Guru
3 tahun lalu · 1056 view · 4 menit baca · Lingkungan pulau_rangsnag_2.jpg
Kondisi pinggir Pulau Rangsang akibat abrasi di Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten kepulauan Meranti

Pulauku Sayang, Pulauku Malang

Umumnya tidak banyak orang yang mengenal keberadaan salah satu pulau terluar Indoesia  yang terletak di Kabupaten termuda di Provinsi Riau yang baru berusia tujuh tahun tepatnya di Kabupaten kepulauan Meranti yaitu Pulau Rangsang. Secara geografis, Pulau Rangsang ini merupakan salah satu pulau terluar yang berbatasan langsung dengan selat Malaka yang dikenal sebagai selat tersibuk kedua di dunia,  yang terletak diantara semenanjung Malaysia (Thailand, Malaysia, Singapura) dengan Pulau Sumatera tepatnya Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Kenyataan ini ternyata tidak selamanya memeberi dampak positif bagi keberlangsungan hidup masyarakat Pulau Rangsang, khususnya dalam hal kelestarian lingkungan hidup. Bahkan tidak mengherankan ketika jarak antara Pulau Rangsang yang jauh dari Pusat Ibu kota Pemerintahan Indonesia, selalu kecolongan dalam hal mendapat perhatian dari pemerintah pusat khususnya terkait ancaman abrasi akibat tingginya gelombang air laut yang selalu mengancam masyarakat setiap saat.

Setiap tahun Pulau Rangsang menjadi sasaran empuk gelombang tinggi terlebih ketika musim angin utara ke arah selatan. Ganasnya gelombang air laut yang terjadi di wilayah pesisir Pulau Rangsang yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka ini secara faktual telah mengurangi luas wilayah tersebut hinga 8 sampai 10 Meter dari bibir pantai.

Tidak hanya itu jalan-jalan swadaya masyarakat yang ada serta lahan pertanian andalan masyarakat yang mayoritas sebagai petani seperti pohon Kelapa, Pinang dan Kopi sebagian juga ikut tergerus akibat abrasi pantai yang terus terjadi.

Meskipun sampai saat ini belum ada korban jiwa yang terjadi akibat ganasnya abrasi pantai, namun rumah-rumah penduduk yang posisinya tepat berada di pinggir Pulau Rangsang turut terkena dampak dari abrasi air laut tersebut. Disisi lain aktivitas masyarakat setempat yang memanfaatkan keindahan pinggiran Pulau Rangsang sebagai salah satu objek wisata kini sudah semakin tertutup.

Dahulunya keindahan panorama pulau yang mampu menyejukkan pemandanagan masyarakat setempat telah berubah menjadi seperti pinggiran pulau yang tidak berpenghuni. Banyak pohon-pohon kelapa yang tumbang akibat abrasi, sampah-sampah berserakan dan hampir tidak terlihat lagi pohon Mangrove yang seyogyanya diyakini mampu mencegah dampak dari abrasi. Semuanya telah berubah dengan waktu yang relatif cepat.

Kekhawatiran masyarakat Pulau Rangsang terkait akan ancaman abrasi yang disebabkan oleh gelombang air laut tersebut semakin tinggi. Berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan abrasi terus dilakukan. Sejak tahun 2012 Pemerintah Daerah dan organisasi kepemudaan setempat telah rutin melakukan berbagai bentuk kegiatan dalam rangka pencegahan dan penanggulangan akibat abrasi gelombang air laut. Misalnya dengan membangun tanggul pemecah ombak setinggi 1,5 Meter sepanjang 75 Meter di Desa Permai Kecamatan Rangsang Barat dan menanam ribuan bibit pohon Mangrove juga telah dilaksanakan.

Tidak cukup sampai disini, usulan pembangunan tanggul pemecah ombak oleh Pemerintah Daerah selalu di usulkan kepada Pemerintah Pusat pada setiap tahun anggaran. Selanjutnya para aktivis lingkungan hidup dan media lokal tidak henti-hentinya membicarakan topik yang sama dengan harapan agar mendapat respon dari Pemerintah Pusat.

Namun Kenyataannya upaya-upaya tersebut belum memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Sampai saat ini masyarakat dan pemerintah daerah tidak dapat berbuat banyak dalam hal mencegah dan menanggulangi dampak dari abrasi oleh gelombang air laut yang terus terjadi.

Aksi nyata pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti dalam hal mencegah dan mengatasi dampak abrasi oleh gelombang air laut diakui belum maksimal.  Hal ini dapat dimaklumi karena sebagai Kabupaten termuda di Provinsi Riau, tentunya terbatasnya kemampuan keuangan daerah yang dapat dilihat dari struktur APBD Tahun 2016 hanya sebesar Rp. 1,4 Triliun menjadi alasan utama mengapa solusi terhadap ancaman abrasi di Pulau Rangsang belum dapat dilaksanakan secara maksimal. 

Menariknya, kehadiran beberapa kali Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahkan Presiden Republik Indonesia di Kepulauan Meranti pada tahun 2015 yang lalu seolah memberi angin segar terhadap solusi ancaman abrasi di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti khususnya Pulau Rangsang.

Tapi kenyataannya itu hanya sebatas harapan yang tidak pernah terwujud. Berbagai upaya guna mencari solusi yang efektif dalam mengatasi abrasi pantai sudahpun dilakukan, namun kurangnya respon dari pemerintah pusat khususnya kementerian terkait serta  keterbatasan anggaran Pemerintah Daerah selalu menjadi faktor penghambat untuk mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan.

Sampai saat ini masyarakat tidak dapat berbuat banyak bagaimana caranya untuk mencegah dan mengatasi dampak abrasi oleh air laut yang semakin hari semakin mengancam wilayah pesisir Pulau Rangsang tersebut. Kekhawatiran ini semakin memuncak dikarenakan saat ini ancaman abrasi sudah sampai pada rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal masyarakat dalam melangsungkan hidup bersama keluarga. Saat ini, harapan satu-satunya masyarakat tentunya tertuju pada pemerintah Pusat yang konon saat ini sedang fokus melakukan penataan pembangunan diwilayah poros maritim.

Tentunya tidak menjadi alasan bahwa jarak Kabupaten Kepulauan Meranti khususnya Pulau Rangsang yang sangat jauh dengan pemerintah Pusat berarti lepas dari pantauan pemerintah Pusat termasuk dalam upaya kelestarian lingkungan hidup. Pulau Rangsang sebagai salah satu pulau terluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah semestinya untuk diperhatikan dan diutamakan dalam pembangunan.

Aksi nyata dari pemerintah pusat dalam memberikan solusi terkait pencegahan dan penanganan keganasan abrasi yang disebabkan oleh gelombang air laut di Pulau Rangsang sangat ditunggu dan menjadi harapan besar masyarakat untuk segera diwujudkan.

Pihak Legislatif di Senayan khususnya yang berasal dari daerah pemilihan Riau juga dituntut untuk pro aktif untuk mengupayakan solusi terhadap apa yang menjadi harapan besar masyarakat. Sesuai dengan namanya Pulau Rangsang, semoga melalui tulisan ini mampu merangsang nafsu pemerintah pusat khususnya kementerian terkait yang bekerja dengan pedoman Nawa Cita untuk segera memberikan sumbangsih yang nyata terhadap kelestarian lingkungan hidup wilayah pesisir yaitu terkait ancaman abrasi yang terjadi setiap saat di Pulau Rangsang Kebupaten Kepulauan Meranti.

#LombaEsaiKemanusiaan

Artikel Terkait