Pada senja yang terangkai indah
Seindah warna pelangi sehabis hujan.

Aku setubuhi kanfas putih ini dengan sperma hitam tintah pena ini.
Biar terlahirlah sebuah pusi, puisi pilu.

Sepilu hati sang kekasih yang tengah merindukan sang belaian jiwa.
Bukankah aksara-aksara mati yang tercipta
adalah lambang dari hati yang sedang pilu.

Ya, yang pasti kamu juga setuju dan sependapat dengan diriku,
sebab tanda yang muncul selalu menandakan sesuatu yang tersembunyi.
Demikian juga dengan puisi ini, tercipta bukan tanpa sebab.
Yang pasti sebabnya adalah kamu, ya kamu yang selalu aku rindukan.


Siapa yang Disalahkan

Apakah aku harus menyalahkan waktu
Yang telah mempertemukan kita.

Apakah aku harus menyalahkan perasaan
Yang telah menyatukan kita dua insan berbeda.

Apakah aku harus menyalahkan cita-cita
Yang telah memisahkan kita.

Apakah aku harus menyalahkan jarak
Yang telah membuat kita menjalani hubungan jarak jauh.
Entalah, aku bingung siapa yang harus disalahkan.


Xaveria

Maafkan perasaanku yang telah menyukai dan jatuh cinta pada dirimu.
Maafkan hati ini yang selalu merasa hampa di saat kau pergi.

Maafkan mulut ini yang terlanjur mengungkapkan “aku suka kamu”.
Maafkan aku yang selalu menggunakan dirimu menjadi objek dalam lamunanku.

Maafkan aku yang selalu merindukan senyum, canda, tawa dan semua tentang dirimu. Maaf dan maaf untuk semuanya.

Jujur aku salah karena membuat dirimu merasa tidak nyaman dengan semua yang aku lakukan.
Tetapi aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyukaimu dan jatuh cinta padamu.

Xaveria, mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersama selamanya
tetapi aku berharap
kau tidak pernah melupakan kenangan yang kita rajut walau hanya sesaat saja.


Dunia Kita Berbeda

Aku tidak berbohong kalau aku mencintaimu
Hal itu tidak bisa kuingkari.
Karena itulah kodaratku
Terlahir untuk dicintai dan mencintai.

Tetapi aku menyadari kalau dunia kita berbeda.
Ketika aku hanya mencintai dirimu seorang berarti aku egois
Aku telah melanggar hakikat cinta dalam duniaku
Di mana aku harus mencintai semua orang.

Mungkin dalam duniamu
Mencintai semua orang itu bukan cinta sejati
Namun dalam duniaku
Itulah hakikat cinta sejati.

Biarkan aku mencintaimu seperti aku mencintai semua orang
Sebab dunia kita berbeda.


Merindukan Dirimu

Menghindar dari dirimu bukan karena aku
membeci, marah, jengkel, tak suka dan tak mencintaimu lagi.

Aku memilih menghindar dari hadapanmu
Sebab ketika aku berada didekatmu dan ada bersamamu
Aku tak mampu menahan rasa rindu ini
Rindu untuk memeluk dan mencium dirimu.

Inilah alasan kenapa aku selalu menghindar dari dirimu
Mungkin pilihan ini berat bagimu,
Tetapi inilah pilihan yang terpaksa aku pilih
Untuk meredahkan rasa rindu ini pada dirimu.


Apakah Aku Salah Tuhan

Tuhan, aku bersyukur kepadaMu
karena Kau mengaruniakan aku perasaan cinta
sehingga aku sanggup mencintai Engkau juga sesamaku.

Tuhan, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia.
Perasaan cinta yang Engkau berikan ini,
Terkadang membuat aku bungung, takut, kecewa dan putus asa.

Karena aku tak mampu mencintai sesamaku
dengan kadar cinta yang sama sesuai kehendakMu.
Egoku terlalu besar sehingga aku cendrung mencintai seseorang saja.

Tuhan, apakah aku salah
Jika aku hanya mencintai seorang saja secara khusus?


Penyesalan

Jika sejak awal
Aku tahu siapa kamu sebenarnya
Mungkin aku tidak akan membuka setitik celah di hatiku
Tuk kau semikian benih cintamu.

Tetapi, semua telah terlanjur
Semua telah terjadi.

Aku terhanyut dalam kata-kata manismu, rayuan gombal dan semua perhatianmu
Aku terpesona oleh parasmu yang ayu dan jelita
Aku terlanjut jatuh cinta kepadamu.

Kini, kau telah pergi
Pergi dan meninggalkan goresan luka dan duka.

Luka dan duka dalam hatiku
Karena terlalu berharap kau akan kembali
Tuk menyirami dan merawat benih cinta yang telah kau taburkan.


Kopi dan Senyum Manismu

Kembali kau suguhkan secangkir kopi hangat senja ini dihadapanku.
Berkali-kali kuteguk kopi ini
Namun kopi ini terasa tawar.

Apakah kau tidak campurkan gula pada kopi ini
Ataukah lidahku telah mati rasa
Sehingga kopi ini terasa tawar.

Tidak… lidahku masi normal sebab aku masi bisa merasakan pahitnya hidup ini
Apa mungkin kau sengaja tidak menaburkan gula pada secangkir kopi hangat ini
Dan kau memutuskan untuk menggantikannya dengan senyum manismu
Ah… mungkin.

Jogjakarta, Sudut Gang Bias, Gadingan