Mahasiswa
4 minggu lalu · 105 view · 3 min baca menit baca · Puisi 46835_92676.jpg

Puisi Luka

Bulan

Sungguh aku ingin melihat bulan,
Tak usah tanyakan mengapa?

Wahai bulan..
Gaun-mu begitu indah di balik sangsana rindu..
Ukiran sang penguasa membuatmu di puja sang semesta..

Wahai bulan..
Sepi langit tanpamu..
Sungguh auramu terhela di sisi sendu..

Wahai bulan..
Sang laut malam dekap kau tenang di dasarnya..
Bawalah aku kesana dimana cahaya mu bersinar..
Biarlah pedihku mengarungi bersama malam mu..


Berdalihlah

Jejaki keyakinan itu, seperti halnya kau jejaki cinta
Peduli itu merangkul, dendam itu benci

Iya, kaupun tahu itu,
Tapi apakah makna untukmu?
Sedangkan cahaya padamu, kau singkirkan?
Karena kau tersesat dalam dendam,
Dan kau menari dengan bayangan hitam,
Yang tak kau lihat, namun selalu kau rangkul

Cobalah kau pahami di setiap sudut kehidupan,
Terkadang membalik-kan otakmu,
Yang dulunya kau selalu tersenyum,

Kini hanya murungan rasa..
Beranjaklah untuk jasadmu...


Sadarlah

Kadang kau salahkan duri,
Yang menikam di kakimu..
Padahal kau sendiri yang menginjak nya..
Kau-pun tahu api itu membakar kulitmu,
Mengapa masih kau genggam?

Wahai manusia..
Sesungguhnya yang hina itu sudah jelas,
Mengapa kau ikuti langkahnya?
Tak demikian rontaanmu itu, buruk di pandang..
Ada saja seonggok daging,
Suka dengan tingkahmu..

Berharaplah perhatian itu jauh dari dirimu..
Kecuali perhatian dari sang penguasa semesta,
Cukuplah dengan sadari kekurangan diri,
Menjadi kesempurnaan untukmu..
Dengki hatimu hanya mebawa sesalan,
Yang begitu berat, kelak..


Ujung jalan

Telaga manis diwajah itu, dahulu pernah tersenyum menatapku di sela-sela bangku sekolah yang penuh dengan coretan tinta hitam. Kelam, jiwaku sempat tenggelam di dalamnya, namun hatiku berkata "Kau bukanlah Tempatku!

Beningmu yang suci tak layak jika bercampur-baur dengan warnaku yang kotor, bertinta hitam dan kelam. Itu hanyalah akan merusak keanggunan mu." Dari sinilah peran sang waktu dimulai. Dengannya kita hidup dan mati, dengannya pula semua akan datang dan pergi.

Oh waktu, dia banyak menyaksikan dunia. Menyaksikanku yang terasing jauh hingga ke-negeri tetangga, dan melihatmu yang gigih terbawa ke jantung kota kita yang indah. Kini, kau telah berada di ujung jembatan, sementara aku baru saja mulai melangkah.


Restuku

Sebenarnya ku tahu, saban hari kesempatanku ini semakin menipis. Mendapatkanmu kembali adalah seperti membangun mimpi dalam ilusiku saat terjaga. Mataku sembab dalam tangis. Sendu jiwaku telah lama mengaum dalam bisu ratap, harap ku tak pernah terwujud.

Itulah buah hayal dan angan yang terkadang memang malu untuk kuceritakan. Kelak, jika hari pernikahanmu benar-benar telah tiba, aku akan datang dengan jubah seorang tamu.

Meski jutaan rasaku ini melarangnya, palum hati sesak bagai tertikam pedang, namun aku akan tetap datang dengan membawa sebuah penghormatan.


Penantian Semu

Memaki lautan yang luas ombak-ombak berlarian menertawai ku yang berdiri kaku menatap langit jauh, gelap gulita tiada bercahaya bintang gemintang nampa meredup..

Angin berlalu-lalang mengibaskan rambut menghempaskan dedaunan layu berguguran entah kemana, aku sendiri melamuni malam fantasi ini sungguh menyiksa..

Aku menunggu, sesuatu yang buram tak terlihat hingga di penghujung malam yang dingin oleh renyai-renyai hujan berjatuhan lembut menyerang bumi, Aku tetap bertahan.

“Oh angin, sampaikan cinta ini..”

Senandungku menjerit, melukiskan  gundah gulana di dasar kalbu dengan tinta air bening.

Sayangnya tiada yang menyimak, tiada yang mendengar.

“Hanya Aku sendiri”.


Bersyukurlah

Jalanilah..
Walau terkadang kakimu ingkar..
Tak sejalan dengan otakmu,
Tak sesuai dengan hatimu,
Dan sealur dengan arahmu..
Bukan berarti itu salah..
Apakah kau tahu?
Bahwa kapas yang terbuang di seret anginpun,
Juga tak pernah mengharapkan nasibnya demikian?
Namun,,
Ternyata dugaan seringkali bedusta..
Dan kenyataan seringkali menggemparkan semesta..
Diantara mereka juga banyak yang tersenyum ketika mengudara..
Menjalani kenyataan hidup yang justru lebih manis dari pada dugaan seorang pengecut..
Bersyukurlah di atas takdirnya,,
Karena hidup adalah perjalanan...


Air mata

Seorangsering menyapuku..

Kadang aku hanya selingan, kadang aku tak dihiraukan

Aku sering mengikuti hati, apa yang dia rasa?
Tak mau aku berlama di dalam naungan kelam,
Di tangan mereka aku sebentar, sembari terbuang..
Aku sebuah makna kepedihan,
Aku sebuah makna kenangan,
Aku sebuah makna bahagia,
Aku sebuah makna perjuangan..
Aku adalah makna kasih sayang..
Aku hanya diam, menunggu sang raja mengusirku jauh
Ah, memang itulah aku..
Tak seberat perasaan..
Tak seberat lidah ucapkan kata semata,
Sebanyak apapun tetes hujan,
Tak bisa mengalahkan aku..
Kadang aku hanya menyaksikannya bersama sang raja yang meratap.


Dalam Diam

Kepada sang waktu yang enggan berbicara, bisumu adalah tafsiranku, sunyimu adalah pertanyaanku, dan lukamu adalah kecemasanku.

Aku ingin berdiri di padang tandus yang luas, gersang dan kekosongan adalah guruku.

Aku akan belajar, terus menerus bersama kesunyian walaupun kepergian angin tak meninggalkan bekas untuk petunjuk.

Memahami diammu adalah kesabaranku. Menafsirkan bahasa hatimu adalah hayalanku.

Artikel Terkait