Researcher
1 minggu lalu · 63 view · 6 min baca menit baca · Gaya Hidup 35255_86924.jpg
Foto: Pexels

Puasa Media Sosial untuk Kesehatan Otak

Manusia adalah makhluk yang membutuhkan hubungan sosial. Hubungan itu terjadi karena berbagai kebutuhan pribadi yang dapat terpenuhi jika sesama manusia saling berinteraksi dan berkomunikasi. Makin tinggi level kebutuhan kita, maka hubungan sosial makin kita butuhkan.

Dalam teori piramida kebutuhan Maslow dalam hal hubungan sosial, disebutkan bahwa kita sebagai manusia memerlukan kebutuhan ‘pengakuan dari orang lain’ atau lebih dipertegas oleh psikolog McCleland, kita memerlukan kebutuhan diterima (need of affiliation) untuk memperoleh kebutuhan berprestasi (need of achievement).

Hal itu makin difasilitasi oleh perkembangan teknologi, yaitu smartphone dengan memanfaatkan Internet. Internet hadir menjadi kebutuhan baru untuk berbagai penggunaan. Salah satu penggunaan internet, yaitu media sosial atau medsos.

Kita ketahui bersama bahwa medsos menciptakan sebuah dunia baru, yaitu dunia virtual yang dinamakan dunia maya. Dunia maya ini bahkan menjadi lifestyle. Kita merasa ketinggalan zaman atau kurang gaul jika kita tidak ikut masuk ke dunia tersebut. 

Medsos menempati urutan teratas penggunaan Internet, bukan hanya di Indonesia, melainkan seluruh dunia. Yang termasuk dalam aplikasi medsos ini adalah Facebook, Instagram, dan Twitter. Ada pula yang menambahkan aplikasi chatting seperti WhatsApp, Line, dan FB Massenger ke dalam kelompok aplikasi medsos.

Menurut penelitian Global Digital Snapshot pada tahun 2017, angka pengguna medsos di seluruh dunia lebih dari 76 % terhadap penggunaan total Internet, yakni sebanyak 2,9 miliar orang dibandingkan pengguna Internet dunia yang berjumlah 3,8 miliar orang. Menariknya, sekitar 2,7 miliar di antaranya mengakses medsos dengan menggunakan HP.

Di Indonesia, data tahun 2015 menunjukkan pengguna WhatsApp sebesar 24 juta. Tapi, melihat pertumbuhan penggunaannya yang sedemikian besar, diperkirakan akhir tahun 2018 sudah mencapai tiga kali lipatnya. Pihak WhatsApp belum mengeluarkan data resmi seberapa besar pengguna WhatsApp di Indonesia.

Dengan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa dunia, terkhusus Indonesia, sedang mengalami euforia medsos yang tentunya, selain membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, juga memberi sejumlah efek dan ekses negatif terhadap perilaku dan bahkan kepada otak sebagai organ yang mengontrol tubuh kita.


Efek Medsos terhadap Perilaku

Selain memiliki efek positif, medsos lebih banyak memiliki efek negatif. Hanya satu efek positif medsos, yaitu dalam hal komunikasi jarak jauh – membantu mendekatkan yang jauh – dan tentunya itu sangat menolong bagi keluarga atau handai taulan yang rindu. Berikut saya paparkan efek dan ekses negatif medsos.

Pertama, bermedsos dalam hal komunikasi membantu mendekatkan yang jauh, namun sekaligus menjauhkan yang dekat. Ini adalah fakta yang bisa kita rasakan masing-masing. 

Kita sangat intens melakukan chatting dengan teman jauh kita yang berada di tempat lain. Akan tetapi, kita mengabaikan teman yang ada di hadapan kita. Masih kategori normal jika hanya satu yang sibuk chatting dan bermedsos, namun menjadi abnormal jika masing-masing sibuk dengan HP-nya masing-masing sementara lagi bertemu di sebuah tempat. Kalau seperti itu, untuk apa ada pertemuan?

Kedua, bermedsos membuat kita menjadi malas gerak. Olahraga menjadi kegiatan langka yang masuk dalam daftar rutinitas harian kita. Padahal kesehatan tubuh kita menjadi modal utama untuk masa depan kita. Ini fakta pula yang tidak perlu penelitian panjang untuk membuktikan kebenarannya karena bisa langsung dikonfirmasi.

Ketiga, banyak yang lepas kontrol dalam bermain medsos. Bahkan sampai lupa waktu. Bangun tidur main HP, cek notifikasi medsos; lagi sarapan buka medsos, selesai pekerjaan langsung cek medsos, di kendaraan main HP sambil buka medsos, sehabis ibadah langsung ambil HP lalu buka medsos, bahkan saat berkumpul dengan orang banyak pun tetap bermedsos. 

Perilaku tersebut menimbulkan berbagai masalah pada orang dewasa dan anak-anak, mulai dari masalah kesehatan, kejiwaan, sampai pada masalah sosial.

Keempat, mengganggu produktivitas. Keinginan untuk chatting dan bermain medsos ternyata lebih banyak dibandingkan penggunaan Internet untuk meningkatkan produktivitas.

Kelima, memunculkan turbelensi informasi yang membahayakan kerukunan masyarakat, umat beragama, bangsa dan negara. Budaya literasi masyarakat Indonesia yang belum matang menyebabkan ketidakmampuan untuk memfilter berita hoaks yang bisa jadi memiliki kepentingan bisnis dan politik.

