77055_94544.jpg
Milik Pribadi
Wisata · 5 menit baca

Pulau Sirandah yang Indah dan Menawan

Indah dan menawan. Dua kata itulah yang menggambarkan betapa indahnya sebuah pulau yang tidak berpenghuni ini. Pulau yang terletak di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Padang, Sumatera Barat menyimpan keindahan serta kedamaian di tengah laut lepas itu. Dari Pusat Kota Padang, Sumatera Barat, menuju lokasi pulau ini memakan waktu satu jam perjalanan darat. Setelah itu pengunjung harus menyeberang menggunakan perahu bermotor selama kurang lebih 30 menit.

Sirandah. Itulah nama Pulau yang menyimpan keindahan serta kedamain alami. Asal mula penamaan pulau ini, menurut salah satu media daring yang mengelola pulau tersebut, pulausirandah.com, Sirandah itu berasal dari kata Si Rendah yang berarti rendah. Pulau Sirandah ini merupakan pulau dengan dataran lebih rendah dibanding pulau sekitarnya seperti Pulau Pasumpahan, Pulau Pamutusan dan Pulau Sikuai.

Ketika menyeberang menuju Pulau Sirandah dari Penyeberangan di Kecamatan Teluk Kabung, pengunjung akan disuguhkan beberapa keindahan alam alami Provinsi Sumatera Barat. Nantinya pengunjung akan melewati Pulau Pasumpahan yang tidak kalah bagusnya, lalu Pulau Ular, Pulau Pamutusan, Pulau Sikuai kemudian yang terkahir baru Pulau Sirandah.

Untuk biaya penyeberangan menggunakan perahu bermotor cukup kompetatif, menurut media daring pengelola Pulau Sirandah yakni berkisar Rp. 50.000 hingga Rp. 75.000 perorang. Jika rombongan, biasanya masyarakat yang memiliki perahu bermotor itu mematok harga perperahunya berkisar Rp.250.000 hingga Rp. 300.000, dan itu berlaku untuk biaya penghantaran ke pulau dan untuk biaya penjemputan kembali.

Saat ini Pulau Sirandah dikelola Perusahaan penanaman modal asing dari Malaysia, PT Monetization Global of Sharing Benefit (MGSB) Holdings Ltd. Sebagai informasi, PT MGSB Holdings Ltd ini sering memberikan dana bantuan Corporate Social Responbility (CSR) kepada tempat wisata yang ada di Sumatera Barat.

Ketika sampai di Dermaga Pulau Sirandah, pengunjung harus kembali membayar biaya masuk pulau berkisar Rp. 25.000 hingga Rp. 50.000. Menurut penuturan Uni, salah satu penjual makanan di pulau ini mengatakan, biaya tersebut untuk retribusi kebersihan pulau dan air mandi. “25.000 itu bagi pengunjung yang tidak menginap, jika menginap bayarnya Rp. 50.000, bebas menginapnya berapa hari,” katanya

Ketika sampai di pulau, Keindahan Pulau Sirandah memanjakan mata dengan menyuguhkan hamparan pasir putih halus yang luas serta birunya air laut disekitaran Pulau Sirandah ini. Uniknya, warna air laut di Pulau Sirandah ini memiliki tiga warna, yakni hijau toska, biru langit hingga berwarna biru tua tempat yang paling terdalam. Serta ada juga berbagai macam terumbu karang yang tumbuh bebas di sebelah barat Pulau Sirandah.

Selain menikmati keindahan alami Pulau Sirandah, pengunjung bisa melakukan wisata bahari diving sambil menikmati terumbu karang serta biota laut yang banyak, ditambah lagi ikan-ikan kecil dibawah dermaga pulaupun menambah keindahan selama berada di pulau ini.

Ombak-ombak di Pulau Sirandah pun terlihat cukup landai. Terjangan ombak ini juga sesekali membawa biota laut seperti umang-umang ke pinggiran pantai yang menambah kesan menyenangkan saat menikmati pulau ini.

Pulau Sirandah ini juga memiliki fasilitas yang sudah lengkap. Seperti Kafe, Cottage, restoran, Gazebo yang mengahadap Pulau Sikua yang berada tepat diseberang Pulau Sirandah, kemudian Musala serta kamar mandi yang telah dilengkapi dengan air bersih.

Menurut penuturan Uni, untuk biaya Gazebo di Pulau Sirandah berkisar satu juta rupiah hingga satu juta limaratus ribu rupiah permalamnya. “Tergantung mau menggunakan pendingin ruangan atau tidak,” katanya yang kala itu membuat makanan pesanan pengunjung.

