Mahasiswa
1 bulan lalu · 177 view · 3 min baca menit baca · Puisi 27637_70003.jpg

Puisi Tentang Hidup

Para pencari Tuhan.

Jika kau memohon kepada langit, maka kekosongan adalah jawabannya. Tidaksemuayang tak terlihat itu adalah tiada, dan tidak semua yang tak terdengar itu adalah bisu.

Hari ini kau menanam mustahil esok kau akan panen. Hidup ini adalah sebuah proses.

Manusia..

Terlalu banyak versi yang kau buat untuk mencari jejakNya. Padahal yang kau temukan hanyalah kekosongan dan keraguan.

Lihatlah matahari, bagaimana mungkin cahayanya bisa tumpah ke perut bumi? Dan lalu semua makhluk bersimpuh ruah, berkerumunan seakan tengah berebut untuk memungut serpihan dan butiran cahayanya yang jatuh?

Siapakah yang menjadikan mendung dan petir yang menggelegar? Lalu diganti pula dengan air hujan dan pelangi. Manusia, kau adalah penghianat.

Dulu kau tak mau terlahir, tetapi setelah itu kau bersikeras untuk tidak mau mati.


Angan

Kau dan aku,

Adalah dua jarum jam yang berputar di dinding. Yang bergerak lembut untuk memerankan tugas sebagai juru waktu yang abadi,

Meski realitanya kita hidup dalam satu bingkai kehidupan yang sama, teramat dekat, namun selamanya kita tidak akan pernah bisa menyatu dalam waktu yang lama.

Selamanya kita berdua akan hidup dan tumbuh dalam ruang rindu yang abadi, seperti bulan yang merindukan mataharinya.


Ratapan kebodohan

Jeritan nya luput di gusur angin, lenyap menghilang bersama pekikan langit,

Dari sini, seorang lelaki menyeret tubuh lusuhnya, Berjalan, menilik remang-remang cahaya bintang di celah-celah hujan yang jatuh.

Apakah dia tahu?

Sejuta kalimat tanya membelenggu jasadnya. Bersimbah luka dikuyup perihnya air mata ratap,

Andai saja kau melihatku,

Kala itu duka akan mengutuk mu, merunut kenangan silam, itulah aku yang begitu bodoh,

Pernah mengharapkanmu, dulu.


RINDU

Adalah sungai yang mengalir,

Tidak akan pernah jeda sebelum bermuara..

Tahukah kau, kekasih?

Ujung rindu adalah temu?

Kalutan di hati tak akan pernah berakhir sebagaimanahausnya bumi ini yang menunggu hujan..

Ketika pertemuan itu tiba, dasar hatimu akan subur kembali, bagaikan unta gurun yang meneguk cawan emas, ditumbuhi oleh bunga-bunga yang harum mewangi..

Mengusir pergi sang kemarau panjang yang membawa debu, kaubtak perlu sungkam untuk bercerita, karena telinga sang penguasa sudah berada di mulutmu..

Ceritakan, ungkapkan. Kejujuranmu adalah sebuah cinta..


SEORANG PENGAGUMMU

Tahukah kau?

Kekasih..

Entahlah, siapakah makhluk tuhanmu yang selalu meratap kepada waktu?

Lembaran demi lembaran di buku ini telah kubedah..

Kutelusuri jauh, hingga ke batas lorongnya yang sempit,

Sungguh yang ada hanyalah ribuan bait yang tak bermakna..

Tak ada satupun yang kutemui..

Mungkin aku?

Adalah seorang pengagum mu yang selalu bercerita kepada sunyi?

Seorang pendamba mu yang selalu mengadu kepada Tuhan?

Bertilan rindu, berselimut rapuh?

Benar, dia seperti musafir gurun yang meneriakkan bintang kepada langit..

Memuji ayu kepada sang Dewi malam..

Meski robek mulutnya,

Hancur jiwanya,

Sang cahaya akan selalu diam di balik awan,

Membisu tanpa sahutan,

Dan mengucilkan nya tanpa jawaban..




Kecewa

Lamunan malamku berakhir dikala ronaan fajar datang menyapa,

Indah cahayamu telah mewarnai butanya mataku..

Bagaikan terhempas badai di hamparan samudera,

Engkaulah serpihan kapal yang aku naungi..

Seperti rintik hujan kasihmu

Meyirami dunia yang telah lama kehausan

Lalu menumbuhkan tumbuhan dengan amat subur

Hingga mengakar panjang sampai  ke jantung  bumi

Larian kuda perang suara nafasmu

Kerasnya baja adalah jiwamu

Namun putih dan sucinya

Ketulusan hatimu bagai sang surya

Sejuta impian telah kususun rapi

Bersamamu aku hidup

Serta menabur angan bagai lentera kecil

Yang menyala digelapnya malam

Hingga angin datang memadamkannya

Kau seperti bayup senja yang lenyap  diterpa gelap,

Kedua wali mu tak menyukainya

Ternyata kita bukanlah sepasang  bulan dan bintang yang selalu bersama

Kini aku terkubur dalam,

Tertimbun oleh sebait harapan

Dan terinjak-injak oleh sejuta angan,

Yang tersisa hanyalah goresan luka yang amat menyakitkan


Sang Pengagum Rahasia

Disuatu waktu ketika rasa itu telah menjelma, tidak lagi aku membendungnya dalam diam yang berkepanjangan,

Telah lama waktu kita berlalu, terbuang begitu saja bagai bulir-bulir hujan yang jatuh di tempat yang salah.

Jika saja duka ini memiliki jasad, kau akan mendapatinya menangis, meraung-raung bagai alpa gurun yang memanggil nama sang kekasih.

Kau yang se-anggun rembulan malam, yang menjadi penawan mata bagi setiap perindu yang bisu, cobalah memahami isyarat bisu ini dengan getaran hati.

Adakah sedikit ruang untukku bertamu?


Kesatria Cinta

Usahlah menjerit, sembunyikan lukamu.

Timbunlah luka itu dengan pembalut putih..

Bersabarlah..

Jika bendungannya runtuh, maka warnanya akan merah. Pada saat itu, sebenarnya Dia melihatmu.

Dia tersenyum kepadamu.

Teramat dekat, Dia bahkan jauh lebih dekat daripada urat nadimu yang berdenyup.

Kau begitu istimewa bagiNya.

Seperti rembulan yang bercahaya terang dihadapan jutaan bintang..

Tersenyumlah,

Jadilah seperti pelangi yang bersembunyi indah dibalik mendung..

Kau adalah seorang keaatria,

Yang menjaga bidadarinya dengan syair-syair doa..

Artikel Terkait