“Bunda… .bunda… .keren nggak bikinan aku? “Tanya fay yang berlari ke arah bundanya. Tak lama ia langsung menunjukkan proyek sekolah yang baru selesai dikerjakannya. “Wah bagus banget ini… kereen!” jawab ku ikut berbinar. 

Terlihat wajah fay berseri seri sumringah. Tak berselang lama saat ayahnya datang, fay pun langsung tak sabar menunjukan hasil karyanya kepada Ayah.

“Ayah coba lihat deh..ini aku bikin sendiri bagus kan? “Mata fay mencari kata pujian dari hasil kerajinanan yang dibuatnya. Tentu saja seorang ayah akan memuji apapun hasil yang dibuat oleh anak-anak. “Bagus sekali nak, fay hebat sudah mengerjakan sendiri, terima kasih ya nak“: Jawab ayah yang tak mau kalah juga menyemangati. 

Sontak fay pun berlari sambil tersenyum penuh kebanggaan. Seperti belum cukup pujian yang ia dapatkan, fay pun menanyakan hal yang sama kepada kakak kakaknya dirumah, seolah olah ingin meminta persetujuan lagi dari orang orang disekitarnya.

Pujian memang menyenangkan apalagi bagi anak anak. Pujian seperti hadiah yang dinanti saat kerja keras kita diapresiasi oleh orang lain. Pujian memang dibutuhkan untuk meningkatkan kepercayaan diri. 

Namun pernahkan berpikir bahwa pujian juga punya sisi yang melenakan. “Bukankah pujian pasti baik?”. Pujian memang bisa membuat siapa saja senang, tapi bagaimana jika pujian yang sering kita ucapkan justru akan membangun pola pikir yang tidak bertumbuh dalam diri anak?

Carol Dweck profesor psikologi dari Universitas Stanford melakukan penelitian mengenai “Praise and Mindset” . Ia melakukan test terhadap dua kelompok siswa dengan memberi seperangkat tantangan yang sama. Setelah menyelesaikan tantangannya masing-masing kelompok diberikan umpan balik (Umpan Balik). 

Kelompok pertama, umpan balik yang diberikan berupa pujian atas kepandaian mereka, mereka pintar dan penguasaan mereka terhadap materi tersebut sangat bagus. 

Sedangkan kelompok kedua diberikanlah umpan balik berupa pujian atas usaha yang mereka lakukan. Pujian yang diberikan lebih fokus pada kerja keras dan upaya mereka yang gigih. Lalu kedua kelompok ini diberikan lembar refleksi dan beberapa pertanyaan yang terkait dengan tugas selanjutnya.

Temuan yang menarik adalah mereka yang ada dikelompok pertama cenderung lebih memilih tugas selanjutnya dengan tingkat kesulitan yang rendah alias memilih tugas yang gampang di selesaikan, mereka menghindari tugas yang sulit karena takut melakukan kesalahan kesalahan. 

Kelompok pertama sangat peduli dengan perkataan orang lain tentang diri mereka sehingga mereka tidak mau mengambil risiko yag lebih tinggi. 

Sedangkan kelompok kedua, mereka justru menginginkan tantangan yang lebih, mereka lebih fokus untuk mencari strategi baru bila menghadapi kesulitan, mereka mengembangkan pola pikir yang bertumbuh. Fokus mereka bukan pujian orang lain tapi lebih pada upaya untuk pengembangan diri yang lebih baik lagi.

Studi ini juga pernah dilakukan pada sekelompok anak usia dini (Usia 5 - 6 tahun). Tantangannya adalah mereka diminta membuat sebuah gambar hewan. Fasilitator menunjukkan foto beberapa hewan kepada anak anak. 

Lalu mereka memilih 1 hewan dan menggambar sesuai dengan foto yang ada. Anak anak diberi kesempatan sebanyak 5 kali untuk mengembangkan gambar mereka. Disetiap kesempatan mereka diberi umpan balik secara khusus atas usaha dan kerja keras yang dilakukan dalam membuat gambar tersebut. 

Studi ini dilakukan dengan menghadirkan sebuah intervensi dari kelompok umpan balik yang sudah dikondisikan sebelumnya agar mereka memberikan pujian secara spesifik, didasarkan pada usaha anak menyelesaikannya dan dilakukan secara alami kepada tiap anak.

Hasil akhir dan pencapaian yang dicapai anak selama latihan ini sangat mengagumkan. Hasil akhir menunjukan adanya kualitas pengembangan gambar yang semakin bagus dan memperhatikan detail gambar yang lebih baik. Namun, yang lebih mengesankan lagi adalah perubahan suasana dalam kelompok. 

Anak anak menjadi terdorong untuk membantu memberikan bantuan kepada temannya yang lain sehingga kualitas gambar mereka terus menunjukkan perbaikan. Tidak ada komentar yang menjatuhkan atau menjelekan saat melihat gambar yang aneh namun cenderung untuk memperbaiki kualitas kelengkapan gambar  dari waktu ke waktu. 

Mereka tidak fokus membandingkan hasil karyanya dengan orang lain namun lebih berpusat pada peningkatan hasil kinerja mereka sendiri. Studi menemukan kepercayaan diri anak anak meningkat saat mereka di beri tantangan. 

Hasil penelitian memberikan informasi pada kita sebagai orangtua dan guru disekolah , selama ini kita kerap tanpa sadar memberikan umpan balik kepada anak anak atau siswa siswa disekolah hanya dari kepintarannya , kemampuan intelektualnya atau hanya hasil akhirnya saja. Ternyata ini membawa dampak yang cukup signifikan saat mempengaruhi pola pikirnya. 

