah kertas. 

Manfaat selanjutnya dalam jangka panjang, apabila proses daur ulang kertas benar-benar dilakukan dalam skala besar maka akan turut memberikan sumbangsih yang berarti terhadap ketersediaan cadangan bahan baku pembuatan pulp dan kertas itu sendiri. Dampak positifnya ialah ini akan meminimalisir peluang terjadinya penggundulan kawasan hutan (deforestasi). 

Inilah sebuah realita, bahwa pulp dan kertas merupakan produksi yang tak pernah usai, bahkan akan terus diolah dengan model dan jenis tertentu secara dinamis sesuai dengan kebutuhan zaman. 

Harapan kita semua tentunya ada kemauan dari pihak perusahaan yang terlibat langsung dalam pengelolaan produksi pulp dan kertas, serta perlunya intervensi pemerintah secara nyata dalam bentuk rumusan regulasi untuk mengarahkan agar perusahaan yang memproduksi pulp dan kertas menjadi garda terdepan dalam memanfaatkan kertas bekas untuk didaur ulang sebagaimana mestinya. Akankah hal ini dilakukan?