Tetesan  bening yang awalnya menetes berjarak, kini saling bersahutan. Semakin deras tak terbendung dari langit. Para pedagang yang tidak memiliki lapak kalang kabut mencari tempat berteduh. Para penjaja sayur dan makanan sudah tidak bisa menyelamatkan dari terjangan hujan. Rintik deras melesat lebih cepat dari tangan mereka yang mengais barang dagangan.

           Dan di sini aku, di sudut pasar yang becek oleh tanah yang berair. Membawa payung berwarna hitam dengan tas belanja yang masih kosong. Urung untuk melangkah, tapi bagaimana lagi tas harus terisi penuh. Bagaimanapun ada beberapa jiwa yang menantikan masakanku. Apalagi anakku Prihan, yang katanya akan pulang ke rumah setelah sekian tahun tak pulang dari negeri orang.

           "Mbak, ikan bandengnya silakan. Masih segar-segar." Rayu penjual ikan yang terduduk di sampingku. Masih banyak yang belum terjual, sebenarnya masih terlalu pagi juga. Ditambah hujan yang mengguyur, pasti akan sedikit orang yang bertandang ke pasar. Tapi bukankah Allah menurunkan hujan dengan rahmat-Nya. Maka  tak seharusnya, kita mengeluh kala hujan menyapa.

          "Boleh Bu, setengah kilo saja ya ... berapa?" Akhirnya aku memutuskan membeli bandeng, kebetulan Ari anakku yang bungsu suka sekali pindang bandeng.

          "Iya Bu Alhamdulillah, Rp. 10.000 saja Bu." Sahut penjual itu dengan wajah berbinar. Yang aku lihat usianya sudah mulai senja, tapi semangatnya luar biasa. Terkadang aku malu, masih muda tapi sering kali mengeluh dengan keadaan. Aku memang masih berusia muda, karena dulu menikah dini. Jadi umur 38 tahun sudah memiliki anak yang telah beranjak dewasa.

       "Terima kasih ya Bu, saya permisi dulu." Ujarku sembari mengulurkan selembar uang dan berganti dengan plastik yang berisi beberapa ekor bandeng.

"Sama-sama Bu, terima kasih banyak juga." Sahut wanita yang lebih pantas di panggil nenek tersebut, masih dengan senyum yang membingkai wajah keriputnya.

Bergegas kaki melangkah ke tukang sayur, membeli beberapa sayuran untuk bahan lotek. Aku memilih bayam, mentimun serta kentang beberapa. Dan bergegas membayar setelah semuanya masuk dalam keranjang. Tanpa menawar, karena aku yakin mereka hanya mengambil untuk tak seberapa, lantas jika kutawar bagaimana dengan merdeka.

"Bu duriannya ... baru saja jatuh dari pohon, di jamin manis seperti saya." Celoteh penjual buah, dengan semangat yang tak mau kalah dengan suara penjual salak yang menggunakan pengeras suara. Yang semakin membuat gaduh suasana pasar.

Kuhentikan langkahku di penjual buah itu. " Yang benar Mang ...? Dijamin manis ngak nih?" Sanggahku sembari memilah durian, dan menciumnya di setiap selanya. Aku hafal betul durian mana yang benar-benar matang sempurna atau yang masih mentah lalu di matangkan.

"InsyaAllah Bu, jika tidak enak ada garansi kok." Jelas Mamang buah  meyakinkan. Akhirnya aku memutuskan membeli 5 buah durian yang berukuran super. Membayangkan Prihan memakan ini saja sudah membuat aku bahagia, apalagi jika melihatnya langsung, ibu sudah tidak sabar menunggu datangmu Nak.

Setelah tas penuh oleh sayur, lauk dan jajanan pasar aku beranjak pulang. Melewati tanah yang masih basah. Dengan menenteng 1 kardus durian yang lumayan dan tangan kiri payung dan tas. Sebenarnya cukup berat, tapi tak apalah. Beberapa meter lagi sampai rumah.

