Bintang sepak bola asal Portugal sekaligus mantan megabintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, tengah menjadi perbincangan di dunia sepak bola. Bagaimana tidak, pesepak bola bernama lengkap Cristiano Ronaldo Dos Santos Aveiro tersebut baru mengemas tujuh gol dan satu assist dari dua belas pertandingan musim ini.

Menurunnya performa Ronaldo sebenarnya sudah terlihat sejak kepindahannya ke Juventus pada awal musim lalu. Berbekal lima gelar Liga Champions, Ronaldo digadang-gadang akan menjadi megabintang Serie A setelah sebelumnya berhasil menjaga dominasi La Liga bersama Real Madrid selama hampir satu dekade.

Sebenarnya torehan gol yang telah diraih Ronaldo musim ini bukanlah catatan yang buruk bagi seorang striker, tapi tidak demikian dengan Ronaldo. Ronaldo sudah identik dengan gelontoran gol-gol yang melimpah, terutama sejak ia bergabung Real Madrid. Rasanya sangat asing ketika melihat Ronaldo hanya mencetak beberapa gol dalam satu musim.

Kebiasaan Ronaldo mendominasi peran di klub saat ini mulai tergeser menyusul cemerlangnya Paulo Dybala. Nyaris dilepas di awal musim, Paulo Dybala kini menjelma menjadi pemain yang dapat diandalkan di lini depan Juventus. Musim ini, ia telah membukukan empat gol dan satu assist dari tiga belas laga yang telah ia lakoni.

Striker asal Argentina tersebut kini sedikit mendapatkan angin segar setelah beberapa kali diturunkan oleh Maurizio Sarri di beberapa pertandingan. Hasilnya, beberapa kali ia berhasil membawa Juventus ke jalur kemenangan.

Seperti saat menghadapi Lokomotiv Moskow diajang Liga Champions, Dybala berhasil mencetak gol spektakuler dari tendangan bebas. Saat itu, ia masuk menggantikan Ronaldo di babak kedua. Tak berhenti sampai di sana, Dybala kembali menjadi penentu pada pertandingan kontra AC Milan setelah masuk menggantikan Ronaldo.

Pengaruh Ronaldo di Juventus sangat berbeda dengan saat ia membela klub- klub besar lainnya. Saat di Spanyol saja, Ronaldo berhasil mengantarkan Real Madrid menjuarai Liga Champions sebanyak empat kali. Selain itu, ia juga berhasil menjadi top score di ajang yang sama sebanyak tujuh kali.

Sangat dini ketika menurunnya performa Ronaldo dikaitkan dengan usianya kini yang sudah menginjak 34 tahun. Di level negara, Ronaldo masih menjadi andalan timnas Portugal di lini serang bersama Bernardo Silva. Terakhir, ia berhasil mencetak hat-trick pada ajang kualifikasi Euro 2020.

Menurunnya performa Ronaldo di Juventus musim ini bukanlah hal yang biasa. Pasalnya, Juventus telah mengeluarkan dana yang tak sedikit kala membawanya ke Allianz Arena dari Real Madrid. Nyonya Tua menggelontorkan dana sebanyak 100 juta euro (Rp1,58 triliun) dan memberikan gaji sebanyak 31 juta euro (Rp490 miliar) musim ini.

Keadaan ini memancing beberapa legenda sepak bola untuk berkomentar. Setelah sebelumnya Fabio Capello, kini giliran mantan pemain Juventus, Jose Altafini. Altafini merupakan mantan pemain Juventus pada kisaran tahun 1972 hingga 1976.

“Memang benar bahwa Cristiano masih menciptakan banyak peluang untuk mencetak gol. Ronaldo menikmati permainan di kotak penalti ketika bola diarahkan kepadanya. Tetapi kenyataannya adalah dia tidak mampu lagi untuk melewati lawan lagi. Capello benar,” ungkap Altafini dikutip dari Marca.

Tentunya penurunan performa Ronaldo dipengaruhi oleh banyak faktor. Saat berseragam Real Madrid, Zinedine Zidane mengarahkan anak asuhnya untuk lebih banyak memberikan bola kepada Ronaldo. Hasilnya, Real Madrid berhasil meraih tiga gelar UCL secara berturut-turut.

Kerja sama ciamik Modric dan Kroos di lini tengah juga menjadi nilai plus untuk membantu Ronaldo berhasil mencetak banyak gol. Selain itu, posisi Ronaldo yang tak tergantikan membuatnya memiliki banyak peluang untuk membobol gawang lawan.

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Maurizio Sarri di Juventus. Ia tak mau terpengaruh dengan nama besar Ronaldo dengan tidak terlalu mengandalkannya. Ia tak segan untuk mengganti pemain berjuluk CR7 tersebut di tengah pertandingan saat timnya membutuhkan kemenangan.

Hasilnya, beberapa kali Juventus berhasil memenangkan pertandingan setelah Sarri menggunakan strategi andalannya, yakni mengganti Ronaldo dengan Dybala. Semua pemain seolah sama di mata Sarri, tak terkecuali Ronaldo.

Saat ini, Ronaldo hanya membutuhkan menit bermain yang banyak untuk kembali ke performa terbaiknya. Namun hal ini tentunya tak mudah mengingat performa Dybala yang makin melonjak di beberapa pertandingan terakhir.

Keadaan ini bisa saja berlanjut hingga akhir-akhir musim bahkan hingga musim depan jika tak ada perubahan di skuad Juventus. Usia Ronaldo yang sudah makin menua tentu tak mudah untuk bersaing dengan Dybala yang masih tergolong muda.

Namun Ronaldo bisa saja kembali menjadi andalan di lini serang Juventus jika ada pergantian kursi kepelatihan di skuad Juventus. Hal ini bukan sesuatu yang mustahil jika Juventus sampai gagal meraih gelar Serie A yang saat ini masih ditempel ketat oleh Inter Milan.

Selain itu, tren memecat pelatih setelah gagal meraih tropi juga tengah marak di industri sepak bola Eropa. Terakhir, Mauricio Pocettino harus melepaskan kursi kepelatihannya setelah gagal membawa Tottenham meraih tropi UCL musim lalu.