Tak jarang selama proses belajar kita cenderung ingin cepat mendapatkan hasil yang terbaik tanpa memberikan apresiasi terhadap usahanya. Mungkin sesekali mereka bisa membuktikan kemampuannya tapi dilain waktu saat mendapatkan tantangan baru justru mereka lebih rentan dengan perubahan, alih alih bersememangat untuk tugas yang lebih menantang mereka cenderung menghindar, takut kesalahan kesalahan, tidak tahan terhadap kritikan dan komentar oranglain.

Anak anak atau siswa siswa yang mengasosiasikan pujian dengan kemampuan mereka cenderung terlalu peduli terhadap omongan orang lain. Mereka justru haus akan pujian dan terdorong untuk lebih fokus mendapatkan validasi dari lingkungan terhadap hasil akhir yang di kerjakannya. Artinya pujian menjadi satu satunya cara membangun citra diri mereka. 

Saat mendapatkan tantangan baru mereka cenderung menghindari kesulitan. Saat hasilnya kurang di apresiasi, mereka akan lebih mudah jatuh dan goyah. Kelak mereka tidak akan suka dengan umpan balik dan kritik yang tidak sesuai dengan harapan mereka.  

Mereka lebih suka percaya bahwa mereka sebaik apa yang dikatakan orang lain. Jika perlakuan ini berulang kali dan membentuk pola pikir yang stagnan, kita akan mendapati anak anak berkembang menjadi pribadi yang takut gagal dan takut memilih untuk tugas tugas baru yang lebih menantang kesulitannya. 

Bagaimana cara yang tepat memberikan umpan balik?

Daripada berkata “Kamu memang selalu pintar untuk pelajaran matematika, lebih baik mengatakan“ kamu bisa melakukan tugas ini karena kamu terus berusaha “. Atau hindari berkata “kamu memang juara menggambar dan pelajaran bahasa Inggris, lihat nilai kamu selalu di atas rata-rata“ kita bisa menggantinya dengan “bunda suka cara kamu terus belajar menggambar, kamu selalu fokus mencoba pola baru digambarmu, hebat sekali nak kamu tidak menyerah”. 

Saat anak kita menunjukan hasil karyanya atau apapun itu tambahkan juga pujian untuk usahanya “terima kasih yang Nak sudah berusaha. Kamu sudah mau mengerjakan sendiri, cari bahannya sendiri, kamu hebat karena mau menyelesaikannya “. 

Lain waktu kita bisa mengatakan : “kamu hebat nak, meski berat tapi kamu tidak mau menyerah bunda bangga dengan usahamu“, “meski belum berhasil, kamu sudah berusaha yang terbaik, masih banyak jalan dan cara untuk memulainya kembali “.

Pujian yang kita berikan bukan sekedar hasil akhir, tidak melulu karena kemampuannya tetapi lebih pada nilai usaha yang mereka lakukan untuk membangun dirinya.

Pujilah atas nilai usaha yang mereka lakukan sehingga mendorong mereka terus mencari berbagai alternatif pemecahan masalah. Hal ini mendorong hasrat belajar yang berkesinambungan bukan karena ingin mendapat nilai bagus atau terlihat keren dan pintar tetapi karena kebutuhan mereka akan belajar ini sendiri. 

Pujian atas usaha yang dilakukannya akan mendorong keingintahuan atau rasa penasarannya untuk terus mencoba meski mengalami kegagalan berkali-kali. Pujian yang dilakukan dengan tepat mendorong anak anak dan siswa siswa untuk belajar bahwa kesalahan adalah suatu proses pembelajaran yang menumbuhkan pola pikir yang terus berkembang.

Mereka akan mengembangkan citra diri yang postif dan sehat karena nilai diri yang mereka bangun tidak tergantung dari persetujuan orang lain. Setiap anak yang mengembangan pola pikir bertumbuh percaya bahwa kemampuan mereka terus berkembang seiring dengan usaha dan kerja keras yang mereka lakukan. 

Pujian yang tepat  menjadikan anak-anak mencintai proses belajar sepanjang hidupnya. Pujian atas kinerjanya juga bukan sekedar mencari kepuasan sementara namun berani mengambil tindakan yang lebih jauh atas kemajuan belajarnya sendiri.

Pandemi membawa kita semua dikondisi yang tidak pernah terbayangkan  sebelumnya . Pembelajaran jarak jauh adalah adaptasi belajar yang dilakukan oleh kita semua. Hal yang tidak mudah namun harus terus kita jalani dari hari ke hari. Apalagi buat anak yang dunianya penuh bermain dan kesenangan.  

Jangan lewatkan untuk tetap memberikan apresiasi untuk para siswa dan anak anak kita yang telah berusaha untuk tetap mengikuti pembelajaran dengan segala dinamikanya.

Puiian yang tampak baik dan menyenangkan dimata kita dan para siswa bisa punya dampak yang besar terhadap pola pikir dan cara mereka memandang dirinya sendiri.

Apalagi jika kata kata negatif yang kita ucapkan dan kita labelkan ke mereka dalam hidupnya maka akan semakin berdampak yang lebih buruk terhadap perkembangan jiwanya. Sekecil apapun kemajuan yang dibuatnya jangan lupa untuk memuji usahanya. 

Hal kecil dan sederhana seperti pujian bisa membawa perbedaan yang besar saat kita paham cara melakukannya. Selamat mencoba, jangan lelah mendampingi proses tumbuh kembangnya buah hati kita. Jadilah orangtua dan guru pembelajar!