Dari tepi jalan, terlihat Ari sedang memetik jambu yang tumbuh di halaman. Berbuah dengan lebatnya. Seringkali terbuang dengan percuma. "Ibu pulang Ri ..., ini lihat ibu bawakan jajanan pasar untukmu."

"Hore! Ibu sudah pulang." Bahagia Ari melihatku datang, bergegas ia sandarkan galah yang digunakan untuk memetik. Menghampiri dan membantu barang belanjaan, betapa bahagianya. Bagaimana tidak, setiap rumah selalu menjadi tempat pulang, ya meski hanya pergi ke pasar. Tapi entahlah, ada sosok yang menantikan pulang saja membuat trenyuh hati ini.

"Ibu tidak lupa kembali clorot kan?"

"Tidak Ari, coba tengok di tas tadi. Dalam bungkus plastik warna putih." Sahutku, dan mendaratkan pantat di kursi. Padahal hanya pergi berbelanja sebentar. Tapi kok lelah sekali, saat melihat Ari bersemangat membuka belanjaan kenapa senang rasanya.

"Aku menemukannya Bu, wah ... Ibu membeli banyak sekali, terima kasih ya Bu."

"Iya, sama-sama Nak, kan nanti Abang pulang jadi ibu sengaja membeli banyak." Kelasku, pada anak berusia 10 tahun itu. Dengan asyik menikmati clorot, makanan khas Purworejo yang terbuat dari tepung beras ditambah gula merah dan santan. Yang terbungkus janur.

Kutata barang belanjaan yang telah berserakan, langsung kusiangi bayam tadi. Berlanjut dengan mengupas kentang dan merebusnya semua. Mentimun pun tak luput dari jamahan. Setelah semuanya siap, aku membuat sambal lotek. Karena kacang sangrai sudah ada jadi tinggal menguleknya dengan cepat.

"Ari ... tolong ibu ya? Itu bandeng di bersihkan!" Rayu aku, sembari menata makanan yang sudah matang di meja makan.

"Baik Bu, siap laksanakan." Semangat dia, meluncur ke dapur dengan cepatnya. Aku menyiapkan bumbu halus seperti: kunyit, bawang putih, bawang merah , jahe dan beberapa rempah lainnya dan menghaluskannya di cobek. Tidak luput asam Jawa yang akan semakin menyegarkan kuah pindang tersebut.

 Tidak berapa lama Ari datang, "lapor Bu, tugas telah dilaksanakan!" Kilah anak itu dengan tangan yang tersemat di ujung pelipis memberi hormat. Ada-ada saja tingkahnya.

"Wah Ari hebat sekali, terima kasih ya Nak?" dan dia pun langsung melesat kembali ke luar sana menikmati jambu yang telah dipetik sebelumnya.

Kulanjutkan memasak, kepulan asap mulai terlihat di dapur yang usianya lebih tua dariku ini. Entah mengapa, aku memilih tetap memasak menggunakan kayu daripada menggunakan kompor. Meskipun sedikit ribet dan harus bergumul dengan asap tapi aku menyukainya, karena rasa masakannya lebih nikmat.

Setengah jam berkutat di dapur, bau segar asam pedas mulai menguar, menciptakan rasa bergejolak pada lambung yang menciumnya. Setelah mencicip dan merasa sudah pas, ku angkat wajan dan memindahkan ke baskom yang berukuran sedang. Selesai untuk hari ini.

Saat itu pula, terlihat sosok tinggi tegap berjalan ke arah dapur. Aku yang masih belum sadar hampir pingsan dibuatnya. "Assalamualaikum Bu ... aku pulang." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Wa'alaikumssalam, Alhamdulillah Nak. Akhirnya kamu pulang." Jawabku dengan dada bergetar, merengkuh kerinduan ini. Dia yang tiba-tiba bersimpuh di kakiku, dengan urai air mata. Terlihat penyesalan dalam diri.

"Sudah Nak, tak perlu kamu melakukan itu. Ibu sudah memaafkan semuanya." Aku mencoba membangunkan dia tapi tetap tidak bergeming. Maka riuhlah suasana dapur oleh isakan.