Keenam, munculnya budaya narsis dan pencitraan yang berlebihan pada sebagian besar pengguna medsos. Ini yang kemudian memunculkan kepribadian yang kurang baik dalam masyarakat dan berbangsa, bahkan dalam beragama dan beribadah.

Ketujuh, euforia medsos juga memunculkan stresInteraksi pertemuan yang terlalu intensif sering memunculkan masalah, ketersinggungan, salah paham, dan sebagainya, yang kemudian memunculkan stres.

Baca Juga: Puasa Instagram

Efek Medsos terhadap Otak

Interaksi kita dengan smartphone akan berdurasi cukup lama jika bermedsos. Apalagi, saking intensnya bermedsos, sampai-sampai kita jadi tidak terlalu menyadari tertidur dan menyimpan smartphone itu di dekat kepala atau tubuh kita. Itu mungkin sudah menjadi kebiasaan bagi kita dan itu normal saja. Tapi ternyata, kebiasaan itu bisa menyebabkan kanker otak.

Sebuah studi mengungkap, tidur di dekat smartphone yang aktif berisiko bagi kesehatan. Tim dokter California Department Public Health, Amerika Serikat, membenarkan studi tersebut. 

Menurut mereka, sinyal radiasi dari smartphone terdiri dari emisi radiofrekuensi (RF). Emisi ini biasanya digunakan untuk melakukan transfer informasi Emisi RF yang bisa merusak otak penggunanya dalam jarak dekat dengan menyebabkan anomali sel-sel otak. Ujung-ujungnya bisa menyebabkan tumor atau bahkan kanker di otak atau telinga.

Selain kanker, akibat membiarkan smartphone berada di tempat tidur saat tidur adalah terkena hypervigilance. Ini merupakan suatu gejala otak yang dapat membuat seseorang mengalami rasa tegang dan kewaspadaan secara terus-menerus. 

Dr. Charles Czeiler, seorang profesor kedokteran yang meneliti ritme tidur dari Harvard University, mengungkapkan bahwa cahaya yang dipijarkan smartphone juga menyebabkan gangguan ritme alami tubuh seseorang.

Beberapa efek negatif medsos terhadap otak: pertama, otak kita bisa dibuat ketagihan. 

Menurut penelitian, 5-10 % pengguna internet di dunia ini merasa kesulitan lepas dari media sosial. Internet addiction disorder (IAD) salah satunya disebabkan karena kita bisa sangat mudah mendapatkan reward –berupa likes (penghargaan), atensi, serta komentar- dengan usaha yang gampang. Adiksi ini mirip kayak adiksi yang ditimbulkan narkoba yang bisa mengontrol proses emosi, jangkauan perhatian, serta pengambilan keputusan.

Kedua, konsentrasi mudah terpecah akibat kebiasaan multitasking. Kebiasaan multitasking ini membuat pelaku sangat rentan terhadap intervensi atau distraksi. Pelaku mudah terganggu, konsentrasi mudah pecah, dan kesulitan menyerap informasi.

Ketiga, otak jadi terlalu peka sama notifikasi. Media sosial yang selalu memberikan notifikasi tiap kali ada update ternyata berdampak negatif pada sistem saraf kita. 

Karena terbiasa melihat ponsel tiap kali tanda notifikasi masuk, kita jadi kerap mengira tanda apa pun (bunyi, getaran, dll) yang masuk ke indra, kita mengira sebagai notifikasi dari medsos yang harus segera kita tanggapi. Gejala ini disebut phantom vibration syndrome.


Keempat, memicu produksi hormon kebahagiaan. Menurut data dari TollFreeForwarding, twitteran 10 menit bisa memicu keluarnya hormon oksitosin sebanyak 13%. Hormon oksitosin ini dikenal sebagai hormon yang bikin bahagia atau hepi. 

Penelitian lain juga membuktikan bahwa dengan bermedsos, kita menjadi senang dan puas karena 80% kita melibatkan diri kita dalam berinteraksi dengan orang banyak. Hal ini menyebabkan kita gemar mengekspresikan diri dan terobsesi pada diri kita sendiri. Keadaan ini merangsang keluarnya hormon dopamine, sebuah hormon yang keluar ketika kita sangat senang, puas, dan orgasme.

Puasa Medsos

Dari penjelasan mengenai efek dan ekses negatif yang sangat berbahaya bagi kehidupan kita, maka sangat perlu melakukan pencegahan sejak dini agar kerusakan yang ditimbulkan tidak terlalu lama.

Hartono Tasir Irwanto, founder resensi.co.id, dalam salah satu diskusinya menyatakan bahwa untuk mencegah efek negatif yang begitu berbahaya, maka kita perlu melakukan puasa medsos, yaitu menahan diri berlama-lama bermedsos apalagi tanpa tujuan jelas. 

Kategori maksimal orang dapat melakukan puasa medsos adalah ketika ia mampu bermedsos 2 jam dalam sehari. Ini pengurangan 3,5 jam dari rata-rata aktivitas medsos orang normal, yaitu 5,5 jam dalam sehari.

Dengan puasa medsos, banyak keuntungan yang didapatkan. Selain efek negatif terhadap perilaku dan otak yang bisa kita cegah dan obati, puasa medsos juga memberikan ketenangan batin. 

Lingkungan sangat memengaruhi otak kita dan itu berdampak pada pikiran dan perilaku kita. Dengan puasa medsos, kita terhindar dari kontaminasi berita palsu dan ujaran kebencian, terutama memberikan kita ruang untuk merenung dan lebih melihat ke dalam diri sendiri.

Artikel Terkait