Laki-laki kecil lepas mencari tahu bagaimana purnama digeser matahari, tetapi senyap menemukannya menggerayangi silinder. Sebagaimana transisi gulita ke benderang dapat mengekang pilu yang demikian? Runtutan lafaz nafas tak beraturan, padahal bisa sekali membuat cemburu.

Perasaan kian mapan kepekaannya. Namun, seperti yang terjadi pada sebagian orang yang khusyuk dalam kesendirian, fasik tetapi berendah hati, kepalsuan selalu membuntutimu. Kepalsuan, tak akan bertemu dengan yang membaikkan, sebab ia adalah ketidakjujuran. Ya, ya....

Berubah-ubah kita ini, dan sekarang sedang menjadi penghujat menjangkau-jangkau mega gelap di waktu ruku'. Laki laki dan perempuan, apa bedanya kita dengan sekuntum mawar yang gemetar karena kejatuhan setetes embun?

Perbandingan itu punya tujuan membaikkan, bukan saling mencela untuk menang atau saling mematikan, jika dengan memandang bisa meremukkan satu sendi, maka engkau sudah nyaris membuatnya lumpuh, padahal ia belum sempat mengetahui setiap fungsi dari tubuhnya, atau memahami engkau yang sebenarnya sedang membantunya belajar berlari.

Ideal mengapa harus ada pilihan? Mengapa manusia harus memilih? Pencipta membekali manusia dengan rasio, rasa, dan daya.ketiganya adalah pembeda, agar manusia paham atas rentang dan kesenjangan dari setiap hal yang ditemuinya.

Melihat, mendengar, menimbang, dan meluapkan responnya terhadap keindahan dan kekerasan yang punya posisi dan porsinya sendiri.yang tersial adalah mengutuk akibat dari pilihannya. Kekeliruan atau perbuatan yang tidak baik yang membuatmu menyesal lebih baik disisi Allah lebih baik dibandingkan perbuatan baik yang menjadikanmu bangga (Ali bin Abu thalib).

Kalau sifat alamiah makhluk hidup menuntut ia berorientasi pada kenyamanan, menemukan yang lebih menyamankan, mestinya sama kata Kant, kalau manusia ditelanjangi dari segala perlindungan, dan secara sistematik dinodai serta direndahkan martabatnya, dijadkan alat dalam arti yang paling ekstrem, dan kemudian dalam keputusasaan yang mendalam ia mendapati dirinya bahwa mungkinkah ia bebas setidak-tidaknya.

Proses sintesis agregasi dari akomodasi kepentingan belaka, artikulasi kepentingan sektoral yang berkedok kehendak umum untuk demos alias rakyat, sebagai antibentuk dikemas rapi oleh kelompok-kelompok penguasa, membuat rakyat semakin diasingkan dari dirinya sendiri lalu sengaja dikosongkan dan terganjilkan sehingga tidak akan pernah dapat beropini.

Pun rakyat akan acuh karena malas dengan terlalunya untuk apa pun, percaya hanya ada keadaan hal-hal tertentu yang patut untuk dirajini sesekali, karena kecenderungan bawaan lahir untuk tidak peduli dengan kelumrahan-kelumrahan. Jadi, kekecewaan berbanding lurus dengan jumlah detail yang terpahami dari tabiat manusia. Contoh dari salah satu makna Kamuflase adalah interaksi palsu atau sebut saja interaksi made in China juga interaksi yang tidak sehat.

Seni mengelola kemajemukan jika kebersamaan dinafikan dengan pengabaian penguasa marjinalisasi. Pengasingan, dikotomi hak, pemerintah ini tidak memberi apa-apa, dalih dengan pesan-pesan membangun yang mengikat konten iklan kemajemukan tapi tindakan berbalik memarjinalkan minoritas, etnis. Fragmentasi pengelompokan strata kelas-kelas ekonomi.

Seni merawat ketaksepakatan waras demi melestarikan baku kritik dan kontrol yang penting bagi dinamika rekonstruktif diri merupakan seni hidup berdamai dengan antagonisme dan konflik. Keep fidelity. Di antara utopis dan realistis atau fleksibel, kerja keras tidak akan pernah mati, bukan ilusi dangkal, bermimpi tapi bukan menghayal, kemungkinan yang tak mungkin akan mungkin, yang jadi soal sejauh mana kemungkinan ini berbentuk secara fisik tanpa uang.

