Lebaran selalu identik dengan hal yang baru, mulai dari suasana baru, resolusi baru hingga perkakas yang baru. Tak jarang tingkat konsumsi menjelang lebaran cenderung meningkat, seperti pembelian barang-barang yang berkaitan dengan sandang, pangan dan papan. Namun bukan lagi kebutuhan primer, tetapi tarafnya sudah memasuki kebutuhan sekunder bahkan tersier.

Fenomena beredarnya uang berlebih menjelang lebaran telah berlangsung cukup lama, dari penulis balita hingga memasuki dewasa awal. Walaupun demikian ada catatan yang cukup penting, terdapat pertumbuhan tingkat konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2017 sebesar 4,94 persen, kuartal II 2017 sebesar 4,95 persen, dan kuartal III 2017 sebesar 4,93 persen.

Berdasarkan catatan dari Bappenas tahun 2017 terkait tingkat konsumsi, lebaran masuk pada fase kuartal ke III. Artinya ada penurunan tingkat konsumsi, karena pada kuartal ketiga tahun 2016 mencapai 5,18 persen. Mengapa menurun ada penurunan konsumsi ? Ternyata pada tahun 2017 Indonesia mengalami inflasi, sehingga daya beli menurun.

Walaupun terjadi penurunan, tetapi jika dilihat dari margin angka tingkat konsumsi antara kuartal I, II dan III serta kuartal III tahun 2016, margin angka tidak terlalu terlampau jauh jaraknya. Ada fakta lain di tahun 2017, sebagaimana warta dari media online Kontan, mencatat jika terdapat penaikan transaksi online di situs blibli.com sekitar 200% dibanding lebaran tahun 2016. Kemudian, pada tahun 2017 berdasarkan warta dari Msn.com, penjualan mobil Toyota meningkat. 

Selain itu, menurut warta dari detik.com tahun 2017 menjelang lebaran, terdapat peningkatan penjualan motor sekitar 15% merujuk data dari FIF. Meskipun tingkat pertumbuhan ekonomi menurun dibandingkan tahun 2016, pada tahun 2017 terdapat beberapa sektor usaha yang mengalami peningkatan penjualan. Kenaikan konsumsi saat menjelang lebaran merupakan sebuah keniscayaan, walau secara angka terdapat penurunan di tahun 2017 karena inflasi, tetapi tidak terlalu signifikan merusak daya beli masyarakat pada umumnya. 

Jika melihat pada tren di tahun 2017 dan merujuk pada prediksi Bank Indonesia seperti yang diwartakan oleh detik.com tertanggal 19 April 2018, akan ada peningkatan konsumsi menjelang lebaran di tahun ini. Sebagaimana tesis yang saya jabarkan di paragraf pertama, ada peningkatan konsumsi kala lebaran tiba. Bukan lagi pada kebutuhan primer, namun lebih ke kebutuhan sekunder bahkan tersier.  

Boros Tidak Dianjurkan dalam Agama

Meningkatnya konsumsi saat lebaran tiba tidak lain karena perilaku boros, yang sudah membudaya dari sejak lama. Adanya pandangan bahwa Idul Fitri merupakan peristiwa yang melahirkan jiwa yang baru, manusia suci tanpa noda, ternyata dimaknai lain oleh kebanyakan masyarakat. Bahwa sesuatu yang baru tidak hanya jiwa (batin), namun juga yang terlihat oleh mata (badan). 

Kemudian makna ini bergeser oleh pemahaman yang keliru, di mana sesuatu yang baru harus disimbolkan dengan penampilan yang baru. Ini erat kaitannya dengan eksistensi diri, yang mana mereka menampakkan diri sebagai seorang baru berdasar pada apa yang ditampilkan (simbol).

Kondisi tersebut memicu yang namanya perilaku boros, yang ditandai dengan meningkatnya konsumsi menjelang lebaran. Jika dahulu hanya sebatas berlomba-lomba dalam menyajikan jajanan, makanan mewah dan pakaian yang menawan. Kini mulai bertransformasi menjadi barang-barang sekunder bahkan tersier, seperti motor baru dan mobil baru. Selain menunjukkan diri sebagai entitas yang baru, juga ingin menampilkan diri sebagai pribadi yang mapan. 

Faktor eksistensi menjadi salah indikator penting dalam melihat kondisi ini, bagaimana makna fitrah atau terlahir kembali, bergeser maknanya dari jiwa yang baru, menjadi sosok yang baru karena apa yang digunakannya.

