Mahasiswa
1 bulan lalu · 115 view · 3 min baca · Budaya 13518_34308.jpg
Foto: Pixabay

PUEBI yang Liberal

Beberapa waktu yang lalu pernah ribut di jagad maya khususnya di fanpage media sosial ataupun di belantara WAG tentang transliterasi lafaz insyaAllah. Penulisan dengan berbagai varian seperti inshaAllooh, insyaalloh, ataupun inshaAllah akhirnya berkembang menjadi debat kusir yang tak berujung. 

Ada yang songong bersikeras dengan pedoman lafaz ala Arab yang ketat dengan makharijul harfun-nya. Adapula yang santai-santai saja dengan penulisan apa adanya sesuai logat lokalan seperti insaaAuwwoh.

Wacana berkembang hingga nyaris menjadi arena dan ajang takfiri, sungguh lebay. Ada yang beralasan takut dosa salah eja atau salah penulisan. Ada pula yang bergaya sok disiplin super ketat ala tajwid

Bagi yang paham hanya nyengir kuda saja. Bagi mereka yang berpolemik sebagian mengatakan bahwa makna kata bahasa Arab akan berubah jika satu huruf saja ditulis berbeda. Tentu, jika kita berbicara dalam kapasitas bahasa Arab. Berbeda lagi jika masuk kawasan bahasa Indonesia.

Seharusnya sadar bahwa kita hidup dan berbahasa di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Artinya paling tidak sudah menyadari konsep liberalisme bahasa yang dikenal dengan istilah arbitrer, manasuka. 

Termasuk dalam hal urusan penulisan formal atau yang menghendaki syarat dan ketentuan maka hukumnya wajib menaati aturan dan kaidah yang berlaku. Sedang untuk komunikasi informal, sah-sah saja sekehendakmu, yang penting komunikatif. 


Bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer akan terus dan selalu berkembang. Bersifat arbitrer bukan berarti bebas tak terkendali. Arbitrer adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya. Artinya harus lewat kesepakatan dulu. 

Sifat arbitrer bahasa didukung oleh sifat lainnya yaitu konvensional. Yaitu sebuah pandangan atau anggapan bahwa kata-kata sebagai penanda tidak memiliki hubungan intrinsik atau inheren dengan objek, tetapi berdasarkan kebiasaan, kesepakatan atau persetujuan masyarakat yang didahului pembentukan secara arbitrer. 

Jadi tahapan sebuah lafaz adalah manasuka yang liberal atau arbitrer, kemudian hasilnya disepakati atau mengalami proses konvensi, serta berakhir menjadi sebuah konsep yang terbagi bersama (socially shared concept).

Sederhanya sebagi contoh hubungan antara lafaz dan wujud bendanya yang didasarkan pada permufakatan antara pengguna bahasa masyarakat yang bersangkutan seperti bunyi “anjing” dengan rujukannya yaitu seekor binatang mamalia berkaki empat, berekor, dan suka menggonggong.

Bahasa selain bersifat arbitrer juga merupakan sebuah sistem yang teratur dan berpola yang membentuk kesatuan. Tentunya juga bermakna dan berdayafungsi. Ia terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang teratur serta bersifat sistematis dan sistemis. Dalam hal ini bahasa mempunyai aturan ejaan, penulisan, pengucapan dan transliterasi.

Permasalahan timbul ketika tidak bisa membedakan mana transliterasi dan mana serapan. Sedang mengenai ketetapan arti, sebuah kata hanyalah bunyi yang dipilih secara acak oleh penutur bahasa bersangkutan untuk melambangkan arti yang terdapat dalam diri penutur. 

Dengan kata lain arti tidak terdapat pada kata, melainkan pada diri kita sebagai penutur bahasa. Oleh karena itu tidak perlu mempermasalahkan lafaz.

Kata-kata seperti jumat, ustaz, azan, salat, ramadan, musala, asalamualaikum, takjil, kabul dan kalbu adalah kata serapan. Artinya tidak perlu sesuai makharijul harfun karena sudah sempurna diserap atau dengan kata lain telah menjadi kata serapan sempurna dan tidak perlu juga dicetak miring dalam penulisannya. Sedang pengucapannya sesuaikan dengan kemampuan bilabial, palatal, dental, dan glotal alat ucap anda.

Berbeda dengan kata yang merupakan transliterasi seperti kata makharijul harfun, ia ditulis cetak miring dan harus sesuai dengan Pedoman Transliterasi Arab-Latin SKB Menteri Agama Republik Indonesia dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158 Tahun 1987 dan Nomor: 0543b/U/1987.


Mari sedikit kita bedah tentang transliterasi Arab-Latin tersebut. Bahasa Indonesia sejak Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) hingga Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) hanya memiliki empat gabungan konsonan yang masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan yaitu: (kh), (ng), (ny), dan (sy). 

Dengan aturan di atas maka gabungan konsonan di luarnya tidak berlaku. Jadi gabungan konsonan (sh) misal pada kata shalat, (dz) pada dzikir, dan (dh) pada ramadhan jelas tidak bisa digunakan di dalam penulisan standar dan formal. 

Bahasa Indonesia juga tidak mengenal pengulangan atau penekanan huruf yang ber-tasydid, seperti kata Dzulhijjah, Syawwal, sunnah, tayammum, dan ummat. Penulisan kata-kata tersebut harus kita cek dulu apakah sudah masuk kata serapan yang sempurna atau perlu transliterasi. 

Hal signifikan lainnya adalah penggunan tanda apostrof untuk mewakili huruf "ain" dalam bahasa arab. Kata "doa" ditulis tanpa apostrof, karena sejak EYD hingga PUEBI, huruf "ain" di akhir suku kata menjadi huruf (a). 

Sehingga di dalam bahasa Indonesia tanda apostrof benar-benar tidak difungsikan untuk transliterasi Arab-Latin. Jadi kata “doa” ditulis tanpa apostrof dan tidak pula dicetak miring karena sudah merupakan kata serapan yang sempurna. Dia bukan kata asing lagi yang perlu ditransliterasikan. Jadi perlakukan dia sebagai bahasa Indonesia.

Disinilah diperlukan kesadaran dan pengetahuan yang paripurna agar kita dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Tidak dengan pandangan apriori yang bisa menciptakan kekerasan berbahasa yang sektarian dan hantam kromo.

Artikel Terkait