1 bulan lalu · 31 view · 4 menit baca · Lingkungan 76852_95219.jpg
Britishplastics.co.uk

Puasa Plastik

Di Ramadan ini, kebanyakan dari kita melakukan ibadah puasa. Hal ini ditandai dengan tidak adanya aktivitas makan dan minum di siang hari. 

Menurut mayoritas ulama, puasa adalah ibadah yang mengajarkan untuk menahan diri dari melakukan hal-hal yang tak terpuji. Tidak makan dan minum adalah simbol dari latihan menahan diri tersebut.

Salah satu hal tidak terpuji yang mungkin kerap luput dari perhatian adalah merusak alam. Kebanyakan dari kita mungkin tak sadar bahwa kita telah menjadi bagian dari orang-orang yang merusak alam tersebut.

Sebab merusak alam tak hanya bisa dilakukan dengan ikut menggunduli hutan secara langsung, meluncurkan bom nuklir atau melakukan pembantaian massal. Merusak alam dapat dilakukan dengan cara-cara yang sederhana, salah satunya adalah tidak bijak mengolah sampah plastik.

Sampah plastik telah menjadi masalah besar, tak hanya untuk Indonesia, tetapi juga dunia. 

Sampah plastik tak hanya mengotori lingkungan. Dalam tataran tertentu, sampah jenis ini dapat merusak kesehatan manusia, menghancurkan ekosistem laut, dan membunuh penghuninya, membunuh binatang serta merusak lingkungan secara sistematis. Bahkan, jika tak segera diatasi, sampah plastik dapat memperpendek usia planet bumi.


Meninggalkan penggunaan plastik sama sekali memang tidaklah mudah. Model, bentuk, dan fungsinya yang serbaguna telah memudahkan kita dalam melakukan berbagai aktivitas. 

Sejak ditemukan pertama kali oleh Alexander Parkes pada 1862 di Inggris, plastik begitu lekat dengan kehidupan manusia. Sifatnya yang tahan air, ringan, dan cenderung murah menjadikan plastik sebagai produk pilihan. Hingga kini pun produk-produk berbahan plastik masih tetap dilirik.

Namun keadaan sudah berubah. Plastik tak lagi menjadi produk yang ramah. Karakter dasar plastik yang tak dapat terurai dengan mudah telah menjadikannya sebagai masalah. 

Kandungan kimia yang ada di dalamnya menahan plastik untuk terurai secara alami dengan cepat. Sampah plastik membutuhkan waktu paling cepat 50 - 100 tahun untuk dapat ‘beristirahat dengan tenang’. Maka tak berlebihan untuk menyebut plastik sebagai salah satu penyumbang terbesar untuk masalah lingkungan.

Imsak

Mungkin kini sudah waktunya untuk imsak menggunakan plastik secara tidak bijak. Secara bahasa, imsak berarti “menahan”. Imsak juga dijadikan tanda dimulainya ibadah puasa bagi orang yang menjalankannya. 

Dus, imsak menggunakan plastik secara tidak bijak berarti menahan atau berhenti menjadi penyumbang sampah dengan berpuasa dari memproduksi sampah plastik.

Menurut laporan yang diterbitkan dalam The Known Unknown of Plastic Pollution (2018), warga planet bumi memproduksi setidaknya 380 juta ton plastik setiap tahunnya. Dari jumlah itu, hanya 9% yang didaur ulang. Sisanya, menjadi sampah yang dibuang ke alam. 

Salah satu lokasi favorit untuk membuang sampah plastik adalah laut. Di lokasi ini, tak hanya ekosistem laut dan ikan-ikan yang harus menanggung kerusakan, binatang-binatang yang tidak tinggal di laut, namun menggantungkan hidupnya dari laut juga turut terkena imbasnya.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa 90% tubuh burung laut disesaki dengan limbah plastik. Ini tentu berpengaruh terhadap kemampuan burung laut untuk bertahan hidup. 

Penelitian lain bahkan menunjukkan data yang lebih mengerikan. Mereka memperkirakan pada 2050 nanti, jumlah sampah di laut akan lebih banyak dibanding jumlah semua ikan di laut, dihitung dari beratnya.

Baca Juga: Monster Plastik

Di daratan, manusia mulai mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan burung laut,, yakni sama-sama telah terkena polusi plastik, meski tentu dalam jumlah yang berbeda. 

R.C. Thompson dkk dalam Plastics, the environment and human health: current consensus and future trends menyebut bahwa bahan-bahan kimia yang ada di dalam plastik, terutama BPA dan flalat, telah ditemukan pada tubuh manusia. Artinya, manusia telah terpapar plastik melalui zat kimianya. 

Paparan tersebut masuk melalui hidung, mulut, maupun kulit. Hingga kini, tingkat paparan harian memang masih belum melewati batas tidak aman. Namun jika tidak segera ditanggulangi, bukan saja kita tak akan bisa puasa plastik, kita juga akan puasa dari melihat dunia untuk selamanya.

Berbuka dengan Kertas

Laiknya puasa yang sesungguhnya, menggunakan plastik secara tidak bijak juga ada bukanya. 

Ada dua jenis buka yang bisa dilakukan di puasa jenis ini. Pertama, bijak menggunakan produk plastik dengan reduce (mengurangi), re-use (menggunakannya kembali), dan recycle (mengolah kembali) plastik. Kedua, meninggalkan penggunaan plastik dengan menggunakan berbahan pengganti plastik, salah satunya adalah kertas.

Dibandingkan plastik, kertas memiliki lebih banyak keunggulan. Selain desainnya yang lebih bervariasi (yang membuatnya lebih indah dipandang), kertas juga lebih ramah lingkungan. 

Untuk terurai secara alami, kertas hanya membutuhkan 2 - 5 bulan. Berbeda dengan plastik yang butuh waktu hingga puluhan bahkan ratusan tahun untuk terurai. 

Produk berbahan kertas juga kini telah hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari kantong belanja, pembungkus kado, wadah makan, hingga sedotan. Ini pertanda kertas telah serius untuk menggantikan peran plastik yang mulai meresahkan.

Selain unggul karena mudah terurai, produksi kertas nyatanya juga turut menjaga alam. Tuduhan sebagian kalangan yang menyebut produksi kertas—yang berbahan utama kayu—sama dengan penggundulan hutan tidaklah benar. Produsen kertas seperti Sinar Mas, misalnya, diketahui memiliki concern yang sangat baik dalam melestarikan lingkungan.

Ini ditunjukan dengan keseriusannya melakukan program tanam ulang di lahan-lahan yang kayunya digunakan untuk membuat kertas. Ini tak beda dengan petani yang menanami ulang sawahnya setelah panen. 


Dengan begini, hutan tetap terjaga kelestariannya, alam pun tetap terjaga keindahannya, sebab produk kertas yang dihasilkannya dapat segera kembali ke alam usai digunakan.

Mari sambut bulan penuh ampunan ini dengan berhenti menyakiti alam.

Referensi:

Artikel Terkait