Uni juga menambahkan, di akhir pekan, biasanya pengelola mendatangkan Banana Boat, dan alat surfing untuk disewa. Uni mengatakan, biaya sewanya relatif berkisar Rp. 30.000 untuk Banana Boat dan Rp.20.000 untuk alat surfing.

“Karena akhir pekan pengunjung disini ramai sekali, bisa berkisar 200 hingga 300 orang, baik wisatawan lokal maupun mancanegara,” sebutnya.

Saat ini juga Pulau Sirandah tengah terus membangun infrastruktur untuk menambah kenyamanan pengunjung. Salah satunya pembangunan seluncuran air yang kini hampir rampung menunggu air tambahan yang akan dituangkan di seluncuran air.

“Jika seluncuran air itu selesai, lengkap sudah fasilitas di pulau ini,” kata Uni sambil tertawa renyah.

Sekali mendayung dua pulau terlampaui. Itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan Pulau Sirandah. Sebab, sekali menyeberang ke Pulau Sirandah, pengunjung juga bisa menikmati keindahan Pulau Penyu yang terletak di sebelah barat daya Pulau Sirandah.

Asal mula penamaan Pulau Penyu ini menurut Uni, dahulunya pulau ini memilik penyu-penyu yang suka sekali bertelur disini. Namun seiring banyaknya pengunjung yang ke pulau menyebabkan penyu-penyu itu enggan bertelur kembali.

“Mungkin penyu itu merasa terganggu,” katanya

Uniknya lagi, Pulau Penyu ini memang mirip penyu pada umumnya. Di pulau itu seperti ada batu yang memiliki kepala dan ada seperti titik hitam ditengah batu itu yang menggambarkan mata dari penyu itu.

“Pulau itu juga mirip sekali dengan penyu kan?” kata Uni sambil bertanya meyakinkan.

Menurut Harsy Samudra, pengunjung yang berasal dari Kota Pekanbaru menyebut Pulau Sirandah ini sangat bagus. Harsy mengatakan Pulau ini wahananya sudah cukup lengkap.

“Wahana permainan, ada tempat camping pokoknya lengkap deh,” katanya.

Senada dengan Harsy, Dinna Beddy yang juga berasal dari Kota Pekanbaru menyebut Pulau Sirandah ini sangat cocok bagi yang ingin mencari suasana liburan yang berbeda. Menurutnya di Pulau Sirandah ini banyak tempat berfoto yang bagus.

“Disini sangat menyenangkan, saya menikmati terumbu karang, banyak ikan didekat dermaganya, warna air lautnya bersih sekali,” ujar Dinna ketika di jumpai di lingkungan UIN Suska Riau setelah liburan dari Pulau Sirandah.

Namun dibalik keindahan Pulau Sirandah saat ini ada pemberitaan yang cukup memprihatinkan. Menurut pemberitaan di media daring viva.co.id, pulau tropis yang terkenal dengan sebutan Maladewanya Padang ini akan segera ditutup. Seperti dikutip di viva.co.id edisi 3 September 2018, Wali Kota Padang, Mahyedi Ansharullah menegaskan akan menutup semua pulau di Padang yang tidak memiliki izin.

Pulau Sirandah hingga saat ini memang belum memiliki izin resmi dan hanya dikelola oleh perusaahan asing PT MGSB.

“Disini saya tegaskan sebagai Wali Kota tidak akan menolerir wisata di Kota Padang yang berbaur maksiat. Tapi menjadi wisata keluarga dan wisata halal. Kalau ada permainan yang tidak benar, tidak sesuai adat Minangkabau, tolong singkirkan,” seperti dikatakan Mayedi yang dikutip dari media daring viva.co.id.

Mahyedi juga menyebut akan mengambil alih pengelolaan Pulau Sirandah yang dikelola oleh PT MGSB menjadi pengelolaan Dinas Pariwisata Padang. “Dalam waktu dekat akan kesana,” katanya.

Menanggapi pernyataan Mahyedi, Dinna mengatakan dirinya setuju. Menurut Dinna seharusnya pulau yang berada dikawasan Indonesia memang harus dikelola oleh pemerintah setempat.

“Tapi jika dilihat dari kondisi sekarang yang kita tahu pemerintah itu kebanyakan acuh, sudah dikelola pihak asing, baru mau direbut. Tetapi seharusnya memang pemerintah yang mengembakan, dan semoga bisa semakin maju,” sebutnya.