Padahal dalam Al-Quran telah diwanti-wanti jangan bersikap berlebihan, terutama berperilaku boros hanya untuk menampilkan sisi baru, namun sarat dengan hal-hal yang tak mensyukuri nikmat alias kufur nikmat. Sebagaimana dalam Surat Al-A'raf ayat 31 yang berbunyi:

“Dan makan dan minumlah kalian, tapi janganlah kalian berlebih-lebihan. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Tidak hanya itu saja, dalam Surat Al-Isro' ayat 26-27, juga disinggung mengenai perilaku tabdzir (pemborosan), bahwa perilaku boros merupakan perilaku yang dibenci oleh Allah. Berikut bunyi dari surat Al-Isro ayat 26-27:

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”

Sudah jelas perilaku boros itu sangat tidak dianjurkan, bahkan Allah memerintahkan umatnya untuk senantiasa berlaku sederhana. Nabi Muhammad SAW, mengajarkan kita untuk berlaku sederhana, tidak berlebih-lebihan. Apalagi di bulan puasa, sudah seharusnya menjadi ajang untuk internalisasi diri, refleksi atas perilaku yang tidak perlu seperti tabdzir

Karena pada hakikatnya puasa itu semacam amalan, pembelajaran dan latihan agar tidak terjebak dalam trajektori pasar, yang mengajak manusia untuk perilaku konsumtif yang dekat dengan boros dan kufur nikmat. Karena Allah Sendiri sangat mencintai hambanya yang qona'ah, sederhana dan mesyukuri nikmat yang telah diberikan.

Puasa Sebagai Benteng Diri

Puasa selalu mengajarkan kita untuk menahan segala hawa nafsu, baik untuk yang bersifat dasar seperti makan, minum dan kebutuhan seksual. Tetapi ada aspek lain yang harus ditahan seperti, mengendalikan amarah dan perbuatan maksiat. Tindakan-tindakan yang benar-benar dibenci oleh Allah sebagai pencipta, sebagaimana sudah tercatat dalam hukum agama, di mana ada perbuatan yang dilarang dan dibenci. Semisal, bertengkar, membunuh, mencuri, merampas hak orang lain dan masih banyak yang lainnya.

Jika merujuk pada sebuah pada buku 'Ash-Shiyam wa Ramadhan karya Abdurrahman Habnakah al-Maidani, menjalankan ibadah puasa merupakan sebuah bentuk ketakwaan. Takwa sendiri oleh Abdurrahman Habnakah dimaknai sebagai, tindakan preventif untuk menjaga dan melindungi diri dari segala perilaku maksiat.  

Hal tersebut senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh An Nasai dan Ibnu Majah, Nabi Muhammad bersabda, "puasa adalah perisai." Secara implisit dapat diterjemahakna jika, berpuasa merupakan salah satu upaya pertahanan diri dari nafsu dunia. Melatih seseorang agar senantiasa menahan hal-hal yang dapat menimbulkan mudharat.

Sudah jelas, jika berpuasa di bulan Ramadhan merupakan salah bentuk internalisasi diri, bagaimana kita melatih diri kita untuk senantiasa berlaku tidak berlebih-lebihan, menahan nafsu yang dalam konteks psikologi merupakan hasrat atau dalam kata lain dorongan alamiah yang bersifat primitif (dasar). Hasrat merupakan salah satu dasar bagaimana manusia berperilaku, yang dijembatani oleh upaya memenuhi hasrat dengan melakukan sesuatu untuk memenuhinya.

Semisal, kita ingin membeli pakaian, namun di satu sisi kita sudah memiliki banyak pakaian. Tetapi karena hasrat ingin diakui (eksistensi) maka kita dengan kalap akan memenuhi hal tersebut, tentu dengan membeli pakaian yang kita inginka. Dalam kondisi lainnya, ternyata masih ada kebutuhan lain yang lebih penting daripada pakaian. Maka dalam titik ini puasa sebagai salah satu perisai, kalau meminjam istilah Freud sebagai superego, yang mempunyai peran untuk menahan dan mengendalikan ego yang merupakan implementasi dari hasrat.

Perilaku boros merupakan salah satu tindakan yang mengandung unsur mudharat. Allah sendiri tidak menyukai perilaku boros, karena sangat merugikan diri sendiri dan orang lain. Puasa sendiri seharusnya mengajarkan kita untuk bersikap lebih bijak, menahan segala hasrat untuk membeli kebutuhan yang tidak perlu. 

Oleh karena itu, kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, jikalau hasrat kita yang menang, ego kita yang berkuasa, lantas apakah makna puasa itu sendiri ? Sebagai bentuk ketakwaan atau ketakutan ? Hanya Allah yang maha tahu, wallahu a'lam bishowab.