***

"Aku mau pergi saja Bu jika harus begini!" Ucap Prihan dengan putus asa. Dia yang baru pulang dari bekerja di bengkel tiba-tiba datang perasaan kacau.

"Lantas kamu mau lari Nak? Lari dari kenyataan ini!"

"Aku tidak sanggup Bu, jika harus melihat Vina menikah dengan laki-laki lain!"

"Sudahlah, lupakan dia. Meskipun itu tidak mudah. Kamu harus bangun dari mimpi, ingat nak. Kita hidup di dunia nyata. Bukan seperti cerita-cerita Maya."

"Berkali-kali aku lamar dia Bu, tapi kenapa-kenapa malah memilih laki-laki lain."

"Kita tidak pernah mengetahui rencana Allah bukan?"

"Iya, Bu." Kurengkuh pundaknya, rasanya baru kemarin menimang-nimang sekarang sudah tumbuh menjadi pria dewasa.

Sebenarnya akupun tak kuasa melihat darah dagingku sampai putus asa seperti ini. Sampai terisak tak berdaya seperti itu. Semoga kamu bertemu wanita yang biak bagimu nak.

Tak berselang seminggu akhirnya Prihan memutuskan untuk pergi, tidak tanggung-tanggung ia berlari ke belahan bumi sana. Entah kenapa dia memilih Korea untuk meredam segala kesakitannya. Dengan berat hati aku mengijinkan dia. Berbagai pesan dan nasehat aku curahkan.

"Aku pamit Bu, maafkan aku harus berlari sejauh ini. Doakan anakmu agar sukses dan membahagiakan ibu."

"Ibu selalu mendoakanmu Nak, tak pernah luput dalam pinta. Jangan pergi lama-lama, lekaslah kembali jika hatimu telah sembuh."

"Iya Bu, terima kasih banyak." Jawab dia sembari meraih tanganku dan menciumnya. Kupeluk dengan sukacita penuh kekahwatiran.

Dia melangkah pergi, menuju mobil putih yang sudah terparkir di halaman sejak tadi. Memang benar beberapa kehilangan bukan tak tahu jalan pulang, hanya saja terkadang butuh sedikit pelarian. Untuk menyembuhkan segala luka yang mengangga.

***

"Ayo nak makan dulu, ibu sudah masak lotek kesukaanmu" rayuku setelah peristiwa isakan di dapur tadi. Dan sekarang anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan dengan suasana bahagia. Bangku yang selama ini selalu dibiarkan kosong sudah terisi kembali, pemiliknya telah kembali.

"Iya Ibu, terima kasih ya," ucapnya dengan tulus. Kuuangukan kepala dan menikmati makan dengan sangat lahap. Entah berapa ratus purnama aku tak merasakan betapa nikmatnya makan seperti ini.

Setelah sore menjelang aku duduk di kursi kayu depan rumah, memandang anak kecil yang berlarian di halaman. Menggemaskan. Tiba-tiba prihatin datang dan duduk disampingku. Membawa dua cangkir teh dan memberikan satu untukku.

"Terima kasih, Nak."

"Sama-sama ibu,"

"Bagaimana Han, dengan lukamu apakah sudah mengering sempurna?"

"Sepertinya sudah Bu, meskipun sering kali aku masih mengingatnya."

"Tidak apa, begitulah cinta, sejauh apapun kamu berlari untuk menyembuhkannya. Jika di dalam hatimu masih ada cinta tidak bakal berkurang sedikitpun perasaan itu. "

"Aku memutuskan memeluk semuanya Bu, biarlah waktu yang mengobatinya."

"Sudahlah Bu, sebenarnya dari tadi aku sudah pengen makan durian, baunya luar biasa. 4 tahun tidak merasakan buat paling nikmat itu."

Aku bergegas ke dapur dan mengambilnya, dan suamiku yang membuka. Betapa riuh suasana ruang makan ketika buah itu terlihat sempurna.

Senja ini, terlewat dengan sangat indah di rumah kami. Suasana riuh bahagia terpancar di wajah para pemiliknya. Terima kasih Tuhan telah mengembalikan cahaya untuk keluarga kami.