Messi adalah juru selamat sepak bola dunia, dan sampai kapan pun dia tetap akan menjadi yang terbaik di dunia, dan tentu saja dia juga adalah anggota freemasson. Barrack Obama

Metafora adalah cara untuk membantu pikiran kita memproses segala yang tidak dapat diproses, masalah akan timbul ketika kita mulai sangat percaya pada metafora kita sendiri. Dari belajar jadi tahu dunia itu bulat dan berputar dengan cepatnya.

Bukankah berarti menumpahkan atau menjatuhkan isi yang ada di dalamnya, apa perlunya tahu kebenaran aneh dari sesuatu yang kita pijak dan tanpa kita sadar sesuatu itu berputar-putar dengan ketidakacuhannya yang sebenarnya berputar.

Benar berada dalam pijakan yang konstan yang tidak akan memeengaruhi gaya dengan ketidakjelasan arahnya. Kuatkan pijakan itu, mungkin kecepatan cahaya itu mampu menyeimbangkan sesuatu yang berserakan diatasnya asalkan dia bulat.

Seperti Tuhan yang mengajarkan Adam nama dari segala benda, proses signifikasi adalah sebuah relasi dominasi. Jika anda mengamuk karena keyakinan dan dihina orang lain. Itu petanda bahwa anda baru kelas nyamuk di dunia keyakinan, belum bisa memisahkan antara dunia spiritualitas dengan ego kekanak-kanakan.

Keduanya identik dalam kesadaran seakan meyakini sesuatu adalah dengan membela mati-matian apa yang dipeluknya, lantas membenci selain yang anda yakini. Jika anda demikian, bagi saya, Anda tidak lebih dari sekedar yang puber di dunia keyakinan, meski mungkin usia anda sudah hampir tamat.

Tapi cakrawala spiritualitas anda masih merangkak balita. Karena keyakinan, menurut saya bukanlah jeruji kesadaran untuk menutup diri terhadap pandangan lain, dan juga bukan karcis untuk menghabisi orang lain. Belajarlah dari mereka yang paham.

Bagaimana mungkin memakai jibunan pola untuk satu hal berbeda? Itu namanya belajar. Setiap keyakinan sudah sifatnya punya pijakan! Pijakan yang mapan bukan? Makanya mulailah dengan sintesis yang sederhana! Sedang, saya tahu panas, pedas dan berkuah,dan semangkuk mie tidak selalu begitu. Kapan kau tahu? Ia panas, pedas, dan berkuah sebab ia panas, pedas, dan berkuah. Musabab bukan saya yang menjaganya.

Mengumpulkan satu truk buku itu tidak sulit, mengutip satu tronton ayat kitab suci itu sangat mudah. Menyebut nama-nama besar itu enteng. Tapi mendapatkan setitik kesadaran itu, bisa menghabisi usia bahkan setitik kesadaran itulah makna total riwayat hidup manusia.

Jangan hanya karena pernah jadi pemukul bedug di musala lantas seorang alay pun bisa nekat mengaku drumer karena seteguh dan sekeras apa pun pendirian tetap ada seseorang yang akan bergoyang mendengarkan musik dangdut.

Acuan tinggi untuk setiap aksi, perfeksi di setiap sudut dengan liku pembenaran untuk setiap aksi dengan dalih idealistis. Tidak perlu literatur untuk pembenaran atas kebenaran. Pekerjaan dengan hasil terbaik ialah apabila kita tidak lagi memikirkan bagaimana cara mengerjakanya, memaknai ketidakpedulian atas pembenaran yang salah.

Adaptasi tidak membutuhkan dominasi, tapi hasil selektif yang diterima secara wajar bukan mutlak relasi dominasi kemudian bertahan untuk hidup. Survive dan adaptasi hampir sama tapi beda. Kesyukuran bukanlah bentuk lain dominasi ataupun survive melainkan penyerahan diri sepenuhnya merujuk pada suatu keadaan kurang yang beralih bentuk terima kasih untuk yang Esa.

Kesyukuran mutlak menggenapkan adaptasi dan survival. Maka bersyukurlah untuk setiap detik yang kita lalui yang mendominasi hari tidak ada yang baru di bawah matahari, dan tidak ada yang tua juga. Semuanya tergantung pada pikiran. Jika pikiran sudah tua, maka semuanya sudah tua, jika pikiran adalah baru, maka semuanya baru. Dan pikiran yang baru adalah tidak berpikir, hanya pikiran yang lama adalah pikiran.

Tentang matahari matahari kecil yang menggebu-gebu revolusinya, gusar menanti pupusnya satu rentang panjang yang tiba pada akhir yang mengawali suatu masa di mana harapan membumbung sampai tinggi. Matahari tak perlu menanti terang, sebab ia pembuat siang. Untuk pengemban mimpi, selamatlah